Kidung Petaka

Kidung Petaka
229. Kok Tega Banget


Shezi baru saja selesai meracik obat sesuai resep dokter. Obat itu dipesan pembeli di depan sana.


Tanpa ia sadari Dina dan Tia terus mengamati gerak-geriknya. Shezi menyadari dirinya sedang diamati saat kembali ke meja kerjanya setelah meletakkan obat di meja kasir.


" Apaan sih, kok pada ngeliatin Gue kaya gitu...?" tanya Shezi.


" Kita lagi nunggu...," sahut Dina.


" Nunggu apaan...?" tanya Shezi.


" Nunggu Lo jelasin semuanya...," sahut Dina.


" Jelasin apaan...?" tanya Shezi tak mengerti.


" Apa maksud dari omongan Kapten Rex semalam...," sahut Dina cepat.


" Omongan yang mana...?" tanya Shezi bingung.


" Dia kan bilang kalo Lo calon istrinya. Lo jangan pura-pura lupa ya Zi...," kata Dina kesal.


" Emangnya dia bilang kaya gitu ?. Gue kok ga ngeh ya...," sahut Shezi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Sheziii...," panggil Dina sambil mencubit lengan Shezi gemas.


" Iya iya Na. Tapi Suer Gue ga ngerti kenapa Kapten Rex ngomong kaya gitu. Gue aja kaget kok...," kata Shezi sambil meringis.


" Tapi Lo ikut pulang sama dia semalam, masa Lo ga paham juga...?!" kata Dina sambil melotot.


" Gue ga pulang sama dia kok. Gue turun di jalan dan lanjut naik angkot ke rumah...," sahut Shezi cepat.


" Serius Lo Zi. Lo turun dari boncengannya Kapten Rex ?. Lo tau kan kalo cowok sekeren dia itu jadi idaman banyak cewek ?. Kok bisa-bisanya Lo yang diboncengin di belakangnya malah minta turun di tengah jalan...," kata Tia sambil menggelengkan kepala.


" Itu karena Gue takut...," sahut Shezi sambil membuang pandangannya kearah lain.


" Takut apaan...?" tanya Dina dan Tia bersamaan.


" Takut berharap dan takut ngasih harapan. Lagian Kapten Rex ngomong gitu kan buat bohongin Bude Gue. Ternyata berhasil kan. Bude kaget dan lengah, terus Kita bisa cabut dari sana...," sahut Shezi santai.


" Iya juga sih. Gue liat Bude gendut Lo itu kaget sampe nganga mulutnya waktu Kapten Rex bilang Lo calon istrinya...," kata Dina sambil tertawa disambut tawa Shezi.


" Bude juga sampe ga ngeh kalo Kita udah cabut dari sana. Waktu Gue nengok ke belakang, dia lagi nengok ke kanan dan ke kiri kaya orang bingung. Pengen ketawa tapi kasian. Kalo ga ketawa kok mubazir...," sahut Shezi hingga membuat Tia ikut tertawa.


" Bisa aja Lo Zi. Kalo Bude Lo tau Lo lagi ngetawain dia, dia pasti ngamuk deh...," kata Dina hingga membuat Shezi dan Tia kembali tertawa.


Dan tawa ketiganya terhenti saat ada beberapa pengunjung apotik memasuki ruang tunggu.


\=\=\=\=\=


Malam itu Shezi baru saja keluar dari area apotik saat sebuah mobil menghadang laju motornya. Shezi nampak mendengus kesal karena mengenali siapa pemilik mobil yang menghadangnya itu.


Tak lama kemudian seorang wanita bertubuh tambun turun dari mobil lalu melangkah cepat menghampiri Shezi.


" Ada apa lagi Bude...?" tanya Shezi dengan enggan.


Ucapan wanita bertubuh tambun itu mengejutkan Shezi. Ia membelalakkan mata karena tak menyangka bisa mendengar nada suara sang bude yang menghiba itu.


" Kan emang begitu kondisi di penjara Bude. Kalo kondisi penjara kaya hotel bintang lima, pasti banyak orang yang sengaja bikin salah biar bisa masuk ke sana dengan gratis...," sahut Shezi ketus.


" Kamu jangan kelewatan ya Zi. Saya ini ngomong baik-baik sama Kamu kok Kamu malah ngomong kaya gitu. Ga sopan tau...!" kata wanita itu.


