
Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh kearah Gama dan Lilian. Saat melihat dua sejoli itu berjalan sambil saling mengaitkan jari, Rex pun nampak melengos kesal.
Setelah semua duduk di tempat semula Ramon pun mulai angkat bicara.
" Jadi Kamu mau bilang apa Rex...?" tanya Ramon sambil menatap Rex lekat.
" Aku narik Kakak itu karena ada sebabnya Yah...," sahut Rex cepat.
" Iya tau. Tapi apa sebabnya ?, bisa lebih spesifik kan...?" tanya Ramon.
" Tadi ada rombongan makhluk ghaib di tengah jalan. Mereka lagi baris berbaris kaya orang pawai gitu Yah. Nah mendadak Gama lewat persis di tengah jalan hingga menabrak barisan itu. Ayah tau gimana reaksi mereka ?. Mereka menjerit kesakitan. Bahkan sebagian marah karena Gama udah menghancurkan pasukan mereka...," sahut Rex.
Ucapan Rex membuat semua orang terkejut. Bahkan wajah Lilian nampak memucat karena ketakutan.
" Tapi Gue ga tau kalo ada pasukan ghaib di sana Rex. Gue kan ga bisa ngeliat makhluk halus kaya Lo...," kata Gama membela diri.
" Itu Gue tau. Tapi yang bikin Gue ga abis pikir kenapa Lo ngebut. Terus Lo juga ngebiarin Kak Lian keluar dari mobil. Kan bisa turun di dalam halaman bukan di luar kaya tadi. Itu membahayakan keponakan Gue yang ada di rahim Kakak tau ga ?. Karena di saat pasukan ghaib itu marah, mereka langsung menoleh kearah Kak Lian seolah melihat santapan lezat. Sampe sini Kalian ngerti ga...?!" tanya Rex kesal.
Suasana pun hening Sesaat. Gama menoleh kearah Lilian dan melihat sang istri yang gemetar ketakutan. Gama pun meraih Lilian lalu memeluknya dengan erat untuk menenangkannya.
" Gimana nih Sayang, Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk sama Anak Kita...," kata Lilian lirih.
" Kamu tenang aja ya. Insya Allah Rex bakal bantu Kita nanti. Iya kan Rex...?" tanya Gama sambil menatap Rex lekat.
" Gue ga janji...," sahut Rex cuek.
" Kok gitu sih Rex...?!" tanya Gama dan Lilian bersamaan.
Kepanikan jelas terlihat di wajah Gama dan Lilian. Mereka khawatir jika pasukan ghoib itu menyerang mereka lalu menculik bayi mereka.
" Salah Lo, kenapa ngebut bawa mobilnya. Coba kalo Lo klakson atau ngasih kode apa kek supaya pasukan itu minggir, pasti mereka ga marah dan bikin Kalian ketakutan kaya gini...," kata Rex sambil meĺengos.
" Ok deh, Gue emang salah. Terus Gue harus gimana Rex...?!" tanya Gama putus asa.
Rex hanya membisu tanpa mau menjawab pertanyaan Gama.
" Jangan diem aja dong Rex. Apa Kamu ga kasian sama Cucu Ibu...," kata Lanni hingga menyadarkan Rex.
Entah mengapa ucapan lembut sang ibu mampu membuat kemarahan Rex yang tadi memuncak itu hilang seketika.
" Aku ga bisa jawab sekarang Bu. Yang Aku tau, mereka lagi mengawasi Kita. Karena itu Kita cuma bisa berdzikir untuk melindungi diri saat ini. Sebaiknya Kalian sedekah besok. Insya Allah itu bisa mengurangi akibat buruk yang bakal timbul nanti. Dan ke depannya Kalian harus lebih hati-hati lagi terutama Lo Gam...," kata Rex.
" Iya Rex, makasih...," sahut Gama sambil tersenyum.
" Sama-sama. Udah malam nih, sebaiknya Kakak tidur. Kasian debaynya...," kata Rex sambil bangkit dari duduknya dan bersiap masuk ke kamar.
Namun mendadak Gama dan Lilian menghadang langkah Rex sambil merentangkan kedua tangan masing-masing.
" Rex...!" panggil Gama dan Lilian bersamaan.
" Apaan...?!" tanya Rex sambil cemberut.
" Maaf...," sahut Gama dan Lilian sambil memeluk Rex dengan erat.
" Kebiasaan...," gumam Rex sambil balas memeluk Gama dan Lilian.
Sambil memeluk, Rex juga menepuk punggung Gama dan Lilian pertanda ia memaafkan mereka.
Sesaat kemudian tawa pun menggema di ruangan itu. Ramon dan Lanni pun hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd anak dan menantunya itu.
