
Di saat warga tengah dibuat gempar dengan kehadiran hantu mirip lampor itu, di saat itu pula hubungan Rex dengan dokter Aksara menghadapi dihadapkan pada sebuah ujian.
Semua berawal dari pertemuan tak sengaja antara Rex dengan Itje di sebuah restoran.
Saat itu Rex baru saja menghadiri acara temu kangen dengan teman-teman sekampusnya dulu. Pertemuan itu adalah pertemuan lanjutan usai mereka menghadiri reuni beberapa hari yang lalu. Hanya teman dekat, terdiri dari lima orang pria dewasa yang memiliki karir dan kehidupan berbeda yang hadir saat itu.
Pertemuan lima orang laki-laki dewasa itu pun berlangsung seru dan dihiasi gelak tawa. Masing-masing menceritakan kehidupan mereka termasuk pasangan mereka saat ini.
Saat sedang asyik berbincang dengan keempat temannya, tiba-tiba Rex pamit ke toilet.
" Dianter ga Rex...?" tanya Rubi.
" Ga salah Lo nanya gitu. Rex ini tentara lho, Kapten lagi. Masa ke toilet aja dianterin...?" kata Omar sambil tertawa.
" Emangnya kenapa kalo Rex itu Kapten. Toh dia tetep aja cowok, ganteng lagi. Gue cuma khawatir dia digangguin sama cowok tulang lunak di toilet nanti...," sahut Rubi sambil mengerjapkan matanya.
Ucapan Rubi membuat Rex dan ketiga teman mereka tertawa.
" Berisik Lo. Ga usah nganterin Gue, Lo semua di sini aja. Pesen apa yang Lo mau, ntar Gue yang traktir...," kata Rex sambil berlalu.
" Gue ikut Rex...!" kata Ardi tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya lalu mengejar Rex.
Lagi-lagi tawa pun terdengar dari ketiga teman Rex yang lain. Rex pun hanya tersenyum melihat tingkah lucu Ardi.
Setelah menyelesaikan hajatnya di toilet, Rex pun menunggu Erdi di depan toilet. Saat itu tak sengaja ia melihat Itje melintas dan berjalan cepat menuju ke sebuah meja. Rex bermaksud menyapa, karenanya ia mengikuti wanita itu.
" Lo duluan aja Ar. Gue mau menyapa Ibunya temen Gue sebentar di sana...," kata Rex saat Ardi keluar dari toilet.
" Ok deh...," sahut Ardi cepat.
Dengan senyum mengembang dan langkah mantap Rex pun bergegas menghampiri meja dimana Itje berada. Namun langkah Rex terhenti saat mendengar pembicaraan Itje dengan lawan bicaranya itu.
" Terus gimana sama pacarnya Bu...?" tanya seorang pria.
" Oh kalo soal itu Anda tenang aja Pak. Aksara itu anaknya penurut. Kalo Saya suruh putusin pacarnya, pasti diputusin...," kata Itje sambil tersenyum.
" Masa sih Bu. Keliatannya dokter Aksara itu wanita yang keras kepala dan memegang prinsip. Saya khawatir setelah berharap terlalu banyak, eh nanti malah kecewa...," kata pria yang tak lain adalah Melvin, owner Rumah Sakit tempat dokter Aksara bekerja.
" Pak Melvin serahin aja urusan itu sama Saya. Saya bisa jamin kalo setelah ini Aksara bakal ninggalin pacarnya yang kere dan ga punya masa depan itu. Sejujurnya Saya lebih setuju Aksara menikah dengan Bapak daripada menikah sama pacarnya itu...," sahut Itje antusias.
Ucapan Itje mengejutkan Rex. Ia memang menduga jika kedatangan Melvin ke rumah dokter Aksara dulu punya maksud terselubung. Tapi ia tak menyangka jika Melvin lah yang menginginkan Aksara untuk menjadi istrinya.
Entah mengapa detik itu Rex merasa jika hubungannya dengan sang kekasih tak memiliki harapan untuk dipertahankan.
" Bagus bagus. Saya tunggu janji Ibu ya. Dan sebagai hadiah permulaan, ini ada sedikit uang jajan untuk Ibu. Saya janji jumlah ini akan bertambah saat Saya resmi menikahi dokter Aksara nanti..," kata Melvin sambil menyerahkan amplop coklat berisi uang.
" Wah kok repot-repot sih Pak...," sahut Itje pura-pura malu.
" Gapapa Bu. Anggap aja ini uang kasih sayang dari calon menantu untuk calon mertuanya...," kata Melvin sambil tertawa puas.
