
Saat dokter Aksara tiba di ambang pintu, semua orang yang ada di ruang tamu menoleh kearahnya.
" Assalamualaikum..., " sapa dokter Aksara dengan santun.
" Wa alaikumsalam...," sahut semua orang bersamaan.
" Nah ini dia yang ditunggu akhirnya pulang juga. Sini Sara, ngapain malah bengong di situ sih...," kata mama dokter Aksara yang bernama Itje itu.
" Iya Ma...," sahut dokter Aksara ragu sambil tersenyum ke semua orang.
" Itu ada Pak Melvin kok ga Kamu sapa sih Sar...," tegur papa dokter Aksara sambil melirik kearah Melvin.
Aksara terkejut lalu menoleh kearah Melvin yang merupakan pemilik Rumah Sakit dimana dia bekerja.
" Pak Melvin di sini juga. Kok bisa tau rumah Saya Pak...?" tanya dokter Aksara sambil menjabat tangan sang atasan.
" Pertanyaan macam apa itu Sara. Orang mau bertamu kok pake ditanya kaya gitu...," tegur Itje ketus.
" Iya, ga sopan tau...," sela Azam sambil menatap dokter Aksara lekat.
Menyadari kesalahannya dokter Aksara pun nampak tersipu malu.
" Maaf Pak Melvin...," kata dokter Aksara.
" Gapapa dokter Aksara, santai aja. Saya memang sengaja berkunjung ke rumah para dokter yang bekerja di Rumah Sakit milik Saya untuk mengeratkan silaturrahim diantara Kita...," sahut Melvin sambil tersenyum.
" Dengan keluarga besar Bapak juga...?" tanya dokter Aksara.
" Oh kalo ini kebetulan Kami memang baru ada acara keluarga tadi. Sebenernya Saya mau nganterin mereka ke hotel untuk menginap karena Saya ga mau merepotkan asisten rumah tangga Saya di rumah. Karena jalurnya searah, jadi Kami mampir ke sini. Gapapa kan dok...?" tanya Melvin.
" Oh gapapa Pak...," sahut dokter Aksara cepat.
Kemudian Melvin mengenalkan dokter Aksara pada keluarganya. Semua menyambut dokter Aksara dengan antusias hingga membuat sang dokter curiga.
Perbincangan hangat pun kembali berlanjut. Hingga saat jam menunjukkan pukul setengah dua belas malam, Melvin pun pamit.
Azam dan Itje pun mengantar tamunya keluar diikuti dokter Aksara.
" Terima kasih atas jamuannya Pak Azam. Maaf kalo bikin kaget dan merepotkan tadi...," kata Melvin dengan tulus.
" Gapapa Pak Melvin, Kami ga merasa direpotkan kok. Iya kan Ma...?" tanya Azam sambil menoleh kearah sang istri.
" Iya Pa...," sahut Itje cepat hingga membuat Melvin tersenyum lebar.
" Kalo gitu Saya pamit. Assalamualaikum, selamat malam...," kata Melvin sambil menutup pintu mobil.
" Wa alaikumsalam, hati-hati Pak Melvin...," sahut Azam sambil melambaikan tangannya.
Melvin dan keluarganya membalas lambaian tangan Azam sambil tersenyum.
Setelah Melvin dan keluarganya menjauh, Itje pun menoleh kearah dokter Aksara.
" Kok Kamu baru pulang sih, mobilmu mana...?" tanya Itje sambil mengedarkan pandangannya ke semua penjuru.
" Mogok Ma...," sahut dokter Aksara cepat. Ia terpaksa berbohong karena tak ingin memperpanjang masalah.
" Terus Kamu naik apa pas pulang tadi...?" tanya Itje.
" Diantar teman Ma...," sahut dokter Aksara.
" Cowok...?!" tanya Itje dengan nada tinggi.
Dokter Aksara bersiap membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang mama tapi urung karena Azam memotong cepat.
" Sssttt..., udah Ma. Ga usah ngebahas hal itu sekarang bisa ga sih. Udah malam nih, ga enak kalo didenger tetangga...," kata Azam sambil menarik dokter Aksara masuk ke dalam rumah.
" Papa nih kebiasaan deh. Tiap kali Mama mau ngomong sesuatu sama Sara pasti langsung dicegat...," gerutu Itje sambil cemberut.
Azam menulikan telinga. Ia meminta dokter Aksara masuk ke dalam kamar karena yakin jika omelan sang istri bakal panjang nanti.
" Mana dia...?!" tanya Itje setelah menutup pintu rumah.
" Ke kamar...," sahut Azam cepat.
" Kok Papa biarin sih. Mama tuh masih mau ngomong sama Sara...!" kata Itje lantang.
