
Semua warga membelalakkan mata melihat Rex tengah memeluk Elvira sambil membelakangi bus malam. Posisi punggung Rex saat itu menempel dengan bus malam, pertanda jika suara tadi berasal dari benturan bemper mobil dengan punggung sang Kapten.
Rupanya Rex menyusul Elvira dan berhasil meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Tapi ia tak sempat menghindari bus yang sedang melaju itu hingga ia menjadikan dirinya tameng untuk Elvira.
" Astaghfirullah aladziim...! " jerit warga bersamaan.
" Dasar wong edan !. Dibilang jangan bunuh diri kok malah nekad ke tengah jalan...!" maki wanita yang memarahi Elvira tadi.
Seolah baru tersadar dengan keadaan di sekelilingnya, Elvira pun memutar kepalanya dengan linglung. Kemudian tatapannya bertemu dengan Rex yang saat itu sedang menatap lekat kearahnya dengan nafas yang tersengal-sengal.
" Ka... Kapten...," kata Elvira sambil mendorong Rex untuk mengurai pelukannya.
Elvira pun berhasil lepas dari pelukan Rex. Dan bersamaan dengan itu tubuh Rex limbung lalu ambruk ke aspal hingga membuat semua orang menjerit dan suasana kembali gaduh. Dua orang polisi yang baru saja tiba pun segera bertindak mengurai massa. Beberapa warga turun tangan membantu Rex menepi.
" Bawa ke pinggir dulu...!" kata warga.
" Panggil Ambulans...!" sahut warga lainnnya.
" Gara-gara dia Pak tentara itu jadi terluka...," kata seorang perempuan sambil menatap kesal kearah Elvira.
" Jangan marahi dia Bu, kasian dia juga shock banget keliatannya...," kata seorang polisi.
" Abisnya Saya kesel Pak. Udah dibilang jangan bunuh diri, masih aja nekad. Sekarang liat, siapa yang terluka ?, orang lain kan...," sahut perempuan itu ketus.
Elvira nampak berdiri dengan tubuh gemetar dan tatapan mata nanar. Seorang polisi mendekat kearahnya lalu membawanya menepi. Sedangkan Rex yang telah dibawa menepi tampak sedang dikerumuni warga.
" Saya gapapa Pak, Bu. Makasih...," kata Rex sambil berusaha bangkit dari posisi duduknya.
" Gapapa gimana sih Mas. Lah yang tadi kebentur bis tuh siapa kalo bukan Mas tentara...?!" kata seorang wanita dengan cemas.
" Iya betul...," sahut warga bersamaan.
" Tapi Saya beneran gapapa kok Bu...," kata Rex.
" Maaf Kapten, sebaiknya Kapten Kami bawa ke Rumah Sakit atau Klinik ya. Mungkin saat ini ga ada luka yang terlihat tapi justru membahayakan Kapten ke depannya nanti...," kata sang polisi.
" Iya betul Pak...!" sahut warga bersahutan.
" Selain itu teman Kapten juga perlu diperiksa ke Rumah Sakit. Keliatannya dia mengalami sedikit gangguan makanya berusaha bunuh diri tadi...," kata sang polisi sambil mengetuk pelipisnya sebagai isyarat jika ia menduga Elvira mengalami gangguan jiwa.
Rex nampak terdiam sejenak lalu menoleh kearah Elvira. Saat itu Rex merasa iba melihat kondisi Elvira yang kacau. Rex tahu ada sesuatu yang mempengaruhi Elvira hingga membuat gadis itu nekad menerobos ke tengah jalan raya tadi.
" Iya Pak, Saya bakal bawa teman Saya itu ke Rumah Sakit...," sahut Rex.
" Biar Kami antar Kapten...," kata sang polisi menawarkan diri.
" Boleh, makasih Pak...," sahut Rex sambil tersenyum.
Bukan tanpa alasan Rex menerima tawaran tersebut. Saat itu Rex merasa seluruh tubuhnya sangat sakit terutama di bagian punggung. Ia khawatir benturan tadi telah membuat tulang punggungnya cidera dan berbahaya jika tak lekas diobati.
Kemudian Rex dan Elvira diarahkan menuju mobil patroli polisi yang terparkir di pinggir jalan. Setelahnya seorang polisi mengantar Rex dan Elvira ke Rumah Sakit menggunakan mobil patroli.
\=\=\=\=\=
Ustadz Akbar nampak tergesa-gesa memasuki sebuah klinik. Rupanya ia baru saja mendapat kabar dari Rex tentang keberadaan Elvira.
Saat tiba di teras klinik, seorang polisi nampak berdiri untuk menyambut ustadz Akbar.
" Dengan Ustadz Akbar...?" tanya sang polisi.
