Kidung Petaka

Kidung Petaka
193. Akan Kembali...!


Tepat saat jam dua belas malam penantian Rex pun berakhir. Ia melihat bayangan hitam yang sejak tadi bercokol di sudut kamar itu nampak bergerak.


Bayangan hitam itu menggeliat seolah baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Rex pun bangkit lalu berjalan menghampiri bayangan itu setelah memastikan Lilian aman dalam pelukan Gama.


Dari jarak yang sangat dekat Rex bisa melihat penampakan bayangan hitam itu.


Bayangan itu mirip dengan walrus berukuran sangat besar. Tinggi tubuhnya saat dia setengah berbaring seperti itu sama dengan tinggi Rex saat berdiri. Dengan taring panjang yang mencuat dari sela bibirnya, ditambah wajah tambun dengan lipatan lemak dan sorot mata merah menyala yang menatap tajam kearah Rex.


Kemudian Rex mulai berkomunikasi dengan bayangan hitam itu.


" Jadi apa maumu sekarang...?" tanya Rex.


" Masih menunggu sesuatu...," sahut bayangan hitam itu dengan ketus.


" Apalagi maumu ?. Apa kau masih belum puas juga setelah membuat Kakakku kehilangan bayinya...?" tanya Rex sambil menahan amarah.


" Itu resiko yang harus mereka tanggung karena telah berani lewat dan melukai pasukanku...," sahut bayangan hitam itu dengan santai.


" Kalo gitu impas dong. Jadi sebaiknya Kau pergi sekarang...," kata Rex.


" Kalo Aku ga mau pergi, kau mau apa...?!" tantang bayangan hitam itu dengan suara lantang.


" Aku ga akan mentolerir siapa pun yang mencoba mengganggu keluargaku. Tindakanmu sebelumnya Kumaklumi karena ada andil mereka di dalamnya. Tapi untuk yang selanjutnya jangan harap Aku memberi ruang untukmu...!" kata Rex sambil menyemprotkan cairan minyak wangi kearah bayangan hitam itu.


Karena disemprot secara acak maka cairan itu mengenai sebagian tubuh bahkan kedua mata makhluk itu. Ia menggeram marah lalu bangkit dari posisinya semula.


Rex mundur beberapa langkah sambil mendongakkan kepalanya saat bayangan hitam itu berdiri di hadapannya. Seperti yang Rex lihat sebelumnya, bayangan itu berukuran sangat besar hingga kepala makhluk itu menembus plafond dan entah berada dimana.


" Masya Allah. Makhluk apaan sih ini...," gumam Rex sambil mengamati makhluk hitam di depannya itu dengan tatapan takjub.


Di depan Rex kini terpampang tubuh yang dihiasi lipatan lemak menjijikkan, berukuran sangat besar dan berwarna hitam. Di balik lipatan lemak itu terdapat berpasang-pasang mata berwarna merah yang semuanya menatap marah kearah Rex.


" Kau berani mengusikku maka rasakan akibatnya...!" kata makhluk itu dengan lantang.


Saat makhluk itu bergerak, maka lipatan lemak hitam menjijikkan itu ikut bergerak ke kanan dan ke kiri. Rex bergidik jijik melihatnya.


" Aku tak ingin membuat keributan di sini. Kalo mau Kita ketemu di luar...!" tantang Rex sambil membuka botol minyak wangi yang dipegangnya lalu melemparnya kearah makhluk itu.


Sesaat kemudian minyak wangi itu berhamburan keluar hingga membasahi sebagian tubuh, tangan dan kaki makhluk itu. Setelahnya Rex bergegas lari keluar kamar karena tahu makhluk itu bakal mengejarnya nanti.


Makhluk itu menjerit marah saat cairan minyak wangi menyentuh tubuh, tangan dan kakinya. Matanya menatap nanar kearah Rex yang bergerak menjauh. Lengkingan suaranya mirip cicit anak ayam yang sedang mencari induknya, terdengar silih berganti dan ramai. Selain menjerit makhluk itu juga menggeliat kesakitan hingga membuat getaran di lantai kamar.


Lilian nampak membuka matanya saat merasakan getaran yang lumayan keras. Ia memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan jika yang ia alami bukan halusinasi. Apalagi saat itu juga mencium aroma minyak wangi yang menyengat.


Saat itu lah Lilian melihat lampu gantung di dalam ruangan berayun ke kanan dan ke kiri. Khawatir membahayakan, Lilian pun bangkit sambil mengguncang tubub sang suami.


