Kidung Petaka

Kidung Petaka
177. Di Kamar Hotel


Niat Rex untuk membantu Elvira harus tertunda karena ia kembali mendapat tugas keluar kota. Hal itu membuatnya tak leluasa bergerak. Sedangkan ustadz Akbar masih harus memulihkan tenaganya yang terkuras habis akibat membantu meruqyah banyak orang.


Di sisi lain terlihat Elvira makin terpuruk karena dikejar siluman biawak. Akibat tidurnya selalu terganggu menyebabkan wajah Elvira memucat, kantong matanya menghitam, badannya pun terlihat lebih kurus. Apalagi Elvira kerap gelisah dan itu membuat Tarsih iba.


" Apa Ustadz Akbar belum menghubungi Kamu Nak...?" tanya Tarsih saat mereka sedang sarapan.


" Belum Bu...," sahut Elvira sambil mengunyah makanannya.


" Lho kok gitu. Apa Ustadz Akbar ga mau membantumu ?. Dia tau kan kalo makhluk halus yang ngikutin Kamu itu makin merajalela...?" tanya Tarsih.


" Pakde udah tau Bu, kan Aku udah ceritain semuanya. Insya Allah Pakde mau bantu Aku. Tapi Pakde sekarang perlu memulihkan tenaganya dulu setelah meruqyah banyak orang tempo hari. Lagian Aku baik-baik aja kok, Ibu ga usah khawatir ya...," kata Elvira.


" Baik-baik aja gimana maksud Kamu ?. Liat wajahmu, tubuhmu, Kamu tuh keliatan kusut banget Nak...," kata Tarsih gusar.


Elvira menyudahi makannya karena tak ingin membahas masalah itu. Ia meraih tasnya lalu mendekati Tarsih untuk mencium pipinya.


" Maaf Bu, Kita bahas ini lain kali ya. Sekarang Aku harus berangkat ke sekolah karena khawatir terlambat..., " kata Elvira lalu bergegas keluar dari ruang makan.


Sikap Elvira membuat Tarsih menggelengkan kepala. Para pengurus panti yang ada bersamanya pun hanya tersenyum melihat interaksi Elvira dan Tarsih yang bagaikan anak dan ibu kandung itu.


\=\=\=\=\=


Setelah beberapa hari beristirahat memulihkan diri, ustadz Akbar pun kembali ke panti asuhan Pelita Ibu untuk menemui Elvira. Namun ia harus menelan kecewa karena saat itu Elvira sedang tak berada di tempat.


" Kakak lagi ke Bandung Ustadz. Katanya sih ngawal murid-muridnya yang lagi study tour di sana...," kata salah seorang anak panti.


Ustadz Akbar terkejut mendengarnya. Ia lupa mengingatkan Elvira untuk tak pergi jauh karena bisa membahayakan dirinya nanti.


" Kapan Kakak berangkat...?" tanya ustadz Akbar.


" Tadi pagi. Katanya sih dua hari di sana, lusa baru pulang...," sahut anak panti.


Ustadz Akbar nampak gusar. Karena tak ingin terjadi sesuatu dengan keponakannya, ia pun segera menghubungi Rex.


" Assalamualaikum Mas Rex...," sapa ustadz Akbar saat Rex merespon panggilannya.


" Wa alaikumsalam Ustadz...," sahut Rex.


" Sekarang lagi dimana Mas...?" tanya ustadz Akbar.


" Saya lagi tugas di luar kota. Insya Allah besok balik ke Jakarta. Ada apa Ustadz...?" tanya Rex.


" Begini Mas Rex, Elvira...," ucapan ustadz Akbar terputus karena Rex memotong cepat.


" Kenapa dengan Bu Elvira Ustadz. Apa terjadi sesuatu sama dia...?" tanya Rex.


" Vira lagi study tour ke Bandung Mas. Saya khawatir karena itu artinya dia berada jauh dari jangkauan Saya...," sahut ustadz Akbar cepat.


" Ya Allah, kok bisa gitu sih Ustadz. Emangnya Bu Elvira ga tau kalo dia ga boleh kemana-mana sampe masalahnya selesai...? " tanya Rex cemas.


" Saya yang salah Mas Rex. Saya lupa ngasih tau Vira soal itu...," sahut ustadz Akbar.


Rex terdiam sejenak seolah berpikir. Ia sadar jika sang ustadz sedang meminta bantuan padanya.


" Jadi apa rencana Ustadz...?" tanya Rex hati-hati.


" Saya bakal nyusul Vira ke Bandung Mas. Apa Mas Rex mau ke sana juga...?" tanya ustadz Akbar.


" Siap Ustadz. Insya Allah Saya meluncur ke Bandung besok. Kita ketemu di sana sebelum Dzuhur ya...," sahut Rex hingga membuat ustadz Akbar tersenyum lega.


" Ok, nanti Saya kabarin dimana lokasinya. Makasih ya Mas Rex. Assalamualaikum...," kata ustadz Akbar di akhir kalimatnya.


