
Ramon dan keluarganya tengah berada di sebuah rumah makan untuk makan siang. Mereka sengaja membuat janji bertemu di sana usai Lilian memeriksakan kehamilannya.
Saat Rex menjawab telephon dari Elvira tadi, semua tahu jika Rex tengah bicara dengan seorang wanita. Nada suara wanita itu terdengar panik dan terdengar jelas meski pun Rex tak mengaktifkan speaker ponselnya. Karenanya pembicaraan Rex dan wanita itu juga terdengar dan membuat keluarganya penasaran.
Rex berusaha bersikap tenang. Ia mencoba mengabaikan tatapan aneh keluarganya dengan cara memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku baju.
Meski pun berusaha tenang akhirnya Rex kalah juga. Ia melihat tatapan Lanni, Lilian, Ramon dan Gama tengah tertuju kearahnya.
" Kenapa ngeliatin Aku kaya gitu...?" tanya Rex pura-pura tak tahu.
" Siapa yang telephon...? " tanya Lanni.
" Temen...," sahut Rex cepat.
" Namanya...?" tanya Lilian.
" Elvira...," sahut Rex dengan enggan namun membuat keluarganya saling menatap sambil tersenyum.
" Kedengerannya dia panik banget. Jangan-jangan Lo udah hamilin dia ya...?" tanya Gama sambil menatap lekat kearah Rex.
Bukan menjawab, Rex justru melemparkan sepotong paha ayam kearah Gama. Karena terlambat menghindar, alhasil bumbu yang ada di potongan ayam itu mengenai baju Gama dan itu membuat Lilian mendengus kesal.
" Reeexxx...!" kata Lilian dengan suara tertahan.
" Ups, sorry. Lagian Suami Kakak tuh yang mulai. Makanya punya mulut jangan terlalu kreatif. Pake ngatain Aku hamilin anak orang segala...," kata Rex santai sambil melanjutkan makan siangnya yang tertunda.
Mendengar ucapan Rex membuat Gama dan Lilian nampak kesal. Sebelum perang Baratha Yudha terjadi di meja makan, Ramon pun bergegas melerai.
" Cukup Anak-anak !. Inget ya, Kita lagi makan di luar. Ayah ga mau diusir gara-gara tingkah Kalian yang mirip sama balita...!" kata Ramon sambil menatap Rex, Gama dan Lilian bergantian.
" Iya Yah...," sahut Rex, Gama dan Lilian bersamaan sambil menunduk lalu melanjutkan makan siang mereka.
Lanni dan Ramon saling menatap kemudian tersenyum melihat tingkah anak dan menantunya itu.
" Emangnya Elvira kenapa Rex, kok panik banget keliatannya...?" tanya Lanni dengan lembut.
" Dia panik karena ada yang nerror adik-adiknya di panti asuhan Bu...," sahut Rex cepat.
" Maksudmu Elvira itu anak panti asuhan...?" tanya Lanni.
" Bukan Bu. Elvira itu cuma numpang tinggal di sana. Kedua orangtuanya masih hidup kok tapi udah bercerai...," sahut Rex cepat.
" Terus terrornya kaya gimana kok bikin dia panik...?" tanya Lanni tak sabar.
" Aku belum bisa cerita sekarang Bu. Kita omongin nanti di rumah ya. Sekarang Aku harus balik ke kantor dulu...," sahut Rex sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Lanni pun mengangguk pasrah. Ia sadar, sebagai tentara Rex memang dituntut untuk tepat waktu. Karenanya Lanni merelakan Rex pergi lebih dulu.
" Keliatannya cewek itu ga terlalu istimewa buat Rex...," kata Lilian tiba-tiba.
" Kok Kamu tau Sayang...?" tanya Gama.
" Feeling aja...," sahut Lilian sambil menggedikkan bahunya.
" Tapi dari yang ga istimewa dan ga penting itu bisa jadi sesuatu lho Kak. Contohnya Kamu sama Gama...," kata Lanni sambil menatap Lilian dan Gama bergantian.
" Kalo itu pengecualian Bu...," kata Gama membela diri.
" Masa sih ?. Sekarang kalo mau jujur, pasti diantara Kalian berdua ga ada yang pernah menyangka kalo Kalian bakal berjodoh, jatuh cinta kemudian menikah dan sekarang hampir punya anak. Iya kan...?" tanya Lanni.
Lilian dan Gama saling menatap sejenak kemudian tersenyum malu-malu.
" Iya Bu...," sahut Lilian dan Gama bersamaan.
" Nah begitu juga sama Rex. Kita ga pernah tau siapa jodoh Rex. Bisa aja justru temen yang ga istimewa ini lah jodohnya Rex...," kata Lanni sambil tersenyum.
