
Tak lama kemudian Elvira kembali dengan membawa secangkir kopi untuk Rex.
" Silakan Kapten...," kata Elvira.
" Makasih Bu Elvira..., " sahut Rex yang diangguki Elvira.
" Minum dulu Mas, abis itu Kita mulai bergerak...," kata ustadz Akbar setengah berbisik.
Rex menuruti permintaan ustadz Akbar. Ia meneguk sedikit kopi buatan Elvira untuk menghilangkan rasa pening. Setelahnya ia bangkit mengikuti ustadz Akbar.
Ustadz Akbar dan Rex berjalan mengelilingi panti asuhan sambil mencari keberadaan sepasang suami istri yang katanya sedang mencari anak-anaknya itu. Dan mereka berhenti di halaman samping.
" Liat di sana Ustadz. Bukannya dua orang itu terlihat mencurigakan ya...," kata Rex sambil menunjuk keluar pagar.
" Benar Mas Rex. Keliatannya mereka lah orang yang dibicarakan sama Anak-anak itu...," sahut ustadz Akbar.
Rex pun mengangguk sambil mengamati sepasang suami istri yang sedang kebingungan itu. Namun sedetik kemudian Rex membulatkan matanya karena melihat wujud asli mereka.
Rex melihat penampilan sepasang suami istri itu memang masih mengenakan pakaian layaknya manusia biasa tapi dengan wujud yang berbeda. Kepala keduanya berwujud biawak dengan lidah yang sesekali menjulur keluar. Di bagian belakang tubuh mereka terlihat ekor yang menyembul keluar dan sebagian menjuntai ke tanah.
" Ternyata mereka bukan manusia Ustadz, mereka adalah siluman biawak...," kata Rex.
" Iya Mas. Mereka datang ke sini untuk mencari telur-telurnya...," sahut ustadz Akbar cepat.
" Apa Ustadz bawa telur-telur itu...?" tanya Rex.
" Tentu Mas. Saya udah selesai meruqyah telur-telur itu. Insya Allah mereka ga akan terpengaruh oleh ucapan orangtuanya...," sahut ustadz Akbar dan diangguki Rex.
Seolah menyadari dirinya sedang diamati, sepasang suami istri jelmaan siluman biawak itu menoleh kearah Rex dan ustadz Akbar. Kemudian dengan cepat kedua siluman itu menghampiri mereka untuk bertanya.
" Akhirnya Kalian datang...," kata pria jelmaan siluman biawak.
" Yah, Kami bukan pengecut. Jadi Kami datang untuk menyelesaikan semuanya...," sahut ustadz Akbar.
Ucapan ustadz Akbar membuat sepasang suami istri itu mendengus marah.
" Menyelesaikan apa. Kami yang kehilangan jadi hak Kami untuk menuntut...!" kata pria jelmaan siluman biawak.
" Sekarang dimana Anak-anak Kami...?" tanya wanita jelmaan siluman biawak tak sabar.
" Mereka ada di sini. Ini lihat lah...," kata ustadz Akbar sambil memperlihatkan toples kaca berisi telur-telur biawak.
Rex melirik kearah ustadz Akbar. Saat itu sang ustadz mengeluarkan toples kaca yang entah disimpan dimana lalu menyodorkannya ke hadapan sepasang suami istri itu. Namun saat melihat aura sejuk yang menyelimuti telur-telur itu, Rex pun menghela nafas lega.
Sepasang suami istri itu nampak tersenyum melihat anak-anak mereka dalam keadaan aman dan baik-baik saja. Namun senyum itu memudar saat mereka menyadari telah terjadi sesuatu pada anak-anak mereka.
" Apa yang Kau lakukan, kenapa Anak-anakku seperti ini...?!" tanya wanita itu histeris.
" Aku hanya melakukan yang seharusnya. Aku menjinakkan mereka dan itu menguntungkan Kalian nanti. Mereka anak-anak yang baik, mereka akan tumbuh jadi biawak normal yang hidup sesuai habitatnya. Mengejar tikus atau kelinci sebagai makanan dan bukan menyerang manusia. Sebagai orangtua harusnya Kalian berterima kasih padaku karena Aku telah mewakili Kalian menyelamatkan hidup mereka. Jangan justru membiarkan anak-anak itu dimanfaatkan oleh orang tak bertanggung jawab untuk memenuhi ambisi jahat mereka...," sahut ustadz Akbar dengan tenang.
" Itu bukan urusanmu !. Mereka Anakku jadi Aku yang berhak menentukan masa depan mereka. Mau jadi apa dan apa yang harus mereka lakukan, Aku yang mengatur bukan Kau...!" kata pria jelmaan siluman biawak marah.
