
Jika Gama sedang disibukkan dengan bengkel barunya, maka Rex juga disibukkan dengan tugasnya sebagai anggota TNI AD.
Kali ini Rex ditugaskan ke daerah Jawa Timur tepatnya di daerah Madura. Rex bersama pasukan TNI gabungan diperbantukan untuk mengatasi masalah keamanan di sana. Salah satunya adalah di daerah Bangkalan.
Konon kabarnya daerah Bangkalan merupakan salah satu titik rawan pembegalan, begitu lah informasi yang diterima oleh Pangdam Jaya yang menjabat saat itu.
Tugas gabungan seperti ini bukan kali pertama disandang oleh Rex. Ia tampak terlihat santai dan tak terbebani meski pun harus dikirim ke tempat yang jauh sekali pun. Berbeda dengan Lanni dan Lilian yang terlihat sedih saat membantu Rex mengemasi barang-barangnya.
" Rex itu cuma ke Madura Bu, ngapain Kamu sedih gitu sih. Lagian Rex udah dewasa, dia bisa menjaga diri...," kata Ramon sambil menggelengkan kepala.
" Ayah nih emang ga peka sama perasaan Ibu. Biar pun Rex udah dewasa tapi Ibu khawatir Yah. Walau bukan yang pertama, tapi kali ini Rex pergi ke tempat yang rawan dan lumayan jauh dari rumah. Kabarnya kan banyak begal yang kejam dan main bacok aja di sana...," sahut Lanni sambil menekuk wajahnya.
" Tau nih Ayah, Kami khawatir kok ga boleh...," sela Lilian sambil meletakkan tas milik Rex di sudut kamar.
" Kalian ini yang lebay. Harusnya Kalian suport Rex saat dapat tugas jauh dari rumah. Jangan bebani dia dengan rengekan yang ga perlu, itu justru bikin dia ga tenang dan ga waspada saat menjalankan tugasnya nanti. Padahal tugasnya memerlukan konsentrasi tinggi karena berhadapan dengan orang yang biasa menggunakan senjata tajam. Kalian ingat kan, saat Rex memutuskan jadi tentara itu artinya semua konsekwensi dari profesinya ditanggung Rex dan keluarganya termasuk Kita...," kata Ramon mengingatkan.
Ucapan Ramon membuat Lanni dan Lilian terkejut. Keduanya saling menatap seolah baru tersadar jika tindakan mereka salah. Melihat anak dan istrinya yang salah tingkah Ramon pun tersenyum lalu memeluk keduanya dengan sayang.
" Kita semua sayang sama Rex. Tapi bukan begini cara mengungkapkan rasa sayang Kita. Biarkan dia menjalankan tugasnya. Iringi dengan doa supaya dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan pulang dengan selamat...," bisik Ramon.
" Iya Yah...," sahut Lanni dan Lilian bersamaan.
Tiba-tiba Rex masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat tiga orang yang ia sayangi sedang saling memeluk. Tanpa tahu apa yang terjadi, Rex pun ikut memeluk mereka.
" Ada apaan sih, Aku ketinggalan sesuatu ya...?" tanya Rex.
" Ga ada apa-apa kok. Kami lagi pengen pelukan aja...," kata Lanni sambil memeluk Rex dengan lengan kanannya sementara lengan kiri ia gunakan memeluk Lilian.
Rex tersenyum karena tahu sang ibu sedang berbohong. Rex pun mendaratkan ciuman di kepala sang Ibu sambil mengatakan sesuatu yang menenangkan Lanni.
" Insya Allah Aku baik-baik aja di sana. Kan Aku punya orang-orang hebat yang selalu mendoakan Aku di sini. Aku janji bakal jaga diri di sana...," bisik Rex.
Ucapan Rex membuat sang ibu terharu. Lanni nampak mengangguk sambil tersenyum.
" Bukan cuma jaga diri, jangan lupa jaga sholat juga Rex, itu yang terpenting...!" sela Lilian ketus hingga membuat Rex tertawa.
" Yang kaya gini yang bakal bikin kangen. Omongan Kak Lian tuh bener tapi pedes. Bisa kan disampein dengan nada yang lebih lembut biar orang tau kalo Kakak tuh lagi perhatian bukan lagi ngomel...," kata Rex sambil tertawa lalu mengusak rambut Lilian dengan gemas.
" Reeexxx...!, songong amat sih...!" jerit Lilian sambil berusaha menepis tangan Rex dari kepalanya.
