
Rex memang berhasil menyatukan Satria dengan Bella. Sejak mereka ditugaskan belanja keperluan para pengungsi di penampungan, keduanya terlihat makin dekat. Bahkan Satria tak canggung lagi menyapa dan mendekati Bella di luar jam kerja.
Melihat prestasi sang atasan yang berhasil menyatukan Satria dengan gadis idamannya, sersan Andi pun mulai usil. Ia membandingkan kehidupan romansa Satria dengan Rex.
" Padahal kalo diliat-liat, Satria itu ga ganteng-ganteng amat ya. Tapi kenapa dia yang justru punya banyak penggemar...," kata sersan Andi sambil melirik kearah Rex yang sedang sibuk menulis sesuatu di atas lembaran kertas.
" Maksud Lo apaan sih Ndi. To the point aja ga usah berbelit-belit..., " kata Rex sambil tetap fokus membaca beberapa laporan di mejanya.
Ucapan Rex membuat sersan Andi tersenyum lalu mendekat kearah sang komandan.
" Ehm. Lo kan udah berhasil jadi mak comblang untuk Satria sama Bella. Terus kapan giliran untuk diri Lo sendiri...?" tanya sersan Andi.
" Maksud Lo...?" tanya Rex tak mengerti.
" Maksud Gue, kapan Lo mau mikirin diri Lo sendiri. Kita semua udah punya pasangan, bahkan ada yang punya istri. Tapi Lo, liat kan sampe sekarang masih sendiri. Jangan bilang Lo ga tertarik sama cewek ya Rex...," sahut sersan Andi sambil mengamati Rex dari atas kepala hingga ujung kaki.
Ucapan sersan Andi membuat Rex membeku di tempatnya. Ia nampak mengepalkan tangan karena menahan kesal. Sedangkan sersan Andi tampak tersenyum mengejek.
" Keliatannya Lo punya waktu luang cukup banyak ya sampe sempet-sempetnya ngatain Gue...," kata Rex sambil menyusun berkas yang sedang dibacanya.
" Ga juga. Gue cuma menyampaikan uneg-uneg pasukan yang pusing ngeliat Komandannya ga ngeh sama cewek...," sahut sersan Andi sambil bersedekap.
" Bagus. Sersan Dua Andi...!" panggil Rex tiba-tiba dengan mimik serius hingga membuat sersan Andi terkejut.
" Siap Ndan...!" sahut sersan Andi sambil memasang sikap sempurna.
" Karena Kamu lancang mengurusi sesuatu yang bukan urusanmu, maka sekarang lari keliling lapangan sepuluh kali. Mulai...!" seru Rex lantang sambil menunjuk lapangan.
Sersan Andi nampak terkejut. Tanpa bisa membantah ia pun bergegas lari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali. Karena saat itu malam hari dan waktu sedang santai, maka aksi sersan Andi pun menjadi tontonan gratis di penampungan pengungsi itu.
Rekan-rekan Andi nampak menggelengkan kepala melihat Andi harus menjalani hukuman karena kecerobohannya. Rupanya mereka tahu jika Andi baru saja menyinggung sang Danton.
" Kena deh. Lagian pake usil segala sama urusan Komandan...," kata salah satu tentara.
" Iya. Walau pun maksudnya baik, tetep aja nyinggung perasaan. Tapi ngomong-ngomong ada ga ya cewek yang mau sama Komandan Kita yang galak dan kaku itu...," kata seorang Kopral Kepala bernama Jodi.
Ucapan kopral Jodi membuat rekan-rekannya membeku di tempat karena di saat bersamaan Rex nampak mendekat kearah mereka. Rupanya Rex mendengar jelas apa yang dikatakan anak buahnya itu.
" Ehm...!" Rex pun berdehem hingga mengejutkan kopral Jodi.
" Siap Ndan, Saya mengaku salah...!" kata Jodi sambil memasang sikap sempurna.
" Lalu apa yang harus Kamu lakukan Kopral Kepala Jodi...?" sindir Rex sambil berdiri membelakangi Jodi.
" Siap, lari keliling lapangan sepuluh kali Ndan...!" sahut Jodi lantang.
" Ga perlu. Kamu cukup mengikuti Sersan Dua Andi. Jika dia selesai, artinya Kamu selesai. Sekarang...!" kata Rex sambil menunjuk ke lapangan.
" Siap Ndan...!" sahut Kopral Jodi sambil berlari mendampingi Sersan Andi.
