Kidung Petaka

Kidung Petaka
207. Gagal Menjebak


Dan sepulang dari tempat wisata itu Luna harus menerima siksaan dari sang ayah. Ia dipukuli, ditendang lalu dikunci dalam ruang gelap.


Meski Luna menangis memohon ampun, toh sang ayah tak peduli. Ia baru membuka pintu kamar dan mengijinkan Luna keluar saat Lanni berkunjung ditemani Ramon.


" Kali ini bersikap lah yang baik dan jangan mengacau lagi. Kalo Kamu masih ingin hidup normal dan kembali ke kampus, maka turuti kata-kataku...," ancam ayah Luna.


" Iya Pak...," sahut Luna dengan suara bergetar.


" Sekarang bersihkan dirimu dan pake baju yang bagus. Setelah itu Kamu boleh menemui Lanni...," kata sang ayah sambil berlalu.


Luna menuruti permintaan sang ayah. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian ia pun menemui Lanni dan Ramon di ruang tamu.


" Lanni...," panggil Luna.


" Ya Allah Luna. Kemana aja sih Kamu, kok di kampus ga keliatan ?. Kamu sakit ya Lun...?" tanya Lanni sambil mengamati Luna dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Aku..., Aku lagi males ke kampus Lan. Tugas numpuk tapi lagi ga ada semangat buat ngerjainnya...," sahut Luna berbohong.


" Katanya mau lulus dan kerja bareng Aku. Kok malah kaya gini. Aku aja semangat kuliah biar cepet lulus dan mengejar mimpiku...," kata Lanni sambil melirik kearah Ramon.


" Aku tau kemana arah pembicaraan Kamu Lanni. Kamu pasti punya rencana nikah kan sama Bang Ramon...?" tanya Luna sambil tersenyum.


" Kata siapa. Aku kan cewek, jadi ya cuma bisa nunggu. Tapi kalo cowok di sampingku ini melamar, kayanya Aku juga ga mau...," sahut Lanni cepat.


" Kok ga mau...?" tanya Ramon dan Luna bersamaan.


" Iya, ga mau nolak maksudnya...," sahut Lanni sambil tertawa hingga membuat Ramon dan Luna ikut tertawa.


Tiba-tiba ayah Luna masuk sambil membawa makanan ringan dan seteko kecil teh manis hangat.


" Ngobrol aja tapi ga diambilin minum, gimana sih Kamu Lun...," kata ayah Luna sambil meletakkan teko dan makanan ringan tersebut di hadapan Luna, Lanni dan Ramon.


" Maaf ngerepotin Paman...," kata Lanni sambil membantu ayah Luna meletakkan teko di atas meja.


Meski hanya melihat sekilas, Rex tahu jika air teh manis di dalam teko itu mengandung sesuatu beraroma mistis. Dan Rex tahu persis kemana itu diarahkan.


Melihat sang ayah begitu gigih ingin menghancurkan kebahagiaan Lanni dan kekasihnya, Luna pun tak tinggal diam. Ia dengan sengaja menyenggol lengan Ramon saat pria itu menuang teh manis ke dalam gelas. Alhasil teko kecil beserta isinya tumpah ke lantai.


" Apa yang Kamu lakukan Luna...?!" kata ayah Luna lantang hingga mengejutkan Ramon dan Lanni.


" Ma... maaf, ga sengaja Pak...," sahut Luna gugup.


" Gapapa Paman, Luna ga sengaja kok. Ini kan cuma teh, pasti nodanya bisa hilang nanti...," kata Ramon mencoba menenangkan ayah Luna.


" Oh iya Mas. Maafkan kecerobohan Luna ya...," sahut ayah Luna dengan tatapan menghunus.


" Iya Paman...," kata Ramon sambil tersenyum.


" Kenapa diem aja Lun, ambil lap sana...!" kata ayah Luna kesal.


" Iya Pak...," sahut Luna lalu bergegas masuk mengambil kain untuk membersihkan tumpahan teh di lantai.


Saat teko diangkat ternyata isinya sudah habis. Luna nampak tersenyum melihatnya. Ia membawa teko kosong ke dapur lalu menggantinya dengan air putih.


" Gantinya air bening aja gapapa kan...," kata Luna sambil meletakkan sebotol air di atas meja.


" Gapapa Lun, makasih ya...," sahut Ramon dan Lanni bersamaan.


Setelah Ramon gagal meminum air teh manis itu, sikap ayah Luna tampak tak biasa. Ia terus mondar-mandir di sekitar ruang tamu hingga membuat Ramon merasa tak nyaman.