Tingkah Rex dan Lilian membuat Lanni dan Ramon sedikit kesal. Mereka menghela nafas panjang sambil saling menatap.
" Kalian berdua tuh bisanya ngerusak moment aja tau ga ?!. Jadi sebel ngeliatnya. Ayo Kita keluar aja Yah...!" ajak Lanni sambil menggamit lengan sang suami.
" Iya Bu...," sahut Ramon sambil merengkuh pundak sang istri dan membawanya keluar kamar.
" Eh, Ayah sama Ibu mau kemana ?. Aku ikut...!" kata Lilian lantang sambil mengejar Lanni dan Ramon.
" Ish, galak amat sih...," gerutu Lilian hingga membuat Rex dan Ramon tertawa.
" Biarin !. Tetap di rumah dan jangan kemana-mana. Kalo Ibu pulang Kalian ga di rumah, awas ya...!" ancam Lanni sambil mengacungkan tinju ke hadapan Lilian dan Rex.
Lilian dan Rex pun melangkah mundur sambil bergidik. Mereka tahu Lanni tak pernah main-main dengan ucapannya. Keduanya hanya bisa menatap kepergian kedua orangtua mereka tanpa bisa berbuat apa-apa.
" Udah beres semua kan Kak...?" tanya Rex membuka percakapan.
" Udah dong. Ibu sama Aku kan paling jago masukin barang ke dalam tas supaya muat banyak...," sahut Lilian bangga.
" Iya deh. Lima jempol buat Kak Lian sama Ibu...," kata Rex sambil mengacungkan dua jempolnya.
" Kok lima ?. Tambah jempol kaki kan cuma ada empat jempol. Satunya jempol siapa...?" tanya Lilian.
" Kakak salah. Dua jempol dari tangan Aku, tiga jempol lagi pinjem kakinya si Agus...," sahut Rex cepat.
" Kakinya Agus, buat apaan...?" tanya Lilian tak mengerti.
" Kakak lupa ya kalo jempol kakinya si Agus kan lebih satu...," sahut Rex sambil tertawa hibgga membuat Lilian ikut tertawa.
" Kurang ajar Kamu...!" kata Lilian sambil menepuk punggung Rex dengan keras.
Rex dan Lilian memang punya teman semasa kecil bernama Agus. Dia tinggal tak jauh dari rumah mereka. Agus terlahir dengan jumlah jari kaki tak lazim. Jika umumnya manusia memiliki lima jari di kaki kanan dan kirinya, Agus justru memiliki enam jari di kaki kirinya. Ibu jari alias jempol di kaki kiri Agus berjumlah dua. Hingga saat kaki kanan dan kaki kiri disandingkan maka jempol kaki Agus berjumlah tiga.
Akibat kondisinya itu Agus kerap dibully oleh teman-temannya. Namun Lilian dan Rex berhasil menghibur Agus dan mengatakan jika itu adalah kelebihan yang Allah berikan untuk Agus.
Apesnya lagi, selain memiliki jempol lebih, Agus juga memiliki aroma tak sedap di kakinya. Dan itu membuatnya makin dibully. Oleh teman-temannya, Agus dijuluki si kaki bau. Lagi-lagi Lilian dan Rex menghibur Agus dan mengatakan jika itu adalah senjata Agus untuk menghadapi teman-teman yang usil. Agus pun mengangguk lalu mengejar teman-teman yang menghinanya sambil mengacungkan kakinya kearah mereka.
Mengingat hal itu membuat Lilian dan Rex kembali tertawa.
" Sekarang si Agus tinggal dimana Rex...?" tanya Lilian.
" Ga tau Kak. Sejak pindah dari sini Aku ga pernah denger kabarnya lagi...," sahut Rex.
" Kalo diinget-inget lucu banget ya dia...," kata Lilian.
" Iya. Cuma Kita lho yang benar-benar mau temenan sama dia. Dan anehnya walau sering dimarahin sama Kakak, tapi tetep aja ngintil kemana pun Kita pergi...," kata Rex.
" Betul, mirip banget sama si Gama. Udah diomelin, dikatain, dipukul, dilempar pake petasan, tetep aja balik lagi ke sini...," sahut Lilian sambil tertawa.
" Itu karena Gue tau sebenernya dalam hati Kalian sayang sama Gue...!" kata Gama dari ambang pintu.
Lilian dan Rex menoleh kearah Gama lalu berdecak sebal melihat Gama yang berdiri dengan gaya khasnya itu.
\=\=\=\=\=