
Setelah penangkapan Kusmanto cs, polisi pun mengurus jenasah Herdin yang selama masa penyelidikan disimpan di kamar jenasah Rumah Sakit Polri di Jakarta.
Kemudian polisi mengantar jasad Herdin kembali ke kampung halamannya.
Sebelumnya polisi bekerja sama dengan aparat desa untuk membantu menyampaikan berita duka tersebut kepada keluarga korban.
" Tujuan kedatangan Kami adalah untuk menyampaikan berita duka. Ini juga Kami ketahui dari pihak kepolisian Bu...," kata sang aparat desa.
" Berita duka apa Pak...?" tanya ibu Herdin mulai cemas.
Satu-satunya berita yang ia tunggu adalah tentang Herdin, anak bungsunya yang pergi dan tak memberi kabar setelah dua bulan kepergiannya.
" Anak Ibu yang bernama Herdin ditemukan meninggal dunia. Dan sekarang jasadnya sedang dalam perjalanan menuju ke sini..., " sahut sang aparat desa dengan suara tercekat karena iba melihat reaksi wanita itu.
Ibu Herdin tampak shock mendengar berita kematian anak bungsunya itu. Wanita itu pun menjerit histeris dan menangis hingga membuat warga berdatangan ke rumah itu. Kedua kakak perempuan Herdin yang tinggal tak jauh dari rumah mereka pun datang untuk melihat kondisi sang ibu.
Aparat desa mengatakan penyebab wanita itu menangis adalah berita kematian anak bungsunya. Mendengar hal itu warga terkejut. Sebagian berusaha menenangkan ibu Herdin, sebagian lagi bergegas membantu mendirikan tenda dan mengatur tempat untuk meletakkan jasad Herdin.
Tak lama kemudian terdengar suara sirine Ambulans mendekati rumah mereka. Ibu Herdin pun bergegas keluar rumah untuk menyambut kedatangan jenasah anaknya.
" Kamu menepati janjimu Nak. Sekarang Kamu pulang diantar mobil dan disambut banyak orang. Meski pun hanya mobil Ambulans, tapi Ibu senang karena Kamu kembali ke pelukan Ibu...," kata ibu Herdin sambil menangis.
Ucapan ibu Herdin membuat semua warga terharu. Mereka menatap iba kearah wanita itu. Kemudian mereka menepi saat peti berisi jenasah Herdin dimasukkan ke dalam rumah.
Ibu Herdin kembali menangis. Ia tak menyangka jika anaknya harus dimakamkan menggunakan peti. Benaknya dipenuhi pertanyaan hingga petugas Rumah Sakit membuka peti itu.
" Apa Anak Saya berpindah keyakinan sampe harus dimakamkan dengan peti Pak...?" tanya ibu Herdin pada aparat desa.
" Saya juga ga tau soal itu. Kita tunggu Pak Polisi menjelaskan semuanya ya Bu...," sahut sang aparat desa.
Saat peti dibuka terlihat jasad Herdin yang sangat mengenaskan. Ibu Herdin terkejut dan hampir pingsan saat mengetahui kondisi anaknya. Bagaimana tidak. Kedua bola mata Herdin raib dan tubuh Herdin di bagian depan melesak ke dalam seperti telah kehilangan sesuatu. Terlihat jahitan memanjang dari atas dada hingga ke bawah pusar.
" Apa yang terjadi sama anak Saya Pak. Ke... kenapa jasadnya kaya gini...?" tanya ibu Herdin dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
" Herdin ditemukan meninggal dunia di dasar danau buatan di salah satu perumahan yang sedang dibangun di Jakarta. Saat ditemukan kondisi Herdin memang sudah seperti ini Bu...," sahut seorang polisi.
" Tapi kenapa Pak...?!" tanya ibu Herdin tak sabar.
" Setelah Kami selidiki ternyata Herdin menjadi korban human traficking Bu. Dia kehilangan mata dan seluruh organ penting dalam tubuhnya. Tapi Ibu tenang saja, pelakunya sudah tertangkap dan akan menerima hukuman berat nanti...," sahut polisi.
" Pelakunya siapa Pak ?, apa Saya mengenalnya...?" tanya ibu Herdin dengan suara bergetar.
" Saya yakin Ibu dan warga desa ini mengenalnya. Namanya Kusmanto, dia mengaku sebagai teman Herdin. Dia yang telah menjual mata dan organ penting di tubuh Herdin tadi kepada orang yang membutuhkan dengan imbalan uang yang sangat banyak...," sahut polisi hingga mengejutkan semua orang.
Ibu Herdin kembali menjerit histeris usai polisi menceritakan kejahatan Kusmanto. Ia kembali meratap di depan jasad anaknya hingga membuat suasana kian menyedihkan.
" Dengar kan Nak, Kusmanto itu orang jahat. Kamu ga percaya sama Ibu waktu Ibu bilang Kusmanto itu jahat. Sekarang Kamu jadi korban kejahatannya dan pulang jadi mayat...!" jerit ibu Herdin sambil menatap jasad Herdin.
Kakak perempuan Herdin maju memeluk sang ibu dan berusaha menenangkannya. Ibu Herdin makin keras menangis saat mendengar kalimat lanjutan dari sang polisi.
" Setelah tertangkap Kusmanto mengakui jika telah melakukan hal yang sama kepada delapan orang temannya. Enam diantaranya juga berasal dari desa ini...," kata polisi.
Ucapan polisi menggemparkan warga. Mereka tak percaya jika para pemuda yang mereka ketahui ikut Kusmanto ke Jakarta kini telah meninggal dunia.
