
Ramon menoleh kearah Lanni dan mencoba menenangkan sang istri. Rex juga nampak maklum mengapa sang ibu menghancurkan momen komunikasi yang dengan susah payah dibangunnya itu.
" Kamu Gapapa kan Bu...?" tanya Ramon sambil memeluk Lanni erat.
" Kasian Luna Yah. Dia...," ucapan Lanni terputus karena ia tak sanggup melanjutkan ceritanya.
" Ga usah diceritain kalo Ibu ga sanggup. Ayah paham apa maksud Ibu. Kan Rex udah ceritain sebelumnya...," kata Ramon sambil mengusap punggung Lanni dengan lembut.
Lanni mengangguk di dalam pelukan. suaminya. Tangisan Lanni membuat suasana di kamar rawat inap Shezi menjadi penuh haru.
" Gimana nih Rex. Apa akibatnya kalo Lo gagal ngajak Ibu komunikasi sama Tante Luna...?" tanya Gama.
" Gue juga bingung Gam. Soalnya lumayan susah ngajak Ibu untuk berinteraksi langsung sama Tante Luna tadi. Dan kalo ntar masih ga bisa juga terpaksa cari hari lain karena energi Gue bakal terkuras habis...," sahut Rex.
" Maaf kalo lancang. Apa harus Ibunya Kapten yang berinteraksi sama arwah cewek itu. Kenapa bukan Saya ?. Kan selama ini Saya yang diikutin...?" tanya Shezi.
Ucapan Shezi membuat Gama dan Rex saling menatap kemudian tersenyum.
" Shezi bener. Kenapa ga kepikiran daritadi ya Rex...," kata Gama.
" Sempet kepikiran sih tadi Gam. Cuma Gue liat kondisi Shezi ga memungkinkan untuk berkomunikasi dengan arwah itu. Selain dia abis kecelakaan, bukannya Shezi juga ga nyaman sama penampakan arwahnya Tante Luna. Kalo Ibu kan kenal banget sama Tante Luna. Jadi Gue yakin Ibu bakal bisa bantu nyari tau apa maunya Tante Luna...," sahut Rex memberi alasan.
" Oh gitu. Emangnya Kamu yakin siap buat ngeliat langsung wujud arwah itu Zi...?" tanya Gama.
" Mau ga mau Saya harus siap Mas. Selama ini toh Saya juga udah dibikin ketakutan sama penampakannya yang selalu muncul mendadak dimana pun Saya berada. Yang terakhir kan di jalan tadi. Makanya Saya jadi ga fokus dan keserempet mobil karena kaget ngeliat penampakannya yang mendadak itu...," sahut Shezi sambil tersenyum kecut.
Jawaban Shezi membuat semua orang tersenyum. Kemudian Gama menoleh kearah Rex untuk meminta pendapatnya.
" Gimana menurut Lo Rex...?" tanya Gama.
" Bisa aja sih. Tapi Gue ga yakin Shezi kuat...," sahut Rex ragu.
" Emang harus sekuat apa sih menghadapi hantu itu ?. Bukannya kekuatan Saya udah teruji ya. Buktinya Saya masih bisa bertahan sampe detik ini walau sempet ketakutan juga tadi...!" kata Shezi kesal.
" Ck, ga usah tersinggung gitu Zi. Ini kan berkaitan sama kesehatan Kamu juga. Kalo Kamu ga abis kecelakaan mungkin Saya langsung iya-in...," sahut Rex cepat.
" Tapi kalo bukan Shezi, diantara Kita siapa lagi yang bisa Rex. Jujur Aku ga setuju kalo Ibu harus ngulangin proses yang tadi...," kata Lilian.
" Betul Suster Lian. Saya juga ga setuju kalo Ibunya Suster yang harus maju. Kasian, beliau kan udah tua...," sahut Shezi.
Ucapan Shezi mengejutkan Lanni hingga membuat dia mengurai pelukan suaminya. Kemudian Lanni menatap Shezi dengan tatapan tak suka. Lilian yang menyadari tatapan sang ibu pun segera menengahi.
" Jangan bilang tua juga kali Zi. Ibuku tuh masih muda lho. Kulitnya aja masih Ok, wajahnya juga masih cantik. Iya kan Bu...," kata Lilian sambil merengkuh sang ibu.
" Iya...," sahut Lanni cepat.
