Kidung Petaka

Kidung Petaka
219. Lanni Cerita


Setelah tawanya reda Lilian pun mendekati Shezi dan bermaksud menghiburnya.


" Udah ga usah marah-marah lagi. Ingat Kamu kan masih sakit dan harus istirahat biar cepet sembuh...," kata Lilian sambil memperbaiki letak bantal Shezi.


" Tapi Saya kesel sama adiknya Suster. Kok bisa-bisanya sih dia nyumpahin Saya ketemu sama hantu pengusung keranda itu lagi. Dia tau kan Saya kecelakaan gara-gara apa...," sahut Shezi dengan mata berkaca-kaca saking kesalnya.


Lilian pun tersenyum mendengar ucapan gadis itu. Ia pun maju lalu memeluk Shezi erat. Lanni pun ikut tersenyum dan menghampiri Shezi.


" Maafin Rex ya. Dia cuma bercanda kok. Ibu yakin hantu itu ga akan ngejar Kamu. Kan yang dia inginkan udah pergi, udah beda alam juga. Jadi mereka juga harus pergi. Jangan-jangan justru mereka yang dapat hukuman dari raja iblis karena gagal menjalankan tugas...," kata Lanni menenangkan Shezi.


" Emang gitu Bu...?" tanya Shezi tak percaya.


" Iya...," sahut Lanni dan Lilian bersamaan hingga membuat Shezi tersenyum.


" Oh gitu...," kata Shezi sambil tersenyum lebar.


Kemudian Lanni meraih telapak tangan Shezi, menggenggamnya dengan erat lalu mengatakan sesuatu.


" Ibu juga mau ngucapin terima kasih karena Kamu udah berhasil membujuk Luna supaya mau menceritakan semuanya. Hal yang ga bisa Ibu lakukan saat berkomunikasi sama arwah Luna tadi. Jangankan untuk membujuk, ngeliat kondisinya yang mengenaskan itu aja Ibu udah nangis. Ga tega dan nyesel kenapa ga serius nyari dia dulu...," kata Lanni dengan suara bergetar.


" Maaf sebelumnya. Tapi apa sebenernya hubungan Ibu sama arwah Tante Luna itu ?. Kenapa harus nyesel ga nyari dia dulu...?" tanya Shezi.


" Luna itu anak kerabat keluarga Saya, Bapaknya Luna sama Papa Saya adalah temen baik. Keluarga Luna juga sering hadir di acara keluarga Kami begitu pun sebaliknya. Hubungan Kami lumayan dekat layaknya saudara sepupu. Begitu yang Saya dan Luna rasakan...," sahut Lanni dengan suara sendu.


" Sama Ayahnya Kapten Rex juga...?" tanya Shezi.


" Oh bukan. Saya, Suami Saya dan Luna itu temen sekampus. Ayahnya Rex senior Kami karena dua tingkat di atas Kami dulu...," sahut Lanni sambil melirik suaminya mesra dan disambut senyuman Ramon.


" Kakak kelas yang cinta mati sama adik kelasnya Zi...," sela Lilian sambil tertawa hingga membuat semua orang tertawa.


" Sayang, jangan suka jujur gitu dong kalo ngomong...," kata Gama sambil merengkuh bahu sang istri hingga membuat Lilian makin keras tertawa.


" Kalian ini seneng banget sih mojokin Ayah. Tapi gapapa. Ayah ga malu buat ngakuin kalo Ayah emang cinta banget sama Ibu...," sahut Ramon sambil mendaratkan kecupan di puncak kepala sang istri.


" Ayah ada Shezi lho. Kok ga malu sih...," sela Lanni sambil menepuk lengan sang suami dengan lembut.


Yang disebut namanya hanya tersenyum sambil menggaruk kepala karena tak tahu harus berkata apa.


" Udah dulu mesra-mesraannya Bu, lanjutin dong ceritanya. Shezi masih penasaran tuh...," kata Lilian mengingatkan.


" Oh iya. Jadi Kami berdua pacaran dan Luna seneng banget. Sayangnya justru itu jadi bumerang buat dia...," kata Lanni.


" Bumerang gimana Bu...?" tanya Shezi tak mengerti.


" Bapaknya Luna marah saat tau Kami pacaran. Dia maunya Luna yang jadi pacar Ayahnya Rex dan bukan Saya. Rupanya Bapaknya Luna kesengsem sama pesona Suami Saya makanya keukeuh banget pengen jadiin dia menantu. Kami belakangan sadar kalo Bapaknya Luna juga beberapa kali berusaha memisahkan Kami dengan cara ga wajar...," sahut Lanni sambil mengerucutkan bibirnya.


