Kidung Petaka

Kidung Petaka
40. Suara Itu Lagi


Setelah sebulan menumpang tinggal di rumah Ramon, akhirnya Gama bisa kembali menempati rumah orangtuanya. Gama nampak bahagia bisa kembali menempati rumah masa kecilnya itu.


Ramon dan Lanni menyarankan agar Gama menggelar tasyakuran dan pengajian sebelum menempati rumah itu.


" Bagaimana pun rumah itu kan udah lama ga dihuni Gam. Ada baiknya Kamu gelar pengajian untuk membersihkan aura negatif yang ada di rumah itu...," kata Lanni.


" Iya Tante...," sahut Gama.


" Selain itu tasyakuran digelar sebagai ungkapan syukur Kita atas rezeqi dan semua nikmat yang telah Allah berikan kepada Kita...," kata Ramon menambahkan.


" Iya Om. Terus sebaiknya ngundang pengajian Bapak-bapak atau pengajian Ibu-ibu nih Om...?" tanya Gama.


" Pengajian Bapak-bapak aja Gam, lebih simple. Kalo pengajian Ibu-ibu kan ribet. Lagian emangnya Kamu mau ditawar sama Ibu-ibu untuk jadi menantunya ?. Kan Kamu bilang Kamu keren dan banyak penggemar.Tapi kalo Kamu mau sih gapapa...," sahut Ramon sambil tersenyum.


" Ish, apaan sih Om. Aku belum mau nikah dan jadi menantu orang ya. Saat ini Aku lagi fokus merintis bisnis. Urusan nikah mah ntar aja. Khawatir malah ga keurus nanti...," sahut Gama sambil bergidik hingga membuat Ramon dan Lanni tertawa.


\=\=\=\=\=


Pengajian digelar siang hari bada Zuhur. Gama sengaja memilih hari Minggu siang karena ingin semua tetangga bisa hadir.


" Padahal hari Minggu kaya gini justru orang lagi sibuk liburan sama keluarganya masing-masing lho Gam...," kata Lilian sambil menata kue di piring.


" Gapapa Kak. Yang sempet aja. Gue kan udah ngundang mereka dari beberapa hari yang lalu, masa iya mereka ga mau datang...," sahut Gama sambil menyusun buah.


" Mas Taufan Lo undang juga Gam...?" tanya Lilian.


" Iya. Gapapa kan...?" tanya Gama sambil menoleh kearah Lilian.


" Terserah Lo, kok tanya sama Gue. Emangnya dia Anak Gue...?!" kata Lilian ketus.


" Lho bukannya Lo lagi deket ya sama dia...?" tanya Gama bingung.


" Ga deket, cuma kenal aja...!" sahut Lilian cepat.


Jawaban Lilian cukup mengejutkan Gama. Namun karena sedang sibuk mempersiapkan jamuan untuk para tamu, Gama mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut mengenai Taufan.


Tak lama kemudian Rex memanggil Gama untuk ikut bergabung bersama para pria.


" Lo harus ikut ngaji biar berkah. Kan Lo yang bakal nempatin rumah ini nanti. Kok malah sibuk ngurusin kue, aneh Lo...," kata Rex.


" Sorry Rex, Gue bantuin Kak Lian aja biar cepet...," sahut Gama sambil nyengir.


" Jangan jadiin Gue alasan ya Gam. Bilang aja kalo Lo malas ngaji...!" sambar Lilian hingga membuat Gama meradang dan siap membalas ucapannya.


" Sssttt..., udah dong. Malu didengerin orang tuh...," kata Rex sambil menyilangkan jari telunjuk di depan bibir.


Mendengar ucapan Rex membuat Gama dan Lilian saling menjauh sambil melengos.


Rex tersenyum senang karena berhasil melerai Gama dan Lilian yang hampir ribut lagi. Kemudian dengan sigap Rex menarik Gama agar keluar menemui para tamu.


Ramon nampak tersenyum bangga melihat sikap Rex dan Gama yang luwes dalam menyambut tamu.


Pengajian pun berjalan lancar. Banyak doa mengalir untuk Gama dan kedua orangtuanya. Gama bahagia karena pada kesempatan itu Ramon juga mengatakan niatnya membuka bisnis kecil-kecilan hingga para tamu pun kembali mendoakannya.


" Semoga bisnisnya lancar, berkah dan bermanfaat untuk umat...," kata ustadz Mahdi sambil menepuk pundak Gama.