Itje pun terdiam karena melihat wajah sang suami yang mulai menegang. Tak ingin 'didamprat' suaminya, Itje pun bergegas masuk ke kamar untuk beristirahat.
Sementara itu dokter Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Nampaknya gadis itu hanya membasuh wajahnya karena terlalu larut untuk mandi. Setelah berganti pakaian, dokter Aksara pun naik ke atas tempat tidur.
Rupanya dokter Aksara kembali mengingat kebersamaannya dengan Rex tadi. Tak butuh waktu lama kedua mata gadis itu pun terpejam. Dokter Aksara tertidur dengan bibir yang menyungging senyum manis.
\=\=\=\=\=
Saat sedang bersiap di kamarnya, dokter Aksara mendengar suara asisten rumah tangga sang mama memanggilnya.
" Mbak Sara, ada tentara bertamu. Katanya temennya Mbak Sara ya...," kata sang asisten rumah tangga.
" Iya Bi, tolong suruh masuk ya. Kalo udah sekalian buatin kopi buat dia...," pinta dokter Aksara dengan wajah berbinar.
" Baik Mbak...," sahut sang asisten rumah tangga laku bergegas pergi ke dapur.
Itje yang baru keluar dari kamar pun nampak melirik kemar sang anak. Melihat wajah dokter Aksara yang sumringah itu Itje tahu jika tamu yang dimaksud adalah orang istimewa.
" Siapa sih yang pagi-pagi kaya gini bertamu. Ga tau ya kalo orang lagi repot...," kata Itje ketus.
" Itu temen Aku Ma. Dia datang karena mau jemput Aku dan nganterin Aku ke Rumah Sakit...," sahut dokter Aksara.
" Oh, temen yang semalam juga kan...?" tanya Itje.
" Iya Ma...," sahut dokter Aksara cepat.
" Kalo gitu ajak sarapan sekalian Sar...," kata Azam sambil melangkah ke ruang makan.
" Iya Pa...," sahut dokter Aksara sambil tersenyum.
Lalu dokter Aksara bergegas menemui Rex di ruang tamu. Senyum keduanya mengembang sempurna saat tatapan mereka bertemu.
" Udah siap...?" tanya Rex.
" Udah, tapi Papa minta Kamu ikut sarapan. Mau ga...?" tanya dokter Aksara hati-hati.
" Sebenernya Aku udah sarapan di rumah tadi. Tapi karena ini pertemuan dan tawaran perdana, kayanya Aku ga bisa nolak dan emang ga pengen nolak...," sahut Rex hingga membuat sang kekasih tersenyum.
" Kalo gitu Kita ke ruang makan yuk...," ajak dokter Aksara yang diangguki Rex.
Saat melihat dokter Aksara masuk ke ruang makan bersama seorang pria gagah berpakaian tentara, Azam dan Itje pun tersenyum hangat.
" Assalamualaikum Om, Tante. Kenalkan Saya Rex, teman dekat Aksara...," sapa Rex dengan santun sambil mencium punggung tangan Azam dan Itje bergantian.
" Wa alaikumsalam..., mari silakan duduk...," kata Azam dengan ramah.
" Makasih Om...," sahut Rex.
Setelah menarik kursi untuk dokter Aksara, kemudian Rex menarik kursi untuk dirinya sendiri. Sikap Rex membuat Azam dan Itje saling menatap sejenak lalu tersenyum simpul.
" Jadi Kalian berangkat sama-sama pagi ini...?" tanya Azam membuka percakapan.
" Betul Om. Saya yang meminta Aksara meninggalkan mobilnya di parkiran Rumah Sakit karena pagi ini Saya janji untuk mengantarnya pergi bekerja..., " sahut Rex.
" Memangnya ga merepotkan...? " tanya Azam.
" Insya Allah ga Om. Kan Aksara orang yang istimewa buat Saya...," sahut Rex sambil melirik kearah sang kekasih.
" Istimewa gimana sih maksudnya, Kalian pacaran ya...?" tanya Itje tak sabar.
" Iya Tante...," sahut Rex cepat hingga membuat Itje dan Azam terkejut.
Di kursinya dokter Aksara nampak gelisah. Diam-diam ia mengepalkan kedua telapak tangannya di bawah meja. Rupanya dokter Aksara khawatir dengan reaksi kedua orangtuanya saat tahu ia tengah menjalin hubungan dengan Rex.
" Sejak kapan ?, kok Sara ga pernah cerita apa-apa..., " kata Itje tiba-tiba.
" Aksara belum sempat cerita karena Kami memang baru jadian semalam Tante...," sahut Rex sambil menatap dokter Aksara dengan tatapan lembut.
Entah mengapa suasana yang semula terasa menegangkan itu perlahan mencair setelah pengakuan Rex.
\=\=\=\=\=