
Rex berada di dalam kereta api yang tengah melaju menuju Jakarta. Rex tak sendiri kali ini. Ia duduk bersama salah satu rekannya yang bernama Bobi. Saat itu mereka baru saja selesai mengikuti pendidikan di Kodiklat Bandung. Kini Rex dan Bobi menyandang gelar perwira pertama berpangkat Letnan Dua.
Rex memilih kereta api sebagai sarana transportasinya karena rindu dengan suara khas ular besi itu. Selain itu Rex juga mendapat kesan baru saat menikmati pemandangan dari dalam kereta api.
Usia Bobi tiga tahun lebih tua dari Rex. Dia tinggal di daerah Bekasi bersama ibu dan kedua adiknya.
" Mampir dulu ke rumah yuk Bob...," kata Rex saat kereta mulai memasuki Jakarta.
" Sorry, jangan hari ini ya. Insya Allah kapan-kapan Gue mampir Rex. Sekarang Gue mau ngurusin adik Gue yang ketangkep Polisi pas tawuran sama sekolah lain nih...," sahut Bobi sambil mengusak rambutnya sendiri denan gemas.
Rex pun tertawa mendengar ucapan Bobi. Rex cukup hapal dengan kenakalan adik laki-laki Bobi yang bernama Oki itu. Bukan kali ini saja Oki membuat ulah. Saat mereka masih menjalani pendidikan, beberapa kali sang ibu menelephon hanya untuk memberitahu kenakalan Oki pada Bobi.
" Yang sabar Bob. Usia segitu kan emang lagi usia rawan. Kalo kata orang mah itu fase mencari jati diri. Inget ya, Kita juga pernah ada di fase itu lho. Jadi jangan kepancing sama omongannya karena itu bisa bikin Lo emosi dan memperkeruh suasana...," kata Rex mengingatkan.
Bobi terdiam. Ia sadar jika telah mengabaikan adik laki-lakinya itu karena terlalu sibuk mengejar mimpinya. Bobi mengira kedua adiknya cukup dewasa untuk menerima kepergian sang bapak. Namun Bobi lupa jika ada sisi lain yang hilang bersama meninggalnya sang bapak.
" Sekarang tugas Lo ya harus bisa ngisi ruang yang kosong itu Bob. Walau ga sempurna seperti saat Bapak Lo ada, setidaknya adik Lo bisa merasa tetap aman karena mereka punya Lo yang bakal mendukung mereka...," kata Rex.
" Iya Rex. Makasih udah ngingetin Gue...," kata Bobi dengan tulus.
" Sama-sama..., " sahut Rex sambil tersenyum.
\=\=\=\=\=
Rex dan Bobi pun berpisah di stasiun Gambir. Dari sana Rex memutuskan naik Taxi menuju kediaman orangtuanya, sedangkan Bobi langsung menuju kantor polisi dimana sang adik ditahan.
Saat tiba di kantor polisi Bobi harus menelan kecewa karena tak bisa menjumpai Oki. Ternyata Oki dilarikan ke Rumah Sakit setelah ribut dengan pelajar lain saat berada di dalam sel tahanan.
" Apa lukanya parah Pak...?" tanya Bobi cemas.
" Lumayan sih Mas. Wong darahnya banyak banget kok...," sahut polisi yang bertugas.
Bobi segera pergi ke Rumah Sakit Sentosa untuk menjenguk sang adik. Saat tiba di sana Bobi langsung menuju UGD dan melihat Oki sedang dirawat oleh seorang perawat.
" Oki...!" panggil Bobi.
Oki menoleh dan terkejut melihat sang kakak berdiri di ambang pintu. Ada kecemasan di wajah Bobi dan itu membuat Oki bahagia bercampur cemas. Oki bahagia karena Bobi datang untuk menjenguknya. Cemas karena ia tahu apa yang bakal dilakukan Bobi padanya nanti.
Bobi pun mendekat kearah Oki dan itu membuat remaja itu panik lalu mulai bergerak dan melompat turun dari tempat tidur. Hal itu membuat sang perawat terkejut. Apalagi gerakan Oki membuat luka yang sedang diobati bertambah lebar dan kembali berdarah.
" Kamu bisa diem ga sih ?. Liat lukamu tambah lebar nih. Kalo ga ditutup bisa infeksi tau ga...?!" kata sang perawat dengan galak.
Oki pun menciut mendengar ucapan sang perawat, sedangkan Bobi menahan tawa melihat sang adik tak berdaya di hadapan perawat itu. Oki terlihat gelisah saat Bobi mendekat kearahnya.
Sang perawat yang menyadari ada orang lain yang membuat pasiennya bergerak gelisah pun menoleh. Ia menatap kesal kearah Bobi.
" Jadi rupanya Anda yang bikin pasien ini bergerak terus daritadi. Gara-gara Anda anak ini ga berhenti bergerak dan itu mempersulit pekerjaan Saya...!" kata sang perawat yang tak lain adalah Lilian sambil menatap Bobi.
Ucapan Lilian membuat Bobi terkejut. Ia tak menyangka akan bertemu perawat galak di Rumah Sakit itu. Namun Bobi tersenyum karena baru saja dimarahi oleh seorang perawat cantik.
Bobi mengulurkan tangannya kearah Oki untuk membelai kepala sang adik. Namun sayangnya Oki menganggap jika uluran tangan Bobi adalah untuk memukulnya. Oki tampak menghindar dan Lilian yang melihatnya pun refleks menangkap tangan Bobi.
