Kidung Petaka

Kidung Petaka
214. Ketemu Lilian


Shezi melajukan motornya dengan cepat menuju tempat dimana ia dan Rex akan bertemu. Karena terus dibayangi penampakan arwah Luna membuat Shezi tak fokus. Akhirnya ia jatuh tersungkur saat tersenggol mini bus yang melaju di sampingnya. Shezi mengalami luka di kaki kiri hingga membuatnya terpaksa dibawa ke Rumah Sakit oleh warga di sekitar lokasi kecelakaan.


Saat dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Shezi menyempatkan diri untuk memberi tahu Rex tentang kondisinya saat itu.


" Assalamualaikum Zi, Kamu dimana...?" tanya Rex saat Shezi menghubunginya.


" Wa alaikumsalam Kapten. Maaf, Saya ga bisa ke sana sekarang. Saya harus ke Rumah Sakit..., " sahut Shezi sambil meringis kesakitan.


" Oh gitu. Emang siapa yang sakit...?" tanya Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Mmm..., Saya kecelakaan Kapten. Ini lagi mau ke Rumah Sakit. Bisa kan kalo Kita pending dulu rencana ketemunya...?" tanya Shezi.


" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Kamu kecelakaan, dimana, parah ga...?!" tanya Rex cemas.


" Ga tau...," sahut Shezi sambil memejamkan matanya.


" Kok ga tau...?" tanya Rex tak mengerti.


" Saya ada di dalam mobil orang yang nolongin Saya Kapten. Posisi Saya juga lagi berbaring nih, jadi Saya ga tau luka di bagian mana aja. Cuma Saya ngerasa badan Saya sakit semua...," sahut Shezi hingga membuat Rex mengerti.


" Ke Rumah Sakit mana...?" tanya Rex.


Bersamaan dengan pertanyaan Rex mobil pun berhenti. Shezi bangkit saat pintu mobil dibuka. Dan ia melihat papan nama Rumah Sakit dengan jelas.


" Rumah Sakit Sentosa..., " sahut Shezi sambil meringis.


" Ok, Saya nyusul ke sana nanti...," kata Rex lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


" Eh ga usah Kapten. Kapten...!" panggil Shezi.


Shezi menjauhkan ponsel dari telinganya dan menghela nafas saat tahu Rex telah memutuskan sambungan telepon.


" Dasar tentara aneh...," gerutu Shezi sambil berusaha turun dari mobil.


" Pake kursi roda aja Mbak biar ga sakit...," kata seorang perawat dengan ramah.


" Makasih ya Suster...," sahut Shezi sambil tersenyum.


" Sama-sama. Mari Saya bantu...," kata sang perawat sambil membantu memapah Shezi.


Shezi pun bernafas lega saat berhasil duduk di kursi roda. Sang perawat tersenyum lalu mendorong kursi roda. Sedangkan warga yang mengantar Shezi tadi langsung mengurus administrasi pengobatan Shezi nanti.


\=\=\=\=\=


Rex tiba di parkiran Rumah Sakit Sentosa. Setelah memarkirkan motornya, Rex pun bergegas masuk ke loby Rumah Sakit.


Namun tiba-tiba Rex menghentikan langkahnya saat sadar ia telah bertindak berlebihan dengan mencemaskan Shezi.


" Dia kan bukan siapa-siapa, kenapa harus sepanik ini sih...," gumam Rex.


Namun sebuah tepukan di bahu mengejutkan Rex hingga membuatnya menoleh dan tersenyum.


" Kamu ngapain di sini Rex...?" sapa Lilian.


" Eh Kak Lian. Aku mau jenguk teman, tapi ga tau dimana ruangannya...," sahut Rex asal.


Jawaban Rex membuat Lilian mengerutkan keningnya karena bingung. Rex adalah seorang Kapten yang pasti tahu bagaimana caranya mencari informasi tentang temannya yang katanya adalah pasien Rumah Sakit itu. Sikap Rex justru membuat Lilian curiga.


" Cewek...?" tanya Lilian.


" Iya...," sahut Rex cepat.


" Sakit apa...?" tanya Lilian.


" Ga sakit. Katanya dia baru aja kecelakaan dan sama orang yang nolongin dibawa ke Rumah Sakit ini..., " sahut Rex sambil mengalihkan tatapannya kearah lain.


" Oh dia. Ada di UGD lagi istirahat...," kata Lilian sambil tersenyum.


" Emang Kakak tau siapa temen Aku...?" tanya Rex.


" Kalo cewek yang luka karena kecelakaan, sore ini ya baru dia. Pasien lain yang jadi korban kecelakaan laki-laki semua. Kakak tau karena Kakak yang bantu ngebalut lukanya tadi. Namanya Shezi kan...?" tanya Lilian sambil menatap Rex lekat.


" Iya. Lukanya parah ya Kak...?" tanya Rex.


" Boleh dijenguk ga Kak...?" tanya Rex.


" Boleh dong. Ayo Kakak antar...," sahut Lilian sambil merengkuh lengan Rex.


