Kidung Petaka

Kidung Petaka
178. Iya, Aku Ikut...


Elvira dan Irma berlari keluar kamar dan berhenti di koridor tepat di depan kamar mereka. Dengan nafas terengah-engah dan jantung berdegup kencang, keduanya nampak saling menatap dalam diam.


" Lho, kenapa di sini Ibu-ibu...?" sapa Halim hingga membuat Elvira dan Irma menoleh.


Saat itu Halim baru saja kembali dari luar. Rupanya ia sengaja cari angin sekalian mengamati sekeliling hotel tadi. Saat pintu lift terbuka ia terkejut karena melihat dua rekannya berdiri mematung di tengah koridor.


" Pak Halim, tolong Kami Pak...," kata Irma sambil mendekat kearah Halim.


" Ada apa Bu Irma ?. Kenapa muka Kalian pucat banget...?" tanya Halim sambil menatap Elvira dan Irma bergantian.


" A... ada orang di kamar mandi...," sahut Irma gugup.


" Orang siapa maksud Bu Irma ?. Bukannya di kamar itu cuma ada Bu Rima sama Bu Elvira aja...?" tanya Halim tak mengerti.


" Harusnya sih gitu. Tapi Bu Vira liat ada orang di dalam kamar mandi tadi. Iya kan Bu Vira...?" tanya Irma sambil menoleh kearah Elvira.


" Iya Bu Irma...," sahut Elvira gusar sambil menoleh kearah lain.


" Laki-laki atau perempuan Bu...?" tanya Halim.


" Laki-laki..., " sahut Elvira cepat.


Mendengar jawaban Elvira sontak membuat Halim murka. Dengan langkah lebar ia memasuki kamar kedua rekannya itu. Dan oleh disaksikan Elvira dan Irma, Halim langsung mendobrak kamar mandi.


Elvira dan Irma menutup telinga karena khawatir mendengar suara makian Halim yang terkenal bagai guntur itu. Halim adalah guru olah raga, maka tak heran jika ia berpostur tubuh besar dengan suara yang juga besar. Bahkan suara Halim saat marah bisa menggetarkan seantero sekolah.


Setelah menunggu beberapa saat Elvira dan Irma nampak saling menatap bingung. Rupanya Halim tak menjumpai apa pun di kamar mandi selain air yang meluber memenuhi bath tub.


" Ga ada siapa-siapa di sini Bu Irma, Bu Vira...!" kata Halim lantang hingga mengejutkan Irma dan Elvira.


" Masa sih. Tapi ada suara air mengalir tadi, padahal ga ada yang nyalain air lho...," kata Irma sambil melangkah masuk ke dalam kamar diikuti Elvira.


" Emang ada suara air. Tuh liat, dari sana sumbernya...," kata Halim sambil menunjuk air yang meluber memenuhi bath tub.


Irma membelalakkan matanya karena tak percaya dengan yang tersaji di depannya. Kemudian ia menoleh kearah Elvira yang nampak duduk mematung di tempat tidur.


" Tapi tadi Bu Elvira ketakutan banget keliatannya, kaya melihat sesuatu yang menyeramkan. Makanya Saya ikut aja waktu Bu Elvira narik tangan Saya terus ngajakin lari keluar...," kata Irma sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Halim menggelengkan kepala mendengar cerita Irma. Setelah menutup kran air, Halim pun keluar dari kamar mandi. Sebelum keluar dari kamar Halim mengingatkan kedua rekannya itu agar berhati-hati.


" Saya percaya sama apa yang Kalian alami. Tapi Saya harap Kalian tetap tenang. Bisa aja yang Kalian liat tadi hanya ilusi. Jangan lengah dan tetap berhati-hati karena ini kan tempat asing untuk Kita. Kalo bisa sebelum melakukan sesuatu baca basmalah dulu...," kata Halim menasehati.


" Iya Pak, makasih udah diingetin...," sahut Irma yang diangguki Halim.


" Kalo gitu Saya pamit. Eh iya, kalo bisa jangan banyak melamun ya Bu Elvira...!" kata Halim lantang dari ambang pintu kamar hingga mengejutkan Elvira.


" Iya Pak Halim, makasih...," sahut Elvira sambil tersenyum kecut.


Irma pun menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Setelahnya ia duduk di hadapan Elvira.


" Jadi, apa Bu Elvira mau cerita sesuatu...?" tanya Irma sambil menatap Elvira lekat.


" Ga ada yang perlu diceritain Bu Irma...," sahut Elvira sambil menggelengkan kepala.


