Kidung Petaka

Kidung Petaka
141. Mengerti


Aksi sang Nyai mengejutkan pria di ambang jendela dan tentu saja Rex. Ia bahkan melangkah mundur saking terkejutnya. Rex tak menyangka jika wanita yang ia duga lemah dan sakit itu ternyata mampu menghabisi dua pria bertubuh besar itu bersamaan.


" Dasar iblis...!" maki pria di ambang jendela dengan lantang.


" Kalo Aku iblis, lalu Kalian disebut apa...?" tanya sang Nyai sambil mengusap darah yang membasahi wajahnya dengan punggung tangannya.


" Kami menjalankan perintah, dan itu karena Kamu yang membuat ulah...!" kata pria di ambang jendela membela diri.


" Oh ya. Menjalankan perintah dengan cara tak lazim ?. Aku wanita, lemah, sakit dan sendirian. Tapi Kalian mengirim algojo Kalian bergantian ke rumahku...!" kata sang Nyai sambil menatap pria di depannya dengan tatapan penuh amarah.


" Algojo ?, mana mungkin. Semua orang yang diutus datang menemuimu untuk mengingatkanmu tak satu pun yang kembali. Jadi bukan kah ucapanmu terlalu mengada-ada...? " sindir pria di ambang jendela sambil tersenyum sinis.


" Apa maksudmu...?" tanya sang Nyai pura-pura tak mengerti.


" Jika orang yang dikirim adalah algojo seperti yang Kamu bilang, mereka pasti sejak lama kembali sambil menenteng kepalamu !. Tapi liat apa yang terjadi ?. Diantara mereka tak satu pun yang kembali. Dan liat dirimu sekarang, ternyata Kamu dalam kondisi baik-baik saja. Bukan kah itu aneh...?!" kata pria di ambang jendela dengan lantang.


Wanita yang dipanggil Nyai itu tersenyum mendengar ucapan pria di ambang jendela itu. Dari nada bicaranya bisa ditebak jika pria di ambang jendela itu memiliki dendam terhadap si Nyai.


" Aku minta maaf kalo Aku pernah menolak cintamu dulu Amir. Aku sudah berkali-kali mengingatkan Kamu supaya ga terus menerus datang dan mengharap cintaku karena Aku sudah memiliki kekasih. Tapi Kamu memaksa dan akhirnya Kamu kecewa karena merasa tak layak bersaing dengannya. Aku pikir Kamu bisa memaafkan Aku, tapi ternyata Aku salah. Kamu malah menyimpan dendam dan melakukan banyak cara supaya Aku mati...," kata si Nyai dengan sedih.


" Cih, simpan saja bualanmu itu. Aku menyesal pernah sangat mencintaimu dulu Nyai. Oh iya, Aku cuma mau mengatakan jika Aku terpaksa ikut memanggilmu dengan sebutan Nyai karena menghormati Suamimu bukan Kamu !. Bagaimana pun dia seorang penguasa yang layak dihormati...," kata Amir sambil tersenyum sinis.


" Jadi sekarang apa lagi Amir...?" tantang Nyai.


Amir tersenyum lalu mendekati sang Nyai. Bersamaan dengan itu terdengar suara derap kaki kuda mendekat ke rumah pertanda ada tamu yang datang. Sang Nyai terlihat panik karena tahu siapa tamu yang datang itu.


" Kita liat bagaimana reaksi Suamimu saat tahu Istri yang dia cintai menyimpan laki-laki lain di rumahnya. Bukan hanya satu tapi tiga, bahkan membunuh dua diantaranya...," kata Amir sambil tersenyum sinis.


" Jahat Kau Amir...!" jerit sang Nyai bersamaan dengan terbukanya pintu rumah yang didobrak dari luar.


Amir dan sang Nyai sontak menoleh kearah pintu dan terkejut mendapati pangeran Jareka dan dua pengawalnya berdiri di ambang pintu. Tatapan ketiganya sangat tajam dan menusuk hingga membuat Amir dan sang Nyai ketakutan.


" Ada apa ini...?!" tanya pangeran Jareka sambil mengamati dua jasad pria tanpa kepala di lantai dan tubuh sang istri yang berlumuran darah.


" Suamiku...," panggil sang Nyai lirih.


" Dia telah membunuh mereka Tuan. Nyai membunuh dua orang itu karena mereka datang di waktu yang sama untuk memperebutkan cintanya. Padahal masih ada Aku di sini. Nyai hanya tak ingin aibnya diketahui banyak orang makanya dia membunuh mereka...," kata Amir.


Sang Nyai hanya menggelengkan kepalanya seolah menolak ucapan Amir. Sang Nyai tetap diam karena yakin sang suami tak akan mau mendengarkan penjelasannya.


Pangeran Jareka terlihat marah lalu bergegas menghampiri sang istri. Ia berdiri di hadapan sang Nyai dan mengamati wajah sang istri sejenak. Amir nampak tersenyum puas membayangkan hukuman mati yang akan diterima sang Nyai. Bagaimana pun seorang pria tak akan suka berbagi wanitanya dengan pria lain.


" Tangkap dia...!" kata pangeran Jareka lantang sambil menunjuk kearah Amir hingga mengejutkan pria itu.


" Baik Tuanku...!" sahut dua pengawal sang pangeran lalu bergegas meringkus Amir.


