
Setelah beberapa saat menenangkan diri, ustadz Mahdi pun bertanya mengenai dua arwah yang tadi berhasil diusir oleh sahabatnya itu.
" Jadi gimana ceritanya, apa yang sebenernya terjadi sama arwah yang mengganggu anak-anak tadi Ustadz...?" tanya ustadz Mahdi.
" Betul Ustadz, Saya juga penasaran daritadi. Mau nanya tapi kok ngerasa waktunya ga pas. Kebetulan Ustadz Mahdi nanya jadi pertanyaan Saya juga terwakilkan...," kata Gama sambil nyengir.
Ucapan Gama membuat semua orang tertawa. Ustadz Akbar pun mengangguk lalu mulai menceritakan apa yang dilihatnya tadi.
" Waktu Saya bantuin Fadlan, arwah yang masuk ke dalam tubuh Fadlan adalah arwah pejuang kemerdekaan. Beliau adalah salah satu pahlawan tak dikenal. Beliau meninggal setelah mengalami bermacam siksaan fisik dan non fisik. Beliau dipaksa menunjukkan tempat persembunyian pejuang lainnya saat itu. Bahkan pihak Belanda sampai menggelar peta di depannya dan memaksanya menunjukkan lokasi dimana markaz para pejuang. Karena terus menolak akhirnya dia dipenggal dan jasadnya ditelantarkan begitu saja hingga menjadi santapan anjing liar...," kata ustadz Akbar.
Cerita ustadz Akbar membuat semua orang terdiam dan terharu.
" Terus dia gambar apa di udara tadi Ustadz...?" tanya Rex.
" Oh itu, dia menggambar peta tempat persembunyian para pejuang Kita secara asal. Dia mengatakan bahwa dia sengaja menyesatkan Belanda hingga mereka masuk perangkap dan dibantai oleh pejuang Indonesia...," sahut ustadz Akbar.
" Wah hebat, salut buat ide dan keberaniannya...," kata Rex bangga sambil mengacungkan ibu jarinya.
" Iya. Makanya dia merasuki Fadlan cuma mau bilang kalo dia ga berkhianat sama sekali. Dia justru mengarahkan pasukan Belanda ke jalur yang salah yaitu jalur perangkap yang sengaja dibuat pasukan Indonesia. Makanya Saya bilang terima kasih karena udah membantu perjuangan bangsa Indonesia hingga merdeka seperti sekarang. Saya juga bilang kalo zaman sudah berbeda dan perang telah berakhir. Saat Saya memintanya pulang dia setuju karena merasa tak ada lagi yang harus diperjuangkan...," sahut ustadz Akbar dengan wajah sendu.
Setelah mendengar ucapan ustadz Akbar, Fadlan dan teman-temannya pun saling menatap dengan perasaaan bersalah. Andai mereka tahu jika telah memanggil arwah pejuang, mungkin mereka tak akan sesedih ini. Mereka merasa bodoh dan lancang karena telah mempermainkan arwah pejuang yang telah berjasa pada tanah air Kita tercinta.
" Kita doakan semoga dia bisa pergi dengan tenang dan amalnya menjadi amal jariyah yang tak terputus karena dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia...," kata ustadz Akbar yang diangguki semua orang.
" Terus gimana sama arwah cewek yang mengikuti Emir Ustadz...?" tanya Rex penasaran.
" Oh kalo dia sedikit berbeda. Meski pun punya akhir yang tak kalah menyedihkan tapi Saya ga setuju sama cara yang dia ambil saat masih hidup dulu...," sahut ustadz Akbar.
" Maksudnya gimana Ustadz...?" tanya Rex tak mengerti.
" Wanita itu semasa hidupnya adalah seorang PSK. Dia bilang awalnya dia dijebak sama kekasihnya hingga menjadi seorang PSK. Dia mengatakan jika rela menyerahkan segalanya pada sang kekasih karena laki-laki itu berjanji akan menikahinya. Namun sayangnya dia dibohongi. Saat dia menagih janji, dia justru dijual ke sebuah tempat prostitusi...," kata ustadz Akbar.
" Masa dia ga lari sih Ustadz...?" tanya Gama kesal.
" Dia bilang ga tau kalo dijual karena kekasihnya itu bilang mau ngenalin dia sama orangtuanya. Waktu diajak ke sebuah rumah, ya dia nurut aja. Terus waktu kekasihnya pamit mau ke warung karena mau membeli sesuatu dia juga percaya. Tapi pas datang dua pria lalu menyeretnya ke kamar, dia sadar kalo dia ditipu. Tapi terlambat. Dia ga bisa lari dan terus menjadi PSK hingga akhir hayatnya...," sahut ustadz Akbar.
