Kidung Petaka

Kidung Petaka
101. Saling Mendoakan


Rex melajukan motornya dengan kecepatan sedang hingga tiba di depan rumah orangtua dokter Aksara.


Rex menunggu dokter Aksara turun dan mengembalikan helmnya. Kali ini dokter Aksara bisa melepas helm tanpa bantuan Rex hingga membuat Rex tersenyum simpul.


" Bisa kan...," gurau dokter Aksara dengan mimik wajah lucu.


" Anak pinter...," puji Rex sambil mengacungkan jempolnya kearah dokter Aksara hingga membuat gadis itu tersenyum.


" Boleh Aku tanya sesuatu...?" tanya dokter Aksara.


" Mau tanya apa...?" tanya Rex.


" Siapa Martin ?. Kenapa Faisal terlihat kaget waktu Kamu bilang dapat salam dari Martin tadi...?" tanya dokter Aksara.


" Itu Kakak kandung Faisal yang udah lama meninggal dunia...," sahut Rex dengan enggan.


Dokter Aksara mengerutkan keningnya karena baru tahu jika Faisal memiliki Kakak. Ia tak bertanya lagi karena merasa urusan Faisal bukan lagi urusannya karena pertunangan mereka telah berakhir.


" Apa Kamu mau masuk...?" tanya dokter Aksara ragu.


" Emangnya boleh...?" tanya Rex.


Dokter Aksara tak menjawab. Berkali-kali ia menoleh kearah rumah seolah khawatir akan sesuatu. Rex yang paham akan kondisi gadis itu pun tersenyum.


" Insya Allah lain kali Saya mampir ya. Sekarang waktunya belum tepat karena Kamu dan kedua orangtuamu baru aja menyelesaikan ikatan dengan Faisal dan keluarganya. Saya ga mau nama baik Kamu tercoreng dan dicap sebagai wanita ga setia hanya karena ngajak Saya ke rumah. Padahal yang terjadi kan sebaliknya. Faisal yang ga setia dan mengkhianati pertunangan Kalian...," kata Rex bijak hingga membuat dokter Aksara kagum.


" Terima kasih atas pengertiannya...," kata dokter Aksara sambil tersenyum tulus.


" Sama-sama. Sekarang Saya pulang ya. Assalamualaikum..., " pamit Rex lalu segera melajukan motornya tanpa menunggu dokter Aksara masuk ke dalam rumah.


" Wa alaikumsalam..., " gumam dokter Aksara sambil melepas kepergian Rex dengan sejuta perasaan berkecamuk.


Perlahan dokter Aksara masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu rumah ia mendapati kedua orangtuanya tengah duduk di ruang tamu sambil menatap lekat kearahnya.


" Assalamualaikum Pa..., Ma...," sapa dokter Aksara.


" Wa alaikumsalam. Siapa dia ?. Apa hubunganmu dengannya...?" tanya sang papa.


" Dia temanku Pa...," sahut dokter Aksara gusar.


" Cuma teman kan...?" tanya sang Mama menyela.


Dokter Aksara mengangguk tanpa suara hingga kedua orangtuanya terlihat menghela nafas lega. Namun setelahnya ucapan kedua orangtuanya membuat hati gadis itu terluka.


" Bagus. Jangan menjalin hubungan dengan pria mana pun tanpa sepengetahuan Papa. Apalagi Kamu baru aja selesai dengan Faisal. Papa ga mau orang mengira Kamu cewek murahan karena udah bawa cowok lain ke rumah saat hubungan pertunanganmu baru aja selesai...," kata papa dokter Aksara yang bernama Azam itu dengan tegas.


Dokter Aksara nampak mengerjapkan matanya karena teringat dengan ucapan Rex yang mirip dan bisa dikatakan 'sebelas dua belas' dengan ucapan sang papa.


" Papa benar Nak. Batasi pergaulanmu dengan pria lain untuk sementara waktu. Biar orang ga mengira Kamu cewek gampangan yang bisa dengan mudah berpindah ke lain hati saat hubungan pertunangannya baru aja dibatalkan...," kata Mama dokter Aksara yang bernama Itje itu dengan lugas.


Dokter Aksara masuk ke dalam kamar lalu bergegas membersihkan diri. Setelahnya ia duduk di pinggiran tempat tidur sambil mengingat kebersamaannya dengan Rex tadi.


