Kidung Petaka

Kidung Petaka
32. Kena Deh...


Setelah mendengar nama pelaku yang disebutkan Taufan, si perwira polisi itu, Rex dan Gama nampak mematung di tempat. Kemudian keduanya saling menatap seolah tak percaya jika polisi menduga pria itu sebagai pelaku.


" Anda yakin dia orangnya Pak Taufan...?" tanya Gama.


" Yakin Pak Gama. Kesimpulan itu diambil setelah mengamati pergerakannya dan menyelidiki semua hal yang berkaitan dengannya, termasuk masa lalunya...," sahut Taufan mantap.


" Kami senang karena akhirnya Polisi bisa mengetahui identitas pelakunya. Kami harap Polisi segera meringkus pelaku supaya ga punya kesempatan kabur...," kata Rex sambil tersenyum.


" Jangan khawatir Pak Rex. Sebentar lagi dia bakal Kami tangkap. Kalo Kalian mau ikut dalam proses penangkapan boleh kok...," kata Taufan basa basi.


" Sebaiknya ga usah. Kami percaya sama kinerja kepolisian. Iya kan Gam...?" tanya Rex sambil melirik kearah Gama.


" Betul Rex...," sahut Gama cepat.


" Ok, makasih suportnya...," kata Taufan sambil menghela nafas lega.


" Kalo gitu Kami pamit. Selamat menjalankan tugas ya...," kata Rex sambil menjabat tangan Taufan dan anak buahnya bergantian.


" Siap, makasih Pak...!" sahut Taufan dan anak buahnya bersamaan.


Setelahnya Rex dan Gama keluar dari ruang monitor lalu melangkah menuju kantin Rumah Sakit.


" Ngopi dulu deh Gam. Kepala Gue pusing benget nih...," ajak Rex.


" Ok Rex, Gue juga mulai ngantuk nih gara-gara begadang semalam...," sahut Gama sambil menguap panjang.


Kemudian Rex dan Gama duduk di kursi sambil menunggu pesanan mereka diantar. Rex nampak mengetuk meja beberapa kali dengan ujung jarinya seolah sedang berpikir keras.


" Lo kenapa Rex...?" tanya Gama yang paham jika Rex sedang memikirkan sesuatu.


" Selama ini Gue keukeuh pengen pelaku pelecehan itu ditangkap. Bahkan Gue sampe bela-belain antar jemput Kak Lian biar bisa nangkap penjahat itu langsung pake tangan Gue. Tapi pas denger nama pelaku dan Gue tau siapa orangnya, kok Gue ga puas ya Gam...?" tanya Rex.


" Mmm..., Gue paham maksud Lo. Karena yang ada di otak Lo sama kaya yang ada di otak Gue...," sahut Gama sambil nyengir hingga membuat Rex tersenyum.


" Gue yakin bukan dia pelakunya...!" kata Rex yang diangguki Gama.


" Yup, Gue setuju. Tapi Kita ga mungkin bilang sama Pak Taufan kalo yang dia bilang itu salah. Gitu kan Rex...?" tanya Gama.


" Betul. Itu namanya Kita mengintervensi pekerjaan Polisi. Lagipula itu juga bikin Pak Taufan ga punya muka di depan anak buahnya. Untuk sementara biarin aja dulu. Gue yakin pelaku sebenernya bakal segera tertangkap nanti...," sahut Rex.


" Itu artinya Kita membiarkan para wanita terancam bahaya dong Rex...!" kata Gama gusar hingga membuat Rex melirik tajam kearahnya.


" Lo mewakili para wanita secara umum atau satu orang yang emang lagi Lo incer Gam...?" tanya Rex curiga.


Mendengar ucapan Rex yang tepat sasaran membuat Gama tertawa.


" Gue emang ga pernah bisa bohong sama Lo Rex...!" kata Gama di sela tawanya.


" Jangan bilang kalo itu temennya Kak Lian, bisa abis diganyang sama Kak Lian Lo...," kata Rex mengingatkan.


" Kalo gitu Gue harus siap nanggung resiko. Ini kan masalah hati Rex. Gue ga bisa milih sama siapa hati ini berlabuh, iya ga...," sahut Gama sambil menaik turunkan alisnya.


" Ck, norak Lo...!" kata Rex sambil melengos hingga membuat Gama kembali tertawa.


Tawa Gama terhenti saat pelayan kantin datang mengantar pesanan mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, Rex dan Gama langsung menyantap lontong sayur di hadapan mereka dengan lahap.


" Sebenernya kopi sama lontong sayur bukan kombinasi yang tepat untuk dikonsumsi pagi hari lho Rex...," kata Gama sambil mengunyah makanannya.


