Kidung Petaka

Kidung Petaka
242. Temen Perempuan ?


Kesibukan Shezi sebagai istri seorang perwira tentara membuatnya kesulitan membagi waktu. Dan akhirnya Shezi harus memilih melepas salah satu kesibukan yang cukup menyita waktu yaitu pekerjaannya sebagai karyawan apotik.


Rex pun tersenyum mendengar keputusan Shezi. Walau ia tahu Shezi berat untuk meninggalkan pekerjaan yang telah memberinya banyak pengalaman hidup, tapi wanita cantik yang kini menjadi istrinya itu rela melakukannya hanya demi bisa mendampinginya kemana pun ia bertugas.


" Makasih Sayang...," kata Rex sambil menarik Shezi ke dalam pelukannya.


" Sama-sama. Sebelum Kita berangkat, apa Aku masih bisa ikut kegiatan Persit hari ini...?" tanya Shezi sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap suaminya.


" Boleh dong. Emangnya ada kegiatan apa di Persit hari ini...?" tanya Rex.


# Persit singkatan dari Persatuan Istri Tentara, sebuah organisasi yang beranggotakan istri para tentara. Persit difungsikan untuk mendukung tugas para suami. Tak jarang Persit juga melakukan kegiatan sosial kemanusiaan. #


" Mmm..., kalo ga salah sih mengunjungi panti jompo dan anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit...," sahut Shezi sambil mengurai pelukan suaminya.


" Ok. Kabari aja kalo mau Aku jemput...," kata Rex.


" Apa Kamu ga malu jemput Aku terus Kapten...?" tanya Shezi.


" Kenapa harus malu, Kamu kan Istriku. Atau justru Kamu yang malu karena kegiatanmu dipantau Suamimu...?" tanya Rex dengan tatapan menyelidik.


" Jangan mulai lagi deh. Aku seneng kok kalo Kamu jemput...," sahut Shezi cepat sambil mengalungkan kedua lengannya di leher suaminya itu.


Sikap manja Shezi membuat Rex tersenyum. Ia mendaratkan ciuman panjang di bibir istrinya itu hingga beberapa saat.


" Yang kaya gini nih bikin Aku tambah kangen kalo jauh sama Kamu...," bisik Rex di telinga istrinya hingga membuat Shezi meringis.


" Udah siang Kapten, Kamu ga mau terlambat sampe kantor kan...," kata Shezi mengingatkan.


" Siap Bu...," sahut Rex sambil melepaskan pelukannya lalu bergegas melangkah menuju ke pintu.


Shezi pun tersenyum lalu mengekori Rex hingga ke pintu untuk melepas kepergian suaminya. Rex nampak masuk ke dalam mobil dan siap melaju.


" Hati-hati Kapten...!" kata Shezi sambil melambaikan tangannya.


" Siap Bu, Assalamualaikum...! " kata Rex.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Shezi.


Sebelum berbalik Shezi menoleh kearah lapangan yang letaknya tak jauh dari rumah dinas yang ia tempati itu. Shezi tersenyum menyaksikan barisan tentara berlari kecil sambil meneriakkan yel-yel pembakar semangat dengan lantang.


\=\=\=\=\=


Kegiatan Persit hari itu lumayan padat. Mereka melakukan dua kunjungan sekaligus. Yaitu ke panti jompo dan salah satu Rumah Sakit swasta.


Saat di panti jompo para anggota Persit diperlihatkan bagaimana kondisi para lansia. Ada yang memang tak memiliki keluarga, ada juga yang diabaikan keluarganya. Sebagian adalah lansia titipan Dinas Sosial yang ditemukan terlunta-lunta di pinggir jalan. Sebagian lain justru lansia yang sengaja dititipkan oleh keluarganya hanya karena mereka enggan mengurus para lansia itu.


" Nenek yang itu memang ga punya keluarga Bu. Ga punya anak, suaminya pun pergi entah kemana...," kata pengurus panti.


Shezi mengangguk lalu mengedarkan pandangannya hingga tatapannya membentur sosok Kakek yang duduk menyendiri di depan taman.


" Kalo Kakek yang itu justru dititipkan langsung sama anaknya yang kaya raya hanya karena dia suka meracau. Anaknya malu punya orangtua yang menurutnya ga waras. Padahal kondisi seperti ini wajar terjadi pada lansia. Pada usia sepuh, mereka akan kehilangan daya ingat jadi sering menceritakan pengalaman paling berkesan di masa lalu secara berulang-ulang. Kadang mereka juga bertingkah seperti anak kecil yang suka merengek dan menangis jika keinginannya tak terpenuhi...," kata pengurus panti menjelaskan.


" Kasian ya Bu...," kata Shezi iba.


" Begitu lah Bu. Hidup memang ga adil buat Kakek itu. Padahal di masa mudanya dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tapi saat usia senja justru dia dibuang sama anak yang dia perjuangkan kebahagiaannya...," sahut pengurus panti sambil mengusap matanya yang basah.


Shezi pun terharu. Ia mengusap punggung sang pengurus panti dengan lembut untuk sedikit menghiburnya.


\=\=\=\=\=


Kegiatan Persit selanjutnya adalah berkunjung ke Rumah Sakit. Di sana para anggota Persit diarahkan ke ruangan khusus tempat pasien penderita kanker.


