
Rex pun mengulurkan tangannya untuk meraih foto Zada yang terjatuh di lantai. Sedangkan Ramon mulai mengamati kedua foto Zada yang ada di tangannya dengan seksama.
Rex langsung membalikkan lembaran foto itu dan terkejut saat melihatnya. Saking terkejutnya Rex sampai membulatkan matanya saat melihat sosok yang ada di foto itu. Bagaimana tidak, gadis cantik yang ada di foto itu sama persis dengan gadis misterius yang Rex ikuti di koridor Rumah Sakit beberapa malam yang lalu.
" Dia..., jadi ini Zada...?!" kata Rex sedikit lantang hingga membuat Ramon menoleh kearahnya.
" Kenapa Nak, apa Kamu pernah ketemu sama dia sebelumnya...?" tanya Ramon sambil ikut menatap foto Zada yang ada di tangan Rex.
" Iya Yah...," sahut Rex cepat.
" Kapan dan dimana...?" tanya Ramon sambil mengerutkan keningnya.
" Beberapa malam yang lalu di koridor Rumah Sakit ini Yah...," sahut Rex sambil mengusap wajahnya.
" Masa sih ?. Kalo gitu yang Kamu liat itu arwah atau hantunya Zada dong Nak. Kan Zada udah meninggal dunia...," kata Ramon sambil menatap Rex lekat.
" Iya Yah...," sahut Rex sambil mengangguk.
" Ya Allah. Mungkin dia mau minta tolong sama Kamu seperti yang lain Nak...," kata Rex.
" Keliatannya sih gitu Yah. Malam itu Aku sama dia sempet saling menatap sebentar. Nah, waktu ngeliat matanya yang penuh kesedihan dan ketakutan itu bikin Aku dejavu. Aku merasa pernah ngeliat sorot mata kaya gitu, tapi Aku lupa dimana. Ga taunya cewek itu Zada. Masuk akal kan kalo Aku merasa sorot matanya familiar, kan Aku juga ngeliat Zada pertama kali dulu ya dalam kondisi Zada yang sedih dan ketakutan...," kata Rex lirih.
"Kasian banget sih nasibnya anak ini. Ujian hidupnya terlalu berat...," gumam Ramon sambil menghela nafas berat.
Pembicaraan Rex dan Ramon berakhir saat pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan sambil tersenyum kearah ayah dan anak itu.
" Bagaimana operasinya dok...?" tanya Ramon tak sabar.
" Alhamdulillah berjalan lancar Pak. Saat ini Kami berhasil membuang sumber penyakit Pak Ramzi. Tapi Kami masih perlu melakukan observasi terhadap pasien. Diharapkan sel kankernya ga tumbuh lagi atau bahkan menyebar ke organ yang lain...," sahut sang dokter.
" Jadi ini belum bisa dikatakan berhasil seratus persen ya dok...," kata Ramon sedih.
" Kita hanya bisa melakukan yang terbaik Pak. Kami membantu mengoperasinya sedang keluarga membantu dengan doa. Bukan kah itu kolaborasi yang baik ?. Tapi hasil akhirnya tetap Kita serahkan pada Allah Sang Khaliq yang memiliki hidup...," sahut sang dokter bijak.
" Iya dok. Maaf kalo terkesan ga bersyukur. Tapi Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih kepada dokter dan team yang udah membantu Adik Saya...," kata Ramon sambil menjabat tangan sang dokter.
" Sama-sama Pak Ramon...," sahut sang dokter sambil tersenyum.
Rex pun ikut menjabat tangan sang dokter sambil mengucapkan terima kasih. Kemudian sang dokter kembali ke dalam ruangan.
Beberapa saat kemudian Ramzi dibawa keluar ruang operasi menuju kamar rawat inap.
\=\=\=\=\=
" Ada apa Zada, bilang sama Aku apa yang harus Aku lakukan...?" gumam Rex sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru Rumah Sakit.
Malam itu suasana Rumah Sakit sedikit lebih ramai dari biasanya sehingga membuat Rex sedikit kesulitan berkonsentrasi. Banyak pengunjung dan team medis yang berlalu lalang di koridor hingga koridor menjadi bising padahal saat itu bukan jam besuk pasien.
