
Gondo dan Mira dibuat menganga tak percaya dengan pengakuan Gama. Mereka tak menyangka jika gadis yang ingin dinikahi Gama adalah Lilian, anak sahabat mereka sendiri.
" Kamu ga lagi main-main kan Gam...?!" tanya Gondo dengan nada suara tinggi.
" Demi Allah Aku serius Pa. Aku mencintai Lian sejak lama. Dan Aku sama dia udah pacaran sebulan ini. Aku memutuskan melamar dia karena Aku ga mau kehilangan dia Pa. Soalnya banyak kecoa pengganggu di sekitarnya, Aku khawatir bisa bikin dia berpaling dari Aku nanti...," sahut Gama gusar.
" Apa Om Ramon, Tante Lanni dan Rex tau soal ini...?" tanya Mira.
" Om Ramon sama Rex udah tau, tapi kalo Tante Lanni..., pasti akan tau juga nanti...," sahut Gama tak yakin.
Jawaban Gama membuat Mira dan Gondo saling menatap bingung.
" Duh bodohnya Aku. Tadi pagi Aku bahkan nelephon Ramon dan minta dia nemenin Kita buat ngelamar pacarnya Gama Ma. Mau ditaruh dimana mukaku ini kalo ketemu sama dia nanti...," kata Gondo sambil mengusak rambutnya sendiri.
" Ya ditaruh ditempatnya dong Pa, emang mau dipindahin kemana lagi. Ini semua bukan salah Kamu tapi salah anak sableng itu...!" sahut Mira sambil menatap galak kearah Gama.
" Maaf Ma, Pa...," kata Gama sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
" Ya sudah lah, mau gimana lagi ?. Toh cinta memang ga bisa diatur kemana arahnya...," kata Gondo sambil menghela nafas panjang.
" Jadi gimana keputusannya Pa...?" tanya Gama tak sabar.
" Keputusan apa...?" tanya Gondo tak mengerti.
" Jadi kan Kita melamar Lilian hari Minggu besok...?" tanya Gama penuh harap.
" Emangnya Lian mau nikah sama Kamu ?. Bukannya dia selalu nolak nikah sama cowok yang lebih muda apalagi sama Kamu...?" tanya Mira dengan enggan.
" Mama ga lupa kan kalo Aku sama Lian udah pacaran sebulan ini. Artinya Lian ga nolak Aku. Dan Aku yakin dia juga bersedia nikah sama Aku karena cuma Aku kandidat terbaik saat ini...," sahut Gama bangga.
" Terbaik saat ini. Artinya di masa depan bakal ada kandidat lain yang lebih baik dari Kamu dong...," kata Gondo.
" Makanya dilamar secepatnya biar bisa Aku nikahi secepatnya juga Pa. Jadi ga bakal ada peluang untuk kandidat lain buat masuk di kehidupan Lian...," sahut Gama cepat.
Jawaban Gama membuat kedua orangtuanya tertawa lepas. Bahkan Mira merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Gama.
" Ga nyangka Anak Mama udah dewasa dan mau nikahin anak perempuan orang. Yang membahagiakan karena itu adalah Lilian, anak sahabat Kami. Mama sama Papa setuju Kamu menikahi dia Nak...," kata Mira sambil mengecup kening Gama dengan sayang.
" Alhamdulillah..., makasih Ma...," kata Gama sambil balas mengecup kepala sang mama dengan sayang.
\=\=\=\=\=
Gama mengatur pertemuan keluarganya dengan keluarga Lilian di sebuah restoran. Hanya keluarga inti yang akan bertemu, jadi Gama sengaja membooking private room agar bisa bicara leluasa dengan keluarga Lilian nanti. Gama juga meminta agar ruangan dihias dengan cantik untuk mendukung kesakralan acara lamarannya nanti.
Bisa diduga bagaimana suasana pertemuan keluarga Ramon dan Gondo hari Minggu itu. Ruangan yang hanya berisi tujuh orang itu terlihat sunyi dan terasa canggung. Ternyata hiasan cantik di ruangan tak mampu mencairkan suasana, hingga akhirnya lelucon Rex lah yang mampu memecah suasana yang kaku itu.
" Ehm..., maaf sebelumnya. Kita lagi berada di acara lamaran keluarga lho bukan lagi ujian menembak untuk kenaikan pangkat. Kok tegang banget sih...," kata Rex sambil menatap semua orang di ruangan itu satu per satu.
Ucapan Rex membuat semua orang tertawa dan otomatis mencairkan suasana yang sempat tegang tadi.
" Iya maaf. Saya bingung mau ngomong apa. Saya masih malu dan merasa ga enak sama Mas Ramon. Wong sebelumnya Saya kan minta Mas Ramon buat nemenin Saya ngelamar pacarnya Gama. Ga taunya justru Kita malah ngelamar anaknya...," kata Gondo sambil tertawa hingga membuat Ramon ikut tertawa.
" Saya justru berterima kasih diajak ngelamar pacarnya Gama, jadi Saya bisa mempersiapkan hati Saya. Kalo ga, justru Saya bingung lho Gon. Wong Anakmu itu ga bilang apa-apa soal lamaran ini...," sahut Ramon sambil menggelengkan kepala.