" Sayang bangun. Aku ngerasa ada getaran yang ga wajar. Jangan-jangan ada gempa bumi nih...!" kata Lilian panik sambil terus berusaha membangunkan Gama.


" Tapi Sayang...," ucapan Lilian terhenti saat Gama memotong ucapannya.


" Rex lagi berkomunikasi dengan makhluk yang menyebabkan Kamu keguguran Sayang. Kalo Kita ga bisa bantu sebaiknya diam. Kamu ngerti kan...?" tanya Gama sungguh-sungguh.


Mendengar ucapan suaminya Lilian pun terkejut. Sesaat kemudian ia menganggukkan kepalanya lalu masuk lebih dalam ke dalam pelukan Gama.


Di sudut kamar terlihat makhluk besar mirip walrus itu makin beringas saat ia menyaksikan sebagian minyak wangi yang dilemparkan Rex tadi justru melukai mata yang bertebaran di sekujur tubuhnya.


Setelah melihat Rex lari keluar kamar, makhluk itu pun bergerak maju mengejar Rex. Gerakan tubuhnya sangat cepat. Padahal dilihat dari ukuran tubuhnya siapa pun mengira jika makhluk itu akan lamban bergerak.


Makhluk berupa bayangan hitam itu melesat cepat sambil berusaha menggapai tubuh Rex yang tengah berlari cepat menyusuri koridor. Lalu dalam sekali lompatan makhluk itu berhasil melampaui Rex dan kini berdiri menghadang Rex.


" Kau tak akan bisa kemana-mana. Aku telah mengunci pergerakanmu...," Kata makhluk itu dengan jumawa.


Rex hanya tersenyum sinis karena sadar ucapan makhluk itu tak bisa ditawar lagi. Tapi Rex melihat celah kecil untuk lari. Celah itu berada tepat di bawah kedua kaki makhluk itu.


Ukuran perutnya yang besar dan berlemak itu membuat makhluk itu tak menyadari ada ruang kecil diantara kedua kakinya. Ruang itu terlihat sangat kecil dan hanya cukup dilewati satu orang.


Dengan tenang Rex mendekat kearah makhluk itu. Tindakan Rex membuat mahkluk hitam itu mengerutkan keningnya karena bingung. Dia terkejut saat Rex meloloskan diri melalui bagian bawah tubuhnya.


Makhluk hitam itu berusaha menangkap Rex dengan cara membungkukkan tubuhnya. Namun karena terhalang oleh timbunan lemak di perutnya, makhluk itu pun gagal menggapai Rex.


Sesaat kemudian justru terdengar jeritan marah dari makhluk itu untuk kesekian kalinya.


" Aaarrgghhh...!. Apa yang Kau lakukan padaku...?!" kata makhluk itu dengan lantang sambil memegangi bagian bawah perutnya.


Ucapan makhluk hitan besar itu mengejutkan Rex. Ia menoleh lalu menatap sambil tersenyum kearah makhluk itu.


Rupanya Rex memanfaatkan kesempatan saat meloloskan diri tadi. Ia melukai perut makhluk itu dengan belati yang dibawanya (yang merupakan kelengkapan seragam tentaranya) meski sadar jika makhluk hitam besar yang tengah dihadapi adalah makhluk ghaib.


Ternyata yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang di luar dugaan, karena goresan belati Rex ternyata mampu melukai makhluk itu.


" Masya Allah, Subhanallah. Ga nyangka ternyata belati ini bisa melukai makhluk itu. Padahal secara logika logam ini ga bisa menyentuh sesuatu yang ghoib. Tapi kuasa Allah di atas segalanya. Ternyata hanya dengan belati sekecil ini mampu melukai makhluk hitam besar yang beratnya berton-ton itu...," gumam Rex sambil tersenyum penuh kemenangan.


Di depan sana tampak tetesan cairan berwarna kehitaman mengalir dari luka yang dibuat Rex tadi. Rex yakin jika makhluk hitam besar itu terluka.


" Aku akan kembali, Aku pasti kembali !. Tunggu saja pembalasanku nanti...!" kata makhluk itu sambil menggeram marah.


Sesaat kemudian makhluk hitam besar itu pun lenyap tak berbekas. Menghilangnya makhluk hitam besar itu membuat suasana sepanjang koridor yang sempat temaram itu kini kembali terang benderang.


" Alhamdulillah. Untuk sementara aman. Aku masih punya waktu menyiapkan amunisi untuk menghadapi makhluk itu nanti. Apa dan siapa dia masih teka-teki untukku...," gumam Rex sambil melangkah ke wastafel untuk mencuci belatinya.


bersambung