" Eh, Apa-apaan ini. Kenapa Aku yang Kalian tangkap...?!" tanya Amir sambil berusaha melepaskan diri.


" Kau pikir Aku percaya dengan bualanmu itu ?!. Istriku membunuh mereka karena mereka berniat menyakitinya. Dan Kau, Kau sedang berusaha memenuhi keinginanmu yaitu melihat Istriku menerima hukuman dengan mengatakan hal bohong tentang Istriku...!" kata pangeran Jareka lantang.


Rupanya pengawal pangeran Jareka telah menyayat pipi Amir dengan belati yang dipegangnya. Sayatan panjang dan dalam terlihat dari ujung mulut Amir hingga ke ujung telinga bagian bawah. Jeritan pun menggema di dalam ruangan hingga membuat sang Nyai bergidik ngeri.


" Apa yang Kamu lakukan...?" tanya pangeran Jareka.


" Maaf Tuan, Hamba tak sengaja menyayat mulutnya yang selalu menebar fitnah tentang Nyai. Sejatinya belati ini tumpul dan hanya mau melukai orang-orang yang bersalah. Entah mengapa mendengar ucapannya membuat belati ini bergerak dengan sendirinya hingga melukai dia Tuanku...," sahut sang pengawal sambil melirik kesal kearah Amir yang menjerit kesakitan sambil memegangi pipinya.


" Keliatannya belatimu tau betul cara menghadapi orang bermuka dua...," kata pangeran Jareka sambil tersenyum penuh makna.


Amir masih menjerit saat kedua pengawal pangeran Jareka melepaskannya. Kemudian pangeran Jareka menoleh kearah istrinya dan tersenyum.


" Sebenarnya Aku datang ke sini untuk menjemputmu Sayang. Aku akan umumkan pernikahan Kita dan menjadikanmu permaisuri...," kata pangeran Jareka sambil menatap sang Nyai dengan tatapan lembut.


Sang Nyai hanya membisu karena tahu suaminya sengaja menjeda kalimatnya. Ia berusaha sabar menunggu kalimat lanjutan yang akan diucapkan suaminya.


" Sayangnya Aku mendengar banyak hal buruk tentangmu dan Aku datang untuk membuktikannya. Dan Aku kecewa melihat kenyataan ini. Ternyata berita buruk jika Kamu membunuh semua orang yang datang adalah benar...," kata pangeran Jareka kecewa.


" Apa Aku boleh bicara sekarang...?" tanya sang Nyai.


" Bicara lah. Luruskan semuanya supaya Aku tau bagaimana harus bersikap...," pinta pangeran Jareka.


" Aku memang membunuh mereka yang datang ke sini untuk mempertahankan diri. Apa Kamu percaya jika Aku katakan mereka datang karena ingin melecehkan Aku, melukai Aku bahkan ingin membunuhku...?" tanya sang Nyai.


Pangeran Jareka hanya membisu. Ia membuang tatapannya kearah lain karena tak sanggup menatap wajah sang istri. Sang Nyai nampak kecewa lalu melanjutkan ucapannya.


" Aku yakin Kamu percaya. Dan itu berarti Aku tak memenuhi syarat sebagai Permaisuri. Pergi lah. Ada wanita yang lain yang lebih layak untuk menduduki posisi itu...," kata sang Nyai dengan suara bergetar.


" Sayang...," panggil pangeran Jareka sambil berusaha memeluk sang istri namun Nyai menepisnya dan bergeser menjauh.


" Bukan kah seorang permaisuri harus bersih dari fitnah dan kejahatan ?. Aku tak layak karena masa laluku kelam dan penuh darah. Pergi lah. Aku ikhlaskan Kamu menikahi wanita lain. Lupakan saja janjimu karena itu tak berarti apa-apa untukku...," kata Nyai sambil menatap nanar kearah sang suami.


" Maafkan Aku...," kata pangeran Jareka dengan suara bergetar.


" Pergi lah Sayang. Aku mencintaimu dan Aku tak ingin menjadi bebanmu lagi. Selama ini Kamu telah banyak menanggung malu karena memilihku sebagai Istrimu. Tak usah khawatirkan Aku. Aku akan selalu ada di sekitarmu dan mengawalmu tanpa pamrih...," kata sang Nyai sambil tersenyum.


Di lantai terlihat Amir yang tersenyum puas saat menyaksikan wanita yang menolak cintanya itu kini 'dibuang' oleh pangeran Jareka.


Pangeran Jareka mendekati istrinya lalu memeluknya erat. Keduanya menangis meratapi cinta mereka yang sulit. Diam-diam tangan pangeran Jareka menggenggam tangan sang Nyai yang menggenggam parang itu. Setelahnya pangeran Jareka membawa sang istri melompat lalu menebas tenggorokan Amir dengan parang yang mereka genggam bersama.


Tubuh Amir menggelepar di lantai dengan luka menganga di lehernya. Rupanya pangeran Jareka sengaja membuat Amir tersiksa di akhir hayatnya karena sakit yang amat sangat di lehernya itu.


" Kenapa Kamu melukai dia...?" tanya sang Nyai tak mengerti.


" Aku hanya mencoba menghentikan dia menyebar fitnah tentangmu Sayang...," sahut pangeran Jareka sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=