" Jangan lakukan kekerasan di sini, Saya bisa laporkan Anda ke Polisi karena berani menganiaya pasien...!" ancam Lilian dengan berani.
Untuk sejenak suasana menjadi hening. Bobi dan Lilian nampak saling menatap.
" Rupanya Suster salah paham. Saya mau menyentuh kepala Adik Saya karena Saya kangen sama dia. Udah lama Kami ga ketemu karena Saya baru pulang dari Bandung...," kata Bobi sambil tersenyum.
Lilian tersentak lalu bergegas melepaskan tangan Bobi. Ia tersadar telah berprasangka buruk pada pria di hadapannya. Namun Lilian masih setengah tak percaya. Untuk meyakinkannya ia pun bertanya pada Oki.
" Apa dia beneran Kakakmu...?" tanya Lilian sambil menatap Oki lekat.
" Iya Sus...," jawab Oki cepat.
" Saya takut dipukul Suster. Soalnya Abang kan pernah bilang bakal menghajar Saya kalo Saya melakukan kesalahan ga wajar. Sedangkan Saya di sini kan karena tawuran dan berantem di dalam sel tahanan...," sahut Oki sambil menundukkan kepalanya.
Ucapan Oki membuat Lilian dan Bobi kembali saling menatap. Kemudian Lilian mengatakan sesuatu yang mengejutkan Bobi dan Oki.
" Oki sedang terluka. Bisa kan Anda melepaskan dia. Walau kesalahannya memang sedikit berlebihan tapi masih bisa dibicarakan baik-baik. Jadi tolong jangan pukul dia dan Saya mohon maafkan dia kali ini...," kata Lilian dengan mimik wajah serius.
Bobi mengusap wajahnya sambil menatap kearah lain karena tak sanggup menatap mata Lilian.
" Baik. Silakan Suster lanjutkan, Saya tunggu di luar...," kata Bobi sambil melangkah keluar.
Lilian pun tersenyum lalu melanjutkan pekerjaannya mengobati Oki. Sedangkan Oki terlihat bahagia karena ada seseorang yang melindunginya dari 'cengkraman' sang kakak.
\=\=\=\=\=
Lilian terkejut saat seorang pria bertubuh tinggi tegap menghadang langkahnya. Namun sesaat kemudian dia pun tersenyum melihat pria itu merentangkan kedua tangannya. Kemudian Lilian membenamkan diri ke dalam pelukan pria yang tak lain adalah adiknya itu.
" Apa kabar Kak...?" tanya Rex sambil memeluk Lilian.
" Alhamdulillah baik. Kok ga ngabarin sih kalo udah pulang...?" tanya Lilian.
" Sengaja, mau bikin surprise..., " sahut Rex hingga membuat Lilian tersenyum lalu mengurai pelukannya.
" Ngomong-ngomong Kamu tambah tinggi atau Kakak yang menciut sih Rex...?" tanya Lilian saat menyadari dirinya lebih kecil dari Rex.
" Kakak kan emang pendek. Baru sadar ya...?" tanya Rex dengan mimik lucu.
" Sembarangan. Tinggi Aku tuh ideal ya. Kamu aja yang ketinggian kaya tiang listrik...!" kata Lilian kesal hingga membuat Rex tertawa.
Namun tawa Rex terhenti saat sebuah suara menyapanya.
" Lo di sini juga Rex...?" tanya pria yang tak lain adalah Bobi.
" Iya Bob. Jadi Adik Lo dirawat di sini...?" tanya Rex.
" Iya...," sahut Bobi sambil menatap Rex dan Lilian bergantian.
" Oh iya, kenalin ini Kakak Gue namanya Lilian. Kak kenalin ini temen Aku namanya Bobi...," kata Rex memperkenalkan Bobi dan Lilian.
Bobi pun tersenyum lalu mengulurkan tangannya. Sayangnya Lilian mengabaikan uluran tangan Bobi dan memilih pergi. Rupanya Lilian masih kesal pada Bobi dan mengira Bobi adalah orang yang sering memukuli adiknya.
" Lho, mau kemana Kak...?!" tanya Rex.
" Gapapa Rex. Kayanya ada salah paham di sini. Sebaiknya Lo kejar dia, kasian kalo sendirian di jalan...," kata Boni bijak.
" Ok, Gue duluan ya. Insya Allah Gue ke sini lagi besok sekalian jenguk Adik Lo...!" kata Rex sambil berlari kecil mengejar Lilian.
" Menarik...," gumam Bobi sambil melangkah menuju kamar tempat Oki dirawat.
Rex berhasil mengejar Lilian yang telah tiba di loby Rumah Sakit. Ia pun merengkuh bahu sang kakak dan membawanya ke tempat parkir. Namun langkah Rex terhenti saat mendengar suara senandung aneh di kejauhan.
" Kenapa Rex...?" tanya Lilian.
" Apa Kakak denger sesuatu...?" tanya Rex.
" Denger apaan sih Rex, jangan nakutin Kakak ya...," sahut Lilian panik sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
" Bukan apa-apa. Kita pulang sekarang ya...," kata Rex.
Kemudian Rex melajukan mobil milik sang ayah keluar dari halaman Rumah Sakit. Meski sedikit bingung dengan 'suara' yang didengarnya tadi, namun Rex berusaha tenang karena tak ingin membuat Lilian takut.
bersambung