Kidung Petaka

Kidung Petaka
54. Sampe Jakarta


Setelah selesai menjalankan tugas selama hampir tiga bulan di pulau Madura, Rex dan pasukannya kembali diterbangkan ke Jakarta.


Pesawat mendarat di pangkalan udara Halim Perdana Kusuma saat jam tiga dini hari. Mereka disambut oleh Wakil Pangdam Jaya dan jajarannya karena Pangdam Jaya sedang bertolak keluar negeri.


Sebagian keluarga anggota pasukan datang menjemput dan sebagian lain memilih tinggal di rumah masing-masing termasuk Ramon dan keluarganya.


Rex dan pasukan yang tak dijemput keluarganya diantar menggunakan truk menuju lokasi terdekat dari rumah masing-masing. Rex turun di pertigaan jalan raya dan berjalan santai menuju rumah.


Rex menikmati suasana gelap menjelang Subuh sambil berdzikir. Ia mengedarkan pandangan sambil terus melangkah. Di balik rimbunan pohon pisang Rex melihat sosok menyerupai guling berkain lusuh tengah berdiri sambil menatap kearahnya.


" Ck, poci. Mau nakutin Gue ya, percuma. Gue pernah liat yang lebih serem dibanding Lo...," kata Rex sambil melengos lalu melanjutkan langkahnya.


Ucapan Rex memancing makhluk tak kasat mata lainnya untuk memperlihatkan diri. Mereka berseliweran di depan Rex seolah memancing perhatian Rex. Nampaknya makhluk tak kasat mata kali ini harus menyerah kalah. Karena Rex justru mengabaikan kehadiran mereka.


Tiba-tiba Rex berhenti saat melihat sekelompok remaja berlari cepat kearahnya. Rex memasang sikap waspada dan langsung menepi karena tak mau tertipu.


Rupanya para remaja itu baru saja pulang usai begadang di pos ronda. Mereka lari tunggang langgang karena berpapasan dengan miss K yang menyapa mereka dengan genit.


" Kabuurrr Bang..., ada kuntiii...!" seru salah seorang remaja sambil berlari cepat.


Rex nampak menggelengkan kepala sambil menatap kelompok remaja yang berlari cepat itu. Setelahnya Rex kembali melangkah menuju ke rumahnya. Namun sayang langkah Rex lagi-lagi terhenti karena ulah para remaja itu.


Rupanya para remaja itu balik arah karena mendapat gangguan serupa di ujung jalan sana. Mereka terus menjerit hingga membuat gaduh.


" Berhenti...!" kata Rex lantang hingga membuat para remaja berhenti berlari.


Mereka menoleh takut kearah Rex dan bernafas lega saat mengetahui jika yang menyapa mereka adalah manusia.


" Kalian ngapain lari-larian di pagi buta kaya gini ?. Tau ga kalo ulah Kalian udah mengganggu ketenangan warga...?!" tanya Rex sambil menatap remaja itu satu per satu.


" Tau Bang...," sahut para remaja itu bersamaan.


" Kalo tau ngapain masih dilakuin...?" tanya Rex lagi.


" Kami mau berhenti lari tapi ga bisa Bang. Di semua arah ada setan dan itu bikin Kami takut...," sahut salah seorang remaja sambil menatap ke sekelilingnya.


" Kalian yang lebay. Mana ada setan di semua arah...," kata Rex kesal.


" Beneran Bang. Di sana ada kunti, di sana ada poci, di sana ada nenek-nenek, di sana...," ucapan remaja itu terputus karena Rex memotong cepat.


" Kalian yang salah, makanya mereka nongol dimana-mana. Sekarang jujur Kalian abis ngapain, kenapa hantu itu ngikutin Kalian terus...?" tanya Rex sambil menatap curiga kearah para remaja di hadapannya itu.


Para remaja itu terdiam sambil menunduk. Mereka nampak bergerak gelisah karena malu aksinya telah diketahui oleh Rex.


" Kalo Kalian ga mau jujur Saya ga bisa bantu. Saya sih ga masalah, tapi itu artinya Kalian harus siap diterror sama hantu-hantu itu selamanya...," kata Rex menakut-nakuti.


Ucapan Rex berhasil membuat para remaja itu panik. Mereka saling menyalahkan satu sama lain hingga membuat Rex tersenyum. Kemudian Rex melangkah dengan tenang meninggalkan kelompok remaja itu.


" Tunggu Bang Rex !. Kami mau jujur. Tapi tolong bantuin supaya hantu itu ga ngikutin Kami ya Bang...," pinta salah seorang remaja penuh harap.


Mendengar namanya disebut membuat Rex sedikit terkejut. Ia menajamkan pandangannya dan berusaha mengenali remaja yang menyebut namanya tadi.


