Kidung Petaka

Kidung Petaka
125. Elvira Hilang


Hari itu Elvira dan dokter Lita membantu membeli keperluan dapur di pasar yang letaknya lumayan jauh dari kamp. Mereka ditemani oleh warga bernama Meeva dan seorang tentara berpangkat Kopral Kepala yang mengendarai truk untuk mengangkut barang belanjaan mereka nanti.


Kemudian Elvira, Meeva dan dokter Lita turun dari mobil lalu masuk ke dalam pasar. Ketiganya belanja keperluan dapur secara terpisah agar bisa menghemat waktu. Meeva dan dokter Lita tiba lebih dulu di truk yang sengaja menunggu mereka di depan pasar.


" Mana Bu guru Elvira...?" tanya tentara yang bernama Dodi itu.


" Lho, emangnya belum datang Pak...?" tanya Meeva mulai cemas.


" Gapapa, mungkin sebentar lagi. Kan belanjaan yang harus dibeli Bu Elvira lumayan banyak. Kita tunggu aja di sini...," sahut dokter Lita.


" Kalo sampe sepuluh menit belum kembali, Saya bakal nyusul ke dalam ya dok...," kata Kopral Dodi.


" Iya Pak...," sahut dokter Lita sambil berusaha menekan rasa khawatirnya.


Setelah sepuluh menit menunggu dalam kecemasan, akhirnya Kopral Dodi pun pergi menyusul ke dalam. Sebelum pergi ia meminta dokter Lita dan Meeva menunggu di dalam mobil.


" Jangan lupa kunci pintunya dan jangan buka jika bukan Saya atau Bu Elvira yang datang...," pesan Kopral Dodi sebelum berlalu.


" Kenapa ngomong gitu Pak Dodi ?. Bu Elvira lagi belanja dan bukan diculik kan...," kata dokter Lita mulai panik.


" Tapi feeling Saya bilang telah terjadi sesuatu sama Bu Elvira. Makanya Saya mau nyusul ke dalam dulu. Mudah-mudahan Bu Elvira baik-baik aja ya dok...," sahut Kopral Dodi.


" Aamiin...," kata Meeva dan dokter Lita bersamaan.


Kemudian Dodi bergegas pergi menyusul ke dalam pasar. Dari gerak-gerik Kopral Dodi yang terlihat mencurigakan membuat dokter Lita dan Meeva cemas. Apalagi pria itu juga mengeluarkan senjata berupa pistol dari balik pinggangnya.


" Apa telah terjadi sesuatu yang buruk dok...?" tanya Meeva dengan suara bergetar.


" Saya ga tau Meeva. Kami baru kali ini pergi ke pasar ini. Kalo menurut Kamu gimana...?" tanya dokter Lita sambil melirik kearah Meeva.


" Oh itu, mmm... Saya harap Bu Elvira ga ketemu sama mereka...," sahut Meeva lirih namun terdengar jelas di telinga dokter Lita.


Mereka siapa maksud Kamu Meeva...?" tanya dokter Lita.


" Bu... bukan siapa-siapa dok. Saya cuma asal bicara aja kok...," sahut Meeva gugup.


" Saya ga suka dibohongi Meeva !. Katakan dengan jujur ada apa ini sebenarnya ?. Kenapa tiba-tiba Kamu ngajak ke pasar yang letaknya jauh dari kamp ini...?!" tanya dokter Lita sambil menatap Meeva lekat.


" Pasar ini lebih lengkap dok. Jadi Kita bisa sekalian belanja tanpa harus bolak-balik lagi kan. Cuma itu alasannya, ga ada yang lain...," sahut Meeva sambil membuang pandangannya kearah lain.


Jawaban Meeva makin membuat dokter Lita curiga. Namun dia tak mendesak Meeva karena ia juga tak mau terjadi sesuatu padanya hingga membuat beban rekan-rekannya bertambah nanti.


Sementara itu di dalam pasar Dodi berkeliling mencari Elvira. Bahkan Dodi mencari hingga ke sudut pasar. Sesekali ia juga bertanya pada pengunjung pasar dan para pedagang tentang keberadaan Elvira tapi nihil.


Tak lama kemudian Kopral Dodi kembali menemui dokter Lita dan Meeva dengan tangan kosong. Kedua wanita itu tampak cemas dan bertanya-tanya dimana Elvira.


" Mana Bu Elvira Pak Dodi...?" tanya dokter Lita.


" Saya ga nemuin Bu Elvira dok. Udah Saya ubek-ubek tapi ga nemu juga. Saya juga udah nanya sama semua orang di sana tapi ga ada yang ngeliat Bu Elvira...," sahut Kopral Dodi cepat.


" Terus gimana nih Pak...?!" tanya dokter Lita cemas.


