Kidung Petaka

Kidung Petaka
159. Pemain Juga


Setelah pulih dari sakit, Rex pun mewujudkan niatnya untuk menyelidiki kasus kematian Zada. Ia mencoba menghubungi Taufan, rekannya yang berprofesi sebagai polisi itu.


Dan kini Rex ditemani Gama tengah menemui Taufan di kantornya.


" Jadi anaknya Bu Arini ikut terlibat Rex...?" tanya AKP Taufan setelah mendengar cerita Rex.


" Gue ga tau Fan. Yang Gue tau ceweknya Andra yang sengaja nabrak Zada sampe meninggal. Gue juga ga tau apa motifnya. Tapi ngeliat cara dia nabrak Zada, Gue yakin dia punya dendam kesumat sama almarhumah Zada...," sahut Rex mantap.


" Sebentar ya Rex. Gue tanya dulu sama rekan Gue di kepolisian sana...," kata Taufan sambil mencoba menghubungi rekannya yang bertugas di wilayah Cirebon sana.


Rex mengangguk. Sambil menunggu Taufan selesai menelepon rekannya itu, Rex dan Gama mulai asyik membicarakan interior di kantor Taufan.


Tak lama kemudian Taufan selesai bicara dengan rekannya itu.


" Yang Lo bilang itu bener Rex. Temen Gue bilang kalo beberapa rekannya sempet curiga sama kasus kematian Zada yang sengaja ditutup rapat itu...," kata AKP Taufan.


" Oh ya. Apa temen Lo itu ngeliat kondisi jenasah Zada di TKP...?" tanya Rex.


" Dia ga ngeliat, tapi temannya yang di Divisi Lantas tau kalo ada yang ga beres sama kasus kematian Zada itu karena awalnya dia terlibat menyelidiki kasus itu...," sahut AKP Taufan.


" Bisa kan Gue ketemu sama temen Lo dan temennya itu...?" tanya Rex setengah memaksa.


" Bisa aja. Tapi kalo boleh tau apa sih hubungan Lo sama almarhumah Zada...?" tanya AKP Taufan.


" Zada itu ga hanya kenal sama Rex tapi juga sama Gue dan keluarga Kami Fan...," sahut Gama mewakili sang sahabat.


Kemudian Gama menceritakan asal muasal pertemuan Zada dengan mereka hingga kemudian mereka mendengar jika Zada telah meninggal dunia. AKP Taufan tampak menganggukkan kepala tanda mengerti.


" Jadi kapan Gue bisa ketemu sama temen Lo itu Fan...?" ulang Rex tak sabar.


" Secepatnya Rex. Lo tenang aja, Gue yang atur semua termasuk biaya akomodasinya nanti...," sahut AKP Taufan cepat.


" Ok, makasih Fan...," kata Rex dan Gama bersamaan.


AKP Taufan mengangguk sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=


Dua hari kemudian AKP Taufan mempertemukan Rex dan Gama dengan kedua rekannya itu.


" Kenalin ini Briptu Yunus dan Briptu Bara. Dan ini Kapten Rex sama Mas Gama...," kata Taufan.


Keempat pria dewasa itu saling berjabat tangan sambil tersenyum. Kemudian mereka duduk dan memulai pembicaraan.


" Briptu Bara yang ikut serta menyelidiki kasus kematian Zada itu Kapten...," kata Briptu Yunus sambil menepuk bahu rekannya.


" Gitu ya. Terus kenapa kasusnya dihentikan Mas...?" tanya Rex sambil menatap Briptu Bara.


" Waktu itu Saya di lapangan Kapten. Saya dan rekan-rekan lagi mengamati goresan di jalan yang ada disekitar TKP. Tiba-tiba Saya dan seorang rekan dipanggil ke kantor karena ada seseorang yang akan memberi keterangan berkaitan dengan kecelakaan itu...," sahut Briptu Bara.


" Apa itu Bu Arini...?" tanya Rex tak sabar.


" Betul Kapten...," sahut Briptu Bara cepat.


" Apa katanya...? " tanya Rex penasaran.


" Bu Arini sih ga ngomong apa-apa Kapten. Saat Saya masuk ke ruangan Kapolsek waktu itu, Beliau langsung memerintahkan Saya supaya ga usah melanjutkan penyelidikan karena kasusnya ditutup. Beliau justru memberi Saya kasus laka lantas yang baru...," sahut Briptu Bara.


" Begitu rupanya. Apa Kapolsek sekarang sama dengan Kapolsek yang dulu...? " saat Rex.


" Beda Kapten...," sahut Briptu Bara dan Briptu Yunus bersamaan.


" Apa Beliau dimutasi ke tempat lain...?" tanya Rex.


