Kidung Petaka

Kidung Petaka
128. Panti Asuhan


Usai mendengar senandung aneh di kejauhan yang menjadi tanda akan datangnya sebuah 'musibah' itu, Rex pun menggamit tangan Elvira hingga membuat gadis itu terkejut.


Belum hilang rasa terkejutnya, Elvira terpaksa berlari mengikuti Rex karena sang kapten menarik tangannya sambil berlari.


" Ada apa Kapten...?!" tanya Elvira lantang hingga menyadarkan Rex.


Rex berhenti berlari lalu menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Elvira ada bersamanya dan tangan gadis itu ada dalam genggaman tangannya.


" Maaf. Saya ga sengaja...," sahut Rex sambil bergegas melepaskan genggaman tangannya.


" Gapapa Kapten. Tapi ada apa sebenernya, kenapa Kapten lari...?" tanya Elvira sambil menatap wajah sang kapten dengan tatapan bingung.


" Oh, ga ada apa-apa. Saya refleks aja tadi. Mungkin masih kebawa suasana saat Kamu diculik kemarin...," sahut Rex sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Melihat sikap sang kapten yang sedikit gugup membuat Elvira tersenyum diam-diam.


" Kenapa sendirian, apa ga ada yang jemput Kamu Bu guru...?" tanya Rex kemudian.


" Saya emang sengaja ga ngabarin kepulangan Saya ini Kapten. Jadi ga ada yang jemput karena ga ada yang tau kalo Saya pulang hari ini...," sahut Elvira sambil membuang pandangannya kearah lain.


Rex mengerutkan keningnya karena menangkap sesuatu dalam nada bicara Elvira. Ia yakin jika gadis itu sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.


" Saya juga gitu kok. Saya ga ngasih kabar kepulangan Kita karena ga mau orangtua Saya repot harus ke bandara malam-malam begini. Walau Saya yakin setelah ini bakal dapat pukulan, tapi itu lebih baik daripada melihat mereka duduk kedinginan di sini..., " kata Rex dengan santai hingga membuat Elvira tersenyum.


" Anda beruntung karena memiliki orangtua yang baik dan menyayangi Anda Kapten...," sahut Elvira lirih.


" Maaf, Kamu ngomong apa barusan...?" tanya Rex sambil menatap Elvira lekat.


" Ga ngomong apa-apa. Kalo gitu Saya duluan Kapten...," sahut Elvira sambil bersiap melangkah.


" Bareng Saya aja Bu guru. Lumayan lho bisa menghemat ongkos Taxi...," gurau Rex hingga membuat Elvira tertawa.


" Menarik. Ok deh, Saya setuju...," sahut Elvira cepat hingga membuat Rex ikut tertawa.


Kemudian keduanya menghampiri sebuah Taxi yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tak lama kemudian Taxi pun melaju meninggalkan bandara dengan cepat.


Tanpa Rex dan Elvira sadari, sepasang mata menatap kebersamaan mereka dengan tatapan kesal. Pemilik sepasang mata itu nampak mengepalkan tangan dengan geram karena tak suka melihat kebahagiaan yang ditunjukkan Rex dan Elvira.


\=\=\=\=\=


Di perjalanan Rex dan Elvira berbincang akrab layaknya teman lama. Entah mengapa kecanggungan diantara mereka menguap begitu saja. Sesekali mereka tertawa mengingat tingkah lucu rekan relawan mereka saat bertugas di Afrika. Supir Taxi yang mendengar pembicaraan mereka pun ikut tertawa.


" Seru banget sih ceritanya Mas, Mbak. Maaf ya kalo Saya jadi ikutan ketawa. Bukan bermaksud nguping ya, tapi ceritanya emang beneran lucu sih...," kata supir Taxi di sela tawanya.


" Gapapa Pak, santai aja. Kan ga ada larangan tertawa di negara Kita. Jadi ketawa aja mumpung gratis...," sahut Elvira santai disambut tawa Rex dan supir Taxi.


" Emangnya Mas sama Mbaknya abis darimana sih...?" tanya supir Taxi.


" Kami baru aja pulang dari misi kemanusiaan di Afrika Pak...," sahut Rex.


