Kidung Petaka

Kidung Petaka
130. Berita


Malam itu Lilian dan Gama sengaja menginap di rumah Ramon. Mereka ingin mendengar langsung pengalaman Rex saat bertugas di Afrika.


" Akhirnya Bu Elvira selamat. Tapi dia ga diapa-apain sama penculiknya kan Rex...?" tanya Lilian cemas.


" Kalo denger dari ceritanya Rex sih harusnya Elvira ga diapa-apain Kak. Kan dia bisa berantem...," sela sang ibu.


" Betul Bu. Alhamdulillah Bu Elvira selamat karena fokus mereka memang ingin meminta tebusan berupa uang. Keliatannya mereka tau bakal sulit minta tebusan kalo sanderanya terluka...," sahut Rex.


" Terus si Meeva itu ketangkep ga Rex...?" tanya Gama.


" Kabar terakhir yang Gue denger sih dia juga udah ditangkap. Ternyata dia pacarnya si Obie, pimpinan komplotan itu. Dia diutus untuk memata-matai kamp dan setelah sadar kalo aksinya ketauan, Meeva langsung kabur...," sahut Rex.


" Tapi rupanya mereka salah sasaran ya. Mereka pikir menculik kelinci, eh ternyata yang diculik harimau betina...," gurau Ramon sambil tertawa.


" Iya Yah. Aku aja kaget ngeliat Bu Elvira ngelawan dua penculiknya itu. Mungkin dalam kondisi normal dan ga terpengaruh obat bius dia bakal sanggup ngalahin mereka. Aku salut dan ga nyangka dibalik sikap anggunnya saat mengajar anak-anak ternyata dia sebuah senjata yang mematikan...," kata Rex sambil tersenyum simpul.


" Kalo gitu langsung aja Rex...!" kata Gama sambil menepuk bahu sang adik ipar.


" Langsung apa Gam...?" tanya Rex tak mengerti.


" Langsung bawa pulang dan nikahin lah. Apalagi emangnya ?. Gue yakin Ayah sama Ibu pasti suka punya menantu model begitu...," sahut Gama sambil melirik kedua mertuanya.


Ramon dan Lilian hanya tersenyum mendengar ucapan Gama. Mereka merasa tak perlu mendesak Rex untuk segera menikah karena mereka yakin Rex akan bertemu dengan jodoh yang tepat nanti.


" Ga usah ngaco Lo. Liat tuh Istri tersayang Lo udah ngantuk, daritadi nguap terus. Anterin ke kamar dulu gih...!" kata Rex hingga membuat Gama menoleh kearah Lilian yang sedang bersandar di sandaran sofa.


" Kamu ngantuk Sayang. Yuk Aku anterin ke kamar...," kata Gama sambil membantu Lilian bangkit.


" Tapi Aku masih pengen dengerin Rex cerita...," sahut Lilian.


" Tidur lah Nak. Kasian kan bayimu juga perlu istirahat...," kata Ramon mengingatkan.


" Betul. Lanjutan ceritanya Rex bisa didenger besok...," sela Lanni sambil mengusap sayang perut Lilian.


" Iya deh...," sahut Lilian pasrah.


" Ngomong-ngomong udah berapa bulan keponakanku di dalam sana...?" tanya Rex.


" Sebelas mingguan, kenapa Rex...?" tanya Gama.


" Gapapa. Kalian mau ngadain tasyakuran empat bulanan atau tujuh bulanan buat si bayi...?" tanya Rex lagi.


" Insya Allah empat bulanan aja sesuai dengan tuntunan agama...," sahut Gama yang diangguki Lilian.


Kemudian Gama membawa Lilian masuk ke kamar. Sedangkan Rex dan kedua orangtuanya masih melanjutkan obrolan mereka hingga larut malam.


\=\=\=\=\=


Saat dini hari Gama terbangun lalu keluar kamar. Saat melihat pintu rumah terbuka, Gama tahu jika Rex masih terjaga. Karenanya ia menyusul Rex yang duduk di teras.


" Kak Lian udah tidur...?" tanya Rex saat melihat Gama duduk di sampingnya.


" Udah. Nyenyak banget sampe ga tau kalo diapa-apain..., " sahut Gama sambil tersenyum usil.


" Ck, mulai deh...," kata Rex sambil berdecak sebal hingga membuat Gama tertawa.


" Eh, Lo udah liat berita pesawat private jet yang kebakar itu Rex...?" tanya Gama.


" Udah. Gue ada di sana sebelum kejadian. Dan Gue malah sempet denger suara senandung aneh itu lagi Gam...," sahut Rex sambil menatap langit.


" Gue percaya. Karena pas ngeliat berita itu di tivi, Gue juga keingetan sama Lo. Ga taunya nyambung ya, semenit kemudian Ayah telephon ngasih tau kalo Lo udah sampe di rumah jam tiga pagi tadi...," kata Gama.


" Lo ngerasa ada yang aneh ga sama semua ini Gam...?" tanya Rex penasaran.


