Kidung Petaka

Kidung Petaka
78. Meminta Kesempatan


Setelah mempertemukan Hamidah dengan Romli, pihak Kepolisian mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang mengganjal.


Hamidah kembali dibawa ke sel tahanan. Namun Hamidah menjerit dan meronta sambil memohon agar Romli sudi membantunya.


" Tolong Aku Bang. Bantu Aku keluar dari sini. Aku ga mau dipenjara Bang...!" panggil Hamidah sambil menangis.


Romli mengabaikan permintaan Hamidah dan memalingkan wajahnya kearah lain. Perlahan air mata jatuh menitik di wajahnya. Rupanya hati Romli tersentuh mendengar jerit dan tangisan Hamidah.


Di saat hati Romli bimbang, di saat itu pula ponsel Romli berdering. Romli tersenyum saat melihat nama Anita di layar ponselnya. Dengan sigap ia menerima panggilan telephon itu sambil menatap keluar jendela.


" Assalamualaikum, iya Ma...," sapa Romli sambil tersenyum.


Hamidah yang tengah menjerit saat dibawa paksa ke dalam sel tahanan pun menghentikan aksinya. Ia mengamati Romli diam-diam. Melihat wajah Romli yang tersenyum bahagia membuat hati Hamidah hancur. Ia sadar kebahagiaanya telah berlalu karena Romli kini telah menjadi milik wanita lain.


Dengan langkah gontai Hamidah masuk ke dalam sel tahanan khusus wanita itu. Tak ada drama seperti sebelumnya dan itu membuat polisi juga penghuni sel tahanan menatap bingung kearah Hamidah.


Kemudian Hamidah memilih duduk bersandar pada dinding tahanan sambil menekuk kedua kakinya. Setelahnya Hamidah menelungkupkan wajahnya dan menangis dalam diam.


Sementara itu Taufan masih mengorek keterangan dari mulut Romli.


" Jadi ada apa sebenernya ini Pak Romli. Apa hubungan Anda dengan tersangka...?" tanya Taufan.


" Hamidah itu pacar Saya Pak. Kami saling mencintai dan berniat menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Istri pertama Saya dan akan memberitahunya nanti. Awalnya semua berjalan lancar tapi tiba-tiba jadi kacau karena Istri pertama Saya yang semula setuju berbagi mendadak menolak dipoligami...," sahut Ramli mengawali ceritanya.


" Jadi Anda mengkhianati pernikahan Anda lebih dulu Pak Romli...?" tanya Taufan dengan mimik tak suka.


" Saya memang salah Pak...," sahut Romli malu-malu.


" Alasan apa yang membuat Anda nekad mendua Pak...? tanya Taufan penasaran.


" Saya berhubungan dengan Hamidah karena Saya ingin punya Anak Pak. Istri pertama Saya bukan mandul, tapi dia kesulitan hamil. Kandungannya lemah. Jadi tiap kali hamil, dia mengalami keguguran. Saat terpuruk seperti itu Saya ketemu Hamidah. Dia baik dan cantik. Makanya Saya tertarik sama dia dan berniat menikahinya...," kata Romli sambil menatap jauh keluar jendela.


" Terus...?" tanya Taufan tak sabar.


" Saya meminta ijin Istri Saya untuk menikah lagi. Saya tahu umur Saya makin tua dan akan sulit memiliki keturunan jika ditunda lagi. Saya berhasil membujuk Istri Saya dengan mengatakan kelebihan Hamidah. Saya yakinkan dia jika Hamidah adalah wanita yang tepat untuk Saya menitipkan benih Saya. Istri Saya akhirnya setuju karena dia sadar tak mungkin memberikan apa yang Saya inginkan. Makanya hari itu Saya membawa Istri Saya untuk menemui Hamidah. Niat Saya mempertemukan mereka supaya Istri Saya bisa dekat dengan Hamidah. Tapi Kami kecewa karena Kami justru harus menyaksikan Hamidah tengah bercinta dengan laki-laki lain di tempat tidur Kami...," kata Romli sendu.


" Subhanallah...," gumam Taufan sambil menggelengkan kepalanya.


" Saya merasa malu sekaligus hancur. Karena ternyata wanita yang Saya banggakan bukan lah wanita baik-baik. Istri Saya marah lalu mencari wanita lain untuk menjadi Istri kedua Saya. Alasan utamanya karena dia tak mau Saya punya anak dari Hamidah, wanita yang tak bermoral itu...," kata Romli.


" Apa sekarang Anda bahagia Pak Romli...?" tanya Taufan hati-hati.


" Iya Pak. Sekarang Istri kedua Saya sedang hamil. Usia kandungannya masuk bulan keempat...," sahut Romli bangga.


" Wah selamat ya Pak Romli...," kata Taufan sambil menjabat tangan Romli.


" Makasih Pak...," sahut Romli sambil tersenyum.


" Tapi nampaknya Anda melupakan sesuatu Pak Romli...," kata Taufan.


" Melupakan apa ya Pak...?" tanya Romli tak mengerti.


" Hamidah. Anda meninggalkannya tanpa berita dan kepastian. Setidaknya beritahu dia jika kesalahannya lah yang membuat Anda berpaling...," sahut Taufan hingga membuat Romli tersadar.


" Jadi Hamidah salah paham karena mengira Saya meninggalkannya karena kepincut wanita lain...," kata Romli yang diangguki Taufan.


