
Sejak Martin dimakamkan ulang sesuai permintaannya, Lilian tak lagi mengalami mimpi buruk. Rex pun tak melihat penampakan pocong lusuh itu lagi. Kini kakak beradik itu bisa kembali menjalani rutinitas mereka seperti biasa.
Hari Minggu pagi terlihat kesibukan di rumah Ramon. Rupanya ia dan keluarganya sedang bersiap untuk pergi mengunjungi kerabat mereka di daerah Karawang. Awalnya Rex menolak ikut karena merasa tak mengenal kerabatnya itu. Namun akhirnya Rex setuju untuk ikut karena menuruti saran sang kakak yang mengatakan jika mereka perlu sedikit refreshing.
Perjalanan Jakarta Karawang terasa menyenangkan untuk keluarga Ramon.
Ramon, Rex dan Lilian bergantian menyetir karena kepergian mereka yang tak terlalu tergesa-gesa hingga bisa sedikit santai dalam berkendara.
" Sebenernya apa sih yang terkenal di kota Karawang ini Yah...?" tanya Lilian sambil menatap jalan raya di depannya.
" Seingat Ayah sih Karawang termasuk kota yang pernah disinggahi Bung Karno dan Bung Hatta sebelum mereka memproklamirkan kemerdekaan. Selain itu Karawang juga kota penghasil pangan terbesar di Indonesia lho Kak..., " sahut Ramon sambil bersandar di sandaran kursi di samping sang istri.
" Cuma itu Yah...?" tanya Lilian.
" Selain itu Karawang juga terkenal dengan wisata kulinernya Kak...," sahut Rex sambil memejamkan matanya.
" Juga jadi judul salah satu puisi terkenal karya Chairil Anwar lho Anak-anak..., " kata Lanni mengingatkan hingga membuat Rex dan Lilian menoleh dan tersenyum.
" Iya Bu...," sahut Lilian dan Rex bersamaan.
" Kita sampe Yah...," kata Lilian sambil memarkirkan mobil di samping mobil lainnya di lapangan yang disediakan khusus untuk tempat parkir.
" Kita turun sekarang yuk...," ajak Ramon yang diangguki istri dan kedua anaknya.
Kemudian Ramon membawa keluarga kecilnya masuk ke rumah yang sedang menggelar hajatan itu. Mereka disambut dengan antusias. Setelah bersalaman dengan pengantin dan kedua orangtua mereka, Ramon dan keluarganya dipersilakan mencicipi hidangan yang disajikan di meja.
Saat sedang makan Ramon dihampiri dua orang pria yang ternyata adalah teman Ramon dan anaknya.
" Kau terlihat berbeda Ramon...," kata Wardi.
" Biasa aja. Gimana kabarmu dan teman-teman...?" tanya Ramon.
" Alhamdulillah Kami baik. Oh iya, kenalin ini anakku. Dia pengusaha kuliner dan punya beberapa restoran di kota ini. Perlu Kau tau jika makanan di acara ini semua berasal dari restoran milik Anakku ini...," kata Wardi dengan bangga.
Ramon tersenyum lalu memperkenalkan keluarga kecilnya kepada Wardi.
" Ini Anakmu...?" tanya Wardi sambil menatap kagum kearah Lilian.
" Iya. Dia cuma bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit kecil di Jakarta...," sahut Ramon merendah.
" Ga masalah. Saat dia jadi menantuku nanti Kami pastikan dia akan berubah menjadi tuan putri...," kata Wardi diangguki putranya yang terus menatap Lilian dengan tatapan memuja.
Menyadari jika Wardi dan anaknya tertarik pada Lilian, Lanni pun mulai cemas. Ia menatap Ramon yang tampak tersenyum mendengar 'tawaran' Wardi itu.
" Tapi sayangnya Anakku ini sudah punya calon Suami dan akan menikah sebentar lagi. Insya Allah Kami akan mengundang Kalian untuk hadir di pernikahannya nanti...," kata Ramon sambil tetap tersenyum.
Ucapan Ramon mengejutkan Wardi dan anaknya. Mereka tak menyangka langsung mendapat 'penolakan' dari Ramon. Padahal di kota itu banyak keluarga yang berharap bisa berbesan dengan keluarganya.
Karena merasa tak dianggap, Wardi pun bergeser ke tempat lain untuk kembali menyombongkan kehebatan anaknya.
" Oh, rupanya ada kenalanku di sana Ramon. Aku pergi menyapa mereka dulu ya. Silakan lanjutkan makan siang Kalian...," kata Wardi sambil menarik tangan sang anak yang masih terus menatap Lilian itu.
" Silakan...," sahut Ramon.
Setelah Wardi dan anaknya menjauh, Lilian dan kedua anaknya nampak bernafas lega.
" Ga nyangka Lilian Kita sangat mempesona ya Yah, sampe bikin orang paling kaya di Karawang tertarik menjadikannya menantu..., " sindir Lanni hingga membuat Ramon tertawa.
" Tapi Ayah kan udah menolak tawarannya untuk berbesan Bu...," kata Rex menengahi.
" Iya, tapi Ayah terlalu lama membiarkan dia bicara sombong tadi. Ibu sampe mual dengernya...," kata Lanni ketus hingga membuat suami dan kedua anaknya tertawa.
" Aku ga mungkin mematahkan semangat orang yang lagi pamer kan Bu. Toh akhirnya Aku menolak lamarannya tadi...," sahut Ramon sambil merengkuh bahu istrinya itu lalu mengecup keningnya cepat.
Lanni pun tersenyum lalu mengangguk. Ia memang tak bisa membayangkan harus berbesan dengan Wardi yang sombong itu.
