Kidung Petaka

Kidung Petaka
84. Meluruskan


Gama kembali menghubungi Gusur dan memintanya untuk menceritakan lebih detail tentang hantu berbaju pink yang telah mendatanginya itu. Gusur pun bersedia datang untuk menuntaskan janjinya.


" Kalo bukan Bang Gama yang minta mah rasanya malas Saya datang buat ngurusin hal sepele kaya gini Bang...," kata Gusur sambil duduk di hadapan Rex dan Gama.


" Yang Lo bilang hal sepele itu penting buat Gue Sur. Gue ga mau lah tiap malam diganggu sama penampakan cewek itu. Ga ngomong atau melakukan apa-apa sih, tapi kedatangannya ngagetin aja. Ga enak kan kalo harus kaget karena hantu setiap hari...," sahut Gama hingga membuat Gusur terkejut.


" Sorry Bang, Gue ga nyangka kalo Lo diterror sama hantu itu. Tapi biasanya ga kaya gini. Setelah memperlihatkan diri sekali, hantu itu ga ganggu lagi apalagi sampe ngikutin ke rumah segala...," kata Gusur sambil menggaruk kepalanya.


" Udah gapapa, bukan salah Lo kok. Gue cuma pengen tau ceritanya aja biar ga salah ngambil tindakan...," kata Gama bijak yang diangguki Rex.


" Jadi gini Bang. Cewek itu namanya Nia, nama suaminya Angko. Mereka udah lama nikah tapi belum dikaruniai anak...," kata Gusur mengawali ceritanya.


" Yang bener dong Sur. Kemarin Lo bilang pacar atau tunangan, kok sekarang malah suami...?" protes Rex.


" Maaf Bang, Gue salah ngomong kemarin.Jadi Gue lanjutin nih ya. Pekerjaan Angko buruh di pabrik pemotongan kayu yang pulang seminggu dua kali. Suatu hari Nia didatangi sebuah keluarga yang bilang kalo Angko telah menghamili anak perempuannya. Nia yang ga percaya mengabaikan itu. Tapi keluarga itu terus menerror Nia dan minta Nia meninggalkan suaminya. Akhirnya Nia mendatangi suaminya dan minta penjelasan. Saat itu Angko bersumpah ga punya hubungan dengan wanita lain apalagi sampe menghamilinya...," kata Gusur.


" Suaminya jujur atau bohong...?" sela Gama tak sabar.


" Nah, kalo soal itu Abang simpulin aja sendiri setelah selesai ceritanya...," sahut Gusur.


" Ok, terus gimana...?" tanya Gama.


" Angko nganterin istrinya pulang ke rumah. Tapi dari jauh mereka ngeliat keluarga itu sudah membawa warga untuk menangkap Angko. Karena panik Angko pun mengajak Nia lari. Sayangnya pelarian mereka diketahui warga yang langsung mengejar mereka. Karena khawatir istrinya terluka, Angko meminta Nia menunggu di suatu tempat. Dia janji akan menjemput lagi nanti. Tapi sampe berhari-hari, Angko ga kembali. Bahkan warga menemukan jasad Nia membusuk di bawah pohon tempat dia dan Angko berjanji untuk bertemu...," kata Gusur mengakhiri ceritanya.


" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., " kata Rex dan Gama bersamaan.


" Tapi Gue yakin cerita itu ga sempurna Sur...," kata Rex.


" Kalo soal itu Gue ga tau Bang. Gue kan denger cerita itu dari mulut ke mulut yang bisa aja ditambahin atau dikurangi, iya ga...," sahut Gusur yang diangguki Rex dan Gama.


Setelah menyelesaikan ceritanya Gusur pun pamit karena harus kembali melanjutkan pekerjaannya.


" Kenapa Lo bilang cerita Gusur tadi ga sempurna Rex...?" tanya Gama.


" Karena saat Gusur cerita Gue dikasih liat sesuatu, semacam film yang mengisahkan jalan cerita yang sesungguhnya...," sahut Rex.


" Kalo Lo emang bisa ngeliat masa lalu cewek itu harusnya Gue ga perlu manggil Gusur dong Rex...," kata Gama.


" Gue juga ga tau Gam. Mungkin hantu cewek itu mau ngasih liat cerita yang sesungguhnya yang berbeda dengan cerita yang berkembang di masyarakat selama ini...," sahut Rex asal.


" Masa sih. Emang gimana ceritanya...?" tanya Gama penasaran.


" Nama cewek itu sebenernya Tsania, dia anak ketiga di keluarganya. Punya dua kakak perempuan yang beda ibu. Jadi dia anak tiri di keluarga itu...,"


" Mungkin Nia itu nama panggilannya...," kata Gama.


" Kayanya sih gitu. Tsania ini punya kekasih dan menikah diam-diam karena tak mendapat restu dari ayah dan ibu tirinya. Suami Tsania ini tampan dan pekerja keras. Itu yang bikin kedua kakak tiri Tsania juga menyukainya. Saat mengetahui Tsania telah menikah dengan Angko, kedua kakak tirinya marah lalu menghasut sang ayah untuk menghukum Tsania. Mereka juga memfitnah Angko telah menghamili kakak kedua Tsania dan meminta pertanggung jawabannya...," kata Rex.


