Kidung Petaka

Kidung Petaka
176. Pria Bermahkota Biawak


Malam itu Elvira kembali tak bisa memejamkan kedua matanya karena teringat dengan ucapan ustadz Akbar.


Elvira nampak cemas karena khawatir pria yang ia yakini sebagai jelmaan siluman biawak itu akan mendatanginya lagi. Elvira khawatir pria itu akan melecehkannya seperti yang dikatakan ustadz Akbar.


Seperti yang pernah Elvira katakan, pria bermahkota biawak itu kini berani menampakkan diri di depannya secara nyata. Jika biasanya pria bermahkota biawak itu hanya menemuinya dalam mimpi, kini siluman itu bertindak nekad. Bahkan terakhir kali Elvira dibuat terkejut saat melihat sosok pria itu berdiri di sudut kamar sambil mengamati aktifitasnya.


Elvira takut, tentu saja. Jika itu manusia biasa seperti dirinya, ia yakin bakal dengan mudah melumpuhkannya. Apalagi ia menguasai ilmu bela diri. Tapi karena yang dihadapi kali ini adalah siluman, maka Elvira tak ingin gegabah dan mati konyol.


Elvira masih terjaga sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Setelah beberapa saat mengamati, Elvira bernafas lega karena tak melihat siluman itu di sekitarnya.


Perlahan kedua mata Elvira mulai mengantuk. Dan tak lama kemudian Elvira pun tertidur. Sangat pulas hingga ia tak menyadari kehadiran pria bermahkota biawak itu di kamarnya.


Pria bermahkota biawak itu nampak mendekati Elvira. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Elvira.


Kepala Elvira adalah titik pertama yang disentuhnya dengan lembut. Kemudian tangan pria itu turun ke dahi Elvira, mengusapnya lembut sambil mengurai kedua alis Elvira yang tampak berkerut.


" Setakut ini kah Kamu sampai kedua alismu pun ikut berkerut...," gumam pria itu sambil tersenyum kecut.


Setelah mengusap dahi Elvira, tangan pria itu turun ke pipi lalu ke bibir. Saat itu lah kepala Elvira nampak bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Dan saat pria itu menyentuh kepalanya, Elvira kembali terlihat tenang.


" Tidur pun Kamu tetap terlihat cantik. Jangan salahkan Aku jika Aku mencintaimu Elvira...," gumam pria itu sambil menatap Elvira penuh damba.


Tiba-tiba nafas Elvira tampak memburu seolah tengah berlari cepat untuk menghindari sesuatu. Pria itu mendekatkan wajahnya lalu berbisik di telinga Elvira.


" Tenang lah Elvira, Aku akan menjagamu. Abaikan semuanya dan yakin kan di hatimu hanya Aku yang layak untuk mendampingimu. Hanya Aku Elvira, selamanya...," bisik pria itu berulang-ulang.


Dalam tidurnya Elvira mengangguk seolah mendengar dan mengerti apa yang diucapkan oleh pria bermahkota biawak itu.


Melihat sikap Elvira membuat pria itu kembali tersenyum. Kemudian ia mengamati Elvira mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Seolah baru menyadari kecantikan Elvira, pria itu nampak membasahi bibirnya. Tangan pria itu kembali terulur, tapi kali ini bukan kepala atau wajah Elvira yang menjadi tujuannya melainkan tubuh Elvira.


Saat sedikit lagi ujung jemari pria itu menyentuh tubuhnya, tiba-tiba Elvira terbangun. Dan bersamaan dengan saat Elvira membuka matanya, pria bermahkota biawak itu pun lenyap tanpa bekas.


" Ya Allah apa itu. Aku mimpi kan, pasti mimpi kan...," gumam Elvira sambil memeluk guling erat-erat.


Kemudian Elvira menatap ke sekeliling kamarnya seolah mencari sesuatu. Karena takut, Elvira pun meraih ponselnya dan segera menghubungi seseorang.


" Pakde...!" panggil Elvira lantang saat panggilan telephon tersambung.


Namun Elvira terkejut saat mendengar suara Rex di seberang telephon. Elvira melihat layar ponselnya dan terkejut saat melihat nama Kapten Rex di sana. Elvira memejamkan matanya karena sadar telah salah mendial nomor tadi.


