Kidung Petaka

Kidung Petaka
47. Berkaitan kah ?


Sambil terus mengusap parang dan celurit di tangan masing-masing, kedua pria itu terus bicara. Mereka menoleh dan tersenyum saat seorang pria bertubuh besar dengan berewok menutupi wajahnya keluar dari dalam rumah.


Pria yang diduga sebagai pimpinan itu tak sendiri. Ia dikawal beberapa orang dengan pakaian yang sama dilengkapi topeng yang menutupi wajah mereka.


" Gimana bos...?" tanya salah seorang pria bertopeng itu.


" Kita bergerak sekarang. Setelah beberapa hari berjaga, para tentara itu pasti juga capek dan bosan di sana. Selain itu mereka hanya suruhan dan ga ngerti apa-apa. Kita butuh makan dan memenuhi kebutuhan keluarga Kita. Sekarang Kita tunjukkan sama mereka siapa penguasa sebenarnya di daerah sini...!" kata pria berewok bernama Warok itu dengan lantang.


" Siap Bos...!" sahut para pria yang berjumlah belasan itu.


Mendengar ucapan Warok dan melihat adegan itu membuat Rex dan pasukannya saling menatap dalam diam.


Kemudian Rex memberi aba-aba pada pasukannya agar mereka bersiap. Semua anggota pasukan mengangguk paham dalam posisi siap menyerang.


Namun sebelum Rex memerintahkan pasukannya keluar dari persembunyiannya, Rex mendengar suara wanita menyanyi di kejauhan. Terdengar lembut dan menyedihkan.


Suara itu perlahan bergerak makin dekat dan terdengar sangat jelas di telinga Rex hingga membuatnya mengerutkan keningnya.


" Perempuan mana yang nyanyi lagu sedih kaya gini, malam dan di tengah hutan pula. Aneh...," gumam Rex sambil menatap ke sekelilingnya.


Rex berdiri waspada sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru untuk mencari sumber suara. Saat itu lah Rex tahu jika tak ada seorang pun dari anggota pasukannya yang mendengar suara itu.


Sesaat kemudian suara nyanyian mendayu-dayu itu berubah menjadi lengkingan yang memekakkan telinga, Rex kembali tersadar dari keterpakuannya sambil menatap nanar ke sekelilingnya.


Tiba-tiba dari sisi berlawanan terlihat gerombolan pria bersenjata tajam merangsek maju.


" Tiga... dua... satu. Sekarang...!" kata seorang pria dengan lantang sambil keluar dari persembunyiannya diikuti beberapa pria bersenjata tajam lalu berlari menyerang Warok dan anak buahnya.


Kawanan begal pimpinan Warok yang berdiri di depan rumah nampak terkejut saat melihat kehadiran para pria bersenjata tajam itu. Bisa dipastikan jika mereka adalah saingan atau musuh Warok dan anak buahnya.


Perkelahian antara dua kelompok begal bersenjata itu pun tak terelakkan. Mereka saling sabet dan saling bacok dengan senjata masing-masing sambil mengucapkan kalimat makian yang tak dimengerti Rex. Suasana hutan yang semula hening menjadi riuh rendah akibat suara pertarungan dua kelompok begal itu.


Di tempat persembunyiannya Rex berdiri sambil merentangkan kedua tangannya untuk menahan pasukannya agar tak mendekat kearah dua kelompok yang tengah bertarung itu. Rex sengaja melakukan itu untuk mengurangi resiko yang akan ditanggung pasukannya.


Dari tempat persembunyiannya Rex dan pasukannya bisa melihat bagaimana sadis dan kejamnya para pria itu saling melukai lawannya. Tak ada peri kemanusiaan. Hanya ada amarah dan dendam yang sangat kuat yang entah bagaimana bisa menguasai mereka.


Dalam sekejap darah pun mulai mengotori tempat itu. Korban pun berjatuhan. Sebelum tindakan tak manusiawi itu berlanjut, Rex pun memerintahkan pasukannya mengepung tempat itu dari seluruh penjuru.


Semua begal yang tengah terlibat pertarungan itu tak berkutik saat melihat kedatangan pasukan TNI lengkap dengan senjata yang diarahkan kepada mereka.


Tak mau menyerah dengan mudah, para begal berbalik menyerang Rex dan pasukannya. Kini perkelahian pun berubah, bukan antara begal tapi antara TNI dengan para begal.


Kondisi para begal yang telah terluka akibat perkelahian sebelumnya sangat menguntungkan Rex dan pasukannya. Dengan mudah para begal dijatuhkan dan diringkus kemudian digelandang ke Pos keamanan.


Meski pun kemenangan berada di pihak Rex dan pasukannya, beberapa anggota TNI tampak mengalami luka akibat senjata tajam. Mereka dibawa ke klinik untuk mendapat pengobatan.


Rex tampak berkeliling mengecek kondisi semua anggota pasukannya. Rex menghela nafas lega saat mengetahui tak seorang pun anggota pasukannya mengalami luka berat apalagi tewas karena berhadapan dengan kelompok begal tadi.