\=\=\=\=\=
Kemudian Rex meraih ponselnya untuk menghubungi sang kekasih. Namun ia urungkan saat melihat jam dinding menunjukkan angka dua belas malam.
" Terlalu malam. Sebaiknya besok pagi aja. Kasian kalo ditelephon sekarang, dia pasti lagi tidur...," gumam Rex sambil tersenyum tipis.
Kemudian Rex membaringkan tubuhnya setelah sebelumnya ia mengibas tempat tidur dengan sapu lidi. Perlahan Rex memejamkan mata. Namun sesaat kemudian Rex kembali membuka mata saat mendengar suara gaduh di luar kamar.
" Suara apaan sih, berisik banget...," gumam Rex sambil bergegas membuka tirai jendela.
Sepi, tak ada apa pun. Rex menghela nafas panjang saat sadar dirinya dikerjai oleh sesuatu.
" Ga usah main-main. Kalo emang mau ngomong, ngomong aja sekarang. Kalo ga, pergi sana. Aku capek mau istirahat...," kata Rex tegas.
Rex menunggu beberapa saat dan sesuatu yang ia tunggu itu ternyata tak bersedia berkomunikasi dengannya saat itu. Karena lelah menunggu, Rex kembali menutup tirai jendela lalu berjalan menuju tempat tidur.
Rex menguap panjang. Sebelum membaringkan tubuhnya Rex nampak kembali mengibas tempat tidurnya dengan sapu lidi.
" Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad...," gumam Rex.
Ajaib. Sesuatu yang berbaring di atas tempat tidur Rex pun menjerit lalu bergerak menjauh dari tempat tidur. Rex mengerutkan keningnya sejenak sambil tersenyum penuh makna.
" Ternyata Kau sembunyi di sini...," kata Rex lirih.
" Urusan Kita belum selesai !. Aku akan kembali, ingat itu...!" kata suara tanpa wujud.
" Iya iya, Aku tau. Terserah Kau kapan mau datang. Kau bebas datang dan pergi sesuka hatimu karena Kau bisa menembus ruang dan waktu...," sahut Rex dengan enggan.
Setelah mengatakan itu Rex pun membanting tubuhnya di atas tempat tidur dengan kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran makhluk tak kasat mata tadi. Setelahnya Rex memejamkan matanya tanpa mau mempedulikan suara-suara yang mengganggunya.
Saat sadar Rex tak menggubris kehadiran mereka, pemilik suara itu pun pergi meninggalkan Rex begitu saja.
Sedangkan di kamar Lilian di waktu yang sama. Lilian nampak berbaring gelisah. Sekujur tubuh dan wajahnya berkeringat, menandakan jika Lilian tengah bermimpi buruk.
Di sampingnya Gama nampak terlelap dan tak terusik sama sekali dengan gerakan Lilian. Padahal gerakan Lilian menyebabkan kasur yang mereka tiduri berguncang.
Saat itu Lilian merasa sangat lelah karena harus berlari menghindari sesuatu. Lilian tak tahu apa yang menyebabkannya berlari. Instingnya menuntunnya untuk berlari sejauh mungkin.
" Dimana ini, kenapa ga sampe-sampe sih...," keluh Lilian dalam mimpinya.
Saat itu Lilian merasa berada di sebuah tempat yang asing. Tak terlihat apa pun di sana karena semuanya terlihat sama yaitu hitam dan gelap.
Ada suara aneh di sekitar Lilian yang membuatnya tak nyaman. Lilian refleks memeluk perutnya yang membuncit itu karena khawatir sesuatu akan menyakiti bayi dalam kandungannya.
Lilian terkejut saat merasa sesuatu merambat di kedua kakinya. Ia menoleh ke bawah dan tak melihat apa pun. Karena takut, Lilian pun berusaha bergeser menjauh dari tempat itu namun gagal. Sesuatu yang tak terlihat itu justru merambat naik menyusuri kakinya dengan cepat.
Lilian pun memanggil suaminya saat merasa sesuatu itu kini mencapai perut bawahnya.
" Gama, Sayang...!" panggil Lilian lantang dan berulang-ulang.
Di panggilan ke sekian Lilian merasa sesuatu meremas perutnya dengan kuat hingga membuat Lilian menjerit sekencang-kencangnya.
" Anakkuuu...!" jerit Lilian lantang hingga mengejutkan seisi rumah.
Gama pun terbangun lalu menoleh dan melihat istrinya tengah memeluk lutut dengan tubuh bergetar hebat. Gama makin panik saat melihat darah membasahi sprei tepat di bagian bawah tubuh Lilian.
Saat itu Gama sadar jika ia telah kehilangan bayinya. Ia bergegas memeluk Lilian dengan erat karena tahu itu yang Lilian butuhkan sekarang.
\=\=\=\=\=