" Kita balik dulu ke kamp dok. Saya ga mungkin nyari Bu Elvira dan ninggalin Kalian di sini sendirian...," sahut Kopral Dodi sambil mulai menstarter mobil.


" Kita kembali tanpa Bu Elvira Pak...?" tanya dokter Lita.


" Terpaksa dok. Sekalian Saya lapor Komandan dulu biar ga salah langkah nanti...," sahut Kopral Kepala Dodi sambil mulai melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kamp.


\=\=\=\=\=


Saat Kopral Kepala Dodi melapor kepada Kapten Rex, wajah sang Kapten terlibat menegang. Ia mencium ada sesuatu yang tak wajar pada kasus hilangnya Elvira.


" Di pasar dekat kota Kapten...," sahut Kopral Dodi cepat.


" Kenapa ke sana. Biasanya kan belanja di pasar yang dekat dari sini...?" tanya Kapten Rex tak mengerti.


" Kata Meeva pasar di sana lebih lengkap Kapten. Makanya Saya, dokter Lita dan Bu guru Elvira setuju untuk belanja di sana. Lagi pula Kami penasaran dan ingin tau situasi pasar yang katanya besar itu Kapten...," sahut Kopral Dodi.


" Oh begitu. Lalu rasa penasaran Kalian terjawab...?" tanya Kapten Rex sambil menatap kesal kearah Kopral Dodi.


" Maaf tidak Kapten !. Ternyata pasarnya sama aja Kapten...!" sahut Kopral Dodi salah tingkah.


" Dan ini hasilnya. Bu Elvira hilang, entah sengaja diculik oleh seseorang atau justru oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab. Apa Kamu tau apa artinya ini Kopral...?!" tanya Kapten Rex lantang.


" Siap, Saya tau Kapten !. Artinya Kita harus siap menjemput Bu guru Elvira dan bertempur melawan kelompok pengacau itu Kapten...!" sahut Kopral Dodi lantang.


Jawaban Kopral Kepala Dodi membuat Kapten Rex mendengus kesal.


" Bukan hanya itu Kopral !. Sesuatu yang lebih buruk bisa aja terjadi pada Bu Elvira. Kamu paham maksud Saya kan...?!" tanya Kapten Rex.


Kopral Kepala Dodi terdiam karena tahu apa yang dimaksud sang Kapten. Ia tak bisa membayangkan jika wanita cantik seperti Elvira ditangkap oleh sekelompok preman yang terkenal sadis dalam memperlakukan korbannya.


" Apa Kamu paham Kopral...?!" ulang Kapten Rex tepat di depan wajah sang Kopral.


" Siap paham !. Maafkan Saya Kapten, Saya bersedia menerima hukumannya nanti...," sahut Kopral Dodi dengan wajah pias.


" Bagus. Sekarang Kita bersiap menjemput Bu Elvira...," kata Rex sambil mengecek isi peluru di dalam pistolnya.


" Siap Kapten...!" sahut Kopral Dodi lalu bergegas keluar dari ruangan Rex.


Kemudian Kapten Rex mengumpulkan semua tentara di lapangan. Ia membagi dua pasukannya.


" Sepuluh orang ikut Saya menjemput Bu Elvira. Sisanya tetap siaga di sini sambil melanjutkan pekerjaan Kalian masing-masing...! " kata Kapten Rex.


" Siap Kapten...!" sahut pasukan tentara itu.


" Kopral Dodi, panggil Meeva ke sini sekarang...," pinta Rex.


" Siap Kapten...!" sahut Kopral Dodi lalu berlari kecil menuju tenda khusus memasak.


Tak lama kemudian Kopral Dodi kembali menghadap Kapten Rex, hanya seorang diri tanpa Meeva.


" Dimana Meeva...?" tanya Kapten Rex sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Meeva.


" Meeva pergi Kapten...," sahut Kopral Dodi.


" Pergi ?, kemana...?" tanya Kapten Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Tidak tau Kapten. Info ini Saya dapat dari dokter Lita dan rekan yang berada di dapur...," sahut Kopral Dodi.


" Sudah Kamu cari ke tempat lain...?" tanya Kapten Rex.


" Siap, sudah Kapten. Tapi Meeva memang sudah pergi Kapten...," sahut Kopral Dodi dengan keringat dingin membanjiri tubuhnya.


" Ini yang Saya khawatirkan. Dia pasti memberitahu para penculik itu supaya lari menyelamatkan diri sebelum Kita sampai. Baik lah, Kita berangkat sekarang. Dan Kamu Kopral, Kamu yang bawa mobil sekaligus penunjuk jalan...!" kata Kapten Rex.


" Siap Kapten...!" sahut pasukan tentara sambil bersiap masuk ke dalam truk.


Sesaat kemudian truk yang dikendarai Kopral Kepala Dodi nampak meninggalkan kamp dengan kecepatan tinggi.


\=\=\=\=\=