
Namun senyum Rex memudar saat melihat kelambu yang menutupi tempat tidur itu bergerak pertanda ada seseorang atau sesuatu di sana.
Dari balik kelambu putih kusam terlihat sosok samar sebuah bayangan yang Rex yakini sebagai seorang wanita, tengah berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Wajahnya tak terlihat jelas karena tertutup rambut panjangnya menjuntai itu. Setelah berhasil duduk, wanita itu menoleh kearah Rex.
Dan yang membuat bulu kuduk Rex meremang adalah karena kedua mata wanita itu berwarna hitam legam. Hal itu jelas berbeda dengan manusia pada umumnya. Jika manusia biasa memiliki bola mata hitam dan putih, maka wanita itu memiliki bola mata yang seluruhnya berwarna hitam tanpa menyisakan bagian untuk warna putih.
Setelah Rex berhasil menguasai diri, sosok wanita itu tampak tersenyum. Meski samar karena berada di balik kelambu, Rex yakin jika wanita itu memang tersenyum kearahnya. Satu tangan wanita itu terangkat lalu membuat gerakan melambai seolah memanggil Rex untuk datang mendekatinya.
Di bawah kesadarannya yang masih terjaga, Rex pun hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Wanita itu nampak kecewa. Ia menurunkan tangannya lalu kembali menundukkan wajahnya.
Rex masih mengamati wanita itu dengan seksama dari ambang pintu. Hingga tak lama kemudian Rex melihat ada dua orang pria masuk ke dalam rumah melalui salah satu jendela yang terbuka. Dari gerak-geriknya bisa dipastikan jika kedua pria itu adalah orang jahat.
Rex menahan nafas saat melihat kedua pria itu menyelinap masuk ke dalam kamar. Setelahnya Rex tak melihat apa pun karena pintu kamar ditutup oleh salah seorang pria yang menyelinap masuk itu. Hanya suara erangan wanita yang terdengar memilukan disertai suara berdebuk berulang kali. Rex menduga jika wanita itu tengah dipukuli.
Mengingat kondisi sang wanita yang nampak sedang sakit dan sendirian, Rex yakin jika wanita itu pasti dengan mudah dilumpuhkan.
Dengan niat membantu, Rex pun bergerak masuk. Sayangnya niat Rex terhalang oleh sesuatu. Rex seolah membentur dinding tak kasat mata dan tubuhnya memantul tiap kali ia mengeraskan usahanya untuk menerobos masuk.
Rex pun gusar dan mulai berteriak memaki kedua pria itu dari ambang pintu.
" Hentikan dasar pengecut !. Lawan Aku kalo berani. Jangan bisanya keroyokan menganiaya wanita...!" kata Rex marah.
Tak ada sahutan. Suara berdebuk itu kian keras terdengar. Bahkan pintu yang tertutup itu nampak bergetar saat sebuah benda besar dan berat menghantamnya. Rex khawatir wanita itu lah yang dibenturkan ke pintu oleh kedua pria asing itu. Bahkan dari sela bawah pintu mengalir darah segar menandakan ada orang terluka di sana.
Rex makin panik dan kembali berusaha menerobos masuk untuk menembus sekat tak kasat mata itu.
Saat Rex tengah berusaha untuk menerobos masuk, pintu kamar nampak terbuka perlahan. Darah yang mengalir kian banyak dan itu membuat Rex mematung di tempat menanti apa yang akan dilakukan kedua pria asing itu pada wanita yang sedang sakit itu.
Namun dugaan Rex salah besar. Justru wanita itu lah yang membuka pintu. Bahkan dengan santai wanita itu menyeret tubuh kedua pria yang masuk ke kamarnya tadi dengan kedua tangannya. Wanita itu menarik tangan kedua pria itu bersamaan.
Darah dari dua tubuh pria itu membekas di lantai saat wanita itu menyeretnya. Wanita itu berhenti untuk menghirup udara karena kelelahan harus menarik dua pria sekaligus.
Saat itu Rex menyaksikan tubuh wanita itu tak terluka sedikit pun. Hal berbeda jelas terlihat pada kedua pria yang kini tergeletak di lantai bersimbah darah.
Setelah wanita itu meletakkan dua pria yang sedang sekarat itu di tengah rumah, ia berjalan menuju ke ruangan lain. Cara berjalan wanita itu terlihat aneh karena langkahnya setengah menyeret sambil menundukkan kepala. Dari situ Rex yakin jika wanita itu memang sedang sakit.
