
Saat Rex menerima kabar jika pembunuh Zada tertangkap, ia pun segera pergi ke Cirebon.
Saat tiba di Cirebon, Rex langsung pergi ke kantor polisi untuk menemui Briptu Bara. Di sana ia dibawa menemui Tiara yang saat itu sudah berada di dalam sel tahanan.
" Di sebelah sana Kapten...," kata Briptu Bara sambil menunjuk Tiara yang sedang mondar-mandir di dalam sel tahanan.
Rex mengangguk lalu menjauh dari sel tahanan. Kemudian Rex meminta ijin untuk bicara empat mata dengan Tiara. Briptu Bara mengangguk dan meminta rekannya membawa Tiara ke ruangan interogasi.
Saat dibawa ke ruangan Tiara nampak mengomel tanpa henti hingga membuat polisi kesal.
" Berhenti bicara karena ga ada satu pun omonganmu terbukti. Mana saudara yang Kamu bilang anggota DPR itu, mana Mertua yang katamu anggota polisi ?. Semua ga ada yang datang karena mereka ga peduli sama Kamu. Kalo Saya jadi mereka, Saya juga bakal lakukan hal yang sama karena Kamu memang ga layak untuk dikasih perhatian...!" kata seorang polisi hingga membuat Tiara terdiam.
Rex menoleh saat pintu terbuka. Saat itu Rex mengepalkan tangannya karena merasa kesal melihat sikap arogan Tiara.
Dengan enggan Tiara duduk di hadapan Rex dalam kondisi kedua tangan terikat.
" Cewek ini suka ngamuk dan menyakiti orang lain Pak. Makanya supaya ga membahayakan orang lain, terpaksa Kami mengikatnya...," kata sang polisi.
" Iya Pak, Saya mengerti..., " sahut Rex cepat.
Kemudian Rex mulai bertanya apa alasan Tiara membunuh Zada. Saat itu Briptu Bara juga hadir untuk mencatat beberapa informasi.
" Saya sepupu Zada. Kamu ingat Zada kan...?" tanya Rex membuka percakapan.
" Iya, Saya kenal. Kenapa emangnya...?" tanya Tiara ketus hingga membuat Rex sedikit geram.
" Kalo gitu Saya langsung aja. Kenapa Kamu membunuh Zada...?" tanya Rex sambil menatap Tiara lekat hingga membuat gadis itu terkejut.
" Mas ini waras atau ga sih. Saya emang kenal sama Zada karena dia tinggal di rumah orangtua Pacar Saya. Yang Saya tau Zada meninggal karena kecelakaan, tapi kenapa situ nuduh Saya membunuh Zada...?!" kata Tiara lantang.
" Ga usah teriak karena telinga Saya ga tuli !. Kamu cukup ceritakan alasan kenapa Kamu membunuh Zada...!" kata Rex tegas.
" Apa-apaan ini Pak Polisi. Siapa dia ?, kenapa dia memaksa Saya mengakui sesuatu yang ga Saya lakukan...?" tanya Tiara sambil menoleh kearah Briptu Bara.
" Jawab aja Tiara. Kalo Kamu jujur maka hukumannya akan lebih ringan. Kalo Kamu ga jujur, Saya ga bisa bantu nanti. Ingat ya, kasus yang lain masih menunggu jadi Kamu ga usah banyak tingkah kalo ga sanggup tinggal di penjara dalam waktu lama...," sahut Briptu Bara dengan santai.
Mendengar ucapan Briptu Bara membuat Tiara sadar jika dia sendiri sekarang. Arini yang ia harapkan akan membantunya justru pergi meninggalkannya.
" Saya benci Zada karena dia membuat perhatian Andra terbagi. Saya kesal karena Andra selalu mendahulukan kepentingan Zada daripada Saya padahal Zada bukan siapa-siapanya...! " kata Tiara.
Ucapan Tiara membuat Rex dan Briptu Bara saling menatap sejenak. Ternyata motif pembunuhan Zada hanya karena cemburu.
" Lalu bagaimana Kamu bisa kenal dengan Tako dan bekerja sama dengannya untuk menculik Zada...?" tanya Rex penasaran.
" Saya ga sengaja ketemu Om Tako di depan rumah Tante Arini. Waktu itu dia lagi mengamati Zada dari jauh. Dia mengaku sebagai Ayah tirinya Zada. Om Tako bilang udah lama pengen ketemu Zada tapi ga bisa karena selalu dihalang-halangi Tante Arini dan Suaminya...," sahut Tiara lirih.
" Terus...?" tanya Rex tak sabar.
" Om Tako minta bantuan Saya supaya bisa mempertemukan dia dengan Zada. Dia berniat membawa Zada pulang. Saya pikir dengan membantu Om Tako Saya bisa menyingkirkan Zada jadi Saya membantunya dengan menyiapkan rumah untuk mereka bertemu...," sahut Tiara.
" Kamu tau apa yang dilakukan Tako pada Zada...?" tanya Briptu Bara.