" Eh, maaf Bu. Saya ga maksud meremehkan Ibu. Saya cuma mau meyakinkan Kapten Rex kalo Saya ini bukan beban. Walau sekarang kondisi Saya sedang sakit, tapi Saya yakin bisa melakukan semuanya dengan baik...," kata Shezi tak enak hati sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
Sikap Shezi membuat Lanni dan Lilian tersenyum. Keduanya bahkan ikut membantu Shezi bicara.
" Tuh Rex, Kamu denger kan apa kata Shezi. Kenapa harus Ibu yang Kamu ajak komunikasi sama Tante Luna sedangkan Shezi aja bersedia kok...," kata Lilian.
" Iya iya. Aku mana pernah bisa menang sih ngelawan Kakak sama Ibu...," gerutu Rex.
" Jadi artinya Shezi yang bakal Kamu ajak berkomunikasi sama Luna kan Rex...?" tanya Lanni.
" Iya Ibuku Sayang...," sahut Rex hingga membuat Lanni tersenyum lebar.
" Ok. Kamu siap Zi...?" tanya Rex sambil menatap gadis itu lekat.
" Insya Allah siap...," sahut Shezi mantap.
Kemudian Rex melangkah mendekati Shezi lalu mengulurkan telapak tangannya kearah Shezi hingga membuat gadis itu kebingungan.
" Apaan...?" tanya Shezi.
" Tangan Kamu siniin...," sahut Rex.
" Untuk apa ?, Kamu bukan lagi mau ngelamar Saya kan Kapten...?!" tanya Shezi dengan lugas hingga membuat wajah Rex merah padam karena malu.
Ucapan Shezi jelas membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa. Bahkan Ramon yang biasanya jarang tertawa pun kali ini ikut tertawa melihat interaksi Rex dan Shezi.
" Kamu tuh ya. Bisa ga sih serius sedikit...?" tanya Rex setengah berbisik.
" Saya serius kok. Emangnya ngapain Kapten minta tangan Saya segala...?" tanya Shezi cuek.
" Kamu liat kan gimana Saya waktu ngajak Ibu berkomunikasi sama Tante Luna tadi ?. Ya begitu caranya menyalurkan apa yang Saya liat...," sahut Rex dengan gemas.
" Oh itu. Sorry, Saya Kirain Kapten mau ngelamar Saya...," kata Shezi sambil nyengir.
" Kepedean banget Kamu. Siapa juga yang mau ngelamar Kamu...," kata Rex sambil melengos.
" Eh siapa tau Kapten khilaf terus beneran ngelamar Saya. Jangan suka takabur jadi orang, ga baik Kapten...," sahut Shezi sambil tersenyum penuh kemenangan.
" Berisik !. Mana tangan Kamu, cepetan deh...," kata Rex tak sabar.
" Iya iya. Ga sabaran banget sih jadi orang. Pasti lagi jomblo ya, makanya emosian mulu dari tadi...," gerutu Shezi lirih namun masih bisa didengar oleh semua orang di ruangan itu termasuk Rex.
Lagi-lagi semua orang pun tertawa mendengar ucapan Shezi. Sedangkan Rex justru tampak frustasi menghadapi gadis di hadapannya itu.
" Sheziiii...," panggil Rex sambil menatap Shezi dengan tatapan tajam.
" Iya nih...," sahut Shezi sambil meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Rex.
Rex nampak tersenyum lalu memejamkan mata. Namun ia teringat sesuatu lalu kembali membuka matanya. Seperti dugaannya, saat itu Shezi justru sedang tak fokus dan justru asyik mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
" Dzikir Shezi, ngapain melotot kaya gitu...," tegur Rex.
" Siap Kapten...," sahut Shezi lalu mulai memejamkan matanya.
Rex tersenyum tipis lalu mulai mengeratkan genggaman tangannya. Tak lama kemudian Rex merasa jika tangan Shezi bergetar. Nafas gadis itu pun nampak terengah-engah seolah sedang berlari menghindari sesuatu.
" Jangan bicara apa pun Shezi. Biar Saya yang bicara...," kata Rex mengingatkan.
Shezi mengangguk sambil menggigit bibirnya dengan keras seolah sedang menghadapi sesuatu yang menakutkan.
Saat melihat kondisi Shezi yang kacau membuat Lanni iba. Lanni nampak menyesali keputusannya yang enggan berinteraksi lagi dengan arwah Luna.
" Harusnya kan Aku yang di sana bukan dia. Anak itu kan masih sakit akibat kecelakaan, kok malah Aku suruh maju ngadepin Luna ya. Mudah-mudahan ga terjadi hal buruk sama mereka. Ya Allah tolong selamatkan Rex dan Shezi. Aamiin...," doa Lanni dalam hati.
\=\=\=\=\=