" Alhamdulillah..., makasih ya Allah...," gumam Rex sambil mengusap wajahnya.


" Kerja bagus Letnan Satu Rex Aldan...!" kata sebuah suara yang mengejutkan Rex hingga membuatnya menoleh.


" Selamat malam Pak. Kapten Rex Aldan telah menyelesaikan tugas. Laporan selesai...!" kata Rex tegas.


" Bagus bagus. Saya salut dengan kerja kerasmu dan pasukan...," kata Pangdam Brawijaya sambil menepuk pundak Rex.


" Siap, makasih Pak...!" sahut Rex.


" Sama-sama. Sekarang santai saja dan jelaskan kronologi penangkapan pengganggu ketenangan masyarakat itu...," pinta Pangdam Brawijaya sambil duduk dan menatap kagum kearah Rex.


Kemudian Rex menceritakan kronologi penangkapan para begal tadi. Pangdam Brawijaya nampak mengerutkan keningnya setelah mendengar penjelasan Rex.


" Jadi Kamu sengaja membiarkan para begal itu saling serang dulu supaya Kamu bisa mengambil keuntungan...?" tanya Pangdam Brawijaya sambil tersenyum.


" Siap, betul Pak !. Kondisi mereka yang terluka membuat gerakan mereka terbatas dan ga lincah lagi. Sebelumnya Saya juga mengamati gerakan mereka saat mengayunkan senjata kearah lawan, itu sangat terlatih dan mematikan. Saya tak meragukan kemampuan anggota pasukan, karena pasukan Kita juga handal dan mahir dengan senjata tajam. Saya hanya ingin mengambil resiko yang lebih kecil aja. Makanya Saya membiarkan mereka saling serang dulu baru menggempur mereka...," sahut Rex dengan tenang.


Jawaban Rex membuat Pangdam Brawijaya dan ajudannya tertawa senang.


" Selama ini warga sangat terganggu dengan aksi para begal. Mereka bukan hanya meminta uang dalam jumlah kecil, tapi sekarang mereka berani merampas kendaraan warga. Bahkan mereka ga segan melukai dan membunuh para korbannya jika keinginannya tak diberi. Mudah-mudahan setelah penangkapan para begal yang meresahkan itu wilayah sini aman dan kondusif...," kata Pangdam Brawijaya sambil menghela nafas panjang.


" Aamiin...," sahut Rex dan ajudan sang Panglima bersamaan.


" Alasan perut yang biasa mereka gaungkan untuk membenarkan tindakan mereka udah ga mempan lagi. Aksi mereka sudah termasuk tindakan kriminal dan harus dihukum. Sekarang mereka harus siap mempertanggung jawabkan perbuatan mereka di depan hukum dan menginap di hotel prodeo dalam jangka waktu lama.Beberapa tahun itu bukan waktu yang singkat. Karena selama itu mereka kehilangan kesempatan hidup bersama anak, istri dan keluarga besar...," kata Pangdam Brawijaya yang diangguki Rex dan ajudannya.


\=\=\=\=\=


Rex sedang duduk santai di ambang jendela usai berolah raga bersama pasukannya. Dari tempat duduknya Rex bisa mengamati pasukannya yang sedang bermain sepak bola di halaman belakang Pos keamanan.


Tiba-tiba sersan Andi mendekat dan menyodorkan ponsel milik Rex yang berdering sejak tadi.


" Angkat dulu Rex, kayanya penting banget. Berisik daritadi bunyi tapi ga Lo angkat...!" kata sersan Andi kesal hingga membuat Rex tertawa.


Rex dan Andi memang biasa ber Lo - Gue saat waktu santai ssperti itu. Namun Andi tetap menghormati Rex saat berada bersama rekan-rekan mereka.


" Assalamualaikum, iya Bu...," sapa Rex sambil tersenyum.


" Wa alaikumsalam. Apa Kamu baik-baik aja Nak...?" tanya Lanni cemas.


" Alhamdulillah baik Bu. Aku dan pasukan berhasil menangkap para begal dan menyerahkannya ke Polisi...," sahut Rex cepat.


" Ahamdulillah..., apa itu artinya Kamu bakal pulang ke Jakarta lebih cepat dari waktu yang ditentukan ..? " tanya Lanni penuh harap.


" Aku belum tau Bu. Masih nunggu perintah lanjutan dari atasan...," sahut Rex sambil mengusap wajahnya dengan handuk.


Dan saat mengusap wajahnya tak sengaja Rex melihat sosok wanita tengah berdiri di dekat gawang. Postur tubuh dan kostumnya sama persis dengan sosok wanita yang pernah dilihatnya di depan ruko Gama beberapa waktu yang lalu.


Rex menduga jika suara wanita yang didengarnya berkaitan dengan wanita aneh itu. Karena tiap kali usai mendengar suara wanita menyanyi ia akan melihat kejadian tragis di depan matanya.


Rex pun bergegas lari keluar untuk menangkap wanita berkostum aneh itu dan meninggalkan ponselnya begitu saja.


bersambung