Semua mata menatap Gama yang justru sedang asyik mengagumi kecantikan Lilian yang saat itu tampil dengan jarik batik dan kebaya modern berlengan pendek.
" Gama...!" panggil semua orang hingga mengejutkan Gama dan Lilian.
" Kamu nih lagi jadi pihak pertama yang bertanggung jawab sama semua ini, kok malah asyik ngeliatin Lilian...!" kata Mira gemas sambil menjewer telinga Gama.
" Aduuhhh..., sakit Ma...!" jerit Gama sambil berusaha menepis tangan sang mama.
" Rasain...!" kata Mira sambil mendengus kesal.
Tingkah Gama dan Mira tak urung membuat semua orang tertawa dan suasana benar-benar mencair.
Kemudian Gondo berdehem untuk menengahi dan mulai bicara serius.
" Untuk menghemat waktu, Saya langsung aja pada inti acara. Tujuan kedatangan Kami menemui keluarga Mas Ramon adalah bermaksud meminang Ananda Lilian untuk menjadi pendamping hidup Anak tunggal Kami Gama. Apakah kiranya Mas Ramon dan keluarga berkenan menerima anak Kami ini menjadi Suami Ananda Lilian sekaligus menjadi anggota keluarga Mas Ramon...?" kata Gondo hati-hati.
Hening sejenak. Ramon menatap istri dan kedua anaknya bergantian lalu menatap lawan bicaranya. Gama dan Lilian nampak membeku di tempat masing-masing karena khawatir jika niat baik mereka tak direstui.
" Ehm, terima kasih Mas Gondo atas niat baiknya. Saya seorang Ayah yang normal yang sama seperti Ayah lainnya. Saya juga menginginkan kebahagiaan untuk Anak-anak Saya. Karena itu Saya tak akan memaksakan kehendak Saya pada mereka terutama soal pasangan. Saya mewakili keluarga Saya menyerahkan jawaban pertanyaan tadi kepada Lilian karena dia lah yang akan menjalani pernikahan itu nantinya. Gimana Lilian, apa Kamu menerima pinangan Gama...?" tanya Ramon sambil menatap Lilian lekat.
Suasana kembali hening karena saat itu Lilian nampak menundukkan kepalanya seperti sedang berpikir keras. Tak lama kemudian Lilian mendongakkan wajahnya perlahan. Ia balas menatap ayahnya lalu mengangguk perlahan.
" Bismillahirrohmaanirrohiim. Iya Ayah, Aku bersedia menerima pinangan Gama...," kata Lilian mantap.
" Alhamdulillah..., " ucapan hamdalah pun terdengar menggema memenuhi ruangan itu.
Gama bahkan terlihat hampir menangis saking bahagianya mendengar jawaban Lilian.
" Makasih Sayang...!" kata Gama lantang hingga membuat semua orang tertawa terbahak-bahak sedangkan Lilian nampak tersipu malu.
Setelahnya Mira bangkit berdiri menyerahkan souvenir cantik kepada Lanni. Kemudian Mira juga menyerahkan dua set perhiasan kepada Lilian sebagai hadiah.
" Hadiah ini Mama pilih pake hati lho Lian. Entah mengapa waktu membeli perhiasan ini, yang terbayang justru wajah Kamu. Mama merasa Kamu akan terlihat makin cantik jika memakai perhiasan ini. Mama sampe beli dua set dengan warna berbeda lho saking sukanya sama perhiasan ini. Niatnya satu untuk Kamu dan satunya lagi untuk calon istrinya Gama. Ternyata Kamu toh yang bakal jadi menantu Mama, makanya dua set perhiasan ini Mama kasih buat Kamu semuanya...," kata Mira sambil tertawa.
" Makasih Ma...," sahut Lilian lirih dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama Sayang. Sini Mama bantu pake ya...," kata Mira yang diangguki Lilian.
" Jadi feeling Ibu emang ga pernah salah ya Mir...," kata Lanni sambil membantu Mira memakaikan perhiasan itu ke leher Lilian.
" Iya Lan. Ga nyangka kalo becandaan Kita malah jadi kenyataan...," kata Mira yang diangguki Lanni.
Setelahnya acara dilanjutkan dengan makan siang bersama. Menu istimewa pun diantar ke ruangan itu oleh para pelayan restoran.
Hari itu semua orang tertawa bahagia. Namun Gama tahu jika ada sesuatu yang mengganjal hati Rex.
" Hari ini semua happy, tapi kenapa Lo keliatan ga happy. Ada apa Rex...?" tanya Gama saat mereka melangkah menuju musholla untuk sholat Dzuhur berjamaah.
" Gue happy kok...," sahut Rex cepat.
" Ga usah bohong Rex...!" kata Gama hingga membuat Rex berhenti melangkah.
" Gue bakal ikut misi kemanusiaan ke Afrika Gam. Gue udah daftar dan udah di-acc sama Komandan...," kata Rex mengejutkan Gama.
" Kapan berangkat...?" tanya Gama dengan suara tercekat.
" Insya Allah bulan depan. Makanya Gue minta Lo nikahin Kak Lian secepatnya biar Gue bisa tenang pergi ke Afrika...," sahut Rex hingga membuat Gama mematung di tempat.
bersambung