
Suster Heni yang melihat Rex masuk ke dalam tenda pun nampak sedikit gentar. Sedangkan dokter Aksara terlihat tenang sambil terus menatap sersan Andi yang terbaring. Ia berdiri tanpa melakukan apa pun.
" Bagaimana kondisinya dok...?" tanya Rex sambil mendekat kearah tempat tidur.
Sapaan Rex membuat dokter Aksara menoleh. Untuk sesaat tatapan Rex dan dokter Aksara bertemu. Namun detik berikutnya keduanya nampak membuang pandangan kearah lain.
" Kondisi pasien cukup parah. Dia mengalami dehidrasi akut dan kelelahan. Saya sarankan agar pasien istirahat di sini malam ini supaya Kami mudah melakukan perawatan...," kata dokter Aksara dengan mimik wajah serius.
" Masa sih, separah itu...?" tanya Rex tak percaya.
" Kamu pikir Saya main-main...?" tanya dokter Aksara sambil menatap tak suka kearah Rex.
" Bukan begitu. Dia anak buah Saya sekaligus teman baik Saya dok. Saya tau betul gimana kondisinya. Sebelumnya dia baik-baik aja kok. Kenapa mendadak bisa dehidrasi parah...?" tanya Rex tak mengerti.
" Kalo Anda tau gimana kondisinya kenapa Anda malah menyuruhnya berlari di lapangan malam-malam begini...?!" tanya dokter Aksara kesal.
" Itu hukuman karena dia melanggar aturan...," sahut Rex dengan tenang.
" Oh ya. Aturan apa yang dilanggar sampe Anda tega menghukum sekaligus mempermalukannya di depan umum. Apa itu tindakan seorang pimpinan yang baik, atau jangan-jangan Anda sedang menyalah gunakan kekuasaan...?" tanya dokter Aksara sambil mencibir.
Ucapan dokter Aksara membuat Rex tersinggung. Ia nampak mengepalkan kedua tangannya karena menahan amarah yang hampir meledak. Sedangkan sersan Andi nampak berbaring gelisah. Ia tak menyangka jika aksi pura-pura pingsannya itu justru berujung keributan antara Rex dengan sang dokter.
Sesaat kemudian Rex nampak menghela nafas panjang. Ia berusaha agar tak terpancing dengan ucapan dokter Aksara. Dengan tenang Rex mengeluarkan ponselnya lalu mengabadikan sersan Andi dengan kamera ponselnya. Setelahnya Rex mendekat kearah sersan Andi dan membisikkan sesuatu di telinganya.
" Gue tau Lo pura-pura pingsan. Gapapa, terusin aja. Tapi jangan kaget kalo tunangan Lo ngamuk setelah ngeliat foto Lo yang berbaring sambil dikelilingi dua wanita cantik ini...," bisik Rex sambil tersenyum penuh makna.
Mendengar uçapan Rex membuat sersan Andi panik. Ia bertahan tak membuka mata karena terlanjur berbohong. Namun saat mendengar langkah Rex yang menjauh, sersan Andi pun membuka matanya lalu bangkit dari posisi tidurnya.
" Tunggu Rex, breng**k Lo. Reexxx...!" panggil sersan Andi lantang sambil turun dari tempat tidur.
" Hei, mau kemana Kamu. Saya belum selesai ya...!" kata dokter Aksara mengingatkan.
" Saya gapapa kok dok, Saya sehat wal afiat. Saya ga perlu obat dan makasih atas perhatiannya...!" sahut sersan Andi lalu berlari keluar tenda mengejar Rex.
Tingkah absurd sersan Andi dan atasannya itu membuat dokter Aksara dan suster Heni saling menatap lalu tertawa keras.
" Dasar orang aneh...," kata dokter Aksara di sela tawanya.
" Jadi sejak awal dokter tau kalo dia cuma pura-pura pingsan...?" tanya suster Heni.
" Iya...," sahut dokter Aksara cepat.
" Kurang kerjaan banget sih tuh orang...," kata suster Heni sambil menggelengkan kepalanya.
" Mungkin dia sengaja pingsan supaya hukumannya ga dilanjutin. Lagian aneh aja sih pimpinannya itu, masa menghukum orang ga liat waktu...," gerutu dokter Aksara.
" Tapi apa ucapan dokter ga keterlaluan ya tadi...?" tanya suster Heni hati-hati.
" Ucapan yang mana Sus...?" tanya dokter Aksara.
" Itu, yang dokter bilang kalo si Danton udah menyalah gunakan kekuasaan...," sahut suster Heni ragu.
" Oh itu. Saya rasa sih ga masalah. Lagian apa yang Saya bilang kan emang nyata kok. Kalo emang dia ga menyalah gunakan kekuasaan kan tinggal bilang. Tapi Kamu liat sendiri kalo dia diem aja kan tadi. Itu artinya ucapan Saya udah kena sasaran...," sahut dokter Aksara hingga membuat suster Heni terdiam.
Pagi itu tempat penampungan para pengungsi terlihat sibuk. Sebagian besar pengungsi memutuskan kembali ke rumah karena merasa rumah mereka sudah cukup aman dari terjangan banjir dan angin put*ng beliung.
