Kidung Petaka

Kidung Petaka
120. Jadi Tersangka


Lilian tersenyum melihat Gama keluar dari taman. Ia mendekati Gama dan bertanya banyak hal.


" Apa yang terjadi ?, darimana asal suara itu ?, ada yang luka ga ?, jangan-jangan makan korban jiwa ya...?" tanya Lilian beruntun hingga membuat Gama menggelengkan kepala.


" Sayang, nanyanya satu-satu dong. Aku harus jawab yang mana dulu nih...?" tanya Gama sambil mencubit pipi Lilian dengan gemas.


" Abisnya Aku penasaran banget. Kan Kamu ga bolehin Aku ke sana jadi Aku ga tau apa-apa..., " sahut Lilian sambil melengos.


" Kamu tenang aja. Aku udah rekam semuanya termasuk obrolan Kita sama Rex tadi...," kata Gama menenangkan sang istri.


" Masa sih, coba Aku liat...!" kata Lilian antusias sambil meraih ponselnya dari tangan Gama hingga membuat Gama tertawa.


Kemudian Lilian mulai memutar rekaman pembicaraan Gama dan Rex di ponselnya itu. Melihat sang istri asyik dengan ponselnya membuat Gama menggelengkan kepala sambil tersenyum.


" Sekarang Kita pulang yuk...," ajak Gama yang diangguki Lilian.


Kemudian Gama dan Lilian melangkah perlahan menyusuri trotoar. Tiba-tiba langkah Lilian terhenti saat mendengar ucapan Rex tentang mayat di dasar danau.


" Jadi beneran ada mayat di sana Sayang...?" tanya Lilian setengah berbisik.


" Iya...," sahut Gama cepat.


" Terus gimana...?" tanya Lilian panik.


" Kan Kamu denger sendiri tadi kalo Pak Bahar bakal nanganin kasus ini secepatnya...," sahut Gama.


" Yakin secepatnya ?. Tapi kenapa Aku denger Pak Bahar justru mau nanganin kasus ini diem-diem...?" tanya Lilian.


" Tujuannya ya cuma satu Sayang. Pak Bahar ga mau warga panik dan ketakutan. Karena itu bisa berimbas pada pemasaran rumah di perumahan ini. Mana ada orang yang mau beli rumah kalo lingkungannya aja ga aman dan serem. Yang lebih ekstrim lagi, warga yang percaya hal mistis dan phobia hantu pasti bakal langsung cabut dari sini pas tau ada penemuan mayat tak dikenal di sini. Karena mereka yakin kalo orang yang meninggal ga wajar bakal jadi hantu gentayangan yang menerror semua orang tanpa pandang bulu...," kata Gama menjelaskan.


" Gitu ya. Apa jangan-jangan yang Rex liat tadi...," ucapan Lilian terputus karena Gama memotong cepat.


" Betul Sayang. Rex liat penampakan arwah pria itu lewat di belakang Kamu tadi. Sebenernya Aku juga sempet liat dia berdiri di belakang Kamu di kursi taman tadi, makanya Aku buru-buru ngajak Kamu pindah dari sana...," kata Gama hingga membuat Lilian terkejut.


" Apa itu artinya dia bakal ngikutin Kita...?" tanya Lilian panik.


" Mau ga mau ya pasti terjadi. Tapi Kamu ga usah takut ya, kan ada Aku yang bakal selalu nemenin Kamu...," sahut Gama sambil memeluk Lilian erat.


" Terus kalo dia nongol pas Kamu ga lagi di deket Aku gimana...?" tanya Lilian cemas sambil mendongakkan wajahnya untuk menatap Gama.


" Kayanya ga bakal nongol deh. Andai nongol pun percuma. Kan Kamu ga bisa ngeliat dia dan ga tau apa maunya dia...," sahut Gama.


" Emangnya kalo dia nongol pasti ngomong sesuatu ya...?" tanya Lilian.


" Biasanya sih gitu. Arwah pensaran atau hantu itu bakal nongol karena mau ada yang disampaikan. Buktinya dia memperlihatkan diri di depan Aku tadi. Walau pun dia ga ngomong apa-apa tapi Aku tau jika ada sesuatu yang bakal terjadi. Ga taunya bener aja. Dia mau minta tolong karena raganya tertimbun di dasar danau...," sahut Gama panjang lebar.


" Jadi Kamu bisa berkomunikasi sama hantu atau arwah gentayangan juga...?" tanya Lilian takjub.


" Untuk yang ini Aku masih harus belajar lagi Sayang. Rex yang lebih paham dan tau gimana cara berkomunikasi dengan mereka. Makanya sering kali Aku bilang sama Rex kalo diganggu sama penampakan aneh kaya gini. Ntar endingnya Rex yang bakal ngobrol sama mereka dan cari tau apa mau mereka...," sahut Gama sambil tersenyum.