" Makanya dia tampil genit saat merasuki Emir tadi Ustadz...?" tanya Rex.
" Betul. Itu sesuai dengan kebiasaannya untuk mencari pelanggan...," sahut ustadz Akbar dengan enggan.
" Tapi kenapa dia menuntut Emir untuk menikahinya...?" tanya Komar yang sejak tadi diam menyimak perbincangan.
" Keliatannya wajah Emir mirip sama mantan kelasihnya itu. Makanya dia datang dan menuntut dinikahi karena mengira Emir adalah mantan kekasih yang sudah mengambil kesuciannya dulu...," sahut ustadz Akbar.
" Wah, dua kisah yang sama-sama menguras emosi Ustadz...," kata ustadz Mahdi.
" Yang satu berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan, eh yang satu malah terjebak dengan janji manis laki-laki..., " kata Komar sambil menggelengkan kepalanya.
" Makanya Saya ga suka sama laki-laki Om, Saya sukanya sama perempuan...," gurau Gama disambut tawa menggema di ruangan itu.
" Iya lah, yang ada bisa dikutuk jadi batu Kamu sama Ibumu...!" sahut Komar lantang hingga membuat tawa kembali terdengar.
" Terus setelah ini mereka harus melakukan apa Ustadz...?" tanya Rex setelah tawanya mereda.
" Dengerin tuh anak-anak...!" kata Rex lantang sambil menatap Fadlan cs dengan tatapan galak.
" Iya Bang...," sahut Fadlan dan teman-temannya bersamaan.
Melihat sikap Fadlan dan teman-temannya yang menaruh rasa segan sekaligus hormat pada Rex membuat Komar dan semuanya tersenyum.
\=\=\=\=\=
Rex dan Gama nampak berjalan santai menuju kearah rumah setelah berpisah dengan rombongan Fadlan cs di perempatan jalan tadi. Komar masih bertahan di rumah ustadz Mahdi karena masih ingin berbincang banyak hal dengan sang ustadz dan tamunya itu.
Rex nampak memgamati Gama yang terlihat tenang sambil sesekali mengusap perutnya.
" Kenapa Lo, lapar ya...?" tanya Rex.
" Iya Rex. Gue belum makan apa pun dari siang tadi...," sahut Gama sambil mendesis.
" Kok bisa, emangnya di bengkel ga sempet makan tadi...?" tanya Rex.
" Sebenernya Gue hampir makan siang bareng Edi, Ipung dan Riki tadi. Tapi karena ada satu dan lain hal Gue langsubg cabut dan ga jadi makan...," sahut Gama.
" Satu dan lain hal apaan sih maksud Lo...?" tanya Rex tak mengerti.
" Ntar Gue jelasin deh. Kita ke warungnya Bude Simo yuk, temenin Gue makan pecel ikan gurame di sana...," ajak Gama.
" Ok deh. Kebetulan Gue juga lapar...," sahut Rex hingga membuat Gama tersenyum.
Saat tiba di depan warung, Gama dan Rex harus rela mengantri di luar tenda karena warung sedang ramai pengunjung saat itu. Setelah sedikit bersabar akhirnya mereka bisa duduk dan memesan makanan favorit mereka.
" Jadi apaan yang bikin Lo ga makan siang tadi...?" tanya Rex penasaran.
" Ada pelanggan bengkel yang sering datang dengan berbagai alasan cuma karena mau ketemu sama Gue...," sahut Gama.
" Cih, ge-er aja Lo. Pasti cewek kan...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut Gama.
" Kok tumben menghindar, biasanya Lo gercep kalo liat cewek cantik plus bohay. Jangan-jangan tuh cewek bini orang ya...," sindir Rex.
" Kalo itu Gue ga tau dan ga mau tau. Kan Gue udah bilang kalo sekarang Gue udah punya calon pendamping. Makanya Gue menjauh dari cewek-cewek yang ga jelas gitu. Gue ga mau cewek yang Gue incer salah paham dan nolak Gue nanti. Bahaya kan, padahal Gue rasanya udah mentok banget sama dia...," kata Gama.
" Mentok, apanya yang mentok...?" tanya Rex.
" Cinta Gue Rex, emangnya Lo pikir apaan...?" tanya Gama kesal.
" Oh, kirain Gue bagian lain yang mentok...," sahut Rex asal hingga membuat Gama berdecak sebal.
" Makanya jangan suudzon terus sama Gue...," kata Gama sambil melengos.
Rex pun tertawa sedang Gama nampak menekuk wajahnya. Tiba-tiba kedua mata Gama membulat saat melihat Lilian melintas sambil berboncengan motor dengan seorang pria. Gama menggeram kesal sambil mengepalkan kedua tangannya di bawah meja.
\=\=\=\=\=