
Tepat jam sembilan pagi, Ramon, Lanni dan Rex berangkat ke Cirebon. Mereka sengaja menggunakan jasa travel karena kondisi Rex dan Ramon yang tak memungkinkan untuk berkendara dalam jangka waktu lama dan menempuh jarak yang jauh. Jika Rex masih terlalu lelah karena baru saja menyelesaikan misi kemanusiaan di Afrika, maka Ramon justru berada dalam kondisi emosi yang tak stabil.
Di dalam mini bus terlihat Lanni berusaha menenangkan Ramon yang duduk di sampingnya. Sementara Rex duduk di belakang kedua orangtuanya bersama seorang pria.
" Berdoa aja supaya Mamak gapapa Yah. Dzikir dong, biasanya kan Kamu yang ngingetin Aku kok sekarang malah terbalik sih...," gurau Lanni mencoba menghibur suaminya.
" Iya Bu. Aku cuma khawatir aja sama Mamak. Aku juga ngerasa bersalah banget karena ga bisa jagain Mamak. Andai Mamak mau tinggal sama Kita mungkin Aku...," ucapan Ramon terputus saat Lanni memotong cepat.
" Jangan terus menerus menyalahkan diri sendiri Yah. Maaf kalo lancang. Mamak sama Kamu tuh sama-sama keras kepala, ga ada yang mau ngalah. Mamak egois Kamu juga. Jadi kalo ada kejadian kaya gini ya anggap aja ini resiko dari keputusan yang Kalian ambil...," kata Lanni kesal.
" Kok Ibu ngomong gitu sih...?" tanya Ramon.
" Waktu Mamak keukeuh mau pulang ke Cirebon, Aku kan udah bilang sama Kamu supaya resign dari kantor supaya bisa ikut Mamak. Tapi Kamunya ga mau. Padahal Aku sama Anak-anak udah setuju waktu itu...," kata Lanni mengingatkan.
" Itu karena Aku ga tega sama Kalian kalo harus tinggal di kampung. Kan Kalian lahir dan besar di kota, beda sama Aku. Daripada bikin Kalian ga nyaman lebih baik Aku putuskan begitu. Kupikir juga Mamak ga sendiri, kan ada Tini dan Suaminya yang bakal jagain. Selain itu Mamak udah biasa Kutinggal sejak Aku masih kuliah di Jakarta. Jadi ga masalah kan kalo Aku menetap di Jakarta bersama anak dan Istriku...," sahut Ramon membela diri.
" Nah, kalo udah tau jawabannya ngapain masih menyalahkan diri sendiri ?. Sekarang sebaiknya Kamu dan Ramzi siapkan mental untuk sesuatu yang buruk Yah. Mengingat usia Mamak yang sepuh, Aku khawatir kalo umur Mamak ga lama lagi. Harusnya Kamu juga bisa bujuk Ramzi supaya pulang. Mungkin kalo ngeliat Ramzi, semangat Mamak buat bertahan hidup bisa bangkit. Mudah-mudahan bisa bikin Mamak hidup lebih lama lagi...," kata Lanni sambil mengusap punggung tangan suaminya.
Ucapan Lanni menyentuh hati Ramon. Ia meraih Lanni lalu memeluknya dengan erat sambil membisikkan sesuatu.
" Makasih udah ngingetin Aku ya Sayang...," bisik Ramon sambil mengecup kening sang istri beberapa saat.
" Sama-sama Yah...," sahut Lanni sambil tersenyum.
Di kursi belakang terlihat Rex tersenyum simpul melihat perdebatan orangtuanya berakhir manis.
Kemudian Rex menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata bermaksud tidur untuk mengumpulkan tenaga. Namun lagi-lagi Rex terganggu dengan aroma yang menguar dari tubuh pria yang duduk di sampingnya. Pria itu bukan mengeluarkan bau tak sedap khas laki-laki yang biasa ia temui. Justru tubuh pria itu mengeluarkan aroma harum bunga-bungaan yang biasa ditabur di atas makam saat ziarah kubur. Mengingat hal itu membuat Rex sedikit gusar.
" Kenapa parfum cowok ini wanginya kaya kembang kuburan sih. Sadar ga sih dia kalo itu bikin semua orang ngeliatin dia. Jangan-jangan dia ga tau kalo daritadi orang-orang ngeliatin dan ngomongin dia...," batin Rex.
Karena merasa makin tak nyaman Rex pun membuka mata lalu menoleh kearah pria itu. Nampaknya pria itu sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian para penumpang. Kemudian pria itu bangkit lalu turun dari mobil saat mobil berhenti menjemput penumpang lain.
Sebelum berlalu, pria itu menoleh kearah Rex dan tersenyum tipis hingga membuat Rex bingung.
" Dasar orang aneh...," gerutu Rex sambil melengos.
Sesaat kemudian mini bus pun kembali melaju melanjutkan perjalanan. Rex pun bisa memejamkan mata dan tidur hingga tiba di Rumah Sakit tempat sang nenek dirawat.
\=\=\=\=\=
Rex dan kedua orangtuanya tengah berada di ruang tunggu bersama Tini dan suaminya. Saat itu Tini tengah menceritakan kronologi kejadian jatuhnya sang ibu.
