Kidung Petaka

Kidung Petaka
62. Gama Cemburu


Tak lama kemudian pesanan Rex dan Gama pun tiba. Dua piring pecel lele dan gurame dilengkapi sambal dan nasi putih hangat tersaji di depan Rex dan Gama. Ditemani lalap dan krupuk kulit membuat selera makan kedua pria dewasa itu bertambah berkali-kali lipat.


Tak lama kemudian Rex telah menyelesaikan makannya sedangkan Gama nampak memesan seporsi lele sebagai lauk tambahan.


" Nambah Rex...," kata Gama menawarkan.


" Ga usah Gam, makasih. Kenyang Gue...," sahut Rex sambil mengusap perutnya.


" Kalo gitu Lo tunggu di sini sampe Gue selesai makan ya Rex...," pinta Gama sambil mengunyah makanannya.


" Iya iya. Cerewet banget sih Lo...," sahut Rex hingga membuat Gama nyengir kuda.


Setelah Gama membayar semua makanan dan minuman yang mereka makan tadi, Rex dan Gama kembali berjalan perlahan menuju ke rumah.


" Lo ga pulang...?" tanya Rex saat melintas di depan runah Gama.


" Mau ke rumah Lo dulu Rex, boleh kan...?" tanya Gama.


" Boleh sih, tapi mau ngapain ?. Ini kan udah malam Gam...," kata Rex.


" Mau maen catur sama Ayah Lo...," sahut Gama asal.


" Oh gitu...," kata Rex sambil mengangguk paham.


Untuk sesaat keduanya terdiam karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Rex menghentikan langkahnya hingga membuat Gama ikut berhenti.


" Tunggu sebentar Gam...," kata Rex sambil menatap Gama.


" Ada apaan sih Rex, ngagetin aja Lo...," kata Gama sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena mengira Rex melihat penampakan makhluk halus.


Sikap Gama membuat Rex tersenyum simpul kemudian Rex melanjutkan ucapannya.


" Sejak kapan Lo ikutan manggil Ayah Ibu ke orangtua Gue. Bukannya selama ini Lo manggil Om Tante yaa...?" tanya Rex sambil menatap curiga kearah Gama.


" Emang ga boleh ?. Orangtua Lo aja ga keberatan, kenapa Lo yang protes...?" tanya Gama sambil melengos.


" Bukan gitu maksud Gue. Gapapa sih, Gue juga seneng kok. Gue cuma mau tau sejak kapan Lo merubah panggilan...?" tanya Rex.


" Mmm..., mungkin sejak Lo dinas ke Madura. Kapan persisnya Gue juga lupa...," sahut Gama santai.


Kemudian Rex dan Gama kembali melangkah hingga mereka tiba di depan rumah. Saat itu terlihat Lilian tengah berbincang akrab dengan seorang pria yang duduk di atas motor. Keduanya tak menyadari kehadiran Rex dan Gama.


" Assalamualaikum..., " sapa Rex dan Gama bersamaan hingga membuat Lilian dan pria itu menoleh.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Lilian dan pria itu.


" Kok ngobrol di luar Kak, ga enak kan diliat orang. Kenapa ga diajak masuk dan dikenalin sama Ayah dan Ibu...?" tanya Rex.


" Udah Rex. Kebetulan Rangga mau pulang sekarang. Oh iya kenalin, ini Adik Aku sama sahabatnya...," kata Lilian sambil menoleh kearah Rangga.


Rangga tersenyum lalu mengulurkan tangannya sambil menyebutkan nama. Sedangkan Rex dan Gama pun menyambut uluran tangan Rangga.


" Rangga...," kata Rangga dengan santun.


" Rex, dan ini sahabat Gue Gama...," kata Rex.


Melihat ketiga pria di hadapannya saling menyapa membuat Lilian merasa tenang dan tersenyum diam-diam. Tanpa ia sadari Gama tengah menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca.


" Udah lumayan malam nih, kenapa masih di sini...?" tanya Gama tiba-tiba hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.


" Oh iya. Ini udah mau pulang kok...," sahut Rangga tak enak hati sambil mulai menstarter motornya.


Rex dan Lilian saling menatap tanpa bicara. Sedangkan Gama nampak menatap Rangga yang salah tingkah itu dengan tatapan tak bersahabat.


" Wa alaikumsalam, hati-hati ya...," sahut Lilian sambil tersenyum.


Rangga mengangguk lalu mulai melajukan motornya perlahan menyusuri jalan di depan rumah Ramon itu dengan kecepatan sedang.


Setelah Rangga berbelok di ujung jalan, Lilian pun masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Rex dan Gama.


" Lo jadi masuk ga Gam...?" tanya Rex.


