Kidung Petaka

Kidung Petaka
70. Kios Baso


Kasus ledakan dan kebakaran di kios mie ayam langganan Lilian memang akhirnya melibatkan Rex dan Gama dalam upaya penyelidikannya.


Awalnya Rex dan Gama memang sengaja mendatangi lokasi kios yang telah dipasangi Police line itu. Mereka ingin melihat dari dekat situasi sekitar kios saat ini.


" Sekarang dagangan para pedagang laris manis ya Gam. Beda banget kaya hari biasa sebelum ledakan itu terjadi...," kata Rex.


" Iya lah. Rata-rata yang datang kan emang penasaran sama apa yang terjadi sama kios mie ayam itu. Apalagi beritanya juga menyebar dengan cepat. Lo liat kan. Orang-orang itu rela antri cuma karena ingin bisa dapat spot yang bagus buat berfoto...," kata Gama sambil menunjuk antrian di depan kios yang letaknya paling dekat dengan kios mie ayam yang telah hancur itu.


Rex pun mengikuti arah yang ditunjuk Gama dan mengangguk mengiyakan. Dari tempatjya berdiri Rex bisa melihat aktifitas kios yang menjual baso beranak itu lumayan sibuk. Terlalu sibuk hingga membuat para karyawannya tak sempat bicara satu sama lain.


" Kayanya Gue mau coba baso di sana Gam. Mungkin Kita bisa dapat info penting. Gimana, Lo mau nyoba ga...?" tanya Rex.


" Sebenernya Gue males banget ke sana. Ngeliat tempatnya aja udah eneg. Tapi yang Lo bilang bener juga sih. Ok lah Kita ke sana...," sahut Gama sambil berjalan mendahului sahabatnya itu.


" Ck, pake panjang kata. Bilang aja iya, kan selesai...," gerutu Rex hingga membuat Gama tertawa.


Kemudian Rex dan Gama ikut berbaris dalam antrian yang lumayan mengular itu. Sambil mengantri, Rex dan Gama juga mengamati sekelilingnya dengan seksama.


" Sebenernya ngapain juga Kita capek-capek nyelidikin ledakan itu Rex. Kan udah ada Taufan dan anak buahnya yang nyelidikin. Mereka lebih berwenang daripada Kita karena mereka kan Polisi...," kata Gama.


" Ya itu gara-gara Lo sama Kak Lian ada di tempat ini sebelum ledakan. Gue yakin Lo berdua ga melakukan kejahatan, tapi Polisi kan udah terlanjur mencurigai Lo berdua. Apalagi katanya di rekaman CCTV itu Lo berdua keliatan buru-buru pas keluar dari kios itu...," kata Rex ketus.


" Tapi Gue begitu karena denger suara aneh itu Rex...!" kata Gama membela diri.


" Iya tau. Tapi Polisi mana percaya sama gituan. Andaikan Lo cerita tentang suara itu, mereka juga belum tentu percaya. Yang ada Lo malah dituduh ngarang bebas. Mau Lo...?" tanya Rex sambil menatap Gama lekat.


Gama menggeleng lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Gama merasa masih harus menyembunyikan apa yang ia lakukan hari itu. Dia merasa belum siap jika Rex mengetahuinya. Namun di sisi lain Gama khawatir justru Taufan lah yang mengatakan semuanya kepada Rex.


" Kenapa Lo, bingung gitu keliatannya...?" tanya Rex.


" Gapapa kok. Eh, tuh ada tempat kosong Rex...!" kata Gama antusias sambil bergegas menuju meja yang baru saja ditinggalkan pengunjung.


Rex pun tersenyum lalu mengikuti Gama. Kemudian mereka memesan menu andalan kios baso itu yaitu baso beranak.


" Minumnya apa Mas...?" tanya sang pelayan wanita berbaju putih.


" Air putih aja Mbak. Makasih ya...," sahut Gama sambil tersenyum.


Pelayan itu mengangguk dan berlalu.


" Pelayannya jutek kaya gitu tapi kok kiosnya rame banget...," gerutu Gama sambil menatap lekat pelayan wanita itu.


" Sssttt..., ga usah koment jelek kalo ga tau apa yang terjadi. Gue rasa dia kecapean makanya jadi ga ramah kaya gitu...," bisik Rex.


Gama hanya menggedikkan bahunya dengan enggan. Tak lama kemudian pelayan itu kembali sambil membawa nampan berisi pesanan Rex dan Gama.


" Silakan Mas...," kata pelayan wanita itu dengan suara lirih.