Sesaat kemudian wanita itu kembali sambil membawa parang. Rex terkejut dan bisa menduga apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Dua pria yang sekarat di lantai nampak meringis ketakutan melihat wanita itu membawa senjata tajam. Mereka lalu mulai menangis, menghiba memohon ampunan.
" Ampuni Kami, tolong ampuni Kami...," kata salah seorang pria sambil menangis.
" Kami hanya disuruh Nyai. Sejujurnya Kami juga ga ingin melukai Nyai...," kata pria lainnya.
Wanita itu nampak menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis.
" Ampun Nyai, ampuni Kami. Tolong kasihanilah Kami. Jangan bunuh Kami...," rintih kedua pria itu sambil berusaha meraih kaki wanita itu.
Wanita itu bergeser menjauh hingga kedua pria itu tak lagi bisa menjangkaunya.
" Apa salahku, kenapa Kalian begitu jahat...?" tanya wanita itu sambil menggenggam erat pegangan parang dengan kedua telapak tangannya.
Kedua pria itu tak menjawab. Mereka hanya menangis sambil memegangi luka mereka masing-masing. Satu pria menderita luka parah di paha sedangkan yang lainnya menderita luka parah di perut. Dari luka separah itu sulit rasanya bagi mereka untuk bertahan.
" Katakan, apa salahku...?!" ulang wanita itu dengan suara yang lebih lantang.
" Ka... karena Nyai ditu... duh lancang...," sahut salah seorang pria dengan gugup.
" Lancang...?!" tanya wanita itu tak mengerti.
" I... iya Nyai. Hu... hubu... ngan Nyai dengan Pangeran Jareka tak bisa diterima karena sudah melampaui batas...," sahut salah seorang pria dengan terbata-bata.
" Dia Suamiku !. Bagian mana yang dikatakan melampaui batas ?. Apa melakukan hubungan Suami Istri juga disebut melampaui batas bagi pasangan yang menikah seperti Kami. Dimana letak kesalahannya...?!" tanya wanita itu marah.
" Salahnya adalah karena Nyai bukan bangsawan asli. Dalam tubuh Nyai mengalir darah rakyat biasa karena Nyai hanya anak seorang selir...!" sahut sebuah suara dari ambang jendela.
Semua orang termasuk Rex menoleh ke sumber suara. Wanita itu mendelik marah saat mengenali siapa orang yang duduk santai di ambang jendela itu.
" Tapi Ayahku seorang Sultan, penguasa wilayah di bagian tenggara. Jadi dalam darahku juga mengalir darah bangsawan...!" kata wanita itu membela diri.
" Aku bilang bangsawan asli !. Nyai bukan bangsawan asli karena Nyai lahir dari hasil pernikahan tak resmi antara Sultan dengan rakyat jelata yang tak lain adalah Ibunda Nyai sendiri...," sahut pria yang duduk di ambang jendela.
Penjelasan pria itu membuat wanita itu menggelengkan kepala tak mengerti.
" Jadi begitu penting kah asal usul dalam sebuah cinta. Bukan kah cinta itu ga memandang harta, tahta dan asal usul ?. Tapi kenapa Kalian memperlakukan Aku berbeda ?. Apa karena Kakak tiriku juga mencintai Pangeran Jareka makanya Kalian mau berpayah-payah datang untuk melukai Aku...?" tanya wanita itu lirih.
" Itu juga salah satu sebabnya Nyai. Andai Nyai mau mengalah dan mengembalikan Pangeran Jareka kepada Kakak perempuan Nyai, mungkin hal ini ga akan terjadi...," sahut pria di ambang jendela sambil menatap iba kearah sang Nyai.
" Tapi cinta itu ga bisa diatur !. Aku dan Pangeran Jareka memang saling mencintai sejak pertama kali bertemu. Lalu kenapa Aku harus mengembalikan sesuatu yang memang milikku sejak awal...?!" tanya sang Nyai gusar.
" Tapi begitu lah aturan mainnya Nyai. Jika Nyai tak bisa patuh, maka Kami tak akan segan bertindak...!" ancam pria di ambang jendela.
" Baik lah. Sebelum Kamu bertindak, lebih baik Aku yang akan bertindak...," sahut sang Nyai dengan wajah datar.
Sesaat kemudian wanita itu menyabetkan parangnya ke leher kedua pria yang memang sedang sekarat di lantai itu. Darah muncrat ke berbagai penjuru bersamaan dengan. menggelinding nya dua kepala manusia di lantai rumah.
bersambung