Rex terlihat sibuk mengawasi pasukannya untuk membantu warga berkemas. Sesekali Rex turun tangan membantu memindahkan barang milik warga ke dalam truk. Aksi Rex dan pasukannya cukup menyita perhatian warga terutama kaum hawa.
Suara decak kagum para wanita yang diam-diam mengagumi Rex tapi tak berani menyapanya cukup mengganggu pendengaran dokter Aksara yang kebetulan juga berada di sana.
" Heran deh. Kenapa orang angkuh kaya gitu diidolain...," gerutu dokter Aksara dalam hati.
Namun sesaat kemudian terdengar kegaduhan saat Rex mengucapkan salam perpisahan dan memberi sedikit uang jajan kepada anak-anak para pengungsi yang akan kembali ke rumahnya.
" Kami senang bisa membantu. Dan ini ada sedikit uang jajan untuk anak-anak. Jangan lihat jumlahnya, tapi tolong lihat niat tulus Kami yang ingin berbagi dengan sesama. Sekedar informasi, uang ini adalah sebagian dari gaji Kami yang Kami kumpulkan dengan suka rela karena ingin menyenangkan anak-anak...," kata Rex sambil mengedarkan tatapannya ke segala penjuru.
Tatapan Rex berhenti pada sosok dokter Aksara yang berdiri di barisan paling belakang bersama tenaga kesehatan lainnya. Saat tatapan keduanya bertemu, dokter Aksara langsung mengalihkan tatapannya kearah lain dan itu membuat Rex tersenyum tipis.
Suara tepuk tangan pun menggema usai Rex menyampaikan salam perpisahan. Semua anak kecil berlomba mendekati Rex yang sedang membagi amplop berisi uang.
Tak lama kemudian truk-truk milik TNI bergerak perlahan meninggalkan tempat pengungsian. Suara tawa anak-anak pun terdengar dari dalam truk yang membawa warga kembali ke rumah masing-masing.
" Makasih Om tentara, makasih Bu dokter, makasih semuanya...!" kata anak-anak sambil melambaikan tangan.
Rex dan pasukannya pun mengangguk sambil melambaikan tangan. Di sisi lain terlihat dokter Aksara dan para tenaga kesehatan serta para relawan ikut melambaikan tangan melepas kepergian warga.
Setelah kepergian warga, suasana di tempat pengungsian menjadi lebih lengang. Warga yang masih bertahan di tempat pengungsian juga harus bersiap pindah ke lokasi yang baru.
" Kenapa Kami harus pindah Om Komandan...?" tanya seorang remaja bernama Fadil kepada Rex.
" Jumlah pengungsi sudah tinggal sedikit. Artinya Kalian bisa ditampung di aula yang ada di sana. Sebelumnya Kalian ga bisa ditampung di sana karena jumlah pengungsi sangat banyak dan melebihi kapasitas aula. Tempat itu jauh lebih baik daripada di sini karena ada di ruangan tertutup. Jadi Kamu dan yang lainnya ga kedinginan, kepanasan atau kehujanan lagi. Selain itu fasilitas di sana jauh lebih lengkap dibanding di tempat ini...," sahut Rex dengan sabar.
" Apa itu artinya Om harus pulang ke Jakarta...?" tanya Rusdi dengan mata berkaca-kaca.
" Iya. Ingat apa yang Om bilang kan ?. Kalian ini laki-laki, jadi bersikap lah seperti laki-laki. Jangan menangis jika hanya jadi lemah. Tapi menangis lah untuk jadi pribadi yang kuat. Tunjukkan pada dunia kalo Kalian mampu. Dan tersenyum lah menyambut masa depan...," sahut Rex sambil mengusap kepala Fadil dan Rusdi bergantian.
Seolah mengerti, kedua remaja itu mengangguk dan tersenyum. Mereka memeluk Rex sejenak sebelum akhirnya pergi bersama pengungsi lain menuju aula.
Rex menatap kepergian kedua remaja itu sambil tersenyum. Ada haru yang memenuhi dadanya mengingat kedekatannya dengan Fadil dan Rusdi. Kemudian Rex membalikkan tubuhnya dan nelihat dokter Aksara yang berdiri di depan tenda. Rex pun tersenyum lalu menghampiri dokter Aksara.
" Kita belum berkenalan dengan baik ya dok. Kenalkan Saya Rex Aldan...," sapa Rex sambil mengulurkan tangannya.
" Saya Aksara...," sahut dokter Aksara sambil balas menjabat tangan Rex.
" Maafkan Saya dan rekan-rekan Saya yang telah banyak merepotkan Anda. Dan terima kasih sudah membantu...," kata Rex.
" Sama-sama...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.
" Kalo berjodoh, Kita pasti ketemu lagi. Iya kan dokter Aksara...?" tanya Rex sambil menatap lekat kearah sang dokter.
" Iya. Eh, maksudnya gimana ya...?" tanya dokter Aksara gugup.
Rex tersenyum lalu membalikkan tubuhnya. Ia berjalan menuju pasukan yang setia menunggu perintah darinya dan meninggalkan dokter Aksara yang mematung melepas kepergiannya.
bersambung