" Iya. Dan sebaliknya Kita ga usah bahas itu lagi ya Bu Irma. Pak Halim betul, mungkin Saya yang salah liat tadi. Makanya Saya minta maaf karena udah bikin Bu Irma panik...," sahut Elvira dengan tulus.


Irma pun mengangguk sambil tersenyum. Ia memang tak ingin memperpanjang masalah walau ia yakin yang dilihat Elvira adalah sesuatu yang menyeramkan. Sayangnya itu menakutkan Elvira hingga membuat gadis itu memilih tutup mulut daripada menceritakan semuanya.


\=\=\=\=\=


Malam itu Elvira kembali tak bisa tidur. Saat itu Elvira berbaring gelisah di atas tempat tidurnya. Sesekali ia menoleh kearah Irma dan melihat Irma tidur dengan nyenyak di tempat tidurnya.


Saat itu Elvira merasa sangat ketakutan. Saking takutnya tanpa sadar itu membuatnya menangis. Elvira mengusap air mata yang telah lama absen dari hidupnya itu.


" Setelah sekian lama akhirnya turun lagi...," gumam Elvira sambil tersenyum kecut.


Elvira menatap ujung jarinya yang basah karena air mata itu dengan tatapan sedih. Setelahnya ia menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit kamar.


Saat itu Elvira tampak pasrah pada takdir hidupnya. Jika memang harus berjodoh dengan pria jelmaan siluman biawak itu, Elvira hanya bisa menerima tanpa bisa menolak.


" Aku terima takdirmu ya Allah. Tapi tolong hilangkan rasa takutku saat berhadapan dengannya. Aku hanya ingin bahagia...," batin Elvira sambil mengusap air matanya.


Setelah mengatakan itu perasaan Elvira menjadi jauh lebih baik. Rasa takut yang menyergapnya pun perlahan sirna.


Elvira menoleh kearah belakang saat sebuah suara memanggil namanya.


" Elviraaa...," panggil sebuah suara, terdengar berat dan lirih.


" Ka... Kamu. Kenapa selalu datang menggangguku ?. Apa salahku padamu...?" tanya Elvira dengan suara lirih.


" Kamu ga salah Elvira. Aku datang bukan untuk mengganggumu tapi untuk menemanimu. Aku tau selama ini Kamu sendirian, kesepian dan tak disayangi. Aku hanya ingin menghiburmu tapi Kamu selalu ketakutan saat melihatku...," kata suara yang ternyata adalah suaravpria bermahkotakan biawak itu.


" Kamu salah. Aku ga pernah kesepian, Aku bahagia dengan hidupku...," bantah Elvira.


" Aku yang paling tau Kamu Elvira. Walau Kamu menyangkal tapi itu lah kenyataannya. Aku juga dengar doamu tadi dan Aku senang mendengarnya. Sekarang Aku memberimu penawaran, ikutlah denganku Elvira. Aku jamin Kamu akan bahagia...," kata pria bermahkota kan biawak itu sambil mengulurkan tangannya.


Entah karena sedang tak fokus atau karena lelah dengan terror pria itu, Elvira pun nampak mengangguk pasrah seolah mengiyakan ucapan pria itu.


Pria bermahkota biawak itu nampak tersenyum saat mengetahui Elvira akhirnya menyerah. Saat ia berusaha menyentuh Elvira, gadis itu menepisnya lalu mengatakan sesuatu yang membuat pria itu sedikit terkejut.


" Aku akan ikut denganmu, tapi setelah study tour ini selesai. Apa Kamu mau menungguku hingga Aku selesai menjalankan tugasku...?" tanya Elvira penuh harap.


Pria jelmaan siluman biawak itu termenung sejenak kemudian mengangguk. Nampaknya ia tak keberatan jika harus menunggu sebentar lagi.


" Tentu saja. Kamu selesaikan tugasmu dulu, setelah itu Aku akan membawamu pergi menuju kebahagian Kita...," kata pria itu sambil tersenyum.


Elvira pun ikut tersenyum walau pun hatinya merasa sangat sakit.


" Terima kasih. Sekarang pergi lah, Aku butuh istirahat. Dan jangan memperlihatkan diri dengan wujud aneh di depanku karena itu membuatku takut...," kata Elvira setengah berbisik.


" Baik lah. Aku tak akan mengganggumu untuk sementara waktu...," janji pria jelmaan biawak itu sambil tersenyum.


Setelahnya pria itu lenyap, hilang tanpa bekas meninggalkan Elvira yang tampak mengusap wajahnya yang basah dengan perasaan kacau.


\=\=\=\=\=