" Iya Gue tau...," sahut Rex cepat.


" Kalo tau kenapa dimakan...?!" tanya sebuah suara dari belakang Rex dan Gama.


Rex dan Gama terkejut lalu berhenti mengunyah untuk sesaat. Mereka menoleh ke belakang secara bersamaan dan melihat Lilian tengah berdiri sambil berkacak pinggang di sana. Jangan lupakan sorot matanya yang tajam bak harimau lapar.


" Eh, Kak Lian. Sarapan yuk Kak...," kata Gama basa-basi.


" Kalo gitu minum teh manis anget deh biar perutnya enak. Tenang aja, Gue yang bayar kok...," kata Gama sambil menarik kursi di sampingnya.


Lilian tampak ragu namun akhirnya duduk di kursi sambil menatap Rex yang asyik dengan makanannya.


" Enak ya Rex...," sindir Lilian.


" Banget, mau coba ?. Nih aaa...," kata Gama sambil menyodorkan sesendok lontong sayur ke mulut Lilian.


Lilian refleks membuka mulut dan melahap suapan sang adik. Dia nampak mengunyah perlahan kemudian merebut sendok dari tangan Rex hingga Rex dan Gama terkejut. Lalu dengan santainya Lilian menghabiskan lontong sayur milik Rex yang masih tersisa setengah itu.


Rex dan Gama saling menatap sambil menggelengkan kepala.


" Ada yang nolak sarapan tapi ngembat makanan orang. Lapar Bu...," kata Rex sambil mengamati Lilian.


Lilian mengabaikan ucapan Rex dan terus mengunyah. Setelahnya ia meraih gelas berisi kopi milik Gama lalu meneguknya hingga tersisa sepertiga gelas. Hal itu membuat Rex dan Gama melongo.


" Katanya ga boleh makan lontong sayur plus kopi. Ini malah abis...," sindir Gama.


" Gapapa asal ga sering-sering...," sahut Lilian cuek sambil mengusap mulutnya dengan tissu.


" Ish, sebenernya Lo bohongin Kita kan Kak...?" tanya Gama sambil menatap Lilian.


" Bohong apaan sih Gam, ga ngerti Gue...," sahut Lilian.


" Sebenernya ga ada anjuran dalam ilmu kesehatan yang bilang Kita ga boleh makan lontong sayur ditemenin kopi. Iya kan...?!" tanya Gama kesal.


" Emang ga ada. Karena makan lontong sayur plus minum segelas kopi itu sebuah kenikmatan dalam menyantap kuliner. Gue ngelarang karena itu terlalu enak aja...," sahut Lilian santai sambil tersenyum penuh kemenangan.


Jawaban Lilian membuat Rex dan Gama kesal. Keduanya bersiap menarik rambut Lilian namun urung dilakukan karena dokter Siska datang menghampiri mereka.


" Suster Lilian...!" panggil dokter Siska.


" Iya dok...," sahut Lilian sambil berdiri dari duduknya.


" Tolong amankan hasil lab pasien Aura ya. Saya harus ke Bandung karena ada keluarga yang sakit. Mungkin besok atau lusa Kita bahas lagi...," kata dokter Siska.


" Baik dok. Terus gimana sama perawatan pasien Aura dok...?" tanya Lilian.


" Saya akan sempatkan datang sore ini buat ngecek. Suster Lian sendiri kok masih di sini. Bukannya shift malam udah selesai ya...?" tanya dokter Siska.


" Oh, Saya lagi sarapan dok...," sahut Lilian.


" Wah enak betul jadi Suster Lilian ini. Sarapan aja dikawal dua bodyguard...," gurau dokter Siska disambut tawa Lilian.


" Mereka adik Saya dok. Kenalin ini Rex, dan ini Gama. Rex, Gam, kenalin dulu ini dokter Siska...," kata Lilian.


Rex dan Gama berdiri sambil mengulurkan tangan. Ketiganya pun saling berjabat tangan sambil menyebut nama masing-masing. Setelah berbasa-basi sejenak, dokter Siska pun pamit undur diri.


Gama melepas kepergian dokter Siska tanpa berkedip hingga membuat Rex dan Lilian tersenyum.


" Cantik ya Gam...," kata Rex.


" Iya...," sahut Gama sambil terus menatap dokter Siska yang berjalan menjauh.


" Tapi sayang istri orang...," sela Lilian sambil berlalu.


Ucapan Lilian membuat Rex tertawa keras sedangkan Gama terkejut bukan kepalang.


" Kena deh..., kirain single ga taunya coupple. Kirain gadis ga taunya istri orang...," kata Rex sambil tertawa.


Gama terdiam lalu membuang tatapannya kearah lain karena malu.


\=\=\=\=\=