
Gama bergegas menghampiri Lilian yang masih duduk santai di kursi taman itu. Melihat sang suami mendekat kearahnya dengan tatapan tak biasa, Lilian pun bingung tapi tetap menyambutnya dengan tersenyum.
" Udah larinya Sayang...?" tanya Lilian.
" Udah...," sahut Gama cepat.
" Sini duduk dulu...," ajak Lilian sambil menepuk tempat kosong di sampingnya.
" Ga usah. Kita pindah aja yuk...," ajak Gama.
" Kok pindah ?. Di sini enak kok. Adem dan bisa ngeliat ke semua arah...," kata Lilian beralasan.
" Di sana viewnya malah lebih bagus daripada di sini. Lagian di sini terlalu adem dan ga kena matahari. Jadi kurang manfaat untuk tubuh Kita. Padahal kan sinar matahari bagus buat tubuh...," kata Gama mencari alasan.
Kemudian Gama merengkuh pinggang Lilian bahkan sedikit mengangkatnya agar sang istri bisa segera bangkit dari posisi duduknya itu. Lilian yang semula enggan bangkit pun terpaksa menuruti keinginan suaminya itu.
Kemudian Gama membawa istrinya pergi menjauh dari kursi taman. Lilian yang tak curiga pada sikap Gama pun hanya mengikuti sambil menggelengkan kepala.
Gama menghela nafas lega karena berhasil 'menyelamatkan' Lilian dari gangguan makhluk tak kasat mata itu. Kini bahkan mereka duduk di atas batu alam yang sengaja diletakkan di taman sebagai hiasan.
Di saat sedang asyik menikmati sinar matahari pagi itu, tiba-tiba ponsel Lilian berdering. Ia tersenyum saat melihat nama T-Rex di layar ponselnya. Rupanya Rex lah yang menghubunginya melalui panggilan video call.
" Assalamualaikum Kak Lian...!" sapa Rex dengan ramah.
" Wa alaikumsalam. Hallo Rex, apa kabar...?" tanya Lilian antusias.
" Alhamdulillah baik Kak. Lagi dimana nih, Gama mana...?" tanya Rex.
Lilian tersenyum lalu mengarahkan layar ponselnya ke wajah Gama.
" Gue di sini Rex, Kita lagi di taman nih...," sahut Gama sambil tersenyum.
" Taman mana tuh, bagus banget...," kata Rex.
" Pasti bagus lah, karena semua fasilitas di perumahan yang Gue beli emang the best...," sahut Gama sambil mengacungkan jempolnya dengan bangga.
" Taman di perumahan. Emangnya Kalian udah pindah ke sana...?" tanya Rex.
" Udah. Diusir sama Ibu dan Mama Mira...," sahut Lilian cepat.
" Diusir, kok bisa. Emangnya apa salah Kalian...?" tanya Rex tak mengerti.
" Awalnya semua baik-baik aja Rex. Kami malah bisa nginep gantian di rumah Ibu dan Mama. Tapi gara-gara Suamiku yang suka sekali curi-curi kesempatan, Kami langsung diusir pergi. Cuma berdua lho Rex ga dianterin kaya pasangan lain yang pindahan...," sahut Lilian sambil melirik kearah Gama dengan tatapan penuh makna.
Rex pun tertawa mendengar jawaban sang kakak. Sedangkan Gama nampak menggaruk tengkuknya sambil nyengir.
" Bukan salah Gue dong Rex. Semua pengantin baru pasti kaya gitu kok. Ntar Lo Rasain sendiri deh kalo udah married..., " kata Gama sambil menarik turunkan alisnya.
" Sayang, apaan sih...?!" sela Lilian sambil mencubit lengan Gama dengan gemas.
Lagi-lagi Rex tertawa sedangkan Lilian nampak membuang pandangannya kearah lain karena malu mendengar pembicaraan dua sahabat yang kini menjadi saudara ipar itu.
Tiba-tiba Rex menghentikan tawanya saat melihat sosok pria menangis yang tadi dihindari Gama tampak melintas di belakang Lilian. Rex menajamkan penglihatannya sambil menyaksikan perdebatan Lilian dan Gama.
" Eh, tunggu sebentar. Aku liat sesuatu di belakang Kakak tadi...," kata Rex tiba-tiba.
" Sesuatu apa sih Rex...?" tanya Lilian sambil menoleh ke belakang namun tak menjumpai apa pun di sana.
Jika Lilian masih mencari-cari sesuatu yang dimaksud Rex, Gama justru paham kemana arah pembicaraan Rex.
" Lo juga liat Rex...?" tanya Gama.
" Iya...," sahut Rex cepat.