" Dan itu lah pangkal penyebab semuanya Pak Romli. Hamidah marah karena Anda ingkar janji. Kemarahannya yang tak terkontrol itu telah memakan korban jiwa. Belasan korban meninggal dunia karena Hamidah cemburu. Apakah itu sepadan Pak...?" tanya Taufan.


" Maafkan Saya Pak. Saya ga tau kalo bakal begini akhirnya...," sahut Romli sambil mengusak rambutnya dengan kasar.


" Nasi udah jadi bubur Pak. Saya hanya berharap para korban dan keluarganya memperoleh keadilan...," kata Taufan.


" Walau Saya ga merasa Saya terlibat dalam aksi Hamidah, tapi Saya siap bertanggung jawab Pak...," kata Romli tak enak hati.


Romli terdiam karena tak sanggup membayangkan hukuman penjara yang harus ia jalani karena sebuah kesalahan yang tak sengaja ia lakukan.


\=\=\=\=\=


Pengadilan atas kasus ledakan kios mie ayam itu pun berjalan sebagaimana mestinya. Hamidah dan Codot ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti menjadi dalang dibalik ledakan yang memakan korban jiwa itu.


Almarhumah Reni juga ditetapkan sebagai tersangka. Namun karena Reni telah wafat, maka kasusnya pun dihentikan atas nama hukum.


Sedangkan Romli dihadirkan sebagai salah satu saksi yang memberatkan Hamidah. Dan selama Romli memberi kesaksian, Hamidah hanya menunduk tanpa sekali pun mengangkat kepala.


Setelah persidangan yang rumit maka hakim menjatuhkan hukuman yang berbeda pada Hamidah dan Codot.


Hamidah dijatuhi hukuman mati sedangkan Codot dijatuhi hukuman seumur hidup. Meski pun sempat menuai pro dan kontra dari masyarakat, namun keputusan hakim tetap dijalankan sesuai peraturan.


\=\=\=\=\=


Hari itu Gama sengaja datang bertandang ke kantor Ramon karena ingin membicarakan suatu hal.


" Apa sangat penting sampe Kamu harus bicara di luar kebiasaan kaya gini Nak...?" tanya Ramon saat mereka telah berada di luar kantor.


Saat itu Ramon dan Gama duduk berhadapan di kantin kantor.


" Iya Yah...," sahut Gama mantap hingga membuat Ramon tersenyum.


" Kamu tau Gama, mendengarmu memanggilku Ayah membuatku bangga. Aku merasa seperti memiliki dua anak laki-laki dalam hidupku. Sudah lama Aku ingin mengatakan ini tapi selalu gagal...," kata Ramon sambil mengusap pundak Gama dengan lembut.


" Aku memang ingin jadi Anak Ayah yang sesungguhnya...," sahut Gama cepat.


" Maksudmu...?" tanya Ramon tak mengerti.


" Aku... Aku cinta sama Kak Lian Yah. Ijinkan Aku mendekatinya dan meraih hatinya...," sahut Gama sambil menatap kedua netra Ramon dengan penuh harap.


Ucapan Gama membuat Ramon terkejut. Ia tak menyangka jika selama ini Gama menaruh hati pada anak gadisnya. Ramon pikir mereka dekat dan kerap bertengkar karena itu adalah kebiasaan sejak kecil.


" Jangan melakukan sesuatu dalam keadaan ga stabil Nak...," kata Ramon mengingatkan setelah meneguk kopi di hadapannya.


" Ga stabil gimana maksud Ayah...?" tanya Gama tak mengerti.


" Mungkin perasaanmu pada Lilian hanya suka sesaat yang akan hilang seiring waktu. Ayah maklum itu...," sahut Ramon bijak.


" Tapi Aku ga bohong Yah. Jujur Aku tertarik sama Kak Lian dan mengaguminya sejak Aku kembali ke Jakarta. Awalnya Aku pikir hanya kagum biasa karena Kami lama ga bertemu. Tapi ini beda Yah. Aku jatuh cinta sama Kak Lian layaknya seorang pria pada wanita. Aku cemburu saat ada laki-laki lain mendekatinya. Dan Aku datang menghadap karena Aku ingin meminta restu Ayah. Aku ingin Ayah kasih Aku kesempatan yang sama persis seperti yang Ayah kasih ke semua laki-laki yang datang mendekati Kak Lian...," kata Gama sungguh-sungguh.


Ramon terpaku di tempat duduknya dan berusaha mencerna ucapan Gama. Di hadapannya Gama seolah menjelma jadi sosok yang lain, lebih dewasa dan berkharisma. Dan itu membuat Ramon terpana untuk sesaat.


" Ayah...," panggil Gama sambil menyentuh punggung tangan Ramon dengan lembut.


" Eh..., oh iya. Iya Nak...," sahut Ramon sedikit gugup.


" Iya apa Yah...?" tanya Gama penuh harap.


" Ayah percaya sama ucapanmu dan Ayah akan beri Kamu kesempatan yang sama untuk bersaing meraih hati Lilian...," sahut Ramon mantap hingga membuat Gama tersenyum bahagia.


" Makasih Yah...," kata Gama dengan mata berkaca-kaca.


" Sama-sama Nak...," sahut Ramon sambil tersenyum tulus.


Dari tempat duduknya Ramon bisa melihat tekad kuat Gama untuk mengejar cinta Lilian. Berhasil atau tidak, Gama memilih menyerahkan ending kisah cintanya itu kepada Allah Sang Maha Kuasa.


bersambung