" Harusnya Gue yang ngomong gitu Rex. Kan selama ini Gue cuma bisa denger suara itu, beda sama Lo yang bisa ngedenger, ngeliat dan berinteraksi sama makhluk tak kasat mata itu. Lo juga pernah cerita kalo cewek astral itu ngangguk pas Lo bilang terima kasih setelah tebing longsor di Karawang waktu itu. Inget ga...?" tanya Gama.


" Iya. Padahal waktu itu Gue cuma asal ngomong aja. Soalnya Gue ngeliat cewek itu berdiri ga jauh dari lokasi longsoran dan menatap Gue terus. Gue pikir dia yang udah nyanyi dan ngasih tanda ke Gue...," sahut Rex.


" Ga tau Gam. Soalnya Gue ngeliat sosok cewek yang berbeda di sela kobaran api yang membakar pesawat private jet itu tadi...," sahut Rex gusar.


" Lo liat dimana, di tivi...?!" tanya Gama.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Ah g*la. Ini udah ga masuk akal Rex !. Masa Lo bisa ngeliat penampakan cewek itu di tivi...?!" kata Gama tak percaya.


" Gue juga mikir kaya gitu Gam. Makanya Gue penasaran dan lagi nyoba nginget siapa cewek misterius itu sebenernya. Kenapa dia bisa memperlihatkan diri dalam penampilan yang berbeda di kejadian berbeda...," sahut Rex sambil memejamkan matanya.


Gama pun terdiam sambil mencoba mengingat sosok gadis yang pernah dekat dengan dia dan Rex.


\=\=\=\=\=


Saat sedang sarapan bersama keluarganya, tiba-tiba Ramon mendapat berita tak mengenakkan dari Tini, adik angkatnya yang tinggal di Cirebon.


Ramon langsung menerima panggilan saat melihat nama Tini di layar ponselnya.


" Assalamualaikum, kenapa Tin...?" tanya Ramon dengan jantung berdebar.


" Wa alaikumsalam. Mamak Mas, Mamak..," sahut Tini panik hingga membuat Ramon terkejut dan refleks bangkit dari duduknya.


Tindakan Ramon membuat semua orang ikut cemas. Mereka mencoba menyimak percakapan Ramon dan Tini.


" Mamak kenapa Tin...?!" tanya Ramon.


" Mamak jatuh di kamar mandi Mas. Sekarang Mamak lagi ada di Ambulans menuju ke Rumah Sakit...," sahut Tini cepat.


" Subhanallah. Terus gimana keadaan Mamak ?, parah ga Tin ?. Dibawa ke Rumah Sakit mana...?" tanya Ramon.


" Mamak masih sadar Mas, cuma ngerang kesakitan terus daritadi. Mas ke sini ya. Saya khawatir Mamak...," ucapan Tini terputus karena Ramon memotong cepat.


" Iya Tin. Aku ke sana secepatnya...!" sahut Ramon.


" Ga usah ngebut Mas. Mamak udah ditanganin sama team medis kok. Nih, Ambulans nya juga udah sampe di Rumah Sakit. Saya belum selesai ngomong tadi, Saya khawatir Mamak nyariin Mas dan Mas Ramzi nanti. Makanya Saya minta Mas datang ke sini...," kata Tini.


" Ok, tolong Kamu urus Mamak dulu ya Tin. Insya Allah siang nanti Aku udah di sana. Makasih ya Tin, Assalamualaikum...," kata Ramon di akhir percakapan.


" Biar Aku siapin baju Kita dulu ya Yah...," kata Lanni sambil bersiap melangkah ke kamar.


" Makan dulu Bu. Kita juga butuh banyak tenaga untuk berangkat ke sana nanti. Setelah makan, baru Kita berkemas...," kata Ramon sambil mencekal tangan istrinya dengan lembut.


" Iya Yah...," sahut Lanni lalu kembali duduk di samping suaminya.


" Aku anter ya Yah...," kata Rex sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya.


" Iya Nak...," sahut Ramon sambil tersenyum.


" Aku ikut ya Yah...," pinta Lilian.


" Sebaiknya ga usah Sayang. Kamu masih hamil muda dan perjalanan ke sana lumayan jauh. Aku ga mau Kamu kelelahan karena itu juga ga baik untuk bayi Kita...," kata Gama yang diangguki Ramon dan Lanni.


" Gama betul, Kamu di sini aja ya Nak...," sahut Ramon.


" Ibu juga setuju sama Gama...," sela Lanni cepat.


Gama tersenyum puas karena keputusannya melarang Lilian pergi didukung oleh kedua mertuanya itu.


Di tempatnya Lilian masih mencoba peruntungannya, ia melirik kearah Rex seolah meminta dukungan sang adik. Sayangnya Rex tak menyadarinya dan justru terlihat sedang makan dengan lahap sambil memikirkan sesuatu.


Entah mengapa saat itu Rex teringat dengan Zada, gadis belia yang disiksa dan hampir dilecehkan oleh Tako si ayah tiri yang jahat itu. Dan Rex berniat mencari tahu keberadaan Zada saat tiba di Cirebon nanti.


bersambung