\=\=\=\=\=


Di loby hotel tempat Elvira, rekan guru dan murid-muridnya menginap tampak ramai. Rupanya rombongan mereka baru saja tiba di hotel itu. Para guru, termasuk Elvira, nampak sibuk mengkoordinir para siswa agar masuk ke dalam kamar masing-masing.


" Ingat ya Anak-anak. Nanti bada Maghrib, sekitar jam setengah tujuh malam Kita kumpul di sini lagi ya...!" kata rekan Elvira dengan lantang melalui pengeras suara.


" Siap Pak...!" sahut para siswa serentak sebelum masuk ke dalam lift.


Kemudian Elvira dan para guru duduk di loby sejenak untuk sekedar melepas lelah.


" Jadi Saya sekamar sama Bu Elvira ya...," gurau Anton sambil melirik Elvira.


" Ga boleh !. Daripada sama Kamu, lebih baik Bu Elvira sama Saya Pak Anton...!" sahut Irma.


" Duh galak banget sih Bu. Cemburu ya...," kata Anton sambil tersenyum.


" Sembarangan !. Yang ada Kamu sekamar sama Pak Halim bukan sama Bu Elvira. Kalian kan bukan pasangan Suami Istri dan bukan muhrim juga. Apa kata orang kalo tau guru SMP yang tak punya ikatan tinggal sekamar. Hiiiyy...," kata Irma sambil bergidik.


Ucapan Irma membuat Elvira, Halim dan Anton tertawa. Setelah membuat janji untuk bertemu lagi nanti, mereka pun masuk ke dalam kamar masing-masing.


Elvira dan Irma tinggal sekamar sedangkan Halim dan Anton di kamar yang lain.


Setelah membersihkan diri Elvira pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Dalam sekejap ia tertidur pulas. Irma yang melihatnya tertidur pun tersenyum tanpa berniat mengusiknya.


Kemudian Irma duduk di sofa sambil mulai melihat notifikasi pesan yang masuk ke ponselnya. Saat sedang asyik membaca semua pesan yang masuk, ekor mata Irma menangkap pergerakan seseorang menuju ke kamar mandi.


" Udah bangun Bu, mau pesen makanan ga...?" tanya Irma tanpa mengalihkan tatapannya dari ponsel.


Tak ada jawaban, hanya ada suara air bergemericik di kamar mandi pertanda ada seseorang yang sedang menggunakan kamar mandi.


Irma pun meletakkan ponselnya lalu melangkah untuk mengambil minum. Saat itu lah tatapannya tak sengaja menyapu tempat tidur dimana Elvira berbaring. Irma terkejut karena ia melihat Elvira sedang berbaring di sana dan masih dengan posisi yang sama seperti pertama kali ia melihatnya.


Irma menjerit kecil dan gelas yang dipegangnya pun jatuh ke lantai hingga menimbulkan suara yang nyaring.


Elvira tersentak kaget mendengar suara itu lalu bangun sambil mengucek matanya.


" Ada apa Bu Irma...?" tanya Elvira.


" I... itu. Ada orang yang make kamar mandi...," sahut Irma gugup sambil menunjuk kearah kamar mandi.


" Ya biarin aja Bu, mungkin kebelet...," sahut Elvira dengan mata setengah terpejam karena masih sangat mengantuk.


" Kebelet gimana sih Bu Vira. Di sini cuma Kita berdua lho, ga ada siapa-siapa. Kalo cuma ada Kita terus siapa dong yang di kamar mandi...?!" tanya Irma panik.


Ucapan Irma mengejutkan Elvira. Kedua matanya yang setengah terpejam itu pun langsung terbuka. Dengan sigap Elvira turun dari tempat tidur lalu bergegas menuju ke kamar mandi.


Dari tempatnya berdiri Irma bisa mendengar jelas air mengalir di kamar mandi seolah ada orang yang sedang mandi di dalam sana. Ia mengamati Elvira yang nampak dengan gagah berani mendobrak pintu kamar mandi.


Saat membuka pintu kamar mandi Elvira dibuat terkejut. Karena di bath tub terlihat sosok pria tampan bertelan*ang dada sedang berendam sambil memainkan busa sabun.


Yang membuat bulu kuduk Elvira meremang adalah karena kedua tangan pria itu terlihat aneh. Mulai dari siku ke bawah berwarna hitam dengan bercak kuning. Bentuknya pun mirip cakar hewan melata karena hanya memiliki empat jari.


Dan saat Elvira mendongakkan wajahnya, ia melihat pria asing itu tengah tersenyum kearahnya dengan senyum yang menyerupai seringai licik.


Elvira mundur beberapa langkah sambil terus menatap ke dalam kamar mandi. Setelahnya ia meraih tangan Irma lalu mengajaknya lari keluar dari kamar itu.


Irma yang ketakutan pun hanya bisa diam sambil mengikuti jejak Elvira. Ia yakin jika sesuatu yang dilihat Elvira tadi adalah sesuatu yang buruk dan tak masuk akal. Karenanya ia memilih diam dan mengikuti Elvira karena tak ingin celaka.


bersambung