" Oh gitu. Apa Kita bisa ke rumahnya dan bertanya sesuatu sama Beliau...?" tanya Rex hati-hati.


" Maaf Kapten. Kayanya percuma kalo Kita menemuinya. Saat ini Beliau sedang terbaring di Rumah Sakit karena stroke...," sahut Briptu Bara cepat.


Jawaban kedua polisi di hadapannya membuat Rex kecewa karena itu artinya ia gagal menyeret pembunuh Zada ke penjara.


" Tenang aja Rex, masih ada cara lain buat menyelidiki kasus kematian Zada kok...," kata AKP Taufan sambil menepuk bahu Rex dengan lembut.


" Serius Lo Fan...," kata Rex tak percaya.


" Iya. Serahin aja sama Gue, Yunus dan Bara. Lo tinggal tunggu kabar baiknya aja nanti. Iya kan guys...?" tanya AKP Taufan kepada dua rekannya.


" Siap Pak...!" sahut Briptu Yunus dan Bara bersamaan.


Rex dan Gama saling menatap sejenak lalu tersenyum lega mendengar ucapan ketiga polisi itu.


\=\=\=\=\=


Andra sedang panik karena kehilangan motornya. Aira menyarankan untuk melaporkan pencurian motor itu ke Polisi. Dan untuk itu mereka harus membawa dokumen pelengkap sebagai bukti laporan.


Andra bingung karena tak berhasil menjumpai STNK motor miliknya.


" Kamu lupa naronya kali...," kata Aira sambil membantu mencari di sekitar rak buku milik Andra.


" Aku inget kalo Aku naro STNK di dompet Kak, masa ga ada sih...," sahut Andra sambil mengusak rambutnya dengan kasar.


" Buktinya ga ketemu dimana-mana. Coba inget-inget siapa aja yang pernah megang dompet Kamu. Kan Kamu orangnya ceroboh, siapa tau ada yang iseng ngambil STNK dari dompet Kamu pas Kamu lengah...," kata Aira kesal sambil meninggalkan Andra di kamarnya.


Andra pun dengan mudah tahu siapa yang dimaksud sang kakak. Tiara adalah orang yang sering menyentuh dompetnya karena memang Andra merasa tak perlu merahasiakan apa pun pada kekasihnya itu.


Andra mencoba menghubungi Tiara untuk bertanya sedangkan Aira nampak duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


Tiba-tiba Aira memanggil Andra dengan suara lantang hingga mengejutkan sang adik.


" Andra...!" panggil Aira.


" Kenapa sih Kak. Ga usah teriak Aku juga denger kok...!" sahut Andra tak kalah lantang.


" Itu motor Kamu bukan...?!" tanya Aira sambil menunjuk motor curian yang berhasil disita polisi dari tangan para pencuri.


Andra bergegas melihat ke layar televisi dan terkejut saat melihat motor kesayangannya ada diantara deretan motor curian yang berhasil diamankan polisi. Dan yang mengejutkan Andra juga melihat salah seorang temannya ada diantara para pencuri yang tertangkap.


" Itu kan si Yoga temennya Tiara...," kata Andra hingga mengejutkan Aira.


" Kalo gitu Kita ke kantor Polisi sekarang. Kayanya Kakak tau darimana dia bisa dapetin motor lengkap dengan STNKnya itu...," ajak Aira sambil menggamit tangan Andra.


Kemudian Aira dan Andra pergi ke kantor Polisi. Berbekal koneksi orangtuanya dengan mudah mereka mendapat akses untuk bisa menjemput motor tanpa proses berbelit.


" Makasih Pak...," kata Aira dan Andra bersamaan.


" Iya sama-sama. Tapi lain kali hati-hati nyimpen dokumen penting ya Mas. Jangan gampang percaya sama temen yang keliatan baik. Karena dari penyelidikan awal justru Kami dapat info kalo si tersangka dapetin STNK motor Kamu ya dari pacar Kamu yang namanya Tiara itu...," kata sang polisi hingga mengejutkan Andra, Aira dan Briptu Bara.


Briptu Bara yang kebetulan melintas pun berhenti lalu ikut mendengarkan cerita sang rekan tentang kronologi penangkapan para pencuri itu.


" Rupanya Tiara memang pemain yang biasa bolak balik berurusan dengan kepolisian. Keliatannya kasus kali ini bisa jadi awal yang baik buat menjerat dia ke dalam penjara...," batin Briptu Bara sambil tersenyum diam-diam.


Kemudian Briptu Bara melangkah ke ruangannya untuk menyelidiki latar belakang kehidupan Tiara, wanita yang merupakan kekasih Andra sekaligus tersangka utama penyebab Zada meninggal dunia.


bersambung