Kidung Petaka

Kidung Petaka
152. Sang Dokter


Kedua dokter yang tadi mengecek kondisi Rex pun tiba di ruangan dokter pria bernama Hari.


" Gimana menurut Lo Sa...?" tanya dokter Hari.


" Apanya...?" tanya sang dokter wanita yang ternyata adalah dokter Aksara.


" Pasien yang tadi lah, apalagi emangnya. Kan Lo baru aja Gue ajak ngeliat kondisi pasien itu tadi...," sahut dokter Hari kesal.


" Oh itu. Kalo liat lukanya sih parah banget ya. Apalagi Lo bilang tadi lukanya sampe enam puluh persen. Ngeliat orang itu survive aja udah luar biasa banget. Biasanya kan pasien dengan luka bakar separah itu ga bisa merespon orang yang ada di dekatnya karena udah sibuk sama rasa sakit yang dideritanya...," sahut dokter Aksara sambil membuka maskernya.


" Betul Sa. Pasien Gue yang satu ini emang ajaib. Pas dibawa ke sini, dia masih sadar seratus persen. Padahal lokasi ledakan itu terjadi di daerah Cikampek sana. Lo bisa bayangin kan betapa panjang dan lamanya perjalanan dari sana ke sini tapi pasien masih tetap sadar dan ga mengeluh sama sekali. Mungkin karena dia anggota TNI kali ya, jadi sakit kaya gini mah ga berarti apa-apa buat dia...," kata dokter Hari sambil tersenyum.


Ucapan dokter Hari membuat dokter Aksara mengerutkan keningnya. Entah mengapa ia teringat dengan sosok Rex, seorang pria yang juga anggota TNI.


" Anggota TNI Angkatan Darat...?" tanya dokter Aksara ragu.


" Kalo itu Gue ga tau pasti. Emang kenapa Sa...?" tanya dokter Hari.


" Gapapa. Gue cuma inget sama temen Gue yang anggota TNI juga...," sahut dokter Aksara gusar.


" Temen atau demen...?" goda dokter Hari sambil mengerjapkan kedua matanya dengan mimik lucu.


" Ga usah mulai lagi deh Har..." kata dokter Aksara sambil mendengus kesal.


Jawaban dokter Aksara membuat dokter Hari tertawa. Ia pun mengusak rambut dokter Aksara hingga gadis itu bertambah kesal.


" Terus kenapa Lo ke sini Sa...?" tanya dokter Hari sambil meletakkan jaket snellinya di atas kursi.


" Sebentar. Pertanyaan Lo ga salah ya Har?. Kan Lo yang manggil Gue ke sini dodol...!" kata dokter Aksara kesal namun membuat dokter Hari kembali tertawa.


" Biasa aja dong Sa. Ngegas mulu sih...!" kata dokter Hari di sela tawanya.


" Ck, Lo tuh sebenernya mau apa sih Har?. Gue nih sengaja bela-belain datang ke sini pulang kerja, ternyata cuma buat dikerjain doang. Pake diajak ngecek kondisi pasien Lo segala. Maksud Lo apa sih...?!" tanya dokter Aksara tak sabar.


" Iya iya, sabar dong Bu dokter...," sahut dokter Hari sambil mengusap punggung tangan dokter Aksara untuk menenangkannya.


" Ga usah pegang-pegang !. Gue aduin sama Mia tau rasa Lo...!" ancam dokter Aksara.


" Eh, jangan dong. Masa Lo tega ngeliat Mia ngambek sama Gue terus batalin tunangan Kita. Jangan ya Sa, please...," kata dokter Hari penuh harap.


" Makanya ga usah macem-macem, pake pegang-pegang Gue segala. Lo bukan muhrim Gue tau ga...?!" kata dokter Aksara dengan galak.


" Salah Lo sendiri kenapa ga mau Gue jadiin muhrim...," sahut dokter Hari santai.


" Maksud Lo apaan sih Har ?. Kalo Lo terus ngelantur kaya gini, mendingan Gue pulang...," kata dokter Aksara sambil menyambar tasnya.


Tindakan dokter Aksara membuat dokter Hari terkejut lalu bergegas mengejar dan menahan langkah dokter Aksara.


" Ya Allah Sa, Gue bercanda doang tadi. Masa gitu aja marah sih...," kata dokter Hari.


" Gue ga suka bercanda kalo soal itu. Lo itu tunangannya Mia. Nah Mia itu sepupu Gue. Terus sekarang Lo ngerayu Gue. Lo pikir Gue g*la, mau ngeladenin cowok ga punya prinsip kaya Lo. Kalo gini cara Lo, lebih baik Gue bilang sama Mia kalo Lo tuh ga layak buat dia dan nyuruh dia batalin semua rencana pernikahan Kalian...!" kata dokter Aksara sambil mendorong tubuh dokter Hari hingga membentur dinding.