Semua anggota pasukan tak ada yang bersuara. Rex pun tersenyum melihat anak buahnya membisu. Kemudian Rex menepuk pundak salah satu anak buahnya untuk mencairkan ketegangan.
" Kalian semua bisa menyemangati mereka kok. Tolong awasi mereka biar ga curang...," kata Rex sambil berlalu.
Para tentara itu pun tertawa lalu mulai meneriaki Andi dan Jodi agar semangat menjalani hukuman. Yel-yel dan tawa pun terdengar menggema di pinggir lapangan hingga membuat warga yang kebetulan berada di sekitar lapangan terhibur dan ikut tertawa.
" Apa sih yang mereka lakukan di malam hari kaya gini. Bukannya istirahat malah bikin gaduh...," gumam dokter Aksara sambil menggelengkan kepalanya.
" Dua orang yang lari itu lagi dihukum dok...," sahut seorang perawat bernama Heni.
" Dihukum, di malam buta kaya gini...?" tanya dokter Aksara tak percaya.
" Buat tentara semua waktu kan sama aja dok. Mereka bisa melakukan apa pun dan kapan pun sesuai keperluan...," sahut suster Heni sambil tersenyum.
" Kesalahan fatal apa sih yang bikin mereka dihukum. Jangan-jangan Komandan mereka orang yang g*la hormat hingga bisa seenaknya menghukum anak buahnya...," kata dokter Aksara kesal.
" Sssttt..., jangan sembarangan ngomong dok. Saya denger Danton mereka orang yang dingin dan angkuh. Ga kenal rasa belas kasihan dan bisa menghukum siapa pun...," kata suster Heni sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
" Apaan sih Kamu. Saya ga takut sama dia. Suruh orang itu datang ke depan Saya sekarang. Saya bakal bedah jantungnya terus Saya kasih buaya sekalian...!" sahut dokter Aksara lantang sambil mengacungkan pisau bedah di tangannya.
Tingkah dokter Aksara membuat suster Heni tertawa. Dan tawa suster Heni terhenti saat terdengar jeritan dari arah lapangan. Rupanya jeritan itu berasal dari warga yang berkerumun di pinggir lapangan.
" Ya Allah, gawat dok...!" kata suster Heni lantang.
" Gawat kenapa Sus...?" tanya dokter Aksara bingung.
" Kayanya ada yang terluka dok...," sahut suster Heni.
" Ck, gitu aja kok panik sih Suster. Kita kan udah biasa nanganin pasien luka. Bawa aja ke sini atau Kita yang harus ke sana...?" tanya dokter Aksara sambil melangkah keluar dari tenda.
Namun langkah dokter Aksara terhenti saat tiga orang tentara datang sambil menggotong seorang tentara yang pingsan. Suster Heni dan dokter Aksara nampak saling menatap karena tahu betul jika pria yang dibawa ke tenda itu adalah orang yang tengah menjalani hukuman dari atasannya.
" Kok bengong sih dok ?. Cepet tolongin dong...!" kata kopral Jodi.
" Oh tentu. Sekarang tolong baringkan di sana...," pinta dokter Aksara.
Tiga orang tentara itu membaringkan sersan Andi di atas tempat tidur. Suster Heni pun terlihat sibuk membantu agar pasien nyaman saat berbaring. Sedangkan dokter Aksara nampak tertawa diam-diam karena tahu jika sersan Andi hanya pura-pura pingsan.
" Terus gimana dok...?" tanya kopral Jodi.
" Tinggalkan pasien di sini nanti Saya cek...," sahut dokter Aksara.
" Kok nanti, ga sekarang aja dok...?" tanya kopral Jodi tak sabar.
" Saya atau Kamu dokternya...?!" tanya dokter Aksara dengan galak hingga membuat tiga tentara di hadapannya itu terkejut.
" Ok, Kami tinggalkan teman Kami di sini. Tolong rawat dia baik-baik ya dok...," sahut kopral Jodi sambil memberi kode pada kedua rekannya agar meninggalkan tempat itu.
" Hmmm...," sahut dokter Aksara sambil menatap kearah sersan Andi yang terbaring di atas tempat tidur.
" Keliatannya pasien ini...," ucapan suster Heni terpotong karena dokter Aksara mengedipkan matanya.
Saat itu lah suster Heni tahu jika pasien di hadapannya itu sedang berpura-pura pingsan. Kemudian timbul ide di kepala dokter Aksara dan suster Heni untuk menjahili sersan Andi.
Namun sebelum niat mereka terlaksana Rex datang menghampiri mereka.
\=\=\=\=\=