Kidung Petaka

Kidung Petaka
38. Liat Ruko


Kesibukan di Rumah Sakit Sentosa berjalan normal. Para tenaga medis dan seluruh karyawan Rumah Sakit bekerja seperti biasa.


Meski pun kejadian buruk di Rumah Sakit beberapa waktu lalu menjadi catatan terburuk dalam sejarah berdirinya Rumah Sakit Sentosa, namun perlahan semua orang bisa melupakan peristiwa itu.


Salam untuk Lilian yang dikatakan Taufan adalah sebuah sinyal untuk Lilian agar gadis itu mau membuka hati.


Semula Lilian menganggap Taufan sedang bergurau. Tapi saat Taufan datang menjemputnya sore itu, Lilian pun tersentuh. Apalagi saat itu Taufan datang tidak dalam balutan seragam kepolisian.


" Apa kabar Lian...?" sapa Taufan.


" Alhamdulillah baik, Pak Taufan sendiri gimana kabarnya...?" tanya Lilian sambil tersenyum.


" Baik juga. Tapi tolong jangan panggil Saya Pak dong, Saya kok berasa tua banget ya...," pinta Taufan hingga membuat Lilian tertawa.


" Maaf, udah kebiasaan. Terus Saya panggil apa dong...?" tanya Lilian yang sengaja mengulur waktu.


" Mas atau Abang juga boleh...," sahut Taufan sambil tersenyum.


" Ok deh, Saya panggil Mas Taufan aja ya...," kata Lilian yang diangguki Taufan.


Kemudian keduanya melangkah keluar dari Rumah Sakit.


" Mobil yang biasa Saya pake adalah mobil dinas. Makanya ga Saya pake karena sekarang kan di luar jam kerja. Gapapa kan Li kalo Kita naik Taxi...?" tanya Taufan.


" Gapapa Mas, santai aja...," sahut Lilian sambil tersenyum.


" Saya udah pesen Taxi on line buat ngantar Kita ke suatu tempat...," kata Taufan sambil membukakan pintu Taxi untuk Lilian.


Sesaat kemudian Taxi melaju meninggalkan area Rumah Sakit Sentosa. Lilian nampak menatap keluar melalui jendela Taxi. Ia teringat perbincangannya dengan Rex tadi pagi saat sarapan di rumah.


" Taufan baik kok. Insya Allah Kakak aman sama dia...," kata Rex saat Lilian bertanya tentang kepribadian Taufan.


" Kalo menurut Kamu baik, artinya Kakak iya-in aja ajakannya gitu...? " tanya Lilian.


" Oh, kalo itu sih terserah Kakak. Ke depannya juga gitu. Kalo Kakak emang ga nyaman sama Taufan, ya Kakak bisa nolak dia kok. Ga usah pake ga enak sama Aku ya Kak. Karena hubungan itu harus dilandasi ketulusan bukan keterpaksaan. Kalo ada keterpaksaan justru ga baik nanti...," kata Rex bijak hingga membuat Lilian terharu.


" Kakak pikir ga ada salahnya membuka hati untuk si Taufan. Keliatannya dia emang baik dan bisa dipercaya...," kata Lilian yang diangguki Rex.


Lilian memang tengah mencoba membuka hati untuk kehadiran cinta yang lain. Ia tak ingin mengulangi kisah yang sama seperti saat Bobi menyukainya dulu. Lilian berharap dengan mengikuti kata hatinya maka ia akan bertemu dengan kebahagiaannya.


\=\=\=\=\=


Jika Lilian sedang disibukkan dengan urusan asmara, maka Rex sedang sibuk membantu Gama mencari tempat untuk membuka bisinis barunya.


Hari itu Rex mengantar Gama dan Ramon untuk bertemu dengan kenalan Ramon di suatu tempat.


" Ini tempatnya Yah...?" tanya Rex saat melintas di depan deretan ruko yang ramai.


" Bukan Rex, di depan sana. Satu blok lagi dari sini...," sahut Ramon.


" Kalo bisa dapat tempat di situ pasti seru ya Om. Tempatnya strategis dan Keliatannya rame banget...," kata Gama sambil menatap deretan ruko yang tadi mereka lewati.


" Iya Gam. Om Kirain juga yang di situ, ga taunya bukan. Ruko yang di situ udah laku seminggu sebelum Kamu datang...," sahut Ramon.


" Gapapa Gam. Ruko yang mau Kita datangi ini kan juga terletak di jalan yang sama. Insya Allah ramenya juga nular ke bengkel Lo nanti...," hibur Rex hingga membuat Gama tersenyum.