Rex pun mengangguk lalu mengikuti langkah sang kakak. Saat tiba di depan ruangan dimana Shezi dirawat, Rex nampak mematung sejenak.


" Kenapa Rex...?" tanya Lilian.


" Gapapa. Ngeliat deretan tempat tidur kaya gini jadi inget sama seseorang...," sahut Rex sambil tersenyum kecut.


" Aksara...?" tebak Lilian.


" Iya..., " sahut Rex cepat.


" Ayo lah Rex. Aksara itu cuma masa lalu. Kamu harus move on dan bangkit dong. Liat, di sana ada Shezi. Kakak rasa dia layak dipertimbangkan...," bisik Lilian sambil menunjuk Shezi yang terbaring sambil memejamkan mata itu.


Rex menatap kearah yang ditunjuk sang kakak lalu tersenyum. Sesaat kemudian Rex mengangguk.


" Aku setuju. Tapi Aku ga janji kalo bakal bisa menjalin hubungan serius sama dia ya Kak...," kata Rex.


" Lho kenapa emangnya ?. Jangan bilang dia udah punya Suami ya Rex...!" kata Lilian sambil menatap galak kearah sang adik.


" Itu yang belum Aku tau Kak. Aku kan baru kenal sama dia, jadi belum tau siapa dan bagaimana dia...," sahut Rex santai.


Lilian nampak mendengus kesal karena harapannya jika sang adik berjodoh dengan Shezi pun pupus sudah. Namun Lilian tetap mengantar Rex menjenguk Shezi.


Shezi perlahan membuka matanya karena merasa ada seseorang yang mendekatinya. Gadis itu tersenyum saat melihat perawat yang membantunya sejak awal masuk ke Rumah Sakit itu tengah berdiri di samping tempat tidurnya.


" Maaf ya, jadi kebangun deh gara-gara Saya...," sapa Lilian dengan lembut.


" Gapapa Sus. Saya cuma merem aja tapi ga tidur kok...," sahut Shezi dengan suara parau.


" Gimana keadaan Kamu Zi, Keliatannya parah banget ya...?" tanya Rex tiba-tiba hingga mengejutkan Shezi.


" Kapten beneran datang...?" tanya Shezi tak percaya.


" Iya. Emang Kamu pikir Saya bercanda ?. Kita kan udah janjian ketemu untuk ngebahas masalah penting. Jadi mana mungkin Saya ga datang. Tapi Kamu jangan ge-er ya. Saya datang buat mastiin kalo Kamu ga bohongin Saya sekalian ngejar informasi penting dari Kamu...," sahut Rex cepat.


Ucapan Rex membuat Shezi tertawa keras. Namun sesaat kemudian Shezi menghentikan tawanya sambil meringis hingga membuat Rex menggelengkan kepalanya.


" Aduuuhhh...," rintih Shezi sambil meringis memegangi perutnya.


" Makanya jangan ketawa terus. Heran deh, ga dimana-mana kalo ketemu Kamu pasti ketawa kaya gitu. Kamu kan cewek Shezi, bisa kan ketawanya diatur biar ga menarik perhatian orang...," omel Rex.


" Ssshh..., Kapten nih gimana sih ?. Saya lagi sakit kok malah diomelin. Suster Lian, tolong suruh dia pergi aja, Saya ga suka liat dia...," pinta Shezi sambil menatap Lilian.


Lilian pun tersenyum mendengar rengekan Shezi. Ia melirik kearah Rex dengan tatapan tajam seolah minta agar Rex tak mengganggu pasiennya itu.


" Ok. Karena Kamu keberatan, Saya bakal bawa cowok ga jelas ini keluar dari sini...," kata Lilian sambil mendorong Rex agar keluar dari ruangan.


" Kok Aku diusir sih Kak...?" protes Rex.


" Kamu udah ganggu pasien Kakak Rex...," sahut Lilian cepat.


" Tapi Aku ada perlu sama Shezi Kak, penting...!" kata Rex dengan mimik serius.


" Tapi cara Kamu ngomong sama Shezi udah bikin kondisinya memburuk Rex...," sahut Lilian ketus.


" Ga usah lebay deh Kak. Shezi itu cewek kuat, sakit segitu mah kaya makan garam buat dia. Sekarang biarin Aku masuk karena ada hal penting yang harus Aku omongin. Boleh ya Kak...," pinta Rex penuh harap.


" Ada masalah apaan sih Rex...?" tanya Lilian.


" Masalah ghaib Kak. Harus cepat sebelum berkembang jadi besar dan membahayakan banyak orang...," sahut Rex cepat hingga membuat Lilian terkejut.


" Tapi sekarang Kakak harus mindahin Shezi ke ruang rawat inap. Gimana kalo Kamu ngobrol sama dia di sana nanti...?" tanya Lilian.


" Ok. Tolong kasih perawatan yang terbaik ya Kak. Ntar biayanya biar Aku yang nanggung...," sahut Rex.


Lilian mengangguk sambil tersenyum. Kemudian Lilian bergegas melangkah untuk mengurus pemindahan Shezi ke ruang rawat inap.


\=\=\=\=\=