" Aamiin..., makasih Pak Ustadz...," sahut Gama sambil mencium punggung tangan sang ustadz dengan takzim.


" Kalo laki-lakinya model begini Saya juga ga keberatan jadi mertuanya...," gurau ustadz Mahdi hingga membuat semua orang tertawa.


" Ketawa Lo, itu juga berlaku buat Lo dodol...!" kata Gama sambil mendorong Rex dengan gemas.


" Masa sih...?" tanya Rex sambil menghentikan tawanya.


" Iya Mas Rex...," sahut ustadz Mahdi yang kembali disambut tawa semua orang.


Giliran Rex yang terdiam dan itu membuat Gama tertawa geli.


" Kalian bersikap begini bukan lagi menghina anak perempuan Saya kan...?" gurau ustadz Mahdi yang merasa jika Rex dan Gama menolak anak perempuannya.


" Oh ga Pak Ustadz...!" sahut Rex dan Gama bersamaan.


" Siapa sih yang ga kenal sama Aisyah, anak perempuan Ustadz Mahdi yang cantik dan sholehah itu...," kata Gama mulai menggombal.


Ucapan Gama berhasil membuat ustadz Mahdi tersenyum bangga.


" Wah yang kaya gini justru bikin Saya harus hati-hati. Betul kan Bapak-bapak...?" tanya ustadz Mahdi sambil tertawa disambut tawa semua orang.


Rex dan Gama nampak saling menatap bingung karena tak tahu harus bicara apa. Sedangkan di ruang tengah Lanni dan Lilian pun nampak tak kuasa menahan tawa melihat Rex dan Gama yang salah tingkah.


\=\=\=\=\=


Hari-hari Gama selanjutnya disibukkan dengan mengurus bisnis kecil yang dibangunnya itu. Gama pun mulai sering pergi keluar rumah dan pulang saat malam telah larut.


Rex menyempatkan diri untuk mampir ke bengkel Gama setiap hari. Dan itu membuat Gama senang. Selain itu Rex juga merekomendasikan beberapa orang yang handal untuk menjadi karyawan bengkel.


" Lo seleksi aja Gam. Gue ga janjiin apa-apa kok sama mereka, jadi Lo ga perlu merasa ga enak sama Gue...," kata Rex saat melihat Gama bingung memilih karyawan.


" Tapi semuanya bagus Rex...," sahut Gama sambil mengusak rambutnya.


" Gue kan emang cari orang yang ngerti mesin Gam. Mungkin ada baiknya Lo bikin dua shift biar mereka ga kecapean...," saran Rex.


" Bener juga ya. Ok deh, Gue setuju. Gue juga bakal turun tangan langsung kok nanti...," sahut Gama.


" Itu bagus. Jadi selain ownernya Lo juga merangkap leader mereka. Iya ga...?" tanya Rex sambil menepuk punggung sahabatnya itu.


" Iya...," sahut Gama sambil tersenyum bangga.


" Terus lantai atas rencananya buat apaan Gam...?" tanya Rex.


" Buat tempat sholat, tempat istirahat dan kantor Rex...," sahut Gama.


" Kenapa ga sholat di masjid aja...?" tanya Rex.


" Kan ga semua orang bisa kaya Kita Rex. Mungkin mereka ga sempet ke masjid karena harus bersih-bersih dulu, nah mereka bisa sholat di atas. Gue bakal sediain mukena juga nanti. Jadi kalo ada cewek yang mampir dan mau sholat kan ga perlu jauh-jauh..., " sahut Gama hingga membuat Rex tersenyum.


" Detail amat sih persiapannya. Emang cewek mana yang lagi Lo deketin...?" tanya Rex.


" Ck, Lo tuh sama aja kaya Kakak Lo. Suudzon terus sama Gue. Yang mampir ke sini kan ga semuanya cowok Rex, pasti ada cewek juga. Sebagai pengusaha yang baik Gue harus mikirin kebutuhan konsumen juga dong. Makanya Gue siapin semua kebutuhan cowok dan cewek. Paham Lo...?!" kata Gama kesal.


Ucapan Gama membuat Rex tertawa. Namun tawa Rex terhenti saat suara nyanyian melengking itu kembali terdengar disusul suara benturan keras yang berasal dari jalan raya di depan ruko.


Rex dan Gama saling menatap sejenak lalu menghambur keluar untuk melihat apa yang terjadi.


bersambung