" Assalamualaikum Bu Elvira. Ada apa, kenapa teriak-teriak...?" tanya Rex dari seberang telephon.


" Wa alaikumsalam. Sa... Saya ga teriak kok Kapten...," sahut Elvira gugup.


" Yakin...?" tanya Rex tak percaya.


" I... iya, yakin. Apa Kapten ga percaya sama Saya. Oh iya, sebenernya Sa... Saya mau nelephon Pakde Saya bukan Anda. Maaf...," kata Elvira lalu mengakhiri percakapan mereka.


Rex nampak menatap layar ponselnya sambil mengerutkan kening karena tahu telah terjadi sesuatu dengan Elvira.


" Suaranya ga kaya biasanya. Keliatannya dia lagi ketakutan. Tapi apa sebabnya...," gumam Rex.


Elvira terkejut mendengar suara dering ponselnya. Saat melihat nama Kapten Rex di sana, Elvira pun nampak ragu. Namun seolah ada kekuatan tak kasat mata yang memaksanya mengabaikan panggilan Rex itu, akhirnya Elvira pun menon-aktifkan ponselnya.


Rex pun tampak gusar saat Elvira tak merespon panggilannya.


" Ini aneh. Apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu sama dia...," gumam Rex.


Kemudian Rex turun dari tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar lalu duduk di ruang tengah.


" Kenapa belum tidur Nak...?" sapa Ramon dari belakang sofa yang diduduki Rex.


" Eh Ayah. Aku cuma kebangun aja Yah...," sahut Rex cepat sambil menegakkan tubuhnya.


" Kebangun...?" tanya Ramon sambil tersenyum penuh makna.


" Iya. Ayah sendiri kenapa keluar kamar...?" tanya Rex.


" Ayah mau ambil minum. Pas buka pintu kok malah ngeliat Kamu duduk di sini. Jujur lah, ada apa sebenarnya Nak...?" tanya Ramon sambil menepuk bahu sang anak.


Karena merasa perlu bicara, akhirnya Rex menceritakan apa yang terjadi.


" Barusan Bu Elvira telephon Aku Yah...," kata Rex.


" Selarut ini...?" tanya Ramon sambil melirik jam dinding.


" Iya Yah...," sahut Rex cepat.


" Terus kenapa, apa dia ngomong sesuatu yang bikin Kamu cemas...?" tanya Ramon.


" Justru itu yang aneh. Dia malah bilang salah pencet nomor karena sebenernya yang mau dia hubungi itu Ustadz Akbar Yah...," sahut Rex.


" Kok bisa-bisanya dia menghubungi Ustadz Akbar di jam selarut ini. Apa dia ga tau kalo Ustadz Akbar sangat berhati-hati menjalin komunikasi dengan lawan jenis. Apalagi dia wanita belia dan menelephon di jam ga wajar kaya gini...," kata Ramon sedikit kesal.


Ucapan sang ayah membuat Rex tersenyum. Ia ingat jika belum memberi tahu hubungan Elvira dengan ustadz Akbar.


" Ustadz Akbar itu Pakdenya Bu Elvira Yah. Beliau Kakak kandung Ayahnya Bu Elvira..., " kata Rex.


" Oh begitu. Terus kalo Elvira menghubungi Pakdenya kenapa Kamu yang bingung ?. Itu artinya dia menghubungi orang yang tepat kan...," kata Ramon.


" Iya sih. Aku cuma merasa kalo ada sesuatu yang buruk telah terjadi. Aku jadi bingung Yah, Aku terpanggil ingin membantu tapi Aku juga ingat penolakan Bu Elvira dan ucapanku sendiri...," sahut Rex gusar.


Ramon tersenyum mendengar ucapan anaknya. Ia bangga dengan kepedulian sang anak pada orang di sekitarnya.


" Turuti kata hatimu. Ayah tau Kamu peduli dengan keselamatan Elvira. Resiko selalu ada dalam setiap tindakan, tapi utamakan keselamatannya. Ayah mendukungmu untuk membantu gadis itu...," kata Ramon sambil menepuk bahu sang anak beberapa kali.


Ucapan Ramon membuat Rex tersenyum. Detik itu juga Rex memutuskan membantu Elvira dan mengesampingkan resiko terburuk yang akan ia tanggung nanti.


\=\=\=\=\=