" Bude ga usah ngajarin Saya tentang sopan santun. Sebaiknya Bude ajarin dulu anak kesayangan Bude itu tentang sopan santun biar tau gimana harus bersikap sama lawan jenis dan orang yang lebih tua...," sahut Shezi sambil bersiap meninggalkan tempat itu.


" Pelecehan itu terjadi kan karena ulahmu sendiri. Kalo Kamu ngunci pintu kamar dengan baik pasti ga akan ada pelecehan...," kata wanita itu dengan santainya.


" Saya udah kunci pintu Bude, Nato bisa masuk karena pake kunci cadangan. Kalo Bude ngomong kaya gitu, artinya Bude tau kan kalo Nato melecehkan Saya...?" tanya Shezi tak percaya.


" Itu bukan melecehkan, Nato tuh Sayang sama Kamu dan ga mau Kamu dimiliki cowok lain. Masa gitu aja dibilang pelecehan...," sahut wanita itu sambil tersenyum sinis.


" Apa dengan menarik baju Saya sampe nyaris telan*ang dan menind*h Saya di tempat tidur itu bukan pelecehan Bude. Dimana hati nurani Bude saat denger jeritan Saya ?. Kenapa Bude pura-pura ga tau dan membiarkan Nato melakukan itu...?!" tanya Shezi dengan mata berkaca-kaca.


" Saat itu Bude bingung Zi. Nato ngancam mau bunuh diri kalo Bude ga ijinin dia nyentuh Kamu...," sahut wanita itu lirih.


" Ya Allah, apa salah Saya sama Bude sampe Bude tega kaya gitu...," kata Shezi sambil menggelengkan kepalanya.


Untuk sejenak Shezi dan sang bude terdiam. Namun wanita bertubuh tambun kembali mengucapkan sesuatu yang membuat Shezi meradang.


" Saya bakal bayar mahal asal Kamu mau mencabut laporan itu Zi...!" kata wanita itu tiba-tiba.


" Terlambat Bude. Kalo Bude mau bayar, itu pasti berasal dari uang Saya yang Bude ambil paksa dulu kan. Sekarang Saya udah ga butuh uang itu lagi karena Saya udah kerja dan punya gaji. Uang itu buat Bude aja, anggap aja uang kompensasi supaya Bude ga ganggu Saya lagi...," sahut Shezi sambil tersenyum sinis.


" Kurang ajar !. Saya bisa putar balik keadaan supaya Kamu yang dipenjara. Saya bakal lapor Polisi dan bilang Kamu udah mencuri di rumah Saya...," ancam wanita itu.


" Ada buktinya ga Bude ?, ga ada kan ?. Jadi Saya ga takut. Silakan Bude laporin Saya ke Polisi dan pembicaraan Kita malam ini akan sampe lebih cepat ke tangan Polisi. Bude tau ga kalo isi pembicaraan Kita ini bisa memperberat hukuman Nato...," kata Shezi sambil menatap sang bude dengan tatapan intens.


" Apa maksud Kamu Zi...?" tanya sang bude panik.


" Pikir aja sendiri...," sahut Shezi sambil melengos.


" Kamu ga nyuruh orang untuk mata-matain Kita kan Zii ?. Atau justru Kamu merekam semua pembicaraan Kita tadi...?!" tanya wanita bertubuh tambun itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan tak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan mereka.


Bukannya menjawab, Shezi justru mendekatkan roda motornya kearah wanita itu hingga membuat wanita itu terkejut dan refleks menepi.


" Permisi Bude, Saya mau pulang. Badan Bude yang gede itu udah menghalangi motor Saya...," kata Shezi cuek sambil terus mengejar wanita itu dengan roda depan motornya.


" Berhenti Shezi !. Kamu mau membunuh Saya ya...?!" kata wanita itu marah.


" Makanya minggir. Kalo ga minggir jangan salahin saya kalo beneran nabrak Bude nih...!" sahut Shezi.


Wanita itu pun menggeser tubuhnya dan membiarkan Shezi pergi dengan motornya. Ia nampak menghentakkan kakinya saat menyadari Shezi kembali meninggalkannya seorang diri saat dia masih ingin bicara banyak hal.


Di atas motornya Shezi nampak mengusap wajahnya berkali-kali. Rupanya gadis itu menangis. Ia tak menyangka jika sang bude tega membiarkan dirinya dilecehkan oleh Nato hanya karena menyayangi anak laki-lakinya itu.


\=\=\=\=\=