
Ustadz Akbar dan Rex masih berbincang santai di depan kamar rawat inap Elvira.
" Jadi Kita masih punya PR untuk membantu Bu Elvira, Ustadz...?" tanya Rex sekali lagi untuk menegaskan.
" Iya Mas. Apa Mas Rex sedang ada tugas lain...?" tanya ustadz Akbar.
" Saat ini ga ada Ustadz. Insya Allah Kita bisa menyelesaikan semuanya sebelum ada tugas lain dari negara untuk Saya...," sahut Rex cepat.
" Alhamdulillah, makasih Mas Rex. Sejujurnya Saya lebih nyaman saat Mas Rex yang membantu Elvira. Selain status Mas Rex yang anggota TNI, Mas Rex juga sudah mengenal Elvira sebelumnya karena pernah sama-sama bertugas di Afrika. Semua orang tau gimana kondisi Afrika yang tandus dan keras itu. Kalo orang bisa survive bersama dalam sebuah team itu adalah sebuah keajaiban. Apalagi Elvira adalah seorang wanita yang punya banyak kelemahan dan mood yang naik turun. Tapi melihat Mas Rex dan team juga Elvira bisa bekerja sama dengan baik, justru itu yang bikin Saya salut dan bangga...," kata ustadz Akbar.
Ucapan ustadz Akbar membuat Rex tersenyum. Sejujurnya ia pun merasa Elvira bukan lah gadis yang merepotkan. Ia justru terbantu dengan kehadiran Elvira.
" Semua anggota team adalah orang pilihan Ustadz. Kami bisa dengan mudah bekerja sama karena Kami punya misi dan visi yang sama saat berangkat ke sana...," kata Rex merendah.
" Iya Mas Rex...," sahut ustadz Akbar.
Tiba-tiba ponsel Rex berdering. Ia tersenyum saat melihat nama 'dokter hati' yang tertera di layar ponselnya. Rex pun memberi kode pada ustadz Akbar untuk menerima panggilan telephon.
" Silakan Mas...," kata ustadz Akbar sambil tersenyum.
Rex mengangguk lalu bergeser menjauh untuk bicara.
" Assalamualaikum, kenapa Sayang...?" tanya Rex dengan lembut.
" Wa alaikumsalam, Kamu dimana...?" tanya dokter Aksara dari seberang telephon.
" Masih di Rumah Sakit. Kamu udah mau pulang...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut dokter Aksara cepat.
" Ok, kalo gitu Aku jemput ke sana ya...," kata Rex sambil bersiap melangkah pergi.
" Jangan ke ruangan Aku, Kita ketemu di loby aja ya. Aku udah jalan ke loby nih...," kata dokter Aksara.
" Oh gitu. Ok, Aku otw ke sana...," sahut Rex lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Kemudian Rex mendekati ustadz Akbar untuk berpamitan.
" Saya pulang dulu Ustadz. Insya Allah Saya ke sini lagi besok...," kata Rex sambil mencium punggung tangan sang ustadz.
" Iya Mas, hati-hati di jalan. Ga usah ngebut...," kata ustadz Akbar.
" Siap Ustadz...," sahut Rex sambil tersenyum.
Ustadz Akbar nampak melepas kepergian Rex dengan senyum mengembang. Meski pun ia sedikit kecewa karena Rex memilih gadis lain untuk jadi kekasihnya, namun ustadz Akbar senang karena Rex masih mau membantu Elvira.
" Semoga Kamu bahagia dengan wanita mana pun yang Kamu pilih Nak...," doa ustadz Akbar dengan tulus.
\=\=\=\=\=
Rex mengantar dokter Aksara pulang dengan motornya. Walau sebelumnya sempat terjadi perdebatan diantara keduanya, akhirnya Rex lah yang keluar sebagai pemenang.
Semula dokter Aksara ingin Rex mengantarnya dengan mobil miliknya yang terparkir di parkiran. Namun Rex berkeras ingin mengantar sang kekasih dengan motornya.
" Apa Kamu malu karena Aku anter pulang pake motor...?" tanya Rex sambil memicingkan matanya.
" Ga, ngapain malu...," sahut dokter Aksara.
" Ya udah, jadi ga masalah kan...?" tanya Rex.
" Terus mobil Aku gimana...?" tanya dokter Aksara.
" Mobil Kamu taro di sini aja, titipin sama security kan bisa...," sahut Rex.
" Terus besok pagi gimana ?. Aku punya jadwal pagi besok...," kata dokter Aksara gusar.
" Besok Aku yang bakal jemput Kamu dan anterin Kamu ke Rumah Sakit...," sahut Rex hingga membuat dokter Aksara tersenyum bahagia.
" Beneran...?" tanya dokter Aksara tak percaya.