" Betul. Ada apa ya Pak...?" tanya ustadz Akbar.
" Betul, dia keponakan Saya. Sekarang Elvira dimana Pak, apa terjadi sesuatu sama dia...?" tanya ustadz Akbar tak sabar.
" Saudari Elvira sedang dirawat di dalam. Maaf kalo lancang, keliatannya beliau sedang depresi. Apa itu benar Ustadz...?" tanya sang polisi hati-hati.
Ustadz Akbar nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang polisi.
" Saya juga berpikir begitu Pak. Belum laama ini Elvira baru aja mengalami kejadian yang di luar nalar. Dia pergi dari rumah tanpa pamit tadi. Karena khawatir dia melakukan sesuatu yang buruk, makanya Saya minta tolong sama Kapten Rex untuk bantu mencari. Ternyata Kapten Rex bilang kalo Elvira ada di klinik ini...," sahut ustadz Akbar.
" Apa Kapten Rex ga bilang apa yang baru saja dilakukan keponakan Ustadz itu...?" tanya sang polisi.
" Ga, memangnya apa yang Elvira lakukan...?" tanya ustadz Akbar.
" Saudari Elvira berniat bunuh diri dengan menabrakkan diri ke bus malam yang sedang melaju Ustadz...," sahut sang polisi hingga mengejutkan ustadz Akbar.
" Subhanallah. Elvira melakukan itu Pak...?" tanya ustadz Akbar tak percaya.
" Iya Ustadz...!" sahut Rex dari ambang pintu kamar tempat pemeriksaan.
Ustadz Akbar menoleh dan terkejut melihat kondisi Rex yang kusut itu.
" Kamu kenapa Mas, apa yang terjadi...?" tahya ustadz Akbar sambil mendekat kearah Rex. Ia mengamati seragam Rex yang kusut dan kotor dengan tatapan bingung.
" Kapten Rex berhasil menyelamatkan Elvira dari tabrakan maut yang bisa saja merenggut nyawanya Ustadz...," sahut sang polisi hingga membuat ustadz Akbar menganga tak percaya.
" Maafkan Elvira Mas...," kata ustadz Akbar dengan nada menyesal.
" Ustadz ga perlu minta maaf, Bu Elvira melakukannya tanpa sengaja dan di luar kesadaran. Kita bicarakan ini nanti setelah Ustadz menjenguk Bu Elvira ya...," sahut Rex bijak.
Ustadz Akbar mengangguk lalu menoleh kearah sang polisi.
" Makasih udah membantu Kami ya Pak...," kata ustadz Akbar sambil menjabat tangan sang polisi.
" Sama-sama Ustadz. Kalo gitu Saya tinggal dulu ya, Saya masih harus balik ke lokasi untuk melanjutkan pekerjaan...," kata sang polisi dengan ramah.
" Silakan Pak...," sahut ustadz Akbar.
Rex pun mengantar sang polisi hingga ke teras klinik. Kemudian ia kembali ke dalam klinik untuk menemui ustadz Akbar dan Elvira.
Saat tiba di ambang pintu kamar Rex mendengar ustadz Akbar sedang bicara serius dengan Elvira. Ia juga melihat gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali seolah tak mengerti apa yang terjadi.
" Masa Kamu ga inget apa pun sih Vir...?" tanya ustadz Akbar.
" Aku bingung Pakde. Aku cuma merasa ada sesuatu yang narik tanganku untuk lari ke tengah jalan raya itu. Aku udah berusaha menolak tapi sesuatu itu terus memaksaku sampe akhirnya...," ucapan Elvira terputus karena ia tak sanggup melanjutkannya.
" Kamu hampir ditabrak sama bus malam itu. Beruntung Mas Rex datang menyelamatkan Kamu. Kalo ga gimana ?. Apa Kamu ga sadar Kamu juga hampir membuat Mas Rex celaka Vir...," kata ustadz Akbar lirih.
" Maaf Pakde...," sahut Elvira sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
" Kita ga bisa bahas ini sekarang karena Pakde ga mau ada orang lain yang tau tentang masalah ini. Mudah-mudahan Kamu ga harus dirawat lagi dan Kita bisa pulang ke rumah...," kata ustadz Akbar sambil menatap Elvira.
" Iya Pakde...," sahut Elvira.
Saat itu tak banyak yang bisa Elvira jelaskan. Ia merasa bingung. Apalagi jantungnya masih berdetak cepat tiap kali ia mengingat dirinya hampir terlindas bus tadi.
Detik itu Elvira sadar jika ia masih berada di bawah pengaruh siluman biawak yang memang menginginkan kematiannya agar bisa memiliki dirinya secara utuh.
\=\=\=\=\=