" Kamu Fadlan, adiknya Fatir yaa...?" tanya Rex.


" Iya Bang...," sahut Fadlan lega karena Rex mengenalinya.


" Terus ngapain di sini. Apa Fatir tau kalo Kamu ga pulang ke rumah dan masih berkeliaran jam segini...?" tanya Rex sambil menatap penuh selidik.


" Mmm..., itu Bang...," kata Fadlan salah tingkah.


" Aku kabur lewat jendela...," sahut Fadlan hingga membuat semua temannya tertawa sedangkan Rex hanya menggelengkan kepala.


" Terus apa yang mau Kamu ceritain ?. Apa ini ada kaitannya sama hantu yang ngejar Kalian tadi...?" tanya Rex.


Fadlan menggangguk lalu mengatakan sesuatu yang membuat Rex sakit kepala.


" Kami abis main jailangkung di rumah kosong dekat lapangan sana Bang...," kata Fadlan salah tingkah.


" Main jailangkung...?" ulang Rex.


" Iya Bang...," sahut Fadlan dan teman-temannya.


" Kalian tau ga apa resikonya main itu...?" tanya Rex.


" Ga tau, tau...," sahut Fadlan dan teman-temannya.


Jawaban acak Fadlan cs membuat Rex menghela nafas panjang sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Sebenernya Abang capek karena baru pulang dinas di Jawa Timur. Masalah yang Kalian buat sederhana tapi penyelesaiannya ga sesederhana yang Kalian kira. Butuh proses dan sedikit waktu lebih untuk membuat semuanya kembali normal. Jadi sebaiknya Kita cari waktu buat menyelesaikan semuanya biar hantu itu ga ngejar Kalian lagi...," kata Rex menjelaskan.


" Apa hantu itu bakal ngikutin Kami terus Bang...?" tanya teman Fadlan.


" Itu resiko yang harus Kalian terima. Berani main api ya harus siap terbakar. Paham kan maksud Abang...?" tanya Rex sambil menepuk bahu remaja itu.


Fadlan dan teman-temannya mengangguk. Mereka nampak menyesali tindakan konyol mereka. Akibat coba-coba sekarang mereka harus merasa ketakutan karena diikuti hantu yang dipanggilnya tadi.


" Sekarang sebaiknya Kalian pulang ke rumah masing-masing..., " kata Rex.


" Kami ga berani pulang Bang. Pasti dimarahin kalo ketauan pulang pagi. Apalagi Kami pergi tanpa pamit semalam...," sahut Fadlan cepat.


" Kalo gitu sebaiknya Kalian pergi ke masjid dan siap-siap sholat Subuh berjamaah. Abang nyusul setelah naro tas dan ganti baju...," kata Rex yang diangguki Fadlan dan teman-temannya.


" Tapi jangan lama-lama ya Bang...," pinta Fadlan.


" Emang kenapa, jangan bilang Kalian takut. Di sana kan rame banyak orang, tempat ibadah juga. Hantu pasti takut dan ga berani ngikutin Kalian. Apalagi kalo Kalian ikut sholat berjamaah terus bantuin marbot bersihin masjid...," kata Rex ketus.


Ucapan Rex membuat Fadlan dan teman-temannya salah tingkah. Kemudian mereka berjalan bersama menuju masjid. Saat tiba di depan rumahnya, Rex memisahkan diri. Ia masuk ke dalam rumah sedangkan para remaja itu melanjutkan langkah mereka menuju masjid.


Kedatangan Rex disambut gembira oleh kedua orangtuanya.


" Kamu pulang Nak...," kata Lanni sambil merentangkan kedua tangannya.


Rex pun tersenyum lalu memeluk Lanni erat sambil menciumi kepala sang ibu dengan sayang. Setelahnya ia memeluk Ramon sama eratnya.


" Ayah sama Ibu begadang ya...?" tanya Rex saat melihat dua cangkir kopi yang isinya tinggal setengah.


" Iya. Kami emang sengaja nunggu Kamu pulang...," sahut Lanni sambil tersenyum hingga membuat Rex terharu.


" Udah hampir Subuh. Kita sholat di masjid yuk...," ajak Ramon sambil mengusap punggung Rex.


" Siap Yah. Aku bersih-bersih dulu ya...," sahut Rex sambil bergegas masuk ke dalam kamar.


Ramon mengangguk senang lalu duduk menunggu Rex di ruang tengah.


Saat adzan Subuh berkumandang Ramon dan Rex telah berada di jalan menuju masjid. Lanni melepas kepergian anak dan suaminya sambil tersenyum. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah Lanni karena si anak bungsu kebanggaannya itu telah kembali ke dalam pelukannya.


\=\=\=\=\=