" Saya ga tau. Emangnya apa yang dia lakukan...?" tanya Tiara.
" Tako hampir memperk*s* Zada, makanya Zada kabur dari sekapan Tako...," sahut Rex hingga mengejutkan Tiara.
" Saya pikir Zada kabur karena ga mau ketemu Ayah tirinya itu. Makanya pas ngeliat dia di pinggir jalan Saya refleks menabraknya lalu kabur meninggalkan dia begitu saja. Saya ga tau kalo dia mati. Saya kira Om Tako bakal ngobatin dia nanti...," sahut Tiara dengan suara bergetar.
" Saya sudah selesai Briptu Bara...," kata Rex sambil berdiri hingga membuat Briptu Bara bingung.
" Apa Kapten yakin dan ga mau mengikuti persidangannya kelak...?" tanya Briptu Bara.
" Saya hanya ingin tau alasannya membunuh Zada. Janji Saya untuk menyeret pembunuh Zada ke penjara sudah Saya penuhi. Berapa lama hukuman yang diberikan nanti itu bukan lagi urusan Saya. Apalagi Saya dengar dia juga terlibat dengan kejahatan lain. Saya yakin Polisi pasti punya cara untuk membuktikan kejahatan yang sempat ditutupi itu...," kata Rex sambil tersenyum.
" Iya Kapten. Saya janji akan mengungkap semuanya hingga Tiara ga bisa berkelit lagi nanti...," sahut Briptu Bara.
" Makasih, Saya percaya sama Kamu. Saya sekalian pamit ya karena besok langsung balik ke Jakarta...," kata Rex sambil menjabat tangan Briptu Bara dengan erat.
" Sama-sama, hati-hati di jalan Kapten...," kata Briptu Bara sambil tersenyum.
Rex mengangguk lalu bergegas keluar dari ruangan meninggalkan Tiara yang masih menangis.
\=\=\=\=\=
Malam itu Rex memutuskan menginap di rumah sang Nenek. Rex sengaja menggunakan Taxi dan meminta supir Taxi melewati rumah Karsih saat menuju ke rumah sang nenek.
Dari dalam Taxi Rex mengamati jalan yang mulai sepi itu dengan perasaan gusar.
" Berhenti sebentar Pak...," pinta Rex.
" Di sini Pak...?" tanya supir Taxi.
" Iya, kenapa Pak...?" tanya Rex.
" Mmm..., gapapa sih. Cuma di sini kan gelap dan sepi, jarang orang yang lewat sini. Saya khawatir Kita dirampok Pak...," sahut supir Taxi.
" Insya Allah Kita aman Pak. Bapak ga lupa kan kalo Saya ini tentara...?" tanya Rex sambil menepuk dadanya.
Supir Taxi menoleh lalu tersenyum seolah baru sadar jika penumpangnya adalah seorang tentara lengkap dengan seragamnya. Itu artinya dia tak perlu khawatir lagi.
Kemudian Rex keluar dari Taxi. Ia melangkah perlahan menuju ke rumah Karsih yang gelap gulita sambil menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan Karsih.
Saat itu lah Rex melihat warga tengah berkerumun mengelilingi sosok Karsih yang berbaring sekarat di teras rumahnya. Kedua mata Karsih membeliak ke atas seolah sedang melihat sesuatu. Mulutnya pun meracau tak jelas dengan tangan terulur ke atas seolah ingin menyentuh sesuatu.
Dari tempatnya berdiri Rex melihat jika arwah Zada tengah memangku kepala Karsih. Rex tahu jika arwah Zada datang untuk menjemput sang Ibu angkat. Seolah menyadari kehadiran Rex di sekitarnya, arwah Zada menoleh kearah Rex lalu tersenyum manis.
" Kasian Ibu, dia sendirian dan kesepian. Aku datang untuk menjemputnya...," kata arwah Zada yang hanya bisa didengar oleh Rex.
Rex mengangguk dan melihat jika arwah Zada menyambut uluran tangan Karsih lalu menggenggamnya erat.
Suara seperti orang tercekik terdengar dari mulut Karsih. Semua warga pun membantu membimbing Karsih mengucap kalimat syahadat. Walau dengan susah payah akhirnya Karsih bisa mengikuti ucapan warga. Dan saat ucapannya berakhir nyawa Karsih pun melayang.
Arwah Zada pun tersenyum saat ia berhasil membantu Karsih lepas dari raganya.
" Terima kasih Rex...," kata arwah Zada dan Karsih bersamaan lalu melesat cepat ke langit dan hilang di kegelapan malam.
" Sama-sama...," gumam Rex dengan. suara tercekat.
Rex melepas kepergian arwah Zada dan Karsih dengan senyum. Saat itu Rex sadar jika Zada adalah gadis yang baik. Meski pun Karsih pernah menyakitinya namun Zada tetap menyayanginya dan membalas kasih sayang Karsih padanya.
Setelah melihat jenasah Karsih diurus sebagaimana mestinya oleh warga, Rex pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sang nenek.
bersambung