Para pasien yang semuanya anak-anak itu dikumpulkan di sebuah ruangan yang luas. Mereka nampak tertawa bahagia saat badut yang disewa Persit menampilkan aneka atraksi sulap. Selain itu mereka juga mendapatkan banyak hadiah dari para anggota Persit.


Shezi nampak bergeser menjauh dari rekan sesama anggota Persit saat ponselnya berdering.


" Assalamualaikum Kapten...," sapa Shezi.


" Wa alaikumsalam. Kamu dimana, Aku udah di loby nih...," kata Rex dari seberang telephon.


" Aku masih ada di ruangan di lantai tiga. Lagi menghibur anak-anak penderita kanker. Kamu mau nunggu atau nyusul aja ke sini...?" tanya Shezi.


" Ok. Kalo udah selesai Aku telephon Kamu nanti...," kata Shezi di akhir kalimatnya.


Rex tersenyum lalu melangkah menuju kantin. Saat itu tak sengaja ia berpapasan dengan Itje yang baru keluar dari lift.


" Reeexx...!" panggil Itje lantang hingga membuat Rex menoleh dan tersenyum.


" Apa kabar Tante...?" sapa Rex sambil mencium punggung tangan Itje dengan takzim.


" Kabar Tante baik Rex. Tante senang akhirnya Kamu mau datang jenguk Aksara. Makasih ya Rex...," kata Itje dengan mata berkaca-kaca.


" Jenguk Aksara, emangnya Aksara sakit Tante...?" tanya Rex.


" Apa Kamu ga tau Rex ?. Aksara kan dirawat di Rumah Sakit ini. Sejak kecelakaan setengah tahun yang lalu sampe sekarang dia koma dan belum sadar juga...," kata Itje.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun...," batin Rex gusar.


" Jadi Kamu ke sini bukan karena mau jenguk Aksara ya...," kata Itje sedih.


" Maaf Tante. Saya emang ga tau kalo Aksara dirawat selama ini. Tapi kalo Tante ijinin, Saya mau jenguk Aksara sekarang. Boleh kan Tante...?" tanya Rex.


" Boleh Rex, boleh banget. Ayo ikut Tante...," ajak Itje antusias.


Kemudian Itje membawa Rex naik ke lantai tiga dengan lift. Sepanjang perjalanan menuju ke kamar rawat inap Aksara, Itje terus bercerita tentang kecelakaan yang dialami Aksara dan kondisinya selama ini.


Tanpa Rex sadari Shezi melihat kebersamaannya dengan Itje. Shezi yang penasaran pun mengekori mereka dan terkejut saat melihat Rex masuk ke sebuah kamar rawat inap.


Sebelum kamar benar-benar tertutup Shezi bisa melihat sosok wanita dengan berbagai selang terbaring lemah di atas tempat tidur.


" Dokter Aksara. Jadi Kamu ke sini karena dia Kapten...," gumam Shezi sambil menggigit bibirnya.


Entah mengapa Shezi merasa hatinya berdenyut nyeri saat melihat Rex menjenguk Aksara. Ada air mata yang mengambang di kedua matanya. Shezi pun berbalik dan bersiap kembali bergabung dengan rekannya yang lain.


Namun karena tergesa-gesa, Shezi tak sengaja menabrak seorang perawat yang melintas hingga menjatuhkan obat yang dibawa sang perawat.


Suara bising di depan kamar membuat Rex menoleh lalu keluar kamar. Ia tersenyum saat melihat istrinya sedang membantu merapikan barang bawaan sang perawat.


" Maaf ya Sus...," kata Shezi.


" Iya, gapapa Bu. Kalo gitu Saya permisi...," sahut sang perawat dengan santun.


Shezi mengangguk lalu bersiap melangkah. Namun langkahnya terhenti karena Rex menggamit lengannya.


" Mau kemana Kamu...?" tanya Rex.


" Mau ke sana. Justru Kamu yang ngapain di sini ?. Bukannya Kamu bilang mau ngopi di kantin tadi...?" tanya Shezi ketus.


" Aku lagi jenguk temanku...," sahut Rex.


" Teman perempuan...?" tanya Shezi sambil melengos hingga membuat Rex tersenyum karena tahu Shezi sedang cemburu.


" Jangan cemburu gitu dong Sayang. Aku udah ga ada hubungan apa-apa sama dia selain berteman...," kata Rex.


" Aku ga cemburu kok...," sahut Shezi cepat.


" Kalo gitu Kita jenguk bareng-bareng yuk...," ajak Rex sambil merengkuh pinggang Shezi dengan lembut.


" Ga bisa, Aku kan lagi sama Ibu-ibu Persit...," sahut Shezi sambil meronta.


" Sebentar aja. Atau Aku kiss di sini ya...," ancam Rex hingga membuat Shezi panik.


" Kenapa pake ngancam segala sih...?!" kata Shezi sambil melotot.


" Aku ga ngancam. Kamu tinggal pilih, mau ikut jenguk atau kiss, itu aja. Tapi Kamu tau kan gimana kalo Aku kalo ngekiss Kamu...," kata Rex sambil tersenyum penuh makna hingga membuat Shezi bergidik.


" Iya iya, Aku ikut...," sahut Shezi cepat.


Rex tersenyum puas. Kemudian ia menggamit jemari Shezi dan menggenggamnya dengan erat lalu membawanya masuk ke dalam kamar rawat inap Aksara.


bersambung