" Keliatannya Ibu yakin banget kalo Elvira itu jodohnya Rex...," kata Lilian.
" Kalo buat Ayah, siapa pun jodoh Rex nanti semoga adalah wanita baik-baik, sholehah dan bisa membuat Rex bahagia...," kata Ramon.
" Kok sederhana banget sih keinginan Ayah tentang jodohnya Rex...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Sederhana tapi maknanya dalam lho Sayang..., " kata Gama mengingatkan.
" Masa sih, emang iya Yah...?" tanya Lilian sambil menatap sang ayah.
" Gama betul. Karena wanita sholehah adalah wanita baik-baik. Yang bisa bikin Rex bahagia itu mencakup semuanya. Jadi saat wanita itu melakukan sesuatu sesuai tuntunan agama termasuk menyayangi Kita, otomatis itu akan bikin Rex bahagia. Simple kan...?" tanya Ramon sambil tersenyum.
Lilian pun ikut tersenyum mendengar jawaban sang ayah.
\=\=\=\=\=
Sore itu Rex terlihat memacu motornya menuju panti asuhan Pelita Ibu. Sebelumnya ia telah berhasil menghubungi ustadz Akbar dan membuat janji bertemu di sana.
Saat tiba di panti asuhan Pelita Ibu, terlihat ustadz Akbar tengah berdiri di halaman ditemani Elvira.
" Assalamualaikum Ustadz, Bu Elvira...," sapa Rex sambil memarkirkan motornya.
" Wa alaikumsalam...," sahut ustadz Akbar dan Elvira bersamaan.
" Jadi gimana Ustadz, apa yang terjadi...?" tanya Rex sambil melepaskan helmnya.
Ustadz Akbar tersenyum melihat penampilan Rex saat itu. Terlihat sedikit kusut pertanda jika Rex memang tergesa-gesa saat pergi menemuinya.
" Sebaiknya Kamu buatkan kopi dulu untuk Kapten Rex ya Nak. Kasian dia, pasti capek ngebut dari kesatuannya ke sini...," pinta ustadz Akbar.
" Iya Pakde...," sahut Elvira lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Setelah Elvira masuk ke dalam rumah, ustadz Akbar pun langsung bicara serius dengan Rex.
" Kamu ingat telur-telur yang Kita ambil kemarin Mas...?" tanya ustadz Akbar.
" Ingat Ustadz, kenapa memangnya...?" tanya Rex.
" Telur-telur itu ada pemiliknya. Dan mereka mencari telur itu beberapa kali ke sini...," sahut ustadz Akbar.
" Pemilik telur, maksud Ustadz siluman biawak itu datang ke sini nanyain telurnya...?" tanya Rex hati-hati.
" Betul. Tapi saat bertanya pada para penghuni panti mereka tampil sebagai manusia biasa. Dan mereka bukan bicara soal telur tapi anak. Di sini jelas kan benang merahnya. Setelah Kita ngambil telur-telur itu, eh tau-tau ada yang nyariin anaknya. Jadi bisa dipastikan kalo mereka memang siluman biawak yang nyamar jadi manusia...," sahut ustadz Akbar.
" Iya Ustadz...," kata Rex mengiyakan ucapan sang ustadz.
" Elvira juga bilang dia melihat sepasang suami istri hampir menculik Ari. Beruntung dia datang tepat waktu jadi penculikan itu gagal...," sahut ustadz Akbar gusar.
" Ya Allah. Jadi gimana Ustadz ?, Kita ga mungkin ngebiarin ini berlarut-larut. Kasian kan anak-anak panti harus kena imbasnya juga, padahal kan mereka ga tau apa-apa...," kata Rex.
" Apa Kamu ga curiga kalo ada sesuatu yang ga beres Mas Rex...?" tanya ustadz Akbar sambil menatap Rex lekat.
Rex termenung sejenak lalu mengangguk cepat.
" Saya yakin mereka mengincar Ari karena mereka merasa Ari adalah mediator yang membantu mereka sampai di sini Ustadz. Walau terdengar ga masuk akal sih. Harusnya mereka kan berterima kasih sama Ari karena Ari udah membantu ngasih mereka tempat yang nyaman. Bayangkan kalo mereka harus tinggal di tempat lain yang mungkin ga aman dan senyaman ini...," sahut Rex.
" Betul Mas...," kata ustadz Akbar cepat.
" Jadi Kita harus mulai mengawasi Ari juga Ustadz...?" tanya Rex yang diangguki ustadz Akbar.
" Betul Mas. Apa Mas Rex keberatan...?" tanya ustadz Akbar.
" Ga masalah. Insya Allah Saya siap Ustadz...," sahut Rex sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=