" Oh gitu. Tapi Bapak emang layak diperhitungkan lho Bu. Iya kan Pak...?" gurau Shezi sambil tersenyum hingga membuat Ramon tertawa.


" Ayah seneng deh ada yang ngebelain...," sahut Lanni sambil melengos hingga membuat Ramon tertawa.


" Kalo ga karena gelagat Bapaknya Luna yang aneh, mungkin Lian sama Rex belum lahir sekarang Zi...," kata Ramon di sela tawanya.


" Kok gitu Pak...?" tanya Shezi.


" Soalnya Ibunya Rex ini masih mau nunda pernikahan dua atau tiga tahun lagi karena merasa ga layak menikah saat baru lulus kuliah...," sahut Ramon sambil melirik sang istri.


" Bukan gitu Yah. Ibu masih mau kerja dulu karena mau ngerasain manfaatnya sekolah tinggi. Maklum lah masih muda, jadi pikiran masih idealis banget...," kata Lanni sambil tersenyum.


" Tapi akhirnya Ayah sama Ibu nikah juga kan...," sela Gama.


" Iya. Sayangnya Luna ga hadir di pernikahan Kami. Sebelumnya sempat ada desas-desus Luna hilang. Tapi Ibu pikir dia kabur dari rumah karena ga tahan sama Bapaknya yang galak itu. Jadi waktu itu Ibu sama Ayah ya nyantai aja. Kami mendukung pilihannya dan berharap dia bahagia di suatu tempat. Ga taunya Kami salah. Justru Luna udah meninggal tepat di hari terakhir Kami ketemu sama dia. Dan selanjutnya Kita semua tau apa yang terjadi kan...," kata Lanni sambil berusaha menahan tangisnya.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun..., Saya turut berduka cita ya Bu. Maaf, Saya belum sempet ngucapin itu sejak Saya tau kalo Tante Luna itu cuma arwah yang gentayangan karena dibunuh sama Bapaknya...," kata Shezi dengan nada menyesal.


" Gapapa Zi, Ibu maklum kok. Kan Kamu juga lagi ketakutan gara-gara ngeliat Luna yang hantu tapi diikutin hantu juga...," sahut Lanni sambil mengusap kepala Shezi dengan lembut.


" Iya Bu. Ngeliat Tante Luna yang dililit kain itu aja udah bikin Saya hampir pingsan. Eh, ditambah ngeliat Tante Luna lari karena dikejar rombongan hantu pengusung keranda..., " kata Shezi gusar.


" Ngomong-ngomong gimana sih bentuk hantu pengusung keranda itu Zi...?" tanya Lilian penasaran.


" Mereka ada empat orang Sus. Laki-laki semua, tapi berkulit pucat dan ga punya mata karena cuma ada rongga mata yang hitam. Pake baju serba putih yang ga bisa dibilang putih karena udah lusuh juga. Penampilan mereka juga aneh karena mirip orang yang dibungkus kafan tapi ikatan di kepala sampe ke perut terlepas gitu...," sahut Shezi sambil bergidik ngeri.


" Iiihh..., serem dong Zii...," kata Lilian.


" Banget Sus. Mereka tuh melayang ngikutin hantu Tante Luna yang juga dililit kain. Bayangin deh kalo Suster Lian ngeliat penampakan mereka secara tiba-tiba, apa ga kaget tuh. Makanya Saya sampe keserempet mobil saking kagetnya ngeliat mereka kejar-kejaran di depan Saya...," sahut Shezi cepat.


" Tapi sekarang mereka udah pergi Zi. Jadi Kamu ga usah nginget itu lagi biar ga ketakutan terus...," kata Lilian sambil mengusap punggung Shezi dengan lembut.


" Iya Sus...," sahut Shezi sambil tersenyum.


" Sas Sus Sas Sus terus daritadi. Sekarang Saya lagi bebas tugas lho Zi. Saya di sini sebagai warga biasa dan bukan perawat di Rumah Sakit ini. Panggil Saya Kakak kan bisa, jangan Suster mulu dong...," protes Lilian sambil mengerucutkan bibirnya.


" Emang boleh...?" tanya Shezi dengan wajah berbinar.


" Boleh...!" sahut semua orang di dalam ruangan itu bersamaan hingga membuat Shezi tertawa.


" Ok deh, makasih Kakak...," kata Shezi sambil merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Lilian.


Lilian pun tertawa lalu menyambut pelukan Shezi.


Di balik pintu kamar Rex nampak ikut tersenyum melihat interaksi Shezi dengan keluarganya.


\=\=\=\=\=