" Lepasin Gue...!" kata dokter Aksara lantang.


Dokter Hari segera melepaskan gadis itu. Ia nampak menyesal karena tak menyangka jika pembicaraan absurdnya tadi justru berujung petaka. Untuk sesaat ruangan itu menjadi hening. Kedua dokter itu terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Sesungguhnya semasa kuliah dulu dokter Hari memang menyukai dokter Aksara. Berkali-kali dokter Hari mencoba memberi perhatian lebih pada dokter Aksara. Namun gadis itu terlalu tangguh dan sulit didekati hingga membuat dokter Hari menyerah.


Kemudian dokter Hari bertemu dengan Mia, sepupu dokter Aksara. Saat pertama kali melihat Mia, dokter Hari merasa tertarik. Ia merasa wajah Mia mirip dengan dokter Aksara. Itu sebabnya ia mendekati gadis itu, memacarinya dan berniat menikahinya.


Namun saat acara pertunangan dokter Hari terkejut melihat dokter Aksara berada di tengah keluarga Mia. Dan saat itu dokter Hari tahu jika Mia dan dokter Aksara adalah saudara sepupu.


Untuk sesaat dokter Hari menjadi gamang. Perasaannya yang dulu terpendam kembali bersemi. Dokter Hari merasa memiliki kesempatan untuk mendekati dokter Aksara setelah ia tahu jika dokter Aksara baru saja putus dengan tunangannya.


Di sela kebimbangannya, dokter Hari keluar dari ruangan untuk menenangkan diri. Sang papa yang tahu jika putranya tengah dilema untuk memilih pun segera menasehati.


" Jangan membuat pilihan hanya berdasarkan na*su. Pikirkan baik-baik efeknya untukmu dan semuanya nanti...," kata papa dokter Hari.


" Apa maksud Papa...?" tanya dokter Hari pura-pura tak mengerti.


" Papa tau kalo diantara keluarga Mia ada seorang gadis yang membuatmu jatuh bangun mengejarnya dulu...," sahut sang papa sambil tersenyum kecut.


" Aku bingung Pa. Kalo boleh jujur Aku memilih Mia karena wajahnya yang mirip sama gadis itu. Saat tau mereka sepupu Aku jadi ga enak. Aku khawatir ga benar-benar mencintai Mia dan hanya menjadikan Mia sebagai pelarianku aja karena dia mirip sama gadis yang Aku cintai...," kata dokter Hari gusar.


" Papa rasa bukan karena itu. Kamu mencintai Mia karena semua yang ada padanya berbeda dengan gadis lain yang pernah Kamu temui termasuk gadis itu. Papa liat Mia gadis yang baik, sabar, pengertian. Dia cukup memahami profesimu yang dokter itu dan ga menuntut banyak hal darimu. Dan yang lebih penting adalah karena Mia juga mencintaimu dan menerimamu apa adanya...," kata sang papa sambil tersenyum.


" Jadi maksud Papa Aku dan Mia harus lanjutin semuanya...?" tanya dokter Hari.


" Iya. Anggap lah gadis dari masa lalumu itu hanya sebuah kerikil kecil di jalan yang Kamu dan Mia lalui. Boleh Kamu lewati atau singkirkan jika mengganggu. Gampang kan...?" tanya papa dokter Hari santai.


Ucapan sang papa membuat dokter Hari tersenyum lalu mantap melanjutkan rencana pertunangannya dengan Mia.


Lamunan dokter Hari buyar saat mendengar dokter Aksara membuka pintu.


" Maafin Gue Sa. Sebenernya maksud Gue minta Lo ke sini karena Gue mau ngenalin Lo sama temen Gue...," kata dokter Hari.


" Cowok...?" tanya dokter Aksara.


" Iya...," sahut dokter Hari cepat.


" Mau ngenalin atau mau nyomblangin nih...?" tanya dokter Aksara dengan mimik lucu hingga membuat dokter Hari tertawa.


" Gue mau ngenalin aja. Kalo cocok dan Kalian mutusin buat terus, itu sih terserah...," kata dokter Hari.


" Gitu ya. Ok deh, Gue setuju. Atur aja waktunya, Gue balik dulu yaa...," kata dokter Aksara sambil melangkah keluar dari ruangan dokter Hari.


" Ok Bu dokter...!" sahut dokter Hari sambil tersenyum lega karena perseteruannya dengan dokter Aksara tadi berakhir damai.


\=\=\=\=\=