" Jadi keluarga yang datang mengklaim kehamilan anaknya itu keluarganya sendiri...?" tanya Gama.


" Betul. Tapi saat itu Ayah Tsania ga ikut karena sedang bertugas di kota lain. Mereka adalah ibu tiri dan kedua kakak tiri Tsania, datang ditemani keluarga ibu tiri Tsania yang semuanya laki-laki...," sahut Rex.


" Saat Angko datang Tsania sedang dipukuli oleh kedua kakak tirinya. Angko marah dan balas memukul mereka termasuk kakak kedua Tsania, yang katanya hamil anak Angko itu, hingga jatuh ke lantai dan pendarahan. Kakak kedua Tsania bahkan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Karena itu keluarga mereka marah. Mereka mengejar Angko dan Tsania dibantu warga sambil mengatakan kalo Angko telah memperk*sa kakak iparnya dan membunuh bayi dalam rahimnya. Karena khawatir warga akan melukai istrinya, maka Angko meminta Tsania menunggu di suatu tempat. Saat itu dia bermaksud mengecoh warga. Sayangnya Angko ga pernah kembali untuk menjemput Tsania hingga Tsania ditemukan meninggal dunia...," kata Rex sambil menundukkan wajahnya.


" Kasian Tsania...," gumam Gama.


" Yang menyakitkan. adalah Tsania diperk*sa oleh saudara laki-laki ibu tirinya itu secara bergantian lalu ditinggalkan begitu saja. Dan salah seorang diantaranya kembali lalu memasukkan sesuatu ke dalam organ int*m Tsania saat dia pingsan...," kata Rex lirih sambil mengepalkan tangannya.


" Keliatannya begitu Gam. Pantesan dia bilang kalo Gue ga tau apa aja yang terjadi selama dia menunggu...," sahut Rex sambil mengusap wajahnya.


" Sebentar Rex, dia bilang gitu sama Lo...?" tanya Gama.


" Iya...," sahut Rex.


" Dia ga mungkin ngomong begitu sama orang yang ga punya hubungan sama dia karena bagaimana pun itu aib, iya kan Rex...?" tanya Gama.


" Iya...," sahut Rex sambil mengerutkan keningnya.


" Jangan-jangan dia ngira Lo suaminya karena wajah Lo mirip sama si Angko...!" tebak Gama hingga mengejutkan Rex.


Rex tersentak kaget lalu menatap Gama. Ia mencoba mengingat detail wajah Angko, suami Tsania yang tadi dilihatnya.


" Lo bener Gam. Wajah dan postur tubuh Gue emang mirip sama Angko, walau ga seratus persen ya...," kata Rex.


" Masuk akal Rex. Secara Angko dan Lo kan sama-sama biasa melakukan olah fisik jadi tubuh Kalian besar dan berotot. Bedanya Angko biasa nebang pohon di hutan, kalo Lo biasa latihan bela diri...," kata Gama.


" Ya Allah, apalagi ini...," gumam Rex.


" Terus Lo juga dikasih liat apa yang terjadi sama si Angko ?. Kenapa dia ga balik untuk menjemput istrinya...?" tanya Gama.


Rex tak menjawab karena di saat bersamaan ia melihat penampakan sosok pria berikat kepala berdiri di luar bengkel. Rex bangkit dari duduknya dan mencoba menghampiri sosok itu. Namun saat langkah kaki Rex mencapai ambang pintu, penampakan itu menghilang.


Melihat Rex melangkah cepat kearah luar bengkel, Gama pun mengejarnya.


" Ada apaan Rex...?" tanya Gama.


" Gue ngeliat penampakan Angko di sana Gam...!" sahut Rex dengan suara tercekat.


" Yang bener Lo, sekarang kemana dia...?!" tanya Gama.


" Ilang...," sahut Rex cepat sambil membalikkan tubuhnya lalu masuk ke dalam bengkel.


" Ilang kemana ?, kok bisa ilang...?" tanya Gama.


" Ya mana Gue tau, namanya juga hantu...," sahut Rex hingga mengejutkan Gama.


" Maksud Lo, si Angko juga udah meninggal Rex...?!" tanya Gama.


" Iya. Mungkin dia datang untuk menjelaskan semuanya dan melengkapi cerita yang terputus itu Gam. Artinya Angko juga mencari Tsania dan mungkin ga tau kalo Tsania udah meninggal dunia Gam...," kata Rex.


" Betul Rex. Dan itu dia lakukan sampe meninggal dunia juga...," sahut Gama.


" Jadi ada benang merah yang terputus di sini...," gumam Rex.


" Lakukan sesuatu untuk membantu mereka Rex. Bisa ga...?" tanya Gama penuh harap.


" Insya Allah bisa...," sahut Rex hingga membuat Gama tersenyum.


Untuk sesaat Rex dan Gama terdiam dalam lamunan masing-masing.


bersambung