" Sayangnya Kau terlambat. Kau hanya bisa menyaksikan mereka tumbuh sebagai biawak dan bukan sebagai siluman jahat seperti Kalian...," sahut ustadz Akbar sambil tersenyum sinis.
" Sia*an !. Sekarang terima akibat kelancanganmu ini...!" kata pria jelmaan siluman biawak itu dengan lantang.
Siluman biawak itu menyerang ustadz Akbar dengan beringas. Dari jarak yang lebih dekat Rex bisa melihat permukaan kulit siluman biawak yang menebal layaknya kulit biawak. Kedua cakarnya terlihat mengembang dan ekornya mengibas ke kanan dan ke kiri.
Ustadz Akbar bersiap menghadang tapi Rex mendahului. Rex berdiri menghadang pria itu dan menyambut serangannya.
Benturan pun tak terelakkan hingga menimbulkan suara ledakan yang memekakkan telinga. Meski pun begitu, tak seorang pun datang untuk melihat apa yang terjadi karena pertempuran itu memang tak terlihat oleh mata biasa.
Melihat suaminya bertarung dengan Rex, wanita jelmaan siluman biawak itu tak tinggal diam. Ia meletakkan toples kaca berisi telur-telur biawak itu di tanah lalu menyerang ustadz Akbar.
Ustadz Akbar yang sedikit lengah terkejut saat siluman itu berhasil melukai lengannya dengan cakarnya yang terkembang itu. Melihat ustadz Akbar terluka dan mengeluarkan darah membuat siluman biawak itu senang dan menepukkan ekornya ke tanah seolah sedang merayakan kemenangannya.
Ustadz Akbar nampak mengusap lukanya sejenak sambil berdzikir untuk mengurangi rasa nyeri yang menusuk lengannya. Setelahnya ustadz Akbar balik menyerang siluman biawak itu.
Saat pertempuran terjadi, telur-telur biawak yang ada di dalam toples kaca itu nampak bergetar. Sesaat kemudian telur-telur itu retak dan terbuka. Rupanya telur-telur biawak itu menetas.
Suara anak-anak biawak yang baru saja menetas mengalihkan perhatian siluman biawak wanita. Ia menoleh dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh ustadz Akbar dengan menyerangnya tepat di bagian perut.
Wanita jelmaan siluman biawak itu terjengkang ke tanah sambil menjerit kesakitan dan itu mengejutkan sang suami. Saat itu kondisi sang suami juga tak lebih beruntung dari istrinya. Banyak luka di tubuhnya akibat serangan Rex dan itu membuatnya lemah.
Sadar jika mereka tak akan mampu menghadapi Rex dan ustadz Akbar, siluman biawak itu pun melompat mundur sambil memegangi dadanya.
Rex pun tak lagi mengejar karena ia tak ingin memperlihatkan sesuatu yang buruk di depan anak-anak biawak yang baru saja menetas itu. Meski pun Rex tak tahu apakah anak-anak itu sudah bisa memahami apa yang tersaji di depannya saat mereka baru saja melihat dunia.
" Cukup Mas Rex...," kata ustadz Akbar sambil menepuk bahu Rex.
" Iya Ustadz. Saya juga udah ga berminat melanjutkan semuanya...," sahut Rex.
" Kenapa berhenti ?. Bukan kah Kalian bilang akan menyelesaikan semuanya sekarang...?!" tantang siluman biawak dengan sombong.
" Kami masih punya hati nurani. Kami ga mungkin menyuguhkan sesuatu yang tak layak untuk anak-anakmu. Lihat lah mereka, apa Kamu ga kasian sama mereka ?. Mereka baru lahir dan butuh pelukan. Tapi Kau sibuk memperjuangkan sesuatu yang salah...!" kata ustadz Akbar kesal.
Ucapan ustadz Akbar seolah menyadarkan kedua siluman itu. Mereka menoleh kearah toples kaca dimana telur-telur itu berada. Kedua siluman itu nampak antusias saat melihat anak-anak mereka telah 'lahir'.
" Anakku...!" kata siluman biawak itu bersamaan.
Kedua siluman biawak itu menghampiri toples berisi biawak-biawak kecil yang terlihat kebingungan mencari jalan keluar. Untuk sesaat mereka tertawa bahagia. Lalu sang suami menghancurkan toples hingga semua anak biawak terbebas dari kungkungan toples kaca itu.
Anak-anak biawak yang baru saja menetas itu dengan cepat merambat naik ke tubuh kedua orangtuanya hingga membuat kedua siluman biawak tertawa bahagia.
Rex dan ustadz Akbar pun ikut tersenyum menyaksikan kebahagiaan keluarga siluman biawak itu.
\=\=\=\=\=