" Kalo gitu Aku pamit dulu ya Lun. Semoga malasmu cepet hilang dan Kamu bisa balik ke kampus lagi...," kata Lanni.


" Aamiin. Makasih ya udah datang jenguk Aku...," kata Luna sambil tersenyum.


" Sama-sama, dimana Paman ?. Aku mau pamitan juga nih...," kata Lanni sambil beranjak ke bagian dalam rumah.


" Jangan ke sana Lan...!" kata Luna lantang hingga mengejutkan Lanni.


" Lho kenapa ?, Biasanya Aku bebas masuk ke dalam rumah...," protes Lanni sambil cemberut.


" Maaf ya, Bapak lagi bersihin lantai tadi. Biasanya suka marah kalo lantainya udah diijek sebelum kering...," sahut Luna berbohong.


" Oh gitu. Ya udah salam aja sama Paman ya...," kata Lanni sambil menggamit lengan Ramon.


Dari balik jendela kamar ayah Luna nampak menatap Ramon dengan tatapan penuh makna. Ia kesal karena gagal menjebak Ramon. Sedangkan Ramon yang memang merasa tak nyaman itu pun menoleh kearah jendela.


" Ada apa Sayang...?" bisik Lanni.


" Kaya ada yang lagi ngeliatin Aku, tapi ga tau siapa...?" sahut Ramon sambil melajukan motornya perlahan meninggalkan rumah Luna.


" Mungkin Bapaknya Luna...," kata Lanni.


" Mungkin juga. Tapi Aku ngerasa sikap Bapaknya Luna itu agak aneh lho Sayang, apalagi waktu teh di teko tadi tumpah. Dia keliatan panik banget sampe mondar mandir terus di sekitar Kita...," kata Ramon.


" Aku juga ngerasa begitu. Kenapa ya...?" tanya Lanni.


" Aku juga ga tau. Tapi sebaiknya Kamu jangan ke sini sendirian Sayang, harus ada temennya. Kalo bukan Aku ya ajak siapa kek gitu...," kata Ramon mengingatkan.


" Iya...," sahut Lanni cepat sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Ramon.


Rex menatap kepergian ayah dan ibunya dengan senyum mengembang. Ia senang karena kedua orangtuanya tanggap dan cepat pergi dari tempat itu.


Rex menoleh dan terkejut saat mendengar jeritan Luna. Rupanya Luna ditarik masuk ke dalam rumah oleh sang ayah lalu dipukuli dengan beringas. Luna hanya bisa menangis tanpa bisa membela diri. Saat tak sanggup menahan rasa sakit, Luna pun jatuh pingsan.


Ayah Luna menghentikan aksinya setelah melihat Luna pingsan. Bukan menggendong Luna untuk memindahkannya ke kamar, ia justru menyeret Luna masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Setelahnya ayah Luna pergi entah kemana.


Ayah Luna kembali saat malam hari bersama seorang pria tua yang kemudian diketahui sebagai dukun. Kemudian mereka melakukan ritual aneh dengan menyusun dan membakar banyak dupa di tengah rumah. Asap dupa yang pekat memenuhi rumah dan itu membuat Luna siuman dari pingsannya.


Luna bangkit dengan terbatuk-batuk lalu menggedor pintu kamar berkali-kali hingga membuat konsentrasi sang ayah dan dukun itu terganggu.


" Ada satu cara supaya Kau cepat kaya Nak...," kata dukun itu tiba-tiba.


" Cara apa Kek...?" tanya ayah Luna antusias.


" Tumbalkan anakmu sekarang juga...," sahut dukun itu cepat dengan mata berkilat.


Ayah Luna nampak termenung sejenak lalu menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan sang dukun.


" Iya Kek, Saya setuju...!" sahut ayah Luna lantang hingga mengejutkan sang dukun juga Rex.


" Pikirkan baik-baik karena setelah ini Kamu ga akan bisa menariknya lagi. Percuma menyesal karena semua ga akan kembali...," kata sang dukun mengingatkan.


" Iya Kek. Saya capek hidup susah. Apalagi Luna juga ga bisa membantu Saya mewujudkan keinginan Saya. Daripada terus jadi benalu lebih baik dijadiin tumbal aja...," sahut ayah Luna kesal.


Sang dukun tertawa lalu menepuk bahu ayah Luna seolah memberi dukungan. Sedangkan Rex nampak menggeram marah mengetahui niat jahat pria di hadapannya itu.


\=\=\=\=\=