" Aamiin, makasih Rex...," sahut Gama yang diangguki Rex.


Sesaat kemudian Ramon menunjuk deretan ruko yang menjulang tinggi di pinggir jalan. Gama yang melihat bentuk bangunan ruko yang digadang-gadang akan menjadi tempat usaha bengkelnya itu nampak tersenyum.


" Kita sampe, ayo turun Anak-anak..., " ajak Ramon.


" Sebelah sini Ram...!" panggil pria itu.


Ramon pun mengangguk lalu berjalan lebih cepat kearahnya.


" Assalamualaikum Bos. Gimana kabarnya nih...?" sapa Ramon sambil menjabat tangan pria itu.


" Wa alaikumsalam, Alhamdulillah baik lah. Mereka siapa...?" tanya pria bernama Hasan itu sambil melirik kearah Rex dan Gama.


" Ini anak Gue namanya Rex. Dan yang itu keponakan Gue namanya Gama. Anak-anak, kenalin ini Om Hasan...," kata Ramon sambil menatap kearah Rex dan Gama.


" Apa kabar Om...," sapa Rex dan Gama bersamaan sambil menjabat tangan Hasan bergantian.


" Alhamdulillah baik. Jadi siapa diantara Kalian yang lagi cari lapak buat usaha...?" tanya Hasan.


" Saya Om...," sahut Gama cepat.


" Bagus. Kalo mau Kita bisa liat ke dalam...," ajak Hasan.


" Tapi kalo liat-liat dulu gapapa kan ya Om...?" tanya Gama hati-hati.


" Gapapa dong, Saya juga ga bakal maksa Kamu untuk nyewa tempat ini kalo emang ga sreg. Namanya juga orang jualan, kadang laku kadang ga. Kamu ga perlu sungkan gitu Gam...," sahut Hasan sambil tertawa.


Gama pun menghela nafas lega saat mengetahui Hasan bukan lah orang yang kaku dan gemar memaksakan kehendak.


Kemudian Ramon, Rex dan Gama diajak masuk ke dalam ruko yang kosong itu. Hasan piawai sekali dalam menjelaskan semua bagian dalam ruko. Hasan juga tak segan menyarankan jenis usaha yang memungkinkan untuk dilakukan di tempat itu nanti.


Setelah menjelaskan semuanya, Hasan memberi kesempatan pada Rex dan Gama untuk melihat lebih detail ruangan atas yang biasanya ditempati sebagai hunian. Sedangkan dia dan Ramon memilih melanjutkan obrolan santai mereka di kedai bakso yang ada di ruko sebelah.


" Gimana menurut Lo Rex...?" tanya Gama sambil mengamati jalan raya dari jendela ruko.


" Lumayan sih. Cuma Gue ngerasa agak panas aja. Sirkulasi udaranya kurang bagus Gam. Lo harus pasang AC di sini kalo mau nyaman...," sahut Rex.


" Iya lah. Lagian kalo buka usaha di bawah, Gue ga mungkin ngebiarin jendela terbuka sepanjang hari kan Rex. Bisa-bisa rumah Gue penuh debu nanti, apalagi deket banget sama jalan raya...," kata Gama hingga membuat Rex tertawa.


" Jadi gimana, Lo mau ambil atau ga...?" tanya Rex sambil menuruni anak tangga.


" Kayanya sih...," ucapan Gama terputus saat terdengar suara melengking di kejauhan.


Suara yang mirip jeritan wanita itu terdengar sangat jelas hingga membuat Rex dan Gama terkejut.


" Lo denger itu Gam...?!" tanya Rex sambil bergegas menuruni anak tangga dan berlari keluar ruko.


" Iya Rex...!" sahut Gama sambil mengekori Rex.


Rex dan Gama tiba di luar ruko dan terkejut melihat suasana di sana tetap normal seperti awal mereka datang tadi.


" Ini aneh. Apa mereka ga denger suara melengking itu Gam...?" tanya Rex sambil mengamati sekelilingnya.


" Kayanya sih gitu Rex...," sahut Gama.


" Kok Gue jadi inget sama jeritan misterius di lapangan bola itu ya Gam...," kata Rex sambil menatap Gama lekat.


" Emang mirip sih. Jangan-jangan..., " ucapan Gama kembali terputus saat Ramon memanggil.


Rex dan Gama menoleh kearah Ramon yang melambaikan tangan kearah mereka. Di sampingnya Hasan terlihat duduk santai sambil mengacungkan gelas berisi kopi. Rex dan Gama tersenyum lalu memutuskan menghampiri Ramon dan Hasan.


\=\=\=\=\=