" Misi kemanusiaan itu semacam kerja sosial Pak. Dalam misi kemanusiaan semua anggotanya adalah relawan yang sukarela mendaftar, tanpa paksaan dan tanpa gaji. Kami membantu warga yang mengalami kesulitan dengan cara memberi mereka makanan siap makan, pakaian, obat-obatan dan lain-lain. Alhamdulillah misi Kami berjalan lancar. Bahkan Kami meninggalkan ilmu yang bermanfaat untuk mereka. Kami harap ilmu itu bisa dipake untuk membawa mereka ke kehidupan yang lebih baik kelak..., " sahut Rex sambil tersenyum puas.


" Oh gitu. Wah salut deh Saya sama anak muda macam Kalian yang mengisi waktu dengan melakukan hal positif kaya gitu. Hebat banget ya Kalian ini...," puji sang supir Taxi.


" Biasa aja Pak. Kegiatan kaya gini kan bisa dilakukan oleh siapa pun. Mungkin yang lain belum tau aja cara daftar jadi relawan di misi kemanusiaan kaya gini, makanya mereka ga ikutan deh...," sahut Elvira merendah.


" Iya juga sih. Lagi pula belum tentu semua yang daftar bisa berangkat kan Mbak. Pasti ada kriteria khusus sampe mereka bisa berangkat ke sana kaya Mbak sama Mas gini...," kata supir Taxi sambil melirik kearah Elvira.


Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Rex nampak ikut tersenyum mengingat kemampuan bela diri Elvira yang selama ini tersimpan rapi di balik penampilannya yang anggun itu.


" Nah Kita sampe Mbak...," kata supir Taxi sambil menepikan mobilnya di depan sebuah bangunan besar dengan halaman yang luas.


Rex menajamkan penglihatannya dan terkejut saat membaca papan nama yang terdapat di depan pagar bangunan itu.


" Panti Asuhan Pelita Ibu. Anda tinggal di sini Bu Elvira...?!" tanya Rex sambil menatap tak percaya kearah Elvira.


" Betul Kapten. Kenapa...?" tanya Elvira sambil turun dari Taxi.


" Gapapa. Jadi Anda ini...," ucapan Rex terputus karena Elvira memotong cepat.


" Saya yatim piatu Kapten. Saya dibesarkan di panti asuhan ini sejak masih bayi. Harusnya usia seperti Saya sudah ga bisa tinggal di sini. Tapi karena Ibu panti melarang Saya pergi, jadinya Saya tetap tinggal di sini. Dan Saya cukup tau diri dengan ga merepotkan Beliau. Makanya gaji Saya sebagai guru sebagian Saya sisihkan untuk membantu memenuhi keperluan adik-adik di panti ini...," sahut Elvira sambil tersenyum.


Ucapan Elvira membuat Rex tertegun. Ia tak menyangka jika Elvira memiliki kisah hidup yang dramatis. Rex tersentak kaget saat supir Taxi meletakkan tas besar milik Elvira di depannya.


" Ini tasnya Mbak...," kata supir Taxi dengan santun.


" Ok, makasih ya Pak...," sahut Elvira sambil tersenyum.


" Sama-sama Mbak...," kata supir Taxi lalu duduk menunggu di balik kemudi.


" Maaf kalo ga bisa ngajak Kapten mampir. Ini udah larut banget. Saya ga mau suara Kapten malah bangunin Ibu dan Adik-adik Saya nanti...," gurau Elvira.


" Gapapa Bu Elvira. Saya maklum kok. Kalo gitu Saya pamit ya. Assalamualaikum..., " kata Rex sambil membuka pintu Taxi.


" Wa alaikumsalam, hati-hati Kapten...," sahut Elvira yang diangguki Rex.


" Tunggu sebentar...," kata Rex tiba-tiba.


" Iya, ada apa Kapten...?" tanya Elvira sambil mengerutkan keningnya.


" Apa Saya boleh berkunjung ke sini Bu Elvira ?. Mungkin memberi uang santunan atau hadiah kecil buat anak-anak panti...?" tanya Rex sambil menatap Elvira lekat.


" Tentu boleh Kapten. Silakan datang karena pintu panti terbuka lebar untuk orang baik seperti Anda...," sahut Elvira sambil tersenyum lebar.


Mendengar jawaban Elvira membuat Rex tersenyum. Tak lama kemudian Rex telah berada dalam perjalanan pulang menuju ke rumah orangtuanya.


\=\=\=\=\=