" Kamu orang baik Kapten. Hanya saja Kita bertemu di waktu dan tempat yang salah. Maaf jika membuatmu tak nyaman dengan keputusanku. Aku harap Kamu bisa menemukan wanita yang bisa membuatmu bahagia...," gumam dokter Aksara sambil tersenyum getir.


\=\=\=\=\=


Rex tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul sembilan malam. Masih terbilang sore untuk Rex. Namun entah mengapa ia memilih masuk ke dalam kamar untuk istirahat.


Melihat sikap Rex yang berbeda membuat Ramon, Lanni dan Lilian saling menatap bingung namun tak bertanya apa pun kepada Rex. Mereka seolah sengaja memberi ruang untuk Rex berpikir seorang diri.


" Gapapa Bu. Rex udah dewasa dan tau gimana harus bersikap. Kasih dia waktu untuk sendiri dan berpikir ya. Nanti kalo udah selesai, dia pasti cerita sama Kita...," kata Ramon menenangkan istrinya yang terlihat cemas itu.


" Iya Yah...," sahut Lanni sambil mengangguk walau dalam hati ia merasa tak nyaman melihat anak bungsunya tak bersemangat seperti itu.


Sedangkan di kamarnya Rex terlihat gusar. Ia merasa jalannya untuk mendapatkan cinta dokter Aksara semakin sulit dan terjal. Apalagi orangtua sang dokter tampak tak memberi peluang untuknya agar bisa masuk menjadi bagian keluarga mereka.


Rex mengusap wajahnya sambil menghela nafas panjang. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


" Jika Kita berjodoh pasti akan ada jalan untuk bertemu lagi dok. Bukan kah cinta itu butuh perjuangan. Bersabar lah sedikit lagi karena Aku yakin akan ada jalan untuk Kita bersama kelak...," gumam Rex sambil tersenyum lalu memejamkan matanya dan tertidur.


Dalam tidurnya Rex kembali bermimpi bertemu Martin. Kali ini Martin tak lagi tampil lusuh seperti sebelumnya. Dia nampak tampil bersih dengan setelan barunya itu dan tersenyum bahagia saat melihat Rex.


" Senang melihatmu lagi Rex. Cukup lama Aku menunggumu di sini. Aku mau bilang kalo Aku sudah mendapatkan hakku. Lilian membantu mewujudkan semua keinginanku...," kata Martin dengan mata berkaca-kaca.


" Alhamdulillah..., Aku ikut senang mendengarnya. Kamu keliatan gagah sekali dengan pakaian barumu ini Martin...," puji Rex dengan tulus.


" Iya. Aku suka pakaiannya, petinya dan semua yang mereka berikan untukku...," sahut Martin bangga.


" Bagaimana dengan Dion ?. Apa Kamu masih ingin mengejarnya untuk membalas dendam...?" tanya Rex hati-hati.


" Ga perlu. Bapak pendeta telah mendoakan ku di depan kuburku dan memintaku melepaskan semua dendamku. Beliau bilang yang berdosa akan menuai karmanya suatu hari nanti. Jadi Kupikir Aku akan menuruti ucapan Pak pendeta supaya ruhku tenang di alam sana...," sahut Martin sambil tersenyum.


" Itu bagus, Aku setuju. Tinggalkan semua urusanmu di dunia supaya langkahmu ga berat. Lalu bagaimana dengan Clara...?" tanya Rex.


" Negara menjamin pengobatannya karena Dion mendaftarkannya sebagai wanita yang hidup sebatang kara tanpa keluarga dan harta benda. Dion hanya mau membiayai Celia karena itu memang anaknya...," sahut Martin sendu.


Rex menangkap kekecewaan dalam nada bicara Martin tapi itu hanya sesaat. Karena detik berikutnya Martin kembali tersenyum ceria.


" Aku harus pergi sekarang Rex. Andai bisa mengulang waktu, Aku pasti bahagia memiliki teman sepertimu. Terima kasih banyak karena telah membantuku Rex...," kata Martin sambil mengulurkan tangannya.


" Sama-sama, selamat jalan Martin...," sahut Rex sambil menyambut uluran tangan Martin.


Rex terbangun saat merasakan dingin di telapak tangannya. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan angka dua dini hari. Rex memperbaiki posisi berbaringnya lalu kembali terlelap.


\=\=\=\=\=