" Siapa nama Anak Ibu...?" tanya sang polisi.
" Surya Pak...," sahut wanita itu dengan suara bergetar.
" Sepertinya nama itu ada dalam data korban kejahatan Kusmanto...," sahut polisi.
" Adik Saya juga pergi sama Kusmanto Pak. Namanya Bowo. Apa dia juga jadi korban dan meninggal kaya Herdin ?. Kalo memang iya, dimana jasadnya Pak...?" tanya warga lainnya.
Dalam sekejap rumah Herdin menjadi gaduh. Warga bergantian menyebut nama seseorang dengan ekspresi cemas hingga membuat petugas Rumah Sakit dan polisi kebingungan. Aparat desa pun berusaha menenangkan warga.
" Tenang Pak, tenang Bu. Tolong jangan gaduh di sini. Kasian kan Ibu Herdin. Beliau sedang berduka karena kehilangan anaknya...," kata aparat desa.
" Tapi Kami juga penasaran sama nasib anak dan keluarga Kami Pak...!" sahut warga dengan lantang.
" Kami mengerti. Sekarang Kita urus pemakaman Herdin dulu ya, setelah itu baru Kita bicara. Ga enak kan ngobrol di depan jenasah. Kasian Herdin dan ibunya...," kata sang aparat desa dengan sabar.
" Betul. Saya akan umumkan nama para korban setelah pemakaman Herdin nanti. Saya juga akan berkoordinasi dengan aparat desa supaya keluarga korban bisa datang dan memberi kesaksian di persidangan nanti...," kata polisi.
Warga saling menatap sejenak kemudian mengangguk setuju. Kemudian mereka menyiapkan pemakaman Herdin.
Jenasah Herdin dibawa ke masjid untuk disolatkan. Karena saat dibawa ke masjid menggunakan Ambulans dan dikawal banyak polisi menyebabkan proses pemakaman Herdin menarik perhatian warga di desa lainnya. Mereka datang ke pemakaman desa karena penasaran dengan jenasah yang akan dikuburkan di sana. Lagi-lagi hal itu membuat ibu Herdin menangis karena teringat akan ucapan Herdin yang mengatakan jika namanya akan terkenal hingga ke desa tetangga.
Usai memakamkan jasad Herdin, polisi pun menepati janjinya. Polisi mengumumkan nama delapan orang korban kejahatan Kusmanto di balai desa. Warga kembali gempar dan suasana tak terkendali. Jerit histeris terdengar menggema di balai desa. Bahkan beberapa ibu nampak jatuh pingsan karena shock mendengar nama keluarga mereka masuk dalam daftar kejahatan Kusmanto.
" Hukuman apa yang layak untuk penjahat seperti Kusmanto Pak Polisi...?!" tanya salah seorang warga yang anaknya ikut menjadi korban kejahatan Kusmanto.
" Penjara seumur hidup atau hukuman mati Pak...," sahut polisi.
Jawaban sang polisi membuat keluarga korban kembali menjerit. Mereka marah dan berharap bisa memberi pelajaran langsung pada Kusmanto.
\=\=\=\=\=
Rex sedang mengawasi kegiatan para relawan setelah usai membujuk seorang anak yang menangis karena disuntik.
Tiba-tiba Rex melihat sosok Herdin melintas di belakang bangunan. Rex pun mengejar sosok itu karena ingin tahu apa yang ingin disampaikan makhluk tak kasat mata itu.
Rex ikut berhenti saat melihat arwah Herdin berhenti melangkah.
" Aku cuma mau bilang terima kasih karena Kamu telah membantu mengungkap penyebab kematianku. Kusmanto dan komplotannya sudah ditangkap Polisi dan terancam hukuman mati...," kata arwah Herdin.
" Sama-sama, Aku senang bisa membantu. Tapi kalo boleh tau, kenapa Kamu nekad pergi tanpa ijin dari Ibumu. Apa Kamu ga kasian melihat Ibumu menangis karena menyesali kepergianmu...?" tanya Rex hati-hati.
" Aku harus pergi karena itu satu-satunya jalan keluar. Dua Kakak perempuanku tak lagi peduli sama Ibu sejak mereka menikah. Niatku hanya satu, membuat Ibuku bahagia. Aku ingin punya uang banyak supaya Ibuku ga perlu kerja lagi di ladang tetangga untuk mencukupi kebutuhan Kami. Aku juga ingin membuat rumah yang bagus untuk Ibu supaya kedua Kakakku ga malu saat mengajak Suami dan anak-anak mereka datang berkunjung ke rumah. Sekarang Aku menyesal karena mengabaikan ucapan Ibu...," kata arwah Herdin sedih.
" Semoga setelah kejadian ini kedua Kakakmu sadar dan mau menyayangi Ibumu...," kata Rex prihatin.
" Kamu benar. Sekarang mereka lebih menyayangi Ibuku. Bahkan Ibu tinggal di rumah Kakak keduaku. Itu artinya Ibuku ga bakal sendirian lagi. Ada anak, menantu dan cucu yang bakal nemenin Ibu dan bikin Ibu tersenyum tiap hari. Aku senang karena pengorbanan ku tak sia-sia. Kehilangan nyawa asal Ibuku bahagia itu sangat layak untukku...," sahut arwah Herdin sambil tersenyum.
Rex ikut tersenyum lalu terbangun dari tidurnya. Rupanya saat itu Rex tengah duduk di atas kursi di pinggir lapangan usai bermain bola bersama rekan-rekannya.
bersambung