Kidung Petaka

Kidung Petaka
138. Kok Ada Tiga ?


Rex dan Ramon kembali ke Rumah Sakit untuk menemui Lanni, Ramzi dan Rusminah. Saat tiba di kamar rawat inap sang nenek, Lanni terlihat panik karena kondisi Ramzi yang memburuk.


" Ramzi bangun !. Kamu kenapa Ramzi...?!" tanya Lanni sambil memegangi tubuh Ramzi yang hampir merosot ke lantai.


" Ke... kenapa Ramzi. Lanni kenapa Ramzi...?!" tanya Rusminah sambil berusaha turun dari tempat tidur.


" Jangan turun Mak !. Mamak di sana aja. Kalo Mamak turun Saya bakal repot karena ga bisa megangin Mamak sama Ramzi sekaligus...!" kata Lanni lantang.


" Kamu ga usah pegangin Mamak, Lanni. Justru Mamak mau bantuin Kamu megangin Ramzi...!" sahut Rusminah.


" Jangan Mak, ga usah...!" teriak Lanni.


Rusminah mengabaikan permintaan menantunya itu dan bersiap turun dari tempat tidur. Selang infus yang masih terpasang dan posisi tempat tidur yang lumayan jauh letaknya dari lantai membuat Rusminah kesulitan. Ia hampir tersungkur jatuh ke lantai hingga membuat Lanni menjerit.


" Mamaaakkk...!" panggil Lanni panik.


Beruntung saat genting itu Rex dan Ramon membuka pintu kamar dan bergegas membantu. Ramon melangkah cepat ke tempat tidur untuk menahan tubuh Rusminah agar tak tersungkur, sedangkan Rex langsung membantu menopang tubuh Ramzi lalu membawanya ke sofa. Setelahnya Rex bergegas keluar kamar untuk memanggil dokter.


" Alhamdulillah, untung Ayah sama Rex datang tepat waktu. Kalo ga, pasti Ibu bakal nangis semalaman karena menyesal...," kata Lanni.


" Menyesal gimana maksud Ibu...?" tanya Ramon.


" Menyesal karena ga bisa nolongin salah satu diantara Mamak atau Ramzi Yah. Posisiku sulit banget tadi. Kalo nolongin Mamak, Ramzi yang jatuh. Tapi kalo tetep megangin Ramzi, Mamak yang bakal jatuh...," sahut Lanni sambil mengusap peluh di keningnya.


Ramon tersenyum mendengar ucapan sang istri. Kemudian ia mengambil sebotol air mineral dan menyerahkannya kepada Lanni.


" Minum dulu Bu biar lebih tenang...," kata Ramon.


" Iya, makasih Yah...," sahut Lanni lalu meneguk air mineral dalam botol kemasan itu hingga tersisa setengah.


" Aku udah panggilin dokter buat ngecek kondisi Om Ramzi Yah...!" kata Rex dari ambang pintu.


" Ok, makasih Nak...," sahut Ramon yang diangguki Rex.


Tak lama kemudian dokter yang merawat Rusminah datang dan mengecek kondisi Ramzi. Ramon yang berdiri di samping Ramzi pun menjelaskan kondisi sang adik.


" Sebenernya adik Saya ini juga lagi sakit dok...," kata Ramon.


" Saya pikir juga begitu Pak. Keliatannya beliau mengidap penyakit yang ga biasa ya...," sahut sang dokter.


" Betul dok. Diagnosa dokter di Rumah Sakit lain mengatakan Adik Saya ini mengidap kanker usus stadium dua...," kata Ramon sambil menatap iba kearah Ramzi.


" Oh gitu. Keliatannya Beliau melewatkan waktu minum obat atau justru ga minum obat dalam jangka waktu lama...," kata sang dokter usai mengecek kondisi kesehatan Ramzi.


" Betul dok. Bahkan dia juga melewatkan waktu check up nya...," sahut Ramon cepat.


" Melihat kondisinya yang memburuk, harusnya segera ditangani Pak. Saya khawatir kalo terlalu lama menunda malah bisa membuat sel kankernya menyebar dan membahayakan organ tubuh lainnya...," kata sang dokter hingga mengejutkan Ramon dan keluarganya.


" Jadi sebaiknya gimana dok...?" tanya Ramon.


" Saya akan rujuk ke dokter lain yang paham dengan penyakit beliau ya Pak. Masih di Rumah Sakit ini juga kok, jadi Pak Ramon ga perlu repot bolak-balik...," sahut sang dokter.


" Baik, Saya setuju. Makasih atas bantuannya ya dok...," kata Ramon antusias.


" Sama-sama Pak...," sahut sang dojter sambil tersenyum.


" Terus gimana dengan kondisi Ibu Saya dok ?. Apa sudah bisa dibawa pulang...?" tanya Ramon sambil melirik Rusminah yang saat itu tengah bersandar di sandaran tempat tidur.