" Untung cepet ketauan ya Tin, jadi bisa langsung dibawa ke Rumah Sakit...," kata Lanni sambil mengusap bahu Tini.
" Iya Mbak...," sahut Tini cepat.
" Terus apa kata dokter...?" tanya Ramon tak sabar.
" Mamak mengalami darah rendah Mas. Makanya pusing dan jatuh di kamar mandi. Karena benturannya keras, Mamak sampe pingsan tadi. Tapi dokter bilang Mamak juga kekurangan cairan, keliatannya Mamak jarang minum...," sahut Tini agak takut.
" Pasti karena Mamak ga mau minum walau pun udah Kamu sediain ya Tin...," kata Ramon cepat yang tahu kebiasaan ibunya itu.
" Iya Mas...," sahut Tini lega karena tak disalahkan telah lalai menjaga sang ibu.
" Ga usah ngomong kaya gitu Mas, Mamak kan juga Ibu Saya. Udah kewajiban Kita menjaganya dan Saya senang melakukannya...," sahut Tini dengan mata berkaca-kaca.
Ramon terharu lalu memeluk Tini dengan erat layaknya pelukan seorang kakak pada adiknya. Sikapnya membuat Lanni, Rex dan Daud ikut terharu.
Tiba-tiba pintu kamar Rusminah terbuka dan seorang perawat memanggil keluarga pasien. Ramon dan Tini bergegas mengurai pelukan lalu masuk ke dalam kamar diikuti Lanni dan Daud. Rex sengaja tak ikut masuk ke dalam kamar rawat inap sang nenek karena tertarik dengan sesuatu.
Rex melihat sebuah brankar didorong oleh dua orang perawat menuju kamar di samping kamar Rusminah. Saat brankar melintas di depannya Rex terkejut. Bagaimana tidak, pasien yang ada di atas brankar adalah pria yang sama yang duduk di sampingnya di mini bus tadi.
Rex menunggu di depan pintu berharap bisa bertanya pada salah satu perawat yang mendorong brankar tadi.
" Maaf Suster...," sapa Rex saat seorang perawat keluar dari kamar rawat inap itu.
" Iya Mas...," sahut sang perawat sambil menghentikan langkahnya.
" Kalo boleh tau pria itu kenapa ya...?" tanya Rex hati-hati.
" Apa Mas keluarganya...?" tanya sang perawat.
" Oh bukan. Saya cuma ngerasa kenal sama dia dan keluarganya...," sahut Rex cepat.
" Oh gitu. Namanya Fandi Mas, dia pasien lama di Rumah Sakit ini. Dia baru aja selesai menjalani operasi pencangkokan ginjal. Sayangnya saat operasi ga ada satu pun keluarganya yang menemani. Kasian dia...," sahut sang perawat.
" Kapan dioperasinya Sus...?" tanya Rex.
" Sejak tiga jam yang lalu Mas. Saat dibawa ke ruang operasi Fandi dalam kondisi ga sadarkan diri. Beruntung Fandi sempat menandatangani dokumen persetujuan operasi sebelumnya, hingga dokter bisa melakukan tindakan dengan segera...," sahut sang perawat.
" Terus hasilnya gimana Sus...?" tanya Rex penasaran.
" Pasien masih kritis Mas. Makanya ada perawat yang akan terus mengawasi kondisinya sampe dia stabil dan siuman nanti...," sahut sang perawat.
" Gitu ya. Makasih infonya ya Sus...," kata Rex.
" Sama-sama Mas. Kalo gitu Saya pergi dulu karena masih harus melanjutkan pekerjaan Saya...," sahut sang perawat.
" Silakan Suster...," kata Rex sambil tersenyum.
Rex nampak mengerutkan keningnya seolah berusaha mengingat saat ia bertemu pria yang mirip Fandi.
" Tapi Gue yakin kalo itu dia. Kalo kata perawat dia masuk kamar operasi tiga jam yang lalu, terus siapa cowok yang ada di mini bus itu. Hantunya Fandi, kok mirip banget. Atau jangan-jangan itu emang arwahnya Fandi yang berkeliaran untuk minta tolong...?" gumam Rex gusar.
Sesaat kemudian perawat lain yang ada di kamar rawat inap Fandi keluar tergesa-gesa. Tak sengaja Rex melihat kondisi Fandi yang tampak terbaring itu telah ditutupi selimut putih di sekujur tubuh dan kepalanya.
" Apa pasien itu meninggal Suster...?!" tanya Rex penasaran.
" Betul Mas. Pasien meninggal dunia satu menit yang lalu. Sekarang Saya harus kasih kabar ke dokter dan kerabat pasien...," sahut sang perawat sambil berlalu.
Rex berdiri mematung sambil membaca doa untuk almarhum Fandi. Usai Rex menyelesaikan bacaannya, ia terkejut saat melihat arwah Fandi berdiri di depan pintu kamar sambil tersenyum. Dan yang membuat Rex merinding adalah karena senyum Fandi mirip dengan senyum yang Fandi berikan saat Fandi turun dari mini bus tadi.
\=\=\=\=\=