" Makasih Mbak...," sahut Rex cepat.


Pelayan wanita itu mengangguk sambil tersenyum tipis. Rex tahu jika wanita itu terpaksa tersenyum karena tuntutan pekerjaan.


" Ish..., ga enak Rex...," bisik Gama.


" Iya. Jangan-jangan belum dikasih bumbu atau justru salah bumbu. Lo liat kan, semua orang makan dengan lahap kok...," sahut Rex sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


" Iya. Kenapa Kita ga bisa menikmati makanan kaya mereka ya Rex...," kata Gama sambil ikut menatap ke sekelilingnya.


" Udah ga usah berisik. Kita keluar aja kalo emang ga suka sama makanannya. Bayar Gam, Gue tunggu di luar...!" kata Rex sambil berjalan keluar kios.


" Sia*an, dasar Adik ipar songong. Untung sayang sama Kakaknya...," gumam Gama sambil menatap kesal kearah Rex.


Kemudian Gama membayar baso yang dimakannya di kasir. Di samping sang kasir terlihat pelayan wanita yang tadi mengantarkan pesanan Rex dan Gama. Wanita itu nampak menatap Gama dengan tatapan tak terbaca.


Gama menoleh kearahnya dan tersenyum. Entah mengapa ia merasa iba melihat wanita itu. Gama mengulurkan selembar uang seratus ribu rupiah kepada wanita itu sebagai uang tip. Wanita itu nampak ragu menerimanya namun usai mendengar ucapan Gama, ia pun mau menerimanya.


" Ini uang tip buat Mbaknya. Jangan salah paham ya. Basonya enak kok, tapi temen Saya baru dapet telephon dari Komandannya jadi harus buru-buru pergi...," kata Gama dengan ramah.


Pelayan wanita itu pun mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan kasir di sampingnya nampak menatap iri kearahnya.


" Iya gapapa, makasih ya Mas...," kata pelayan itu sambil tersenyum.


Gama pun mengangguk lalu bergegas menyusul Rex keluar kios.


" Sebenernya kalo lagi senyum gitu lumayan manis sih. Tapi tetep Lilian yang paling manis...," batin Gama sambil tersenyum.


Melihat sang sahabat keluar sambil tersenyum membuat Rex ikut tersenyum. Ia tahu jika Gama memberikan uang tip kepada pelayan wanita itu.


" Cieee... cieee..., ada yang seneng nih gara-gara disenyumin sama pelayan jutek itu...," sindir Rex sambil melirik kearah Gama.


" Apaan sih Lo. Gue seneng bukan karena itu. Tapi Gue seneng karena Kita ngambil tindakan dan pergi dari sini secepatnya...," sahut Gama.


" Masa sih ?. Bukan karena rasa penasaran Lo terjawab ya...?" tanya Rex.


" Maksud Lo apaan sih Rex, ga ngerti Gue...?" tanya Gama sambil menghentikan langkahnya.


" Daritadi kan Lo penasaran tuh sama Mbak pelayan itu. Kata Lo dia jutek, tapi pas Lo dapet senyumnya, Lo langsung happy gini...," sahut Rex asal.


" Ck, senyum Mbaknya ga sebanding sama senyum cewek Gue Rex. Karena senyumnya cuma untuk Gue, makanya terkesan manis dan sulit dilupakan...," kata Gama sambil mendekap dadanya hingga membuat Rex bergidik.


Rex dan Gama pun bersiap melangkah menuju mobil saat sebuah jeritan terdengar dari kios baso itu. Mereka saling menatap sejenak kemudian berbalik dan kembali mendatangi kios baso itu.


Dari tempat mereka berdiri terlihat pelayan wanita berpakaian putih itu tengah menangis sambil membersihkan pecahan mangkuk di lantai. Di sampingnya terlihat sang kasir berdiri memaki sambil berkacak pinggang.


" Ngelamun mulu sih Lo. Kerja gitu aja ga becus. Berapa banyak mangkok yang bakal Lo hancurin lagi hari ini Ren...!" kata sang kasir dengan galak.


" Jangan dimarahin terus Mbak. Dibantuin aja biar cepet. Kasian kan Mbaknya kalo dimarahin begitu, dia pasti malu...," kata seorang ibu bertubuh besar mengingatkan sang kasir.


Dengan enggan sang kasir pun turun tangan membantu. Sesekali ia menatap dengan tatapan penuh kebencian kearah pelayan itu.


\=\=\=\=\=