Rex memutuskan duduk di salah satu kursi sambil mengamati foto Zada. Rex mencoba membandingkan posisi Zada di dua lembar foto yang ada di tangannya itu.
" Dua foto ini dan foto lainnya ga memperlihatkan wajah Zada dengan jelas. Rata-rata fotonya dari samping atau belakang. Kenapa ya...?" batin Rex.
Sebuah hembusan angin menerpa tubuh Rex dan membuatnya sedikit menggigil. Rex merapatkan jaketnya sambil terus fokus menatap foto Zada. Rex mengerutkan keningnya saat menyadari situasi di sekitarnya terasa lengang dan sepi. Padahal seingatnya situasi di sana ramai dan berisik.
Rex mendongakkan wajahnya dan terkejut mendapati dirinya ada di suatu tempat yang asing. Bukan di koridor Rumah Sakit seperti sebelumnya, tapi di sebuah halaman di belakang rumah tua yang kotor dan tak terawat.
Rex menghela nafas karena yakin jika dirinya dibawa melintas dimensi untuk diperlihatkan sesuatu.
Rex pun menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat situasi. Ternyata saat itu Rex juga tengah duduk di atas kursi kayu tunggal. Meski pun saat itu terang benderang karena hari masih siang, tapi suasana di tempat itu terlihat remang-remang dan dingin seolah tak terjangkau cahaya matahari yang bersinar terik di atas sana.
Tiba-tiba Rex mendengar suara perempuan menyanyi. Bukan, tapi lebih mirip suara gumaman diiringi tangis. Suara itu terdengar jauh namun berhasil membuat Rex teringat sesuatu.
" Suara ini..., apa jangan-jangan..., " ucapan Rex terputus saat ia melihat pintu dan jendela rumah tua di hadapannya mendadak terbuka bersamaan hingga menimbulkan suara bergemuruh.
Rex pun bangkit sambil menyaksikan pintu dan jendela itu terpelanting keras seolah dibuka paksa oleh kekuatan tak kasat mata. Saking kerasnya membuat beberapa engsel pintu dan jendela itu terlepas.
Rex memasang sikap waspada dan sedikit bergeser menjauh dari rumah tua itu. Terbukanya pintu dan jendela tadi seolah ingin memperlihatkan situasi di dalam rumah denga jelas.
Rex menatap lekat ke dalam rumah. Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat design interior rumah yang terlihat klasik itu. Karena penasaran, Rex pun melangkah mendekati rumah tua itu.
Dari ambang pintu yang terbuka Rex bisa melihat suasana di dalam rumah yang terlihat bersih dan apik, sangat berbeda jauh dengan kondisi di luar rumah yang kotor dan tak terawat.
Rex menoleh ke dalam rumah dan keluar rumah bergantian seolah ingin membandingkan dua kondisi yang berbeda itu. Entah mengapa Rex merasa jika dua tempat yang berbeda kondisi itu menandakan dua dimensi yang berbeda.
Rex kembali menoleh ke dalam rumah saat mendengar suara pintu kamar terbuka. Tak terlihat siapa pun di balik pintu pertanda jika pintu itu terbuka sendiri. Suara derit engsel pintu terdengar memekakkan telinga sekaligus membuat bulu kuduk meremang.
Pintu kamar yang terbuka lebar itu seolah ingin memperlihatkan sesuatu. Dari tempatnya berdiri Rex bisa melihat isi kamar sekaligus penghuni kamar.
Kamar itu terlihat gelap karena hanya sedikit cahaya yang masuk, itu pun melalui ventilasi di atas jendela. Namun cahaya yang sedikit itu masih bisa membantu Rex melihat isi di dalam kamar itu.
Ada sebuah tempat tidur besar yang ditutupi kelambu berwarna putih kusam. Sebuah lemari besar, dua buah kursi dan sebuah meja. Perabotan di dalam kamar nampak antik karena terbuat dari kayu jati yang berukir. Juga terlihat elegan. Dan Rex tersenyum tipis karena yakin jika harga perabotan di dalam kamar itu sangat mahal. Apalagi kondisinya masih sangat baik dan terawat.
\=\=\=\=\=