" Iya Sayang...," kata Rex sambil menyodorkan helm kearah sang kekasih.
" Ok...," sahut dokter Aksara sambil mengenakan helm di kepalanya.
Melihat sang kekasih mengenakan helm, Rex pun tersenyum diam-diam. Dokter Aksara yang menyadari dirinya ditertawai pun bertanya.
" Gapapa. Seneng aja ngeliat Kamu udah bisa pake helm sendiri sekarang. Padahal dulu kan ga bisa sama sekali...," sahut Rex sambil tertawa kecil.
Jawaban Rex membuat dokter Aksara membulatkan matanya karena tak menyangka Rex masih mengingat moment memalukan itu. Dokter Aksara pun mencubit pinggang Rex dengan gemas.
" Puas ya ngetawain Aku...," kata dokter Aksara sambil mengerucutkan bibirnya.
" Puas banget...," sahut Rex sambil tertawa.
" Reeexx...!" rengek dokter Aksara dengan wajah merona karena malu mengingat kebodohannya dulu.
Rex pun menghentikan tawanya lalu memeluk dokter Aksara dengan erat.
" Ngapain malu sih. Justru itu salah satu moment manis yang bikin Aku ga bisa lupain Kamu lho...," bisik Rex.
Dokter Aksara pun tersenyum lalu balas memeluk Rex.
" Iya. Aku juga selalu inget kebersamaan Kita yang singkat itu dulu...," sahut dokter Aksara malu-malu.
Sesaat kemudian Rex dan dokter Aksara saling mengurai pelukan. Keduanya tampak tertawa.
" Udah dong ketawanya, Kita pulang sekarang yuk...," ajak dokter Aksara.
" Siap dokter...," sahut Rex lalu mulai menstarter motornya.
Dokter Aksara pun tersenyum lalu duduk di belakang Rex. Ia juga memeluk pinggang sang kekasih dengan erat. Setelah memastikan dokter Aksara duduk dengan nyaman, Rex pun melajukan motornya meninggalkan area Rumah Sakit.
\=\=\=\=\=
Rex menghentikan motornya tepat di depan rumah orangtua dokter Aksara. Rex menoleh kearah jendela rumah dan melihat banyak orang di dalam sana.
" Kayanya lagi ada tamu Sayang...," kata Rex.
" Iya. Siapa ya...?" tanya Aksara sambil mengamati deretan mobil yang terparkir di luar rumah.
" Coba Kamu liat, masa ga satu pun yang Kamu kenal...?" tanya Rex sambil menunjuk kearah jendela.
Di sana terlihat dua orang pria duduk berhadapan sambil tertawa. Rex menunggu reaksi sang kekasih namun dokter Aksara hanya diam membisu.
" Gimana, Kamu kenal ga sama mereka...?" tanya Rex.
" Aku ga kenal Sayang...," sahut dokter Aksara.
Rex nampak kecewa mendengar jawaban sang kekasih. Sadar jika ia berada di posisi yang tak menguntungkan, Rex pun berusaha tetap tersenyum.
" Sebaiknya Kamu masuk sekarang, udah malam lho...," kata Rex mengingatkan.
" Terus Kamu gimana, Kita masuk bareng kan...?" tanya dokter Aksara.
" Aku pulang aja...," sahut Rex cepat.
" Kok pulang, Kamu ga mau masuk...?" tanya dokter Aksara.
" Ini udah terlalu malam buat Aku bertamu dan mengenalkan diri. Waktunya juga ga pas buat Kita mengakui hubungan Kita karena orangtuamu lagi kedatangan tamu. Aku ga mau jadi orang yang ga tau situasi dan malah merusak suasana di dalam nanti...," kata Rex bijak.
Dokter Aksara tersenyum mendengar ucapan sang kekasih. Dalam hati ia merasa beruntung memiliki Rex sebagai kekasih yang pengertian dan baik hati.
" Iya deh. Kamu emang selalu bener...," kata dokter Aksara sambil mencibir.
" Jangan ngambek dong. Insya Allah besok pagi kan Aku ke sini lagi buat jemput Kamu. Nah, besok Aku yang ngenalin diri deh sama orangtua Kamu...," kata Rex sambil menyentuh wajah dokter Aksara.
" Janji ya...," kata dokter Aksara.
" Insya Allah...," sahut Rex cepat hingga membuat dokter Aksara tersenyum.
" Ok. Hati-hati di jalan dan ga usah ngebut ya...," pesan dokter Aksara saat Rex menstarter motornya.
" Siiippp...," sahut Rex sambil melajukan motornya perlahan.
Setelah melepas kepergian sang kekasih, dokter Aksara pun melangkah masuk ke dalam rumah.
\=\=\=\=\=