Mendengar penjelasana Gama membuat Lilian takut. Ia makin membenamkan tubuhnya dalam pelukan Gama dan tetap dalam posisi seperti itu hingga mencapai pintu rumah. Entah mengapa mendengar penjelasan Gama membuat bulu kuduknya meremang.


\=\=\=\=\=


" Tolong rahasiakan penemuan mayat ini. Saya ga mau proyek ini gagal dan berimbas penjualan unit perumahan menurun nanti...," kata Bahar.


" Tapi ini sudah masuk wilayah kerja dan tanggung jawab Kepolisian Pak Bahar. Kami harus tetap melakukan penyelidikan untuk mengetahui asal-usul mayat dan motif kejahatan apa yang membuatnya tertimbun di dasar danau...," kata seorang polisi dengan tegas.


" Saya Apaham Pak Polisi. Saya hanya minta tolong supaya kasusnya disenyapkan. Bisa kan...?" tanya Bahar penuh harap.


" Baik lah. Akan Kami usahakan. Tapi Kami juga minta kerjasama Pak Bahar dan semua karyawan di sini. Kami akan bertanya banyak hal nanti, dan Saya harap Kalian menjawab semua pertanyaan dengan jujur supaya kasus mayat tak dikenal ini bisa segera terungkap...," kata sang polisi.


" Siap Pak. Saya akan koordinasikan dengan bawahan Saya supaya mau menjawab semua pertanyaan Polisi dengan jujur nanti...," sahut Bahar.


" Ga ada yang ditutupi...!" kata sang polisi mengingatkan.


" Iya iya, ga ada yang ditutupi. Bisa dibilang saking jujurnya dan ga ada yang ditutupi sampe keliatan polos kaya bayi...," gurau Bahar hingga membuat semua orang tertawa.


" Bagus. Kalo gitu Kami akan pasang Police line di sekitar danau. Dan untuk sementara taman itu ditutup untuk umum supaya Polisi bisa lebih cepat menuntaskan pekerjaan..., " kata sang polisi.


" Silakan Pak, Saya setuju...," sahut Bahar sambil tersenyum puas.


\=\=\=\=\=


Penyelidikan kasus penemuan mayat pria tak dikenal pun dimulai. Gama yang merupakan orang pertama yang memberitahu perihal adanya mayat di dasar danau itu pun menjadi salah satu saksi yang dimintai keterangan oleh polisi.


Namun sayangnya Gama justru dicurigai terlibat dengan kematian pria berbaju putih itu. Dan kini Gama ditetapkan sebagai salah satu tersangka pembunuhan pria berbaju putih itu.


Mengetahui suaminya dijadikan tersangka kejahatan pada kasus penemuan mayat tak dikenal itu membuat Lilian panik. Ia menghubungi Rex dan meminta bantuan sang adik.


" Bukan tersangka kali Kak. Cuma dimintai keterangan aja...," kata Rex mencoba menenangkan sang kakak.


" Ga Rex. Sekarang Gama malah dibawa ke kantor Polisi...," kata Lilian gusar.


" Coba telephon Taufan Kak...," saran Rex.


" Taufan yang polisi itu...?" tanya Lilian.


" Iya. Emangnya Taufan yang mana lagi...," sahut Rex cepat.


" Aku ga enak Rex. Kan Aku pernah nolak dia dulu...," sahut Lilian salah tingkah.


" Ck, Kakak gimana sih. Emangnya Kakak mau Gama ditahan di kantor Polisi lebih lama...?" tanya Rex sambil berdecak sebal.


" Ya ga mau lah...!" sahut Lilian cepat.


" Makanya Kakak telephon Taufan sekarang. Ceritain semuanya dan jangan ada yang ditutupi. Aku yakin dia bakal mau bantu nanti. Oh iya, satu hal yang perlu Kakak tau. Taufan itu udah move on dari Kakak. Sekarang dia lagi menjalin hubungan serius dengan cewek lain. Jadi Kakak ga usah mikir banyak dan pake acara ga enak segala buat minta tolong sama dia...," kata Rex menjelaskan hingga membuat Lilian menghela nafas lega.


" Kalo gitu Kakak bakal hubungi dia secepatnya. Makasih ya Rex...," kata Lilian antusias.


" Sama-sama Kak. Kabarin Aku terus ya. Eh, inget Kak. Ga usah ngasih tau siapa-siapa termasuk orangtua Kita tentang ini...!" pinta Rex.


" Ok Rex, Kamu tenang aja. Aku juga ga mau jadi beban pikiran mereka kok...," sahut Lilian cepat sebelum mengakhiri pembicaraan mereka.


\=\=\=\=\=