\=\=\=\=\=
Kali ini giliran Rex yang menyetir dan Lilian duduk di sampingnya. Ramon mengajak keluarganya berwisata ke curug Cigentis yang merupakan tempat wisata terkenal di Karawang.
Lilian dan Rex saling melirik dalam diam. Jika Rex tahu persis siapa yang dimaksud sang ayah, Lilian justru nampak gusar.
" Ayah...," panggil Lanni karena tak mendapat respon dari suaminya.
" Itu harapan Ayah Bu. Bukankah ucapan adalah doa ?. Lagian Ayah harus jawab apalagi selain bilang begitu tadi. Kalo ga si Wardi itu bakal terus nyerocos ga karuan. Iya kan...?" kata Ramon santai.
" Oh gitu. Kirain cuma Ibu yang ga tau apa-apa di sini. Kalian ga lagi menyembunyikan sesuatu dari Ibu kan...?!" tanya Lanni tiba-tiba sambil menatap suami dan kedua anaknya bergantian.
" Ga Bu...," sahut Ramon, Lilian dan Rex bersamaan hingga membuat Lanni tersenyum.
" Bagus. Awas ya kalo sampe Kalian berani menyembunyikan sesuatu yang penting. Ga boleh ada rahasia, apalagi tentang pasangan Kalian nanti. Dengar itu Lian, Rex...!" kata Lanni sambil menatap galak kearah dua anaknya itu.
" Iya Bu...," sahut Lilian dan Rex sambil menahan tawa.
" Udah dong ngomelnya. Udah sampe nih, ga seru kan kalo jalan-jalan tapi diomelin terus...," kata Ramon menengahi.
" Iya iya. Ayo Kita turun. Tempatnya bagus ya Yah...," sahut Lanni sambil menatap kagum kearah air terjun di curug Cigentis yang terlihat di kejauhan.
" Iya dong. Udah lebih rapi jadi nyaman untuk pengunjung...," sahut Ramon sambil menggandeng tangan Lanni lalu mengajaknya berjalan menuju air terjun.
Rex dan Lilian mengikuti kedua orangtua mereka dari belakang.
" Apa Kakak belum cerita soal Gama sama Ibu...?" tanya Rex.
" Untuk apa...?" tanya Lilian.
" Memangnya Kakak ga tertarik sama Gama ?. Dia baik, dewasa dan bertanggung jawab. Apalagi yang Kakak cari...?" tanya Rex gemas.
" Kakak tau Rex, tapi Kakak masih ragu sama Gama...," sahut Lilian sambil membuang pandangannya kearah lain.
" Aku paham. Kakak berhak nolak kalo ga suka sama Gama. Jangan merasa ga enak segala ya, karena kebahagiaan Kakak adalah yang terpenting. Menjalani hubungan pernikahan itu sulit dan perlu pondasi yang kuat untuk membangunnya. Jadi apa pun keputusan Kakak, Kami akan selalu mendukung...," kata Rex sungguh-sungguh hingga membuat Lilian terharu.
" Makasih Rex...," kata Lilian dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama Kakakku Sayang...," sahut Rex sanbil memeluk Lilian erat.
Kemudian Rex dan Lilian mendekati orangtua mereka yang telah berada dekat air terjun dan siap berfoto.
Setelah puas menikmati keindahan alam di curug Cigentis, Ramon dan keluarganya pun keluar dari kawasan curug Cigentis saat matahari hampir terbenam. Mereka memutuskan pulang ke Jakarta sore itu juga.
Saat sedang mengemudi tiba-tiba Rex mendengar suara senandung di kejauhan. Rex refleks menambah kecepatan hingga mengejutkan keluarganya. Kemudian tiba-tiba Rex menepikan mobilnya lalu menoleh ke belakang hingga membuat keluarganya bingung.
" Ada apa Nak...?" tanya Ramon.
Rex tak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia menatap kearah tebing yang tadi mereka lewati. Jarak mereka dengan tebing itu sekitar satu kilo meter. Ramon, Lanni dan Lilian ikut menatap kearah tebing dan terkejut saat melihat tebing itu bergerak lalu longsor ke bawah.
Terdengar jeritan histeris di sekitar mereka. Lanni dan Lilian pun menjerit karena tak kuasa melihat dua mobil yang melintas di bawah tebing itu tertimbun longsoran tebing.
" Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun..., " gumam Ramon sambil menatap nanar kearah longsoran tebing.
" Kita ke sana Rex...!" pinta Lilian.
" Ga usah Kak. Udah banyak orang yang akan membantu nanti. Kita pulang aja sekarang. Ingat, selama mobil ini melaju jangan ada yang nengok ke belakang ya...!" kata Rex sambil mulai melajukan mobil perlahan meninggalkan tempat itu.
Ramon, Lanni dan Lilian saling menatap bingung namun mereka terpaksa menuruti permintaan Rex.
" Gapapa, Kita turuti Rex kali ini. Tetap tenang dan jangan lupa berdzikir...," kata Ramon yang diangguki Lanni dan Lilian.
Di kursi kemudi Rex nampak terus menatap ke depan sambil berdzikir dalam hati. Namun saat matanya melirik kearah spion, tak sengaja ia melihat wanita misterius yang pernah dilihatnya dulu tengah berdiri di tengah jalan tak jauh dari lokasi tebing longsor. Wanita itu tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya.
" Terima kasih...," gumam Rex sambil menatap wanita itu.
Seolah mendengar ucapan Rex, wanita misterius itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lalu menghilang entah kemana.
Rex menghela nafas panjang sambil mengucap hamdalah dalam hati. Satu sisi ia bersyukur karena ia dan keluarganya lolos dari bencana, namun sisi hati lainnya merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah bencana itu terjadi.
bersambung