
Selang lima belas menit kemudian Gusur kembali sambil membawa kantong plastik berisi minuman dingin dan makanan ringan. Dengan sigap ia meletakkan semua bawaannya itu di lantai sekaligus menatanya dengan baik.
" Silakan Bang, maaf agak lama. Warungnya ngantri tadi...," kata Gusur.
" Gapapa Sur, makasih ya...," sahut Rex dan Gama bersamaan.
" Sama-sama Bang. Terus gimana Bang Gama, kira-kira udah punya bayangan mau ngambil rumah yang mana nih...?" tanya Gusur.
" Sebenernya Gue suka sama type rumah ini tapi auranya ga enak Sur. Bisa ga Kita liat ke rumah sebelah ?. Yah kali aja suasananya bakal beda sama yang di sini...," pinta Gama.
" Ga masalah Bang. Yuk Kita liat ke rumah sebelah, siapa tau Abang lebih nyaman di sana...," sahut Gusur.
" Gapapa nih Sur, udah ada yang punya belum...?" tanya Gama.
" Belum Bang, masih kosong...," sahut Gusur.
Rex dan Gama saling menatap sejenak lalu mengangguk. Saat mereka masuk ke dalam rumah yang letaknya bersebelahan dengan rumah sebelumnya, mereka merasakan perbedaan yang sangat jelas.
" Beda banget ya Rex. Di sini lebih hommy dan hangat...," bisik Gama.
" Iya Gam...," sahut Rex sambil mengamati seluruh penjuru rumah.
" Kenapa bisa beda ya Rex, padahal kan ada di atas kavling yang sama...?" tanya Gama.
" Mungkin tanah ini punya sejarah sendiri Gam. Biar pun cuma beda sejengkal tapi Kita kan ga tau apa aja yang pernah terjadi di tanah ini dulu...," sahut Rex yang diangguki Gama.
" Jadi gimana, Lo jadi ambil rumah ini Gam...?" tanya Rex sambil menatap Gama lekat.
" Kalo yang ini insya Allah Gue cocok. Gue mau ambil yang ini aja Rex...," sahut Gama sambil menatap ke sekelilingnya.
" Yakin...?" tanya Rex.
" Insya Allah...," sahut Gama cepat.
" Ga mau nanya sama calon Istri Lo dulu ?. Ntar kalo udah dibeli terus dia ga cocok gimana...?" tanya Rex.
" Kalo dia ga mau kan bisa dijual lagi atau buat investasi masa depan. Disewain kayanya ok juga...," sahut Gama santai.
" Kalo emang Bang Gama mau nyewain atau mau jual lagi, bisa kok hubungi Saya...," kata Gusur menawarkan diri.
" Tuh denger kan Rex. Udah ada calo yang siap membantu. Lo tenang aja, ga akan mubazir kok beli rumah ini...," gurau Gama sambil melirik kearah Gusur.
" Bisa aja Lo Bang...," kata Gusur sambil tersenyum malu.
Setelah memastikan rumah yang akan dibelinya, Gama dan Rex pun diajak ke kantor untuk mengurus dokumen jual beli.
Sebelum berangkat ke kantor properti mereka singgah sejenak di masjid untuk menunaikan sholat Dzuhur berjamaah. Kemudian mereka melanjutkan dengan makan siang di salah satu rumah makan.
" Udah kan Rex...?" tanya Gama.
" Iya, udah Gue bayar tadi...," sahut Rex.
" Masih ada yang mau dibeli lagi ga Sur, mumpung ada Bos yang bayarin nih...," gurau Gama sambil melirik kearah sahabatnya.
" Ga usah Bang, makasih. Saya udah kenyang banget nih. Kalo tambah lagi bisa-bisa kekenyangan malah Saya khawatir ga bisa jalan nanti...," sahut Gusur hingga membuat Rex dan Gama tertawa.
" Ya udah kalo gitu Kita lanjut yuk...," ajak Gama yang diangguki Rex dan Gusur.
Setengah jam kemudian mereka tiba di kantor properti. Gama menandatangani beberapa dokumen jual beli dan membayar uang DP sebagai syarat awal.
Setelah proses penandatanganan selesai, Rex dan Gama kembali diantar pulang oleh Gusur dengan mobil dinas milik perusahaan.
Wajah Gusur yang ceria membuat Rex dan Gama ikut tersenyum bahagia.
" Keliatan seneng banget sih Sur, abis menang lotre ya...," tebak Gama asal.
" Bukan menang lotre Bang. Karena Saya berhasil menjual satu unit rumah tadi, Saya dapat bonus Bang...!" kata Gusur antusias.
" Alhamdulillah..., Kita ikut seneng dengernya. Selamat ya Sur...," kata Rex sambil menepuk bahu Gusur dengan lembut.
" Makasih Bang...," sahut Gusur cepat.
" Emang Lo belum pernah berhasil menjual rumah Sur, kok senengnya beda banget sih...?" tanya Rex curiga.