" Ga jadi Rex. Mood Gue mendadak ilang dan kepala Gue sakit. Gue pulang aja deh...," sahut Gama sambil memijit keningnya.


" Perlu dianter ga...?" tanya Rex basa basi.


" Ga usah, Gue bisa sendiri. Salam aja buat semua ya Rex. Assalamualaikum...," pamit Gama lalu melangkah meninggalkan rumah Ramon.


" Insya Allah, wa alaikumsalam..., " sahut Rex sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah memastikan Gama baik-baik saja Rex pun masuk ke dalam rumah. Ia disambut kakak dan kedua orangtuanya yang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.


" Lho mana Gama ?. Bukannya tadi ikut ke sini...?" tanya Ramon.


" Pulang Yah. Katanya mendadak sakit kepala, ga tau kenapa. Padahal awalnya dia keukeuh mau nantangin Ayah main catur...," sahut Rex sambil duduk di samping sang kakak.


" Paling kecapean. Anak itu kalo kerja kan ga kenal waktu. Pantesan Mira sering marah dan wanti-wanti supaya Ibu negur Gama kalo mulai keliatan sakit...," kata Lanni sambil menggelengkan kepala.


" Wajar lah Bu, Gama itu kan lagi ngejar cewek...," sahut Rex.


" Masa sih. Emangnya Gama punya calon ya ?, anak mana, Ibu kenal ga...?" tanya Lanni beruntun.


" Sayangnya Gama belum mau cerita siapa cewek itu Bu. Tapi keliatannya Gama serius lho Bu, soalnya dia sampe ngebahas married segala tadi...," sahut Rex.


" Kalo gitu kayanya Ibu kalah nih sama Tante Mira. Dia yang punya anak cowok aja udah mau punya menantu. Tapi Ibu yang punya anak peremouan malah belum ada tanda-tanda masang janur kuning...," kata Lanni sambil melirik Lilian.


" Ibu apaan sih. Nikah itu kan ga gampang Bu. Aku harus nyari pasangan yang baik. Ga cuma mapan secara ekonomi tapi mapan secara emosional alias siap lahir batin...," sahut Lilian ketus.


" Mapan secara ekonomi tuh maksudnya apa Kak, tajir gitu...?" tanya Lanni.


" Bukan Bu. Yang Aku mau pasanganku nanti punya pekerjaan bukan pengangguran. Kan dia yang bakal bertanggung jawab menafkahi rumah tangga Kami nantinya. Kerja apa pun boleh yang penting halal. Soal kaya kan bisa nyusul asal Kita mau kerja keras...," sahut Lilian bijak hingga membuat Ramon dan Lanni tersenyum.


" Apa itu artinya Rangga belum memenuhi kriteria Kakak...?" tanya Rex hati-hati sambil menatap Lilian.


" Aku ga tau Rex. Aku sama dia lagi penjajagan kok. Kalo cocok dilanjut, kalo ga ya temenan aja...," sahut Lilian sambil tersenyum kecut.


Jawaban Lilian membuat semua orang mengangguk paham.


Selama ini Ramon dan Lanni memang tak pernah memaksa Lilian untuk segera menikah. Mereka tahu pernikahan adalah hal yang besar dan perlu persiapan yang matang. Saat ini mereka merasa Lilian belum siap untuk menikah dan terikat dalam sebuah komitmen seumur hidup dengan seorang pria. Ramon dan Lanni ingin, saat Lilian memutuskan menikah itu karena keinginannya dan pasangannya dan bukan karena paksaan mereka.


" Pernikahan itu mengikat dua jiwa, dua hati dan dua keluarga menjadi satu. Harus dilakukan dengan kesadaran dan keikhlasan dua belah pihak supaya bisa mewujudkan kebahagiaan. Jika dilakukan dengan terpaksa, cepat atau lambat bakal berakhir. Ga jarang bahkan disertai permusuhan berkepanjangan yang memalukan semua orang...," kata Ramon bijak.


" Iya Yah...," sahut Lilian dan Rex bersamaan.


\=\=\=\=\=


Gama tiba di rumah dengan membawa amarah. Ia melampiaskan kemarahannya dengan menghancurkan guci besar yang ada di ruang tamu. Setelahnya Gama duduk di lantai sambil bersandar di daun pintu.


Gama nampak berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal sambil memejamkan mata. Ia kembali teringat penyebab kemarahannya tadi.


Rupanya Gama sedang cemburu. Ia tak suka melihat kedekatan Lilian dengan Rangga tadi.


Setelah berhasil menguasai diri, Gama pun bangkit. Ia mengambil sapu lalu mulai membersihkan lantai yang kotor karena pecahan guci yang berserakan itu.


bersambung