" Hasil cek terakhir sore tadi menunjukkan kemajuan yang signifikan. Dengan kata lain Ibu Rusminah sudah diperbolehkan pulang besok...," sahut sang dokter hingga membuat ucapan hamdalah menggema di ruangan itu.


" Beneran Pak, masa Saya bohong sih. Kalo gitu Saya permisi dulu karena mau mengurus semuanya ya Pak...," pamit sang dokter.


" Silakan dokter...," sahut Ramon sambil membukakan pintu untuk sang dokter.


Setelahnya Ramon mendekati sang ibu dan memeluknya dengan sayang. Rusminah pun balas memeluk sambil tersenyum bahagia.


" Janji jangan sakit lagi ya Mak. Aku khawatir banget...," kata Ramon lirih.


" Iya Nak. Mamak janji akan jaga kesehatan supaya bisa ngeliat buyut Mamak yang ada di perut Lian. Mamak berharap masih bisa gendong dia nanti...," sahut Rusminah sambil mengusap kepala Ramon dengan sayang.


" Iya dong Mak. Mamak harus tetap sehat supaya bisa ngeliat buyut Mamak tumbuh dewasa...," kata Ramon dengan mata berkaca-kaca.


" Iya iya. Terus gimana dengan Adikmu. Apa kata dokter tadi...?" tanya Rusminah penasaran.


" Ramzi bakal dirawat dan segera dioperasi di Rumah Sakit ini Mak. Rex lagi ngurus semuanya. Mudah-mudahan operasi Ramzi berjalan lancar dan Ramzi bisa kembali sehat...," kata Ramon penuh harap.


" Aamiin...," sahut Rusminah sambil tersenyum bahagia.


\=\=\=\=\=


Operasi Ramzi pun segera dilaksanakan karena kondisinya yang memburuk. Ramon dan Rex menunggui Ramzi sedangkan Lanni membawa Rusminah pulang ke rumah.


Sambil menunggu jalannya operasi, Rex dan Ramon membicarakan perihal kematian Zada.


" Apa menurut Ayah kematian Zada wajar...?" tanya Rex membuka percakapan.


" Sejujurnya sejak awal mendengar Zada meninggal, Ayah udah ngerasa ada yang ga beres. Tapi saat mendengar cerita Bu Arini, kok Ayah malah tambah bingung ya..." sahut Ramon sambil tersenyum kecut.


" Bingung kenapa Yah...?" tanya Rex.


" Ceritanya Bu Arini itu kaya ada yang kurang aja. Bener ga sih...?" tanya Ramon sambil menoleh kearah sang anak.


" Iya Yah, menurutku juga begitu. Apalagi di semua foto yang diperlihatkan ga ada satu pun foto yang memperlihatkan wajah Zada dengan jelas. Semua blur. Kalo ga posisinya menyamping, ya foto Zada diambil dari belakang. Kita cuma bisa ngeliat rambut dan sebagian wajahnya aja. Itu kan aneh banget. Bukannya Bu Arini bilang kalo trauma Zada udah sembuh ?. Buktinya dia bisa sekolah dan berinteraksi dengan orang lain. Tapi kenapa kalo berfoto Zada keliatan takut dan ga mau melihat ke kamera...?" kata Rex mencoba menganalisa.


" Atau jangan-jangan ada masalah sama kameramennya...?" tanya Ramon.


" Tapi Kayanya mereka jarang minta orang lain buat fotoin mereka Yah. Lagipula itu hampir di semua foto lho Yah...," kata Rex gusar.


" Iya sih aneh banget. Tapi Kamu sempet ngambil foto Zada kan, coba Ayah liat...," kata Ramon sambil menyodorkan telapak tangannya kearah Rex hingga mengejutkan Rex.


" Ayah tau kalo Aku ngambil fotonya Zada...?!" tanya Rex tak percaya.


Rex terkejut dan tak menyangka jika ayahnya mengetahui aksinya padahal ia sudah melakukannya diam-diam.


" Kenapa bingung ?. Kamu kan anak Ayah, udah pasti Ayah hapal gimana gerak-gerik mencurigakan yang Kamu lakukan itu. Udah cepetan, mana fotonya...," kata Ramon setengah memaksa.


" Aku cuma ambil dua Yah. Ga tau bisa dapat petunjuk atau ga...," sahut Rex sambil mengeluarkan dua lembar foto Zada dari saku jaketnya.


Saat mengeluarkan foto Zada, tak sengaja selembar foto jatuh dari saku jaket Rex hingga membuatnya mengerutkan kening. Karena seingat Rex, ia hanya mengambil dua lembar foto bukan tiga.


" Katanya cuma dua, tapi kok ada tiga...," sindir Ramon sambil tersenyum.


Entah mengapa melihat foto yang terjatuh dalam posisi terbalik itu membuat Rex gelisah.


\=\=\=\=\=