" Saya ga bisa nolak kalo Pak Melvin memaksa...," sahut Itje sambil tersenyum penuh makna.
Dan saat tangan Itje terulur untuk meraih amplop berisi uang pemberian Melvin, saat itu lah Rex tampil dan menyapa Itje.
" Apa kabar Tante, senang bisa ngeliat Tante di tempat ini...," sapa Rex dengan ramah namun mengejutkan Itje.
" Sejak tadi Tante. Saya juga dengar semuanya termasuk saat Tante bilang Saya ini cowok kere dan ga punya masa depan...," sahut Rex sambil tersenyum.
Itje pun mematung di tempat, sedangkan Melvin tampak memandang remeh kearah Rex seolah Rex hanya lalat yang mengganggu kesibukannya.
" Jadi ini pacarnya dokter Aksara...?" tanya Melvin sambil bangkit dari duduknya.
" Iya. Kenalkan nama Saya Rex Aldan...," sahut Rex sambil mengulurkan tangannya.
" Saya Melvin, pemilik Rumah Sakit Besar sekaligus calon suami dokter Aksara...," kata Melvin dengan angkuh sambil meyambut uluran tangan Rex.
Untuk sesaat tatapan kedua pria berbeda generasi itu bertemu. Rex mengalah karena tak ingin membuat keributan.
" Senang bisa bertemu dengan Anda. Kalo gitu silakan dilanjut, Saya permisi dulu...," sahut Rex sambil berlalu.
Kepergian Rex membuat Itje gugup, sedangkan Melvin nampak tersenyum puas karena merasa berhasil menyingkirkan rivalnya.
" Kamu bisa memenangkan hati Aksara, tapi uang bisa membeli orangtua Aksara. Kita lihat, siapa diantara Kita yang akan jadi suaminya...," batin Melvin dengan sombong.
Sementara itu Rex kembali ke meja dimana empat temannya berada. Mereka menatap Rex dengan tatapan penuh selidik karena yakin telah terjadi sesuatu pada sang kapten.
" Udah Rex...?" tanya Ardi.
" Udah...," sahut Rex cepat.
" Kok muka Lo kusut gitu...?" tanya Rubi.
" Gimana ga kusut. Belum lama ini Gue bantuin orang yang keponakannya dijual sama Ibu kandungnya sendiri hanya demi status sosial dan harta. Eh, ternyata sekarang Gue sendiri ngalamin kejadian kaya gitu...," sahut Rex gusar.
" Masa sih, maksud Lo...," ucapan Ardi terputus karena Rex memotong cepat.
" Gue baru aja ketemu sama Ibu dari pacar Gue yang rencananya bakal jadi calon mertua Gue. Eh Lo tau ga apa yang Gue liat...?" tanya Rex.
" Ga tau...," sahut keempat teman Rex bersamaan.
" Gue baru aja ngeliat calon ibu mertua Gue itu lagi mengatur siasat buat mutusin hubungan Gue sama anaknya. Setelahnya dia berencana ngejodohin cewek Gue itu sama cowok tajir yang seumuran sama dia. Parahnya lagi, Gue juga ngeliat kalo dia lagi nerima amplop coklat tebal berisi uang tadi...," kata Rex sambil menggelengkan kepalanya.
" Terus...? " tanya Rubi.
" Terus Gue keluar dong. Gue sapa mereka dan reaksinya super kaget plus malu gitu. Mungkin dia ga nyangka kalo rencananya ketauan sama Gue...," sahut Rex santai.
" Bagus Rex. Terus Lo apain cowoknya...?" tanya Ardi.
" Ga diapa-apain lah. Mau ngapain emangnya, berantem ?. Ntar Gue yang malu...," sahut Rex sambil meneguk minuman ringan di depannya.
" lya Rex, sikap Lo tadi juga harusnya udah cukup bikin mereka ngedown. Iya ga sih...?" kata Ardi.
" Betul. Andai cewek Lo berpihak sama Lo sih gapapa, tapi kalo akhirnya cewek Lo itu lebih pro sama Ibunya kan malu. Udah diperjuangin sampe dibela-belain berantem, eh ujungnya malah nikah sama cowok itu. Apes kan...," kata Rubi disambut tawa tiga temannya.
Rex pun ikut tertawa dan dalam hati mengiyakan ucapan Rubi. Namun jauh di lubuk hatinya Rex juga mulai ragu dengan cinta dokter Aksara. Apalagi saat ia menyaksikan kegigihan Itje yang ingin menyudahi hubungannya dengan sang kekasih tadi.
\=\=\=\=\=