" Liat apaan sih...?" tanya Lilian penasaran.
Lilian dan Gama saling menatap sejenak kemudian mengangguk. Gama menggamit tangan Lilian lalu bergegas mengajaknya keluar dari taman sambil tetap melakukan sambungan video call dengan Rex.
" Kita udah keluar Rex...," kata Lilian dengan nafas terengah-engah karena usai berlari kecil tadi.
" Bagus...," sahut Rex sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara keras dari arah taman. Sangat keras dan tak biasa hingga menimbulkan kepanikan warga yang sedang berolah raga di taman itu.
" Suara apaan tuh Gam...?!" tanya Rex dari seberang telephon.
" Ga tau Rex. Gue liat dulu sebentar ya. Dan Kamu di sini aja Sayang, jangan kemana-mana...," kata Gama sambil melangkah cepat meninggalkan Lilian di atas trotoar.
Dari tempatnya berdiri Lilian menyaksikan warga yang berada di taman dan sekitarnya berlarian mendatangi sumber suara. Dalam hati Lilian ingin mendatangi sumber suara, tapi karena Gama memintanya tak kemana-mana, dia pun pasrah dan hanya bisa berdiri menunggu.
Gama dan warga menyaksikan danau buatan yang ada di tengah taman amblas. Air yang awalnya memenuhi danau itu pun merembes habis tak bersisa. Kini yang terlihat adalah lubang besar dipenuhi lumpur di dasar danau buatan itu.
" Ada apaan Gam...?!" tanya Rex tak sabar.
" Danau buatan yang ada di dalam taman ambles Rex. Lo liat deh...!" sahut Gama sambil memperlihatkan kondisi danau buatan itu kepada Rex.
Rex menajamkan penglihatannya dan melihat sosok pria berkaos putih tertimbun di sela lumpur yang menggenang di dasar danau.
" Ada mayat di dasar danau buatan itu Gam. Coba Lo liat baik-baik...," kata Rex hingga mengejutkan Gama.
" Mayat...?" gumam Gama sambil mengamati dasar danau.
Sesaat kemudian Gama membulatkan matanya karena melihat sosok pria berpakaian serba putih yang tadi dilihatnya tampak tertimbun di dasar danau. Warna pakaian pria itu terlihat kontras dengan lumpur hingga membuatnya terlihat jelas. Tapi jika dilihat sekilas, sosok mayat pria itu justru lebih mirip dengan onggokan sampah.
Gama menoleh saat seorang pria tambun mendekati danau buatan itu dan berdiri di sampingnya. Gama tersenyum saat mengenali pria itu.
" Pak Bahar...," sapa Gama hingga membuat Bahar menoleh.
" Lho Mas Gama toh...," sahut Bahar sambil tersenyum.
Kemudian keduanya saling berjabat tangan dengan erat.
" Iya Pak. Ada apa ini, kenapa danaunya amblas...?" tanya Gama.
" Saya juga ga tau Mas. Keliatannya ada kesalahan konstruksi. Nanti Saya akan utus orang untuk menyelidiki penyebabnya Mas...," sahut Bahar dengan gusar.
" Kan aslinya di sini rawa-rawa Pak. Jadi perlu penanganan khusus jika mau bikin sesuatu di atasnya...," kata Gama mengingatkan.
" Betul Mas Gama. Danau ini memang masih dalam tahap pembangunan. Walau taman udah bisa dimanfaatkan tapi khusus untuk danau masih harus diawasi. Makanya Saya kaget juga pas tau danaunya amblas kaya gini...," sahut Bahar cepat.
" Tapi ada sesuatu yang tertimbun di sana lho Pak...," kata Gama setengah berbisik.
" Sesuatu apa Mas Gama...?" tanya Bahar penasaran.
" Mayat. Ada mayat laki-laki berbaju putih di sana Pak...," sahut Gama sambil menunjuk mayat pria berbaju putih di dasar danau itu.
Bahar terkejut lalu menajamkan penglihatannya dan melihat sosok mayat di dasar danau buatan itu.
" Iya Mas Gama, ada mayat di sana. Makasih infonya ya Mas. Saya akan segera urus sebelum warga tau...," kata Bahar cepat.
" Iya Pak. Kalo gitu Saya duluan ya, kasian Istri Saya nunggu sendirian di luar...," pamit Gama.
" Iya Mas Gama. Sekali lagi terima kasih infonya ya...," kata Bahar sambil menepuk punggung Gama dengan lembut.
Gama mengangguk sambil tersenyum lalu bergegas keluar dari taman. Tak lama kemudian beberapa security dan polisi terlihat memasuki taman dan meminta warga menyingkir dari tempat itu.
\=\=\=\=\=