" Udah beberapa kali sih Bang. Alhamdulillah tiap kali berhasil menjual satu unit rumah Saya dapat bonus. Variatif sih jumlahnya tapi Saya tetep bersyukur. Tapi khusus untuk rumah type 70/100 emang agak sulit Bang. Belum ada yang berhasil menjual type ini satu unit pun. Ga tau kenapa tiba-tiba konsumen membatalkan pembelian, padahal kadang udah deal dan bayar DP segala..," kata Gusur.
" Betul Bang. Makanya waktu Bang Gama bilang ga nyaman dan ragu tadi, Saya sempet pasrah atau bisa dibilang putus asa. Pasalnya rumah itu dan rumah yang sejenis emang sangat sulit dijual. Bisa menarik peminat aja udah beruntung..., " kata Gusur.
Ucapan Gusur membuat Rex dan Gama makin penasaran. Mereka mengejar Gusur agar mau menceritakan semuanya.
" Jujur aja Sur, sebenernya ada apaan sih di sana...?" tanya Gama.
" Ga ada apa-apa Bang...," sahut Gusur berbohong.
" Gue ga percaya. Soalnya tadi Rex ssmpet ngeliat penampakan di rumah pertama yang hampir Gue beli tadi...," kata Gama.
" Penampakan makhluk halus Bang...? " tanya Gusur sambil melirik kearah Rex.
" Iya...," sahut Rex santai.
" Kalo boleh tau wujudnya apaan Bang...?" tanya Gusur penasaran.
" Kenapa Lo nanya gitu ?. Emangnya Lo belum pernah ngeliat penampakan makhluk halus atau hantu di sana...?" tanya Gama tak percaya.
" Jujur Gue belum pernah ngeliat Bang.
Tapi temen-temen Gue udah beberapa kali ngeliat. Makanya Gue nanya, kali aja yang Bang Rex liat beda sama yang diliat temen-temen Gue..., " sahut Gusur.
" Wujudnya mah kaya manusia biasa Sur. Ga serem kok...," kata Rex.
" Cewek atau cowok Bang...?" tanya Gusur.
" Cewek pake baju pink...," sahut Rex cepat hingga membuat Gusur menghela nafas berat sambil bersandar di sandaran kursi.
" Kata temen Gue yang udah pernah ngeliat penampakan itu, dia emang penunggu di sana Bang...," kata Gusur lirih namun masih terdengar jelas di telinga Rex dan Gama.
" Penunggu...?" ulang Gama.
" Iya Bang...," sahut Gusur sambil menganggukkan kepala.
" Tapi Gue yakin itu bukan penunggu di sana Sur. Itu arwah yang gentayangan karena masih memiliki sangkutan di dunia ini..., " kata Rex hingga mengejutkan Gusur.
" Sangkutan apa Bang ?. Hutang...?" tanya Gusur tak mengerti.
" Bisa iya bisa ga. Kadang sebuah janji pun bisa dianggap hutang yang harus segera ditunaikan. Setelah janji ditunaikan, maka hutang pun dianggap lunas dan sangkutan yang menghambat pun terlepas...," sahut Rex.
Ucapan Rex membuat bulu kuduk Gusur meremang. Rex dan Gama masih duduk menunggu dengan sabar berharap Gusur mau menceritakan sesuatu.
" Gue bingung mau mulai darimana Bang...," kata Gusur sambil duduk di samping Rex.
" Pelan-pelan aja Sur. Ga usah berurutan juga gapapa. Ntar Gue sama Gama yang bakal menyusun ulang cerita itu...," kata Rex.
Gusur pun setuju lalu mulai menceritakan apa yang ia tahu mengenai hantu penunggu rumah itu.
" Katanya sih cewek itu sengaja nunggu di sana seperti permintaan pacarnya atau tunangannya. Karena diminta menunggu makanya dia terus di sana sampe meninggal dunia...," kata Gusur.
" Kok bisa meninggal dunia ?. Emangnya apa yang terjadi selama dia menunggu...?" tanya Rex penasaran.
Saat Gusur membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Rex, mendadak ponselnya berdering. Saat melihat nama 'Angry Bird' di layar ponselnya Gusur terlihat panik.
" Sorry Bang Gue harus pergi. Bos kayanya nyari Gue nih...," kata Gusur sambil bergegas masuk ke dalam mobil.
" Tapi cerita Lo belum selesai Sur...!" protes Gama.
" Insya Allah Gue sambung lagi kapan-kapan Bang. Assalamualaikum...! " kata Gusur sambil melambaikan tangannya.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Rex dan Gama bersamaan.
" Ck, gimana mau bikin kesimpulan kalo ceritanya aja belum selesai...," gerutu Gama.
" Kita cari tau aja sendiri Gam, gimana...?" tanya Rex sambil menaik turunkan alisnya.
" Ok, siapa takut...!" sahut Gama cepat.
Kemudian kedua sahabat itu nampak saling berjabat tangan sambil tersenyum penuh makna.
bersambung