
Beberapa hari kemudian Rex mendapat telephon dari salah satu rekan polisi yang menangani kasus penganiayaan Aksara. Di saat bersamaan Rex juga mendapat telephon dari AKP. Taufan yang menangani kasus penyekapan Shezi.
" Kok bisa barengan gini sih...," gumam Rex yang masih didengar oleh AKP. Taufan.
" Apanya yang barengan Rex...?" tanya Taufan dari seberang telephon.
" Panggilan polisinya. Gue juga dimintai kesaksian untuk kasus penganiayaan salah satu dokter yang Gue tolongin...," sahut Rex.
" Yang Lo tolongin dokter cewek...?" tanya Taufan.
" Iya, kenapa emangnya...?" tanya Rex tak mengerti.
Jawaban Rex membuat AKP Taufan tertawa. Ia tak menyangka jika sahabatnya itu bisa tebar pesona pada dua wanita sekaligus. Sadar dengan apa yang dipikirkan Taufan, Rex pun meralat dengan cepat.
" Ga usah nebak yang aneh-aneh Fan. Dokter itu emang mantan Gue dulu. Tapi kalo Shezi, dia bukan siapa-siapa Gue...," kata Rex kesal.
" Eh, itu urusan Lo. Gue sih ga peduli hubungan Lo sama mereka, jadi Lo ga perlu jelasin apa-apa sama Gue Rex...," sahut Taufan di sela tawanya.
" Tapi cara ketawa Lo tuh bikin Gue terpojok tau ga...?!" kata Rex kesal.
" Ga usah sewot Rex, ketawa Gue kan emang kaya gini dari dulu. Terus gimana nih, panggilan mana yang mau Lo duluin...?" tanya Taufan setelah tawanya reda.
Rex menimbang sejenak lalu memilih memenuhi panggilan Taufan.
" Insya Allah Gue ke tempat Lo nanti. Tapi malam ya, Gue masih dinas nih sekarang...," kata Rex.
" Ok, Gue tunggu ya Rex. Makasih...," kata Taufan di akhir kalimatnya.
Rex pun memasukkan ponselnya ke saku baju kemudian ia menghela nafas panjang.
Bukan tanpa alasan Rex memilih memenuhi panggilan Taufan. Itu karena Rex tak ingin terlibat terlalu jauh dalam kasus penganiayaan Aksara. Rex sadar jika penganiayaan Aksara adalah buntut dari perjodohan yang dilakukan Itje dulu.
" Sorry Sa, Aku emang ga bakal hadir untuk memberi kesaksian di kasus Kamu. Aku hanya ingin Mama Kamu sadar dan ga menilai orang lain dari kemampuan hartanya aja. Kadang orang yang selalu diremehkan bisa jadi adalah orang yang paling bisa diandalkan di saat terdesak...," gumam Rex.
" Betul Kapten. Lagian dengan Kapten hadir malah justru menimbulkan masalah baru nanti. Siapa tau dokter Aksara malah berharap lebih dan mengira Kapten masih mengharap cintanya...," kata sersan Andi tiba-tiba.
" Iya Ndi. Sejujurnya Gue juga udah ga tertarik untuk menjalin hubungan sama Aksara. Tiap kali ribut ya pasti gara-gara Mamanya yang ga puas sama apa pun yang ada di diri Gue. Capek Ndi, bosen juga. Masalah kali ini juga gara-gara ulah Mamanya yang kepengen punya menantu kaya...," sahut Rex sambil tersenyum kecut.
" Saya dukung keputusan Kapten. Lebih baik mundur sekarang daripada maju tapi ga dapat apa-apa..., " kata sersan Andi sambil mengacungkan jempolnya.
" Thanks suportnya ya Bro...," kata Rex sambil tersenyum.
" Sama-sama Kapten. Terus kalo bukan sama dokter Aksara, Kapten sama siapa dong...?" tanya sersan Andi.
" Belum tau. Sekarang Gue lagi nyoba buka hati buat yang lain. Siapa pun yang menempatinya nanti, Gue harap itu yang terbaik...," sahut Rex sambil tersenyum penuh makna.
" Semangat ya Kapten. Mudah-mudahan setelah ini Kapten ketemu jodoh yang pas buat Kapten dan pas di hati keluarga Kapten...," doa sersan Andi dengan tulus.
" Aamiin...," sahut Rex antusias kemudian tertawa.
\=\=\=\=\=
Rex tiba di kantor polisi saat jam menunjukkan pukul delapan malam. Ia diarahkan ke ruang interogasi dan melihat Shezi dan Dina yang sedang dimintai keterangan.
" Nah itu Kapten Rex datang. Kita bisa lengkapi laporan, lalu menyiapkan pasal apa yang bakal diterapkan dan ancaman hukuman yang layak untuk Nato nanti...," kata polisi.
Kemudian Rex pun memberi keterangan yang dibutuhkan sebagai saksi. Saat Rex tengah dimintai keterangan, AKP Taufan pun masuk ke dalam ruangan dan ikut mendengarkan semua penjelasan Rex.
" Jadi Lo yang udah bikin tangannya patah Rex...," kata AKP Taufan hingga membuat semua orang menoleh kearahnya.
" Emang tangannya patah ya, sorry deh kalo gitu...," sahut Rex sambil menggedikkan bahunya dengan santai.
Reaksi Rex membuat polisi, Shezi dan Dina tertawa. Taufan nampak mengacungkan ibu jarinya pertanda ia mendukung tindakan Rex.
Usai memberi keterangan, Rex pun berbincang sejenak dengan Taufan di teras kantor. Sedangkan Shezi dan Dina lebih dulu melangkah meninggalkan kantor polisi.
Tak lama kemudian Rex keluar dari kantor polisi dengan motornya. Saat melintas di dekat halte yang ada di depan kantor polisi, Rex melihat Shezi dan Dina sedang bertengkar hebat dengan seorang wanita bertubuh tambun.
Rex menghentikan motornya dan bergegas turun untuk melerai pertengkaran itu. Namun terlambat, wanita bertubuh tambun itu malah melayangkan tamparan ke wajah Shezi. Beruntung gadis itu berhasil menghindar ke samping. Namun karena kaki kirinya belum pulih, tindakan Shezi itu justru membuat tubuhnya oleng dan hampir terjatuh.
" Ada apa Zi...?!" tanya Rex sambil menahan tubuh Shezi yang hampir terjengkang ke belakang.
" Ya Allah, Alhamdulillah. Makasih Kapten...," kata Shezi sambil berusaha berdiri dengan tegak.
" Ada apa ini, kenapa ribut di halte kaya gini sih. Sadar ga kalo Kalian jadi bahan tontonan orang-orang di jalan raya...?" tanya Rex sambil menatap Shezi dan wanita bertubuh tambun itu bergantian.
" Dia yang mulai duluan Kapten...," kata Dina membela Shezi.
" Maaf Ibu ini siapa, ada masalah apa sama Shezi...?" tanya Rex.
" Kamu yang siapa, ga usah sok ikut campur urusan Saya ya. Shezi ini keponakan Saya. Karena dia kurang ajar, udah sepantasnya Saya ngasih dia pelajaran...!" sahut wanita bertubuh tambun itu.
" Kalo salah juga kan ga harus dipukul di tempat umum gini Bu. Emangnya Ibu ga tau kalo memukul orang bisa kena pasal penganiayaan ?, hukumannya lumayan berat lho Bu. Lagian apa salah Shezi sampe Ibu mau mukulin dia segala...?" tanya Rex dengan sabar.
" Dia Ibunya Nato Kapten...," kata Dina setengah berbisik namun mengejutkan Rex.
" Jadi ini Ibunya si perusuh itu...?!" tanya Rex sambil menatap wanita itu dengan tatapan intens.
" Siapa yang Kamu bilang perusuh. Anak Saya itu anak baik-baik. Cintanya sama Shezi juga tulus. Tapi kenapa Shezi malah jeblosin dia ke penjara. Emangnya salah kalo sepupu mencintai saudari sepupunya...?!" kata wanita bertubuh tambun itu marah.
" Saudara sepupu yang saling mencintai itu ga salah Bude. Yang salah itu karena Mas Nato itu udah berapa kali berusaha melecehkan Aku. Kalo kaya gitu bukan cinta namanya tapi emang dia yang mesum...!" kata Shezi ketus.
" Lancang Kamu ya. Udah berani bilang anak Saya mesum. Apa Kamu lupa siapa yang memberimu tempat tinggal selama ini...?!" tanya wanita bertubuh tambun itu.
" Saya ga lupa Bude. Saya juga ga lupa kalo Saya tinggal ga gratis di rumah Bude. Saya bayar dengan harga yang mahal tapi Bude bikin Saya kaya budak...," sahut Shezi dengan mata berkaca-kaca.
" Saya ga begitu ya...!" kata wanita itu dengan lantang.
" Jadi mau Bude apa sekarang...?" tanya Shezi.
" Cabut semua laporan Kamu, bebaskan Nato dari penjara dan ikut Saya pulang ke rumah...!" sahut wanita itu dengan cepat.
" Ga bisa !. Shezi ini calon Istri Saya. Jadi dia hanya akan tinggal di tempat yang Saya tentukan. Ayo ikut Saya Zi. Saya antar Kamu pulang. Dan Kamu Dina, Kamu naik Taxi aja ya. Ini uangnya...," kata Rex sambil menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu kepada Dina.
Dina mengangguk lalu menghentikan Taxi yang kebetulan melintas. Sedangkan Shezi mengikuti Rex dan naik ke atas motor Rex. Setelahnya Rex melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
Tindakan Rex, Shezi dan Dina yang cepat membuat wanita bertubuh tambun itu terkejut sekaligus bingung. Dalam sekejap saja